
Aku tersadar dalam posisi duduk, bersandar pada meja bufet.
“Ugh….”
Mataku terasa berat untuk dibuka. Kepalaku pusing. Rasanya barusan aku bermimpi sangat panjang.
“Aanng!”
Aku menoleh cepat ke samping dan mendapati sesosok makhluk besar tengah berjongkok di sampingku. Aku rasa tingginya nyaris dua meter.
“AAAA!!!”
Aku mundur menjauhinya. Dadaku berdebar sangat cepat. Napasku mulai tak beraturan.
Makhluk besar apa ini?!
“Aaang!! Aaang!! Aangg!!”
Suaranya yang nyaring membuat telingaku terasa sakit. Aku baru ingat. Semalam aku bertemu dengannya di rawa.
Dan aku pingsan.
“Ugh, hentikan! Hentikan!!”
Aku menutup telinga rapat-rapat sambil memejamkan mata. Tapi makhluk itu memegangi kedua lenganku dengan tangannya yang pucat.
Napasku semakin berat. Dia memaksaku menatapnya.
“Aang!”
Aku mengernyit. Sepertinya tidak sampai lima menit aku akan pingsan lagi.
Makhluk itu memegangiku dengan erat dan terus berteriak. Aku rasa dia akan mematahkan pergelangan tanganku.
Sinar dari kalungku bertambah terang, dan seketika itu genggamannya melemah.
Di kesempatan ini, aku menendang tubuh makhluk itu hingga terpental.
“Unghh…” rintihnya.
Mataku berkedut. Aku tidak peduli! Kau mau merintih pun aku tidak peduli!
Dia berdiri. Tubuhnya yang diselimuti oleh lumpur membuatku jijik sekaligus takut.
Apa ini yang disebut sebagai Diwa? Apa dia akan menculikku? Menjadikanku sebagai santapannya?
Aku melihat ke sekitar. Semuanya berlumuran lumpur. Sepertinya makhluk itu yang menyeretku ke dalam rumah.
Aku mendecih.
Siapa peduli? Saat ini keberadaannya mengancam jiwaku.
Aku berusaha untuk berdiri. Tapi kakiku terlalu lemas. Saat itu aku mengutuk diriku sendiri yang lemah.
Dari dulu, aku tidak berbakat dalam hal fisik. Di sekolah juga, nilai olahragaku tidak begitu tinggi.
Aku menelan ludah. Apa yang harus aku lakukan?
Aku beralih pada barang-barang yang ada di sekitarku. Kemudian meraih sebuah bingkai foto.
Makhluk itu mulai berjalan mendekat.
Aku melempar bingkai foto itu ke lantai sekeras yang aku bisa, untuk memecahkan kacanya.
Prang!
Makhluk itu tersentak kecil. Kemudian lanjut mendekatiku. Dia tidak menyerah juga ya?
Aku mendesis, dan meraih potongan kaca paling tajam.
Tidak terasa, tiba-tiba makhluk itu sudah ada di hadapanku. Debar jantungku semakin cepat. Seakan siap untuk meledak kapan saja.
Makhluk itu menginjak pecahan kaca dengan santai. Aku mundur sampai punggungku menabrak jendela besar yang membatasi dapur dengan halaman belakang.
Makhluk itu semakin dekat.
Aku meremas potongan kaca di lengan kiri. Jariku tergores.
Saat melihat darah mengalir dari tanganku. Langkah makhluk itu malah semakin cepat.
Seperti reaksi Bunda saat melihat aku terluka.
Aku bahkan tidak sempat bergerak refleks. Dia terlalu cepat. Dalam hitungan detik, makhluk itu sudah kembali berjongkok di depanku.
Dia meraih pergelangan tanganku secara agresif.
“Aw!” Sakit. Kukunya yang panjang menggores kulitku.
Serpihan kaca yang aku pegang otomatis terjatuh. Genggaman makhluk itu terlalu kuat.
Dia menatapku. Walau matanya tertutup rambut, aku bisa merasakan dia menatapku.
“Uung?”
Kenapa aku bisa menangkap kekhawatiran dari suaranya?
Dahiku berkerut dalam.
“Lepas,” desisku lemah.
Air mataku sudah berlinang. Aku ketakutan setengah mati.
Makhluk itu tidak mendengarkanku. Dia malah mengeluarkan sesuatu dari balik rambutnya yang panjang.
“Aang!” tunjuknya.
Itu sebuah batu, mirip berlian. Tapi warnanya hijau. Batu itu bercahaya, sama persis dengan kalungku.
Bedanya yang ada di kalungku adalah cairan di dalam botol.
Aku tidak mengerti. Dia bermaksud menyembuhkanku?
“Hangi, aang ung?”
Detik itu bulu kudukku berdiri seketika. Hangi? Apa dia baru saja menyebut namaku? Nama panggilanku?
Tidak, itu tidak masuk akal.
“Hangi?”
Kerutan di dahiku semakin dalam. Bagaimana kau bisa tahu namaku?
Air mataku menetes. Jantungku sudah tak karuan.
Tapi ajaibnya aku tidak pingsan lagi. Masih bertahan sampai detik ini adalah keajaiban.
Melihat responsku yang ketakutan sampai menangis, makhluk itu melepaskan genggamannya.
“Eung…” katanya pelan.
“Apa maumu?” tanyaku, kemudian menggeleng. Meralat.
“Tidak. Apapun yang kau mau, tolong pergilah dari sini.”
Aku memejamkan mata. Air mataku tidak mau berhenti.
“Kumohon…” lirihku.
Seolah mengerti apa yang aku katakan. Makhluk itu mundur selangkah.
“Hangi. Aang! Aang!”
Kemudian kembali bersuara.
Sepertinya dia ingin menunjukkan sesuatu. Aku pasti sudah kehilangan akal sampai-sampai bisa memahaminya.
Kulirik dia perlahan. Dia menunjukkan batu itu, dan mendekatkannya ke lengannya sendiri.
Detik berikutnya, batu hijau itu menyatu dengan lengannya. Dan cairan berwarna hijau mengalir ke seluruh tubuh makhluk itu.
Aku temangu menyaksikannya. Peristiwa ini, tampak sangat familiar untukku.
Aku…
Pernah menyaksikannya.
...…...
“Ini salahmu. Kenapa kau tidak memperhatikannya? Sudah tau dia anaknya pecicilan.”
“Apa? Kenapa jadi aku?”
“Sudah jelas karena kamu, Ren! Harusnya kamu jalan di belakang Hansa, bukan di depannya!”
“Hah?!”
Samar-samar kudengar suara Ayah dan Paman yang tengah berdebat. Mereka menyebut-nyebut namaku?
“Sudahlah! Kalian mengganggu Hansa! Dia sedang istirahat.”
Kali ini suara Bunda. Ugh, kenapa mataku sangat sulit terbuka.
Cahaya terang menyambut ketika aku membuka mata perlahan.
Eli yang berdiri sambil membawa baskom berisi air terkejut. Nyaris menjatuhkan baskom itu.
Bunda menyadari keterkejutan Eli, dan melirikku.
“Ada ap— Ah, Hannie!!”
Bunda menutup mulutnya dengan kedua tangan saking terkejutnya. Paman dan Ayah ikut terkejut.
“Hansa!” seru Ayah. Dia berlinangan air mata.
Bunda memelukku erat, setelah memastikan dia tidak berhalusinansi.
Paman mengambil alih baskom yang di bawa Eli. Kemudian Eli pergi memanggil Nenek.
Aku masih terlalu lemas untuk duduk. Apa yang terjadi padaku?
“Hannie….”
Bunda terisak. Tidak mau melepaskanku sampai Nenek datang. Dia bahkan tidak memberi Ayah kesempatan untuk menyentuhku.
“Minggir dulu,” titah Nenek kepada Ayah dan Paman yang menghalagi jalannya.
Bunda yang baru mendengar suara Nenek langsung menyingkir ke samping tanpa disuruh.
Nenek tersenyum lembut dan mengusap kepalaku.
“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya dengan suara lembut yang khas.
Aku tersenyum lemah. Kemudian mengangguk.
Membuka mulut juga pekerjaan yang sulit sekarang.
Nenek meminta asisten rumah tangga untuk membawakannya sesuatu.
“Biar Nenek periksa,” katanya tidak lama setelah apa yang dia butuhkan datang.
Itu peralatan yang Nenek pakai untuk memeriksa orang. Katanya itu peralatan dokter.
Tapi menurutku, ada sebutan yang lebih keren.
Nenek memeriksa detak jantung, sorot mata, dan kepalaku.
“Tidak ada luka. Semuanya normal.”
Dia kemudian menatapku lamat-lamat.
“Tidak ada yang sakit?” tanya Nenek lagi.
Aku menggeleng lemah.
Nenek mengangguk. Itu artinya aku baik-baik saja kan?
“Nah, sudah aku bilang dia tidak apa-apa. Jadi berhenti menyalahkan adikmu.”
Nenek beralih memandang Ayah dan mengomelinya.
Aku mau tertawa. Tapi, tubuhku masih belum mengizinkannya.
Kemudian Eli datang dengan segelas air hangat. Nenek memberikannya padaku.
“Minumlah,” ujarnya sembari mendekatkan sedotan ke mulutku.
Aku meminum air itu perlahan-lahan, dan suaraku kembali. Walau masih agak serak.
“Nek….”
Nenek menoleh lagi. Dia benar-benar fokus padaku saat ini.
“Hm? Ada apa sayang?”
“Apa… yang terjadi?”
Napasku tersengal. Bicara sedikit saja membuatku lelah.
“Tidak ada. Kamu hanya terkejut dan pingsan,” jawabnya.
Aku termenung sesaat. Terkejut? Ah!
Seketika aku teringat kejadian sebelumnya. Makhluk itu! Kemana dia?!
.
.