Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXXVI



Aku keluar dan menghampiri Geeta yang masih tertunduk bersama Om Dien di tempat parkir.


“Hannie,” gumamnya begitu melihatku.


“Kamu gapapa? Ah- udah jelas kamu kenapa-kenapa, ga guna banget pertanyaanku.”


Geeta mendengus. “Hannie, maaph,” sesalnya sambil meremat ujung jaketku.


“Kalo boleh tau, Geeta. Kenapa kamu mukul mereka?”


Geeta mengangkat wajahnya menatapku. Jelas sekali ada rasa kecewa di mataya.


“Bukan, aku bukannya tidak percaya padamu. Aku cuma mau tau.”


Geeta menunduk lagi. “Meheka… hina Hannie.”


Aku terbelalak. Om Dien yang mendengar itu juga ikut termangu.


“Hina? Hina aku?”


Geeta mengangguk. “Meheka hina Hannie, Hita ga suka. Tah-tahpi Hita udah nahan kog. Hita nahan ga mukuk! Tahpi meheka nyebeling.”


[Mereka hina Hannie, Geeta ga suka. Tapi Geeta udah nahan kok. Geeta nahan ga mukul! Tapi mereka nyebelin.]


Mendengarnya langsung dari Geeta seperti ini membuatku lebih tenang. Aku mengusap lembut kepalanya. “Iya, aku percaya Geeta kok. Kamu ga akan mukul orang sembarangan. Masih untung juga tuh mereka ga patah tulang.” Aku terkekeh mencairkan suasana.


Geeta memukul perutku tidak terima. “Hannie uga nyebeling!”


...…...


“Permisi, kak.”


Aku menoleh sebelum membuka pintu mobil. Itu tiga perempuan tadi. Mau apa lagi mereka?


“Kenapa?”


“Itu, boleh minta nomernya? Bukannya gimana, cuma takut kalo ternyata kita ada apa-apa terus biayanya kurang. Kita jadi gampang hubungin kakak. Katanya kakak mau tanggung semuanya kan?” jelas perempuan dengan rambut terurai itu.


Aku mendengus. “Kalo memang takut kurang saya tambahin aja sekarang.”


“Ah, takut kakak lagi sibuk. Mending kita hubungin aja nanti. Lebih enak kan?”


Alisku bertaut. Mereka tidak tahu malu.


“Jangan salah paham. Aku bilang mau membiayai pengobatan kalian bukan karena merasa bersalah. Tapi karena aku tidak mau melihat wajah kalian lebih lama lagi.” Aku mendesis.


“Jadi kalau memang takut kurang, ayo kita ke rumah sakit sama-sama dan lihat berapa biayanya. Setelah itu aku berharap ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kita. Aku tidak butuh manusia seperti kalian dalam hidupku.” Suaraku terdengar sangat dingin bahkan di telingaku sendiri.


Tiga perempuan itu tampak terguncang. “Dan jangan pernah kalian sentuh adikku lagi dengan tangan kotor kalian itu,” ancamku sebelum masuk ke mobil.


“Waw… kamu yakin ga berlebihan, Han?” Om bertanya setelah meninggalkan restoran. Matanya masih fokus pada jalanan.


“Engga. Aku malah lega. Lagian aku udah pernah bilang kan? Aku ga peduli sama cewe-cewe kayak gitu lagi sejak SMA.”


Om tertawa kecil. “Kayaknya mereka bener-bener ga bakal deketin kamu lagi. Bayanginnya aja mereka bakal merinding ketakutan.”


“Bagus kalo gitu. Orang kayak mereka cuma buat pusing kepala aja. Pikiranku udah cukup acak-acakkan mikirin tema novel berikutnya, mereka masih mau nambahin lagi.” Aku ikut tertawa.


Di belakang, Geeta terdiam sambil mengelus lembut tubuh Navy. Tidak seperti terakhir kali, Geeta tidak ketakutan. Malah dia terlihat sangat tenang.


“Di rumah ada P3K kan?”


Aku menatap Om sejenak. “Iya, ada kok.” Kemudian menatap Geeta lagi.


...…...


“Kamu yakin bisa ngobatinnya?” tanya Om yang sedang menyesap kopi.


Aku mendecak untuk yang kesepuluh kali dalam tiga puluh menit terakhir.


“Kalo Om nanya mulu begitu, aku mana bisa fokus?” Tanganku memegang kembali kapas yang tadi terjatuh. Kemudian kudekatkan pada wajah Geeta.


“Tanganmu begeter gitu yang ada itu luka bukannya sembuh malah tambah parah. Udah sini sama Om!”


“Emangnya Om bisa?” balasku setelah menjatuhkan lagi kapasnya.


Om mendesis. “Bisa lah! Ngobatin gini mah ilmu dasar bertahan hidup, Han!”


“Jangan menyepelekan luka. Kalau infeksi akibatnya bisa fatal, Han,” ujar Om seakan membaca pikiranku.


Aku mendecak lagi, kemudian pergi ke dapur untuk mengambil minuman.


“Geeta, kenapa kamu bisa suka sama anak kayak dia? Cowok kok takut darah?”


Aku langsung tersedak begitu mendengar kalimat Om. Bagaimana dia tahu kalau aku takut da—


Tidak. Dia hanya berspekulasi. Mataku memicing. Aku tidak boleh terlihat takut pada hal ‘itu’ di depan Geeta.


“Hannie tagut dara?”


“Da.rah.” Om mengangguk sambil membetulkan pengucapan Geeta. “Jelas banget kan, dia gemeter gitu waktu mau bersihin lukamu.”


Geeta yang duduk manis di sofa mulai menimbang-nimbang.


“Emangnya Om apaan? Dukun? Bisa ngira-ngira seyakin itu,” sahutku sambil meneguk sebotol Cola dingin di dapur.


“Bukannya ngira-ngira. Om cuma ngomong fakta kok.” Om meletakkan kapas yang sudah kotor, dan berdiri menghadapku.


“Kamu takut kan? Sama darah?”


Aku menelan ludah melihat ekspresi Om yang yakin seratus persen pada dugaannya. Kemudian beralih menatap Geeta. “K-Kenapa yakin banget?”


Ah, kenapa aku jadi gagap? Aku mendecak. Lagi.


“Tuh kan! Kamu ga nyangkal, Han! Kamu takut darah!” Om tertawa lepas. “Lihat tuh, Geeta. Ga ada alasan lain orang gemeteran bersihin luka kecil kayak gitu, kalo bukan karena takut darah.”


“Itu cuma dugaan Om aja! Tanganku gemeteran karena….”


“Karena…?” Om mengulangi perkataanku. Ah! Aku tidak bisa menemukan alasan yang tepat.


“Udahlah, Han. Kamu ga bisa ngelak lagi. Orang dari awal pas liat lukanya Geeta sama cewe-cewe itu kamu langsung gemeteran. Kamu kira Om ga ‘ngeh’?”


Aku meletakkan botol minumanku ke atas meja makan dengan kasar. “Ya emang kenapa kalo takut? Lagian takutnya ga separah itu kok. Cuma merinding sedikit aja,” akuku menahan malu.


Bagi beberapa orang. Takut pada darah adalah hal yang cukup memalukan. Karena itu adalah hal yang sepele. Kenapa juga takut darah? Darah tidak akan memakan, menggigit, atau menghajarmu seperti binatang buas.


Om tertawa dan menepuk pundakku. “Bukan hal yang memalukan, Han. Bukan.” Dia mendekatkan wajahnya pada telingaku. “Cuma kocak aja,” tambahnya kemudian terkekeh.


Mendengar itu aku mati-matian menahan emosi agar tidak memaki. Hah, sejak dulu, ga Paman, ga Bibi, dan sekarang Om? Mereka suka sekali menggodaku.


“Kenapa Hannie tagut daragh?” celetuk Geeta dari sofa.


Aku menatapnya sesaat. Kalau dipikir-pikir aku juga tidak tahu pastinya. Tapi dari ingatan yang sudah kembali, saat usiaku tujuh tahun aku belum takut pada darah. Aku biasa saja melihat ayam Cemani Paman yang dulu terluka.


Sejak kapan ya?


“Aku… aku juga gatau Geeta. Ingata—” Kalimatku langsung terhenti begitu ingat ada Om di sini.


Tidak, kondisiku tidak boleh diketahui oleh sembarang orang. Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak ingin orang lain mengetahuinya.


“Kayaknya langsung takut gitu aja. Ga jelas asalnya.” Aku tertawa kaku dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Geeta memiringkan kepalanya. Dia sadar aku berbohong. Tapi memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Untunglah.


“Gimana kalo kita nonton film? Atau main game? Biar tambah akrab?” usulku mengganti topik.


Om dan Geeta mengangguk bersamaan. “Film horor kayaknya seru ditonton malem-malem gini. Setuju Geeta?” Om menoleh ke arah Geeta. Dia mengangguk, lalu Om beralih menatapku.


“Kamu ga takut kan, Han?” tanyanya dengan satu alis terangkat.


“Enggah lah!” Suaraku naik. “Cuma film. Lagian aku ga percaya hantu-hantu kayak gitu.”


“Tapi takut darah~” goda Om tidak mau berhenti.


“Udah ah! Nonton aja.”


“Tapi film horor kan ada darahnya, Han. Merinding ih~ Merinding~”


“Nonton aja sanaa!!!”


.


.