
“Tunggu!!!”
Aku mengerjap. Napasku cepat dan tidak beraturan. Pipiku basah karena air mata. Tubuhku juga berkeringat.
“Hannie?” Geeta menepuk pundakku. Sejak kapan dia bangun?
Bibirku membentuk seulas senyum dengan paksa. “Ah, kamu udah bangun? Dari kapan?”
Geeta tidak menjawab. Dia masih terlihat khawatir.
“Oh, aku gapapa kok. Cuma mimpi buruk aja.” Aku menggeleng singkat. “Ga buruk-buruk amat juga. Cuma… sedih sedikiiit aja.”
Geeta menghela. Kemudian merapihkan selimutnya yang tadi aku tiduri.
“Tuhun. Ayoh magan.”
Aku mengedus geli. “Makan apa? Kamu yang masak?” Kursi tadi kuletakkan kembali ke asal. Lumayan pegal juga punggung ini kalau tidur begitu.
“Bugan. Om yang masagh.” Geeta menepuk-nepuk tangannya setelah memastikan tempat tidurnya kembali rapi. “Yuk. Magan.”
“Iyaa, ayo. Pikiranmu itu makanaan aja. Yang lain kek.”
Geeta berbalik dan menatapku. “Kayah apa misalnya?”
“Hmmm, aku?” Senyumku melebar. Ah, kenapa malah wajahku sendiri yang terasa panas? Konyol.
“Ahhhh… Gajadi, gajadi! Lupain.”
Geeta tersenyum jahil. “Mikihin Hannie aja gituh?”
“Dibilang lupain. Lupain aja, yuk makan yuk.” Kutarik pergelangan tangannya menuruni tangga.
“Iyaa, nangti Hita mikihin Hannie tehus!”
“Iya deh, nanti Om juga mikirin Honey terus ajaa,” sambung Om dari dapur. “Dibilangin nih ya berdua. Jangan deket-deket! Jaga jarak! Belum halal juga.”
Om membuat jarak dengan spatula.
“Ih, bugan Honey, Om. Han-Nie! Hannie.” Geeta mengangkat telunjuknya. Mengikuti tutor membaca di aplikasi Youtube yang aku putarkan.
“Ihh, apa bedanya Honey sama Hani?” Om mengikuti gerak-gerik Geeta.
“Bugan Hani! Hannie!”
“Halah kamu sendiri juga belum bener ngomongnya. Masih kayak anak TK. Engga ding, anak Om TK udah bisa ngomong lancar tuh.”
Geeta mengembungkan pipinya. “Nyebeling!”
“Nyebelin Geeta, nyebelin. Kalo nyebeling bahaya. Tajem. Nanti mulutnya berdarah loh.”
“Itu mah beling, Om.” Aku terkekeh dan mengambil posisi di meja makan.
“Nah, itu.” Dia ikut tertawa. “Btw, nih. Kok kamu kayak yang cape gitu, Han? Abis ngapain? Mencurigakan.”
Belum sempat menjawab Geeta sudah menyela lebih dulu. “Hannie, abis mimpih burugh Om. Katanyah sedih.” Dia menekankan pada kata Hannie.
Om mengangguk berlebihan. “Oh, gitu? Terus kenapa dia ngungsi di kamar kamu, Geeta? Kamarnya Hani kebanjiran?”
“Hannie, Om.” Geeta mendesis. “Bukanh! Hatinya sakidh tadi.” Aku tertegun mendengarnya.
“Hannie kesepiang. Om kemana sih? Pas Hannie sedih Om gada.”
Om langsung terdiam. Dia menegakkan punggungnya dan menatapku sesaat. Kemudian menatap Geeta lagi. Kali ini jadi lebih serius.
“Ya, maapin Om deh. Tadi ada urusan mendesak. Makasih ya, udah nemenin Hannie.” Om mengusak kepala Geeta.
“Nah ituh bener! Han. Nie. Hannie!” tawanya riang.
Sakit hati katanya? Aku? Yahh, mungkin memang aku sedikit sakit hati. Lebih tepatnya aku agak shock.
“Yaudah. Biar Hannie-nya ga sakit hati lagi, kita makan aja yuk. Om udah belanja buaaanyak banget. Biar stok makanan ga dikit-dikit abis, dikit-dikit abis. Cape tau ke pasarnya. Minimarket juga jauh dari sini.”
Om menyentil dahi Geeta pelan. “Kamu nih tukang makan. Untung Om baik, jadi stok makanannya yang dibanyakin. Coba kalo jahat, porsi makan kamu yang dikurangin!”
Om menggeleng. Masih tersenyum. “Gausah, Han. Kasian ah kamu masih muda masa harus biayain makan kita bertiga?” Dia terkekeh.
“Yaudah, jangan nyesel ya,” dengusku.
“Oh pasti. Kalo nyesel juga Om tahan-tahan. Mau ditaro dimana muka Om nanti, Han. Udah sok keren begini, tiba-tiba jilat ludah sendiri.”
...…...
Aku meraih album foto tua di rak buku dekat televisi. Penasaran dengan wajah Nenek waktu muda. Yah, ga muda-muda amat. Tapi paling tidak wajahnya sewaktu aku lahir.
“Liat apa, Han?” tanya Om ketika aku sudah duduk di sofa.
“Album foto. Aku penasaran sama muka Nenek sebelum rambutnya memutih.” Aku terkekeh.
“Soalnya seminggu yang lalu aku tiba-tiba mimpiin Nenek waktu aku masih bayi, dan aku cuma mau mastiin mimpi itu.”
“Mimpi ya mimpi, kenyataan ya kenyataan. Apa yang mau kamu buktiin?” Om duduk di sampingku.
“Mangkannya itu, karena mimpinya agak aneh aku jadi penasaran. Masa aku bisa lihat wajahku sendiri waktu masih bayi. Maksudnya, di situ aku kayak orang lain.” Aku mendesis. “Pokoknya aneh deh.”
Om mengangguk-angguk paham. “Oh, itu bukan? Nenekmu?” tunjuknya begitu aku membuka halaman baru.
Aku mengerutkan kening. “Iya… ini dia.”
“Kenapa kamu malah keliatan ga seneng? Yang di mimpi beda ya?”
Aku menggeleng. “Engga. Bukan, malah sebaliknya.” Menunjuk foto yang sama dengan yang ditunjuk Om, aku mengerang tipis. “Sama persis. Di sini Nenek sedang menggendong aku yang masih bayi. Lihat.”
Aku menunjuk Paman dan Bibi yang berdiri di kedua sisi Nenek. “Mereka Paman dan Bibiku. Aku lihat mereka juga di mimpi. Pakaian, riasan, barang-barangnya. Semua sama. Hanya saja aku melihat itu seperti sebuah rekaman.”
“Oh, sudut pandang orang ketiga?!” tebak Om antusias.
Aku tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya, aneh kan? Aku sendiri juga sadar kalau itu mimpi. Dan semuanya terasa sangat nyata. Aku bahkan bisa merasakan kehadiran Nenek saat itu.”
Om yang melihat genangan di mataku langsung melengos. “Apapun itu, kamu tidak boleh tertarik ke dalamnya.”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
“Kalau kamu terlalu memikirkan masa lalu, kamu akan terkurung di dalamnya. Itulah kenapa sebagian besar orang tidak ingat kenangan-kenangan masa kecil mereka. Karena otak mereka sudah tahu, semakin diingat semakin terkurung diri mereka.”
Ucapan Om membuatku tersentuh. Sedikit. Kemudian aku mendengus geli.
“Kenapa ketawa? Om ga lagi ngelawak, Han. Serius nih.”
Buru-buru aku mengibaskan tangan. “Bukan, Om. Bukan ngetawain Om. Aku ngetawain diriku sendiri.” Menarik napas panjang, aku bersiap untuk cerita.
“Sebenernya sih, aku juga udah usaha buat ga terlalu mikirin mimpi ini. Tapi rasa penasaranku tetap ga hilang. Ya abis gimana ya? Sudah terlanjur juga aku terkurung dalam masa laluku.”
Air wajah Om berubah serius. “Beneran? Kalo kamu cuma bercanda ga lucu nih. Beneran ga lucu loh, beneran.”
Aku tertawa melihat resposnya. “Udahlah, kalo dibahas mulu nanti kuncinya semakin kuat dan aku malah ga bisa keluar sama sekali.”
“Kamu ga ngunci dirimu sendiri di dalam sana kan?”
Baru aku melangkah sekali untuk mengembalikan album ini ke rak buku, kalimat Om kembali menghentikanku. Bukannya menjawab, aku malah tertunduk. Seakan membenarkan ucapannya.
“Om mau ke pantai? Gimana kalo kita ke pantai?” Aku menoleh sambil memaksakan seulas senyum. Berusaha membalikkan suasana yang sudah terlanjur suram secepat mungkin.
Seperti yang kuduga, Om menatapku kecewa sekaligus bingung.
“Bukan itu jawaban yang Om pingin. Tapi ya terserahlah. Kapan?”
“Ha?”
Om mendesah kasar. “Lah kok kamu malah balik nanya? Ya itu, kapan mau ke pantai?”
.
.