Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXXVII



Kami memutar sofa agar menghadap televisi. Menyiapkan camilan, dan minuman yang banyak.


Geeta memangku Navy, sementara Om duduk di bawah, di atas karpet. Bersandar pada sofa. Aku juga ikut duduk di atas karpet.


“Ohh, mulai! Mulai!” teriak Om tidak sabar.


Beberapa kali aku menangkap Geeta tersentak setiap hantunya muncul. Diam-diam aku tersenyum. Dia bisa terkejut melihat yang seperti itu? Apa dia tidak sadar setakut apa aku saat pertama kali melihatnya?


Di pertengahan film yang semakin menengangkan, Geeta turun dari sofa. Aku tidak sadar saking terhanyut dalam suasana menegangkan itu.


“Hannie….”


Suara Geeta menyadarkanku. “Eh, kamu turun? Kenapa?”


Geeta langsung memeluk lenganku gemetar. “Hita… tagut.”


Melihat wajahnya yang ketakutan saat ini malah membuat jantungku berdebar. Baik Geeta dalam wujud besar, dan Geeta dalam wujud perempuan seperti ini, sama-sama berhasil membuat jantungku meraung-raung ya?


Ah, tapi kali ini berbeda. Debarannya terasa… berbeda.


Pikiranku tidak lagi fokus pada film. Yang ada di otakku saat ini hanya Geeta. Geeta yang gemetar ketakutan dan memelukku…


“Hannie! Ung!” Dia menunjuk layar televisi dengan mata membelalak.


“Tenang saja itu cuma film. Hantunya ga akan keluar dari layar.” Aku mengulum senyum. Masih memandanginya.


Omong-omong kenapa Om tidak meneriaki kami? Ah, masa bodo. Mungkin dia juga sedang larut dalam film ini. Apa dia juga ketakutan?


“Hanniee!!!” Geeta mempererat pelukan dan menyembunyikan wajahnya.


Kenapa jadi setakut itu? Aku menoleh ke TV dan mendapati pantulan putih di layar. Mataku melebar.


Sebelum sempat menoleh, tiba-tiba sesuatu sudah mencolek bahuku.


“UAAAA!!!”


...…...


Dien menyadari Geeta yang turun dari sofa setelah meletakkan kelincinya. Dia tersenyum jahil.


“Wah, anak-anak apa yang mau kalian lakukan?” gumamnya pelan. Kemudian bangkit perlahan dan menuju ke dapur.


“Pake apa ya ngisenginnya?”


Dia melihat selimut putih yang Hansa letakkan di atas nakas dapur pagi ini. Katanya mau dicuci, tapi sepertinya anak itu lupa karena mereka pergi makan di luar.


Senyum Dien melebar. “Anak-anak nakal harus diberi pelajaran.”


Dia menyelimuti tubuhnya dari atas kepala dengan selimut itu. Kemudian terkekeh pelan sambil berjalan mendekati sofa. Berdiri di sana beberapa saat. Membiarkan pantulannya tergambar di layar televisi.


“Oh, Geeta sudah melihatku.” Senyumnya melebar. Dia berjalan mendekati laki-laki bermata abu-abu yang masih memandangi gadisnya.


“Huhuhuhu, bocah nakal yuk senam jantung dulu.”


Cucu dari Miss Sophie itu menoleh ke televisi sebelum Dien sempat mengejutkannya.


Oh?


Untuk sesaat tadi, Dien berpikir rencananya gagal. Tapi tidak. Hansa kelihatannya mulai ketakutan. Tidak mau melewatkan kesempatan ini, ia langsung mencolek bahu pemuda itu dan,


“DUAARRR!!!”


“UAAAAAAA!!!!”


Kedua anak muda itu berteriak bersamaan. “Wahahahahaha, anak-anak nakal! Mangkannya jangan mesra-mesraan begitu! Ngucap! Ngucap!”


Menangkap siapa orang dibalik kain putih itu, wajah Hansa langsung berubah merah padam. Dia berdiri dan melemparkan bantal ke wajah pria yang seumuran dengan ayahnya.


“Perusak suasana!”


“Hansa, kamu tidak sopan!”


“Bercangdana da lucu!!” Geeta ikut melempari pria malang itu.


Hingga bulan berganti dengan matahari. Ketiganya terkapar di atas karpet dengan perut kembung akibat meminum soda terlalu banyak.


...…...


“Ughh, perut Om ngeberebek.”


Aku memicing. “Siapa suruh ngabasin satu liter coca-cola sendirian. Karma juga jailin kita malem-malem.”


Om terkekeh. “Sialan kamu, Han. Siapa suruh kamu uwu-uwuan depan Om. Inget dosa, Han. Nenekmu ngawasin tuh dari langit.”


“Wih, putri cantik tidurnya engga banget. Emang ya, manusia pasti ada minusnya.”


Kalimat Om membuatku tercekat. Manusia ya… apa Geeta bahkan manusia?


“Biar aku yang pindahin Geeta ke kamar.” Aku menggendongnya perlahan, dan membawanya ke lantai atas.


“Cuma pindahin aja loh, Han. Cu-ma-min-da-hin.”


Aku mengerang. “Iyaaa.”


Setelah memindahkan Geeta ke kasur. Aku kembali ke bawah dan merapikan seluruh kekacauan yang kami buat di ruang TV.


Ugh, rempah makanan berserakan di mana-mana. Aku mendesis. Kok bisa aku tiduran di karpet kotor ini semalam?


“Han, kamu punya stok sayuran?” Om membuka pintu lemari es.


“Tinggal wortel deh. Aku belum belanja lagi.”


“Hmm.” Om mengangguk dan mengeluarkan bahan makanan yang tersisa.


“Sekalinya masak ngabisin banyak bahan sih ya. Si putri cantik makannya ga nahan. Semalam di restoran juga, dia nambah berapa piring tuh?”


Aku terkekeh. “Gitu deh. Untung dompet Om kuat ya?”


Om menggerutu. “Ya kuat-kuatin. Masa minta patungan pas awalnya udah janji mau traktir. Malu dong sama putri cantik. Mau ditaruh dimana muka Om, Han?”


Aku menggeleng tanpa memudarkan senyum. Rasanya kedatangan Om membuat suasana rumah ini semakin hangat.


“Hannie!!!”


Aku menoleh cepat ke pintu depan. Tante ya?


“Iyaa!” sahutku sembari menghampiri. “Kenapa, Tan—” Aku terkejut begitu melihat tiga orang laki-laki bertubuh besar di belakang Tante.


“Siapa?” Mataku memicing.


“Oh, ini pemburu Diwa itu. Katanya mereka lihat ada perempuan di rumah ini.”


Pandanganku tidak lepas dari mereka walau Tante menjelaskannya. “Itu temanku. Tante tau aku nyewain kamar di sini.”


“Oh, temanmu perempuan?”


Aku mengangguk. “Om Dien juga udah tau kok. Kita ga ada hubungannya dengan Diwa atau kasus anak hilang itu.”


“Kalau begitu biar kami periksa.” Seorang kakek yang wajahnya tidak asing menengahi. Dia muncul dari balik tiga laki-laki tadi.


“Ini Pak Sono. Katanya dia tidak lihat ada gadis yang datang ke rumahmu. Dia cuma lihat Dien. Tapi ga lihat temanmu itu.”


Aku mengernyit. “Bisa aja bapak ini ga ada di tempat waktu temanku datang. Mungkin lagi ke kamar mandi atau apa?” tentangku.


“Tetap saja, nenekmu sudah dicurigai memelihara Diwa. Kamu pasti sudah tahu hal itu kan? Jadi kami tetap harus memeriksanya.”


Aku menahan mereka yang sudah mau seenaknya masuk tanpa izin. “Tidak bisa. Kalian siapa berani ambil keputusan sepihak begitu? Lagian, Diwa itu bukannya kayak putri duyung?”


Bapak tua, yang mungkin lebih cocok dipanggil kakek itu menyeringai. “Kamu masih ingat perkataanku rupanya? Iya, Diwa berwujud seperti putri duyung. Tapi, oh, anak muda, putri duyung dalam film juga bisa berubah jadi manusia.”


Ah, setelah dilihat dari dekat aku baru ingat. Kakek ini yang ada di jembatan waktu itu. Yang memberi peringatan soal Diwa dan semacamnya.


Kerutan di dahiku semakin dalam. “Kalian menyamakan kehidupan nyata dengan film fiksi seperti itu?!”


“Bukankah kau lebih paham soal hal seperti ini? Aku dengar kau adalah penulis? Aku sudah baca beberapa karyamu. Semuanya bertema fiksi,” balas kakek itu.


Aku menggertakan gigi ketika Om Dien menepuk pundakku. “Tidak ada yang perlu diperiksa. Anak itu hanya gadis normal. Mereka berdua berada dalam pengawasanku sekarang.”


Om menarikku kebalakang punggungnya. “Anak gadis itu sedang tidur. Lebih baik jangan diganggu. Bapak sendiri ga suka kan kalau anaknya yang lagi tidur diganggu hanya untuk masalah seperti ini?”


Kakek yang katanya bernama Sono itu mendecih. “Ini bukan masalah sepele. Seorang anak hilang tanpa jejak. Apa bapak akan menganggap ini adalah hal yang sepele kalau anak bapak yang hilang?”


Om Dien mendengus.


“Tentu saja tidak. Tapi saya juga tidak akan menganggap sepele saat anak saya dituduh yang tidak-tidak. Apalagi dituduh jadi makhluk mitologi begitu. Kenapa bapak-bapak sekalian percaya pelaku penculikan ini adalah makhluk yang eksistensinya antara nyata dan tidak nyata?”


Pak Sono menggeram. “Anda bukan warga sini. Anda tidak berhak mencampuri kepercayaan kami.”


“Oh, kalau begitu anda juga tidak perlu melibatkan anak-anak ini. Karena mereka juga bukan warga sini.”


Pak Sono mendengus geli. “Anak cowok bermata buta yang anda lindungi itu berasal dari desa ini. Neneknya dirumorkan memelihara Diwa!”


.


.