
Aku berusaha untuk duduk dan Bunda menahanku.
“Hannie, kau mau kemana? Istirahatlah dulu.”
Aku menggeleng. Tidak, aku harus melihat makhluk itu! Kalian harus melihatnya!
Aku melepaskan genggaman Bunda di bahuku. Berusaha untuk turun dari sofa.
“Hansa.”
Suara Nenek yang penuh penekanan membuatku terdiam. Tatapannya mengisyaratkan diriku untuk kembali berbaring.
Aku menelan ludah. Menimbang-nimbang sesaat. Kemudian menurutinya.
Yah, mau bagaimanapun aku tidak akan menang melawan Nenek yang menatapku seperti itu.
Setelah itu Nenek memberiku beberapa vitamin. Kemudian Bunda menyuapiku bubur buatan Eli.
Ayah? Dia hanya memandangiku.
Nenek menyuruhnya untuk tetap diam, untuk mendinginkan kepala.
Sementara Paman menggantikan Nenek mengawasiku. Dan untuk beberapa hari kedepan, dialah yang memeriksa dan memberiku vitamin secara rutin.
Nenek dulu seorang dokter. Biar begitu sampai sekarang dia adalah dokter untuk keluarga ini dan orang-orang di sekitarnya.
Pamanku juga calon dokter. Dia akan menjadi dokter yang hebat seperti Nenek!
Ayah tidak mengikuti jejak Nenek. Dia memilih untuk menjadi arsitek. Membangun rumah-rumah! Sama seperti kakek.
Setelah pulih, aku kembali bermain ke halaman belakang. Hanya saja kali ini harus ada tiga sampai lima orang yang mengawasiku.
Tentu saja perintah Ayah. Dia agak berlebihan.
Aku memandangi rawa indah di bawah dengan tatapan sendu. Apa hanya aku yang melihat makhluk itu?
“Apa yang kau lihat?” tanya Nenek membuyarkan lamunan.
Aku menggeleng.
“Bukan apa-apa.”
Lagi pula, Nenek juga tidak melihatnya kan? Dia tidak akan percaya kalau aku ceritakan.
Nenek meletakkan buku bacaannya di atas meja. Kemudian menatapku sambil tersenyum.
“Kamu sudah bertemu dengannya ya?”
Pertanyaan Nenek menarik perhatianku. Aku menatapnya antusias.
“Nenek juga melihatnya?”
Nenek terkekeh pelan.
“Ssshhh, jangan keras-keras,” katanya sambil mengangkat telunjuk ke depan bibir.
Refleks aku mengatupkan mulutku rapat-rapat. Melihat itu Nenek kembali tertawa.
“Kamu lucu sekali, Hannie.”
Aku mendengus dan mencondongkan tubuh ke arah Nenek.
“Apa Nenek juga pernah bertemu dengannya?” ulangku menuntut jawaban.
Nenek mengulum senyum dan memandang rawa bersih itu. Tatapannya menerawang.
“Tentu saja. Kita berteman.”
Mataku berbinar mendengar jawaban Nenek.
“Sungguh?” tanyaku lagi. Memastikan.
Jujur, aku sendiri meragukan perkataan Nenek. Aku takut Nenek hanya mengarang agar membuatku senang.
Tapi tatapan dalam Nenek mengusir semua keraguan yang ada dipikiranku.
“Mau Nenek perlihatkan?”
...…...
Aku berlari kecil di tangga. Seperti biasa, Eli yang melihat kelakuan nakalku ini marah.
“Hansa. Harus kuulang berapa kali? Jangan berlarian di tangga!”
Aku menjulurkan lidah meledeknya. Sejak tidak memanggilku ‘dek’ lagi, aku juga berhenti memanggilnya dengan ‘kak’ sebagai balasan.
Sejak saat itu aku dan Eli jadi lebih sering beradu mulut. Tapi entah bagaimana hubungan kami malah semakin dekat.
“Aku ga lari, cuma buru-buru!” sahutku sambil berlari ke halaman belakang.
Eli teriak lagi.
“Sekarang kau berlari!!”
Aku tertawa lepas. Tidak masalah, aku sangat bahagia sekarang. Nenek akan menunjukkan rahasianya!
Oh, sebelum ini Nenek sudah pernah menunjukkan salah satu rahasianya. Itu adalah kotak rahasia berisi botol-botol kecil dengan cairan hijau bercahaya.
Sama dengan yang ada di kalungku.
Kata Nenek, dia tidak akan memberikan botol-botol ini ke sembarang orang. Bahkan Ayah, Bibi, dan Paman tidak tahu soal ini.
Tidak ada yang tahu selain aku dan Nenek.
Kali ini Nenek akan memperlihatkan sesuatu yang bersangkutan dengan ‘makhluk itu’, makhluk yang aku lihat sebelumnya.
Aku tidak tahu Nenek punya berapa rahasia lagi.
“Na— Eh, Nenek!!” panggilku keras-keras.
Terkadang kalau terlalu senang, aku suka kelupaan memanggilnya Nana lagi. Sepertinya Nenek sudah tidak menginginkan panggilan itu.
Aku tidak tahu kenapa.
Nenek mencium keningku begitu aku sampai. Lalu mengusak kepalaku dan tertawa kecil.
“Cucu Nenek wangi sekali!”
Aku tersenyum lebar.
“Iya dong! Aku baru mandi tadi.”
Nenek tertawa lagi. “Kalau begitu apa kamu sudah siap?”
Mataku berbinar. Aku mengangguk pasti. Iya! Iya! Tunjukkan padaku cepat!!
Nenek meminta tiga asisten rumah tangga yang menemani kami untuk kembali ke dalam dan mengambilkan baju hangatnya.
“Aku ga usah pake jaket ya, Nek.”
Nenek diam sejenak. Menimbang-nimbang. Kemudian mengangguk.
“Baiklah. Kamu juga sudah mengenakan baju lengan panjang.”
Aku tersenyum bahagia. Nenek bukanlah orang yang sulit untuk dibujuk. Tidak seperti Ayah dan Bunda.
Setelah menerima baju hangatnya, Nenek menuntunku keluar lewat pintu depan.
Aku bertanya-tanya kemana kita akan pergi. Apakah rahasia Nenek ada di luar rumah? Jangan-jangan di desa seberang rawa.
“Nek, kita mau kemana?”
Nenek hanya tersenyum. “Nanti juga tahu.”
Aku cemberut. Bukan jawaban yang pasti. Aku tidak suka jawaban yang tidak pasti.
Tapi kalau dari Nenek, jawaban tidak pasti masih bisa dibicarakan baik-baik.
Tidak lama kita sampai di jembatan yang menghubungkan desa rumah Nenek dengan desa seberang.
“Kita nyebrang?” tanyaku lagi.
Kali ini Nenek tidak menjawab dan menggeleng. Aku mengerutkan dahi heran. Lalu? Kemana?
Nenek menuntunku ke tangga kecil di samping jembatan. Tangga itu menuju ke rawa.
Mengejutkan… Sejak kapan di sana ada tangga?
Tangganya kecil, hanya bisa dilewati satu orang. Jadi Nenek turun terlebih dahulu.
Aku menelan ludah. Terakhir kali aku bertemu makhluk itu, tubuhku sampai lemas.
Kupikir Nenek tidak akan membawaku langsung ke rawa.
Nenek berbalik saat sadar aku tidak mengikutinya. Dia tersenyum lembut. Menenangkanku.
Sepertinya dia paham kalau aku masih ketakutan.
“Kemarilah, Nenek akan melindungimu,” ajaknya sambil mengulurkan tangan.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemudian menerima uluran tangan Nenek.
Kalau Nenek pasti akan benar-benar melindungiku kan?
Kami turun perlahan. Aku bisa melihat rawa itu lebih dekat. Bersih. Tapi airnya tetap berwarna gelap. Dasarnya tidak kelihatan.
Tidak ada yang tahu makhluk apa saja yang tinggal di dalamnya.
Kami berdiri di bawah jembatan. Nenek melepaskan genggaman tangannya dan berlutut tepat di samping rawa.
Dia mencelupkan sebelah tangan ke dalam air.
Aku mengernyit. “N-Nenek, itu jorok.”
Nenek mengulum senyum. “Tidak. Rawa ini bersih.”
Aku masih tidak percaya kata-katanya yang itu. Walaupun begitu, rawa tetaplah rawa!
Nenek memintaku untuk mendekat. Dengan langkah ragu aku menurutinya. Tapi aku tidak ikut berlutut. Aku hanya memperhatikan dengan tetap menjaga jarak.
Dari dalam rawa, aku melihat sesuatu yang hitam bergerak ke permukaan.
“Ah, Nenek!!”
Dalam hitungan detik, makhluk yang aku lihat kemarin meloncat dari air.
Wujudnya agak lebih kecil, dan…
Dia memiliki ekor ikan!
Aku termangu. Untuk sesaat aku merasa waktu berputar lebih lambat. Mataku melotot melihat pemandangan itu.
Makhluk tadi kembali jatuh ke air, dan muncul lagi perlahan. Nenek menoleh ke arahku.
“Apa dia yang kau lihat waktu itu, Hannie?”
Aku tersentak kecil. Kemudian menunduk. “I-Iya….”
Nenek menghela. “Kemarilah,” pintanya.
Bukan padaku. Tapi pada makhluk yang berada di tengah rawa itu.
.
.