Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XLIX



Tidak mau menimbulkan keributan yang lebih parah, aku menuruti permintaan Paman dan duduk kembali di kursiku.


“Yaudah, kita ganti topik. Giliran kalian yang nanya-nanya ke Paman.”


“Sejak kapan Paman pindah ke RS ini?” Aku langsung bertanya tanpa basa-basi.


Paman diam sejenak. Tersenyum tipis. “Kayaknya kamu bakal paham alasan Paman, Han.”


Alisku bertaut.


“Paman, cuman mau deket sama Ibu. Sama nenekmu.” Sepasang mata kelabu yang persis sama dengan milikku menatap nanar ke arah luar jendela. “Rasa kangennya udah ga bisa ditahan lagi. Jadi Paman pindah ke sini deh! Kurang lebih sama kan kayak kamu?”


Senyuman yang secerah rambutnya kembali terukir. Tapi aku tidak dapat merasakan sedikitpun kebahagiaan dari senyum itu.


Dia menghela. “Paman sampe bingung kenapa orang tuamu khawatir banget kamu tinggal di sana. Padahal… kalau kamu tahan-tahan terus perasaan kangenmu itu, bisa jadi fatal akibatnya.”


Paman tertawa kecil dan mengusak rambutku sampai berantakan. “Kamu sudah besar sekarang. Pasti semuanya bakal baik-baik aja.”


Kalau Paman bilang begitu aku jadi merasa terbebani. Gimana kalau aku mengecewakan kepercayaannya padaku?


Ponsel Paman berdenting dan dia berdiri. “Kayaknya kenalanmu udah selesai tuh. Yuk samperin.”


Aku ikut berdiri secara refleks. “Paman tau dari mana udah beres?”


Dia terkekeh lagi, dan menggoyang-goyangkan ponselnya. “Menurut kamu? Masa iya, Paman ajak kalian tunggu di sini tanpa nitip-nitip pesen.”


Aku mengangguk singkat dan mengajak Geeta untuk kembali. Katanya, Om Dien tidak mengalami luka parah. Tapi kaki kanannya cedera, dan ternyata yang berdarah itu lengannya. Ada benda tajam di dalam kardus yang dia bawa, dan itulah yang melukainya.


“Mulai sekarang kalian harus jaga Om kayak kakek-kakek beneran.” Om Dien melirik tongkat yang sudah disiapkan di samping ranjang.


Aku tersenyum tipis menanggapi. “Dari pada ga bisa jalan sama sekali, Om.”


“Duh, Han! Amit-amit… amit-amiit. Kalo ngomong itu loh, jangan sembarangan!” Om memukulku agak keras.


Sementara aku hanya cengengesan, lega rasanya melihat Om masih bisa marah-marah.


“Kalo ada apa-apa langsung telepon Paman aja ya, Han.” Paman menepuk pundakku dan tersenyum pada Om.


“Saya pamannya Hansa. Anda pasti kenalan yang dia omongin tadi ya?” kata Paman memahami pandangan heran Om Dien.


Om membalas uluran tangan Paman. “Oh, iya… mungkin.” Dia bergantian menatapku dan Paman. “Saya Dien. Kalian berdua... ga keliatan mirip,” komentarnya.


Paman tertawa. “Emang sih. Tapi dia keponakan kesayangan saya.”


Sampai beberapa menit, aku dan Geeta hanya berdiri menyaksikan dua “om-om” saling mengobrol. Kudengar Om tidak harus dirawat. Beberapa jam lagi dia bisa pulang.


Aku mengikuti Paman keluar UGD, sementara Geeta menemani Om.


“Jadi inget jaman dulu, Han.” Paman berceletuk merasakan kehadiranku. Dia tidak menoleh sama sekali dan memandangi taman rumah sakit dari balik jendela kaca besar.


“Jaman dulu yang mana?” Aku ikut berdiri di sampingnya.


Paman menoleh cepat ke arahku dengan pandangan tak percaya. “Kamu ga inget? Waktu itu ayahmu dan Paman berantem. Kamu sampe nangis-nangis padahal.”


Aku ber-oh, dan bertanya lagi. “Iya, terus apa hubungannya sama Om Dien?”


Paman masih memandangku dengan cara yang sama. “Ya, kan kita baikan di rumah sakit tempat Paman praktek juga.”


“Emang waktu itu Paman udah jadi dokter?”


Paman mendecak. “Yaudah! Koas! Waktu itu ayahmu yang minta maap duluan loh! Ah dahlah!”


Paman mengayunkan sebelah tangannya. “Males bahas lagi. Mending kamu suapin si Om Dien makan tuh.”


Aku terkekeh dan merangkul Paman. “Jangan ngambek dong om bule. Ingatanku masih acak-acakan Paman ingat?”


Dia diam dan kembali menatapku. “Ingatanmu masih belum balik?”


“Malah kupikir awalnya gaakan pernah balik,” balasku sambil menggeleng.


Paman menunduk dan melepaskan rangkulanku. Ganti dia yang merangkul. “Duduk di taman kuy.”


...…...


“Ayah belum pulang?!”


Ren terperanjat kecil mendengar pekikan keponakannya. Dia mendekatkan diri ke pintu kamar. Mencuri dengar perbincangan di bawah.


“Hannie, jangan teriak-teriak begitu. Sekarang masih pagi.”


“Aku ga akan pulang ke rumah kalo Ayah masih belum kembali ke sini!”


“Hannie!”


Ren menunduk. Kenapa bocah kecil itu jadi ikut-ikutan merusuh? Pertengkaran dia dan kakaknya sudah cukup membuat keributan.


Dia menghembuskan napas panjang. Kakaknya itu tidak mungkin meminta maaf duluan. Ren juga merasa dirinya tidak benar-benar bersalah. Tapi,


“Aku cuman mau lihat Paman dan Ayah baikan! Kenapa itu susah banget?!”


Tidak tahan dengan keributan yang dibuat anak kecil bermata kelabu itu, Ren meraih tasnya. Memutuskan untuk turun sekarang. Dia sudah berencana untuk kembali ke Jakarta sejak beberapa hari yang lalu.


Tapi sama dengan keponakannya, Ren juga menunggu sang kakak untuk kembali. Dan ternyata yang ditunggu tidak juga datang.


“Ibu?” Ren melongokkan kepalanya dari tangga. Memeriksa apakah ibunya bergabung di ruang TV yang berisik itu.


“Nona Grace ada di halaman belakang Mas Ren.” Ren menoleh ke belakang. Itu Eli.


“Oh? Sendiri?” tanyanya sembari membantu perempuan itu membawa tumpukan pakaian yang siap dijemur.


“Iya. Kayaknya sih, kalo si cerewet itu ga ganggu.” Eli terkekeh pelan.


Perempuan itu secara sukarela menunjuk dirinya sendiri untuk merawat Sophie Grace. Katanya Sophie sudah membantu keluarganya dulu. Entahlah, Ren awalnya tidak peduli, tapi setelah mengenal perempuan itu dia jadi tertarik untuk mencari tahu lebih jauh.


Tapi, tidak. Ren merasa dirinya terlalu ‘kacau’ untuk perempuan baik-baik seperti Eli.


“Gitu ya? Oke.” Ren menuruni tangga lebih dulu.


“Mas Ren gausah bantuin juga gapapa kok. Saya masih bisa bawa sendiri.”


“Santai, El. Jiwa lelaki gue meronta-ronta liat cewek bawa barang banyak gini. Lo- Kamu, masih aja kaku ngomongnya. Udah bertahun-tahun loh kita kenal. Seumuran juga kan?”


Eli menggeleng. “Beda setahun. Dan engga, saya ga enak kalo ngomong santai sama keluarga Nona Sophie.”


“Loh? Gu- Aku lebih tua?” Ren menoleh singkat.


“Iya. Mas Ren baru sadar sekarang? Menurut Mas kenapa saya manggil Mas ‘Mas’?”


Ren terkekeh mendengar jawaban Eli. “Iya, iya. Tapi ya jangan kaku-kaku banget gitu lah. Gaenak juga buat saya. Ah- tuh kan jadi ikutan kaku juga saya-nya.”


Entah karena ucapan Ren memang terdengar lucu untuk Eli, atau perempuan itu hanya tertawa secara profesional. Tapi Ren merasa lega setiap melihat wajah serius Eli melunak begitu.


“Di taruh di sini ya bajunya.” Ren meletakkan setengah tumpukan baju di atas kursi kayu halaman depan. Sementara Eli langsung mendekat ke tali jemuran.


“Eh, iya Mas. Makasih ya.”


Ren mengangguk dan berjalan memutari rumah sedikit. Dia tidak mau masuk lagi untuk ke halaman belakang.


“Bu…?” Ren mengintip. Benar kata Eli. Ibunya ada di halaman belakang dengan dua asisten rumah tangga lain di dekatnya. Hansa ternyata masih di dapur. Merengek ke bundanya.


“Oh? Ren, mau kemana?” Sang ibu menoleh sembari menyesap teh hangat seperti biasa.


“Mau balik ke Jakarta. Ren masih belum lulus Ibu ingat?” Dia duduk di kursi yang kosong menghadap ibunya setelah meminta privasi pada dua asisten rumah tangga itu.


Sang ibu mengangguk. “Kamu ga nunggu kakakmu pulang?”


“Dia ga akan pulang dalam waktu dekat. Lebih baik lagi kalo Ren yang samperin dia. Walau Ren juga belum yakin sih.” Laki-laki berwajah persis sama dengan ibunya itu menunduk dan tersenyum tipis.


“Ren usahain buat ga nunda-nunda baikan. Ren ga mau Ibu kepikiran terus. Ga mau juga, si cerewet itu ngambek tiap hari begini.” Dia melirik ke dapur. Kini Hansa sedang menangis sesenggukan.


“Ibu, percaya kalian ga bakal berantem lama.” Senyuman ibunya yang biasa terukir kini padam. “Kalian saudara, hubungan kalian ga mungkin semudah itu diputus kan?”


Melihat ekspresi itu, Ren tidak tahan untuk tidak menangis. Tapi ia tetap berusaha agar air matanya tidak menetes di depan sang ibu.


“Iya. Kakak juga pasti masih inget sama pesen Bapak ke kita-kita. Ibu ga usah khawatir ya. Mungkin abis Ren pulang ke Jakarta, Kakak bakal balik ke sini. Dari kemaren ga dateng-dateng mungkin nunggu Ren pergi dulu.”


“Hush, jangan begitu. Kakakmu ga mungkin begitu. Dia cuman butuh waktu sendiri.” Ibunya menepuk tangan Ren.


“Tapi bisa aja, Bu. Toh dia lagi emosi banget sama Ren kan? Ren juga maklum kok. Santai aja.” Ren memaksakan senyum agar ibunya berhenti khawatir.


“Dia ga mungkin ninggalin anak dan istrinya di sini gitu aja. Pasti bakal dia jemput, cuman karena males liat muka Ren, dia jadi males balik ke sini.”


Ibunya menghela pasrah. Dua anak laki-lakinya itu susah sekali dinasehati. Tapi biar bagaimanapun mereka sudah dewasa, pasti bisa selesaikan masalahnya sendiri.


“Yaudah, terserah Ren sama Radi aja. Kalian pasti punya cara sendiri buat baikan. Cuman inget aja pesen bapak—”


“‘Jangan sampai putus hubungan dengan saudaramu. Jangan bertengkar lebih dari satu minggu. Bardamai secara baik-baik.’ ” Ren mengulangi pesan bapaknya.


Sang ibu mengangguk. “Yaudah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut juga.”


Ren tersenyum tipis dan mencium kening ibunya setelah mencium tangan. “Ren berangkat ya, Bu.”


“Ga pamit sama May? Hansa gimana? Nitta?” tahan ibunya ketika dia sudah berdiri.


“May udah Ren SMS. Mba Nitta udah semalem Ren pamit langsung. Kalo si cerewet….” Ren tertawa kecil. “Mending ga usah deh, nanti dia malah makin kejer nangisnya.”


“Kalian berdua tuh sukanya ninggalin Hansa tanpa pamit. Kasian loh Ren.”


Ren menggeleng. “Nanti kutelepon lewat Mba Nitta, Bu. Aku ga bakal ga ngasih kabar sama sekali kayak kakak,” katanya kemudian berjalan ke mobilnya di halaman depan.


Semoga saja, sampai di Jakarta dia tidak sengaja bertemu dengan kakak laki-lakinya itu. Ren lebih suka alam yang mempertemukan mereka, daripada mereka sendiri yang membuat janji temu.


.


.