Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter XXXIII



“Geeta!!!” Aku berlari ke rawa sesaat setelah pulang dari pantai.


Sekarang pukul 7 malam. Nenek ikut bersamaku tentu saja.


“Geeta, aku habis dari pantai loh. Cepat naik!”


Geeta memunculkan kepalanya di permukaan dan mendekat. “Pangtai?”


Aku mengangguk. “Iya! Awalnya sih ga begitu semangat waktu Paman ajak ke pantai. Tapi begitu sampe di sana. Wah! Keren banget!”


Mata Geeta ikut bersinar mendengar ceritaku.


“Airnya luaas banget. Aku ga bisa liat ujungnya. Terus, banyak kapal. Udah gitu, kamu tau apa yang paling ajaib?”


Geeta menggeleng.


“Airnya asin!” Aku tertawa lepas. Diikuti dengan senyum Nenek di belakangku.


“Kamu juga harus lihat Geeta! Pasti airnya jauh lebih nyaman daripada air rawa.”


Geeta naik ke daratan. “Pangtai…” gumamnya sembari menengadah. “Hita, mau sana.” Dia menunjuk langit dengan tatapan menerawang.


“Kamu mau ke angkasa? Pfft, itu agak mustahil. Belum ada teknologi yang cukup canggih untuk membawa kita ke sana. Maksudku, tidak untuk publik.”


Aku ikut menengadah di samping Geeta. Kakinya masih tenggelam di air, jadi masih berbentuk ekor ikan.


“Kakimu, eh- ekormu? Warnanya kok kayak glitter? Kerlap kerlip.”


Geeta memperhatikan ekornya mengikutiku. “Glitah?”


“Iya, glitter. Mirip deh sama bintang-bintang di langit.” Aku menengadah lagi, dan menunjuk bebas ke langit.


“Kamu aneh Geeta. Udah pasti kamu bukan manusia. Warna dan bentuk mata, tubuhmu, juga ekor itu. Semuanya aneh. Kamu kayak bukan berasal dari dunia ini.”


Nenek ikut duduk di sampingku. “Masih banyak rahasia di dunia ini yang belum diketahui manusia, Hannie. Termasuk Geeta. Dia mungkin salah satu rahasia dunia.”


Aku memandang Nenek bingung. “Tapi aku sama Nenek kan udah tahu. Berarti bukan rahasia lagi dong?”


Nenek terkekeh. “Ya, selama masih belum banyak yang tahu, itu masih rahasia.”


Aku beralih menatap Geeta yang juga sedang memandangku. “Kalau begitu, apa aku tidak bisa membawamu jalan-jalan? Karena keberadaanmu tidak boleh diketahui.”


Geeta memiringkan kepalanya bingung. Tentu saja, aku tidak akan terkejut kalau dia tidak paham.


“Nek, apa rahasia ga boleh diketahui selamanya?”


Nenek diam, kemudian menjawab. “Tidak juga. Sebaik apapun rahasia itu dijaga, lama-lama juga akan terkuak. Entah dengan cara apa, yang pasti keberadaan Geeta harus diketahui baik-baik.”


Nenek kini memandang Geeta yang ada di sampingku. “Siapa yang tahu kita- manusia dan makhluk seperti Geeta, bisa hidup berdampingan kan? Tanpa salah satunya harus sembunyi.”


“Tapi gimana kalau manusia malah berbuat jahat pada mereka? Di sekolah, aku baca banyak binatang liar yang hampir punah karena manusia. Kalo gitu lebih baik rahasia dunia tetap jadi rahasia selamanya dong.” Aku membantah.


Pernyataan yang keluar dari mulut kecilku membuat Nenek bungkam. Siapa yang akan menduga pernyataan seperti itu akan keluar dari bibir anak berusia tujuh tahun?


“Kamu memang cucu Raje. Tidak diragukan lagi,” balas Nenek keluar konteks.


“Apa hubungannya sama Kakek? Kita lagi bahas manusia dan makhluk lainnya kan?” protesku.


Nenek lagi-lagi tertawa. “Hannie, kamu memang cerdas. Tapi mendengarmu bicara seperti ini membuat Nenek agak takut.”


“Takut kenapa?” tanyaku heran.


“Takut kehilangan. Gimana kalau kamu diculik sama orang-orang tertentu buat dilihat otaknya? ‘Kok bisa ada anak secerdas ini?’ begitu.”


Aku ikut tertawa mendengar penjelasan Nenek. “Kalo gitu aku terlalu cerdas buat diculik sama mereka. Kalaupun berhasil diculik, aku juga akan berhasil kabur dengan mudah.”


Nenek menghembuskan napasnya menyerah. “Berdebat denganmu bukan pilihan yang tepat. Nenek akan ingat itu.”


“Seru kan? Tapi aku ga suka perdebatan yang sia-sia dan ga penting.” Aku tertawa puas.


Geeta, dengan mata permatanya hanya bisa mengamati. Dia seperti mempelajari sesuatu. Sesekali aku mendapati diriya memandangku dengan cara yang aneh.


Setengah sedih, setengah rindu. Sama seperti tatapan Nenek saat aku tidak mengunjunginya dalam waktu lama.


Padahal kan aku dan Geeta juga baru kenal. Kenapa rasanya dia sudah jauh mengenalku sebelum ini ya?


“Geeta, walapun kamu rahasia dunia atau apapun itu. Aku akan tetap membawamu jalan-jalan. Teruama pantai. Janji deh!”


Aku menyodorkan jari kelingking ke hadapan Geeta. Dia menatap jariku dengan alis terangkat.


Geeta ber-oh kecil, dan mengangguk. Kaitan jarinya semakin erat. Dia menatapku. “Hangi, aang! Aang!”


Aku terkekeh. “Iya, aku janji. Kita akan ke pantai suatu saat nanti. Ya?”


...…...


“Han? Hansa? Hansa!”


Aku mengerjap saat Tante menjentikkan jarinya tepat di depan wajahku.


“Eh, iya?”


“Iniloh, Han. Kenalan Tante, namanya Dien. Kamu bisa panggil dia Om, Kakek, apaan aja deh.” Tante memperkenalkan temannya sesingkat mungkin.


Salahku tidak mendengarkannya sih. Ingatanku datang begitu saja tadi.


“Hansa.” Aku menjabat tangan Pak Dien itu. Dia tidak terlihat setua yang aku pikirkan. Kata Bibi usianya sudah awal lima puluhan.


“Dien. Kita bisa bicara dengan santai, Han,” katanya membalas jabatan tanganku.


Aku mengangguk. “Kalau begitu, Om?” tanyaku memastikan apa dia mau dipanggil Om atau tidak.


“Boleh. Panggil senyamanmu aja.”


Setelah berbincang singkat di luar, aku mempersilahkan mereka masuk. Dan membiarkan Paman Dien memilih kamarnya sendiri.


“Aku pilih yang paling ujung. Kau tahu, aku ini musisi. Bisa gawat kalau kamu dan temanmu terganggu karena aku.”


Aku tertawa kaku. “Ya, buat diri anda nyaman.”


Setelah memastikan semuanya beres. Tante yang hendak pulang ke rumahnya terhenti.


“Oh ya, Han. Dimana temanmu itu?”


Aku dengan tenang menunjuk kamar yang lain di dekat tangga. “Di sana. Dia sedang tidur. Kayaknya kecapean.”


Tante mengangguk. “Oke deh. Kapan-kapan kita makan bareng di sini ya. Tante ajak Om juga.”


Om, suaminya Tante. Aku sampai lupa belum menyapanya sejak datang ke desa ini.


“Iya, kapan aja. Aku ga keberatan.”


Tante memukul lenganku. “Iyalah! Kalo keberatan Tante tendang kamu dari sini. Udah ya, Tante harus siapin masakan nih. Bye, Hannie!”


Aku melambaikan tangan sambil tersenyum tipis di ambang pintu depan. Tante orangnya ceria sekali.


Kalau dia robot, pasti ga perlu ganti baterai atau di cas. Ga pernah habis gitu energinya.


Aku terkekeh sendiri dan pergi ke dapur. Menyiapkan makanan untuk ‘warga’ penghuni rumah Nenek.


“Om Dien suka udang?” tanyaku saat dia baru selesai mandi dan turun dari tangga.


“Oh, tentu. Aku bukan orang yang pemilih. Omong-omong temanmu ga ikut makan?”


Aku menuangkan masakan yang sudah matang ke mangkuk dan priring-piring. Kemudian mencuci tangan.


“Tadi lagi tidur. Biar saya saja yang bangunin.”


Om mendengus geli. “Udah Om bilang jangan kaku-kaku. Santai aja, Han. Om juga udah punya anak seumuran kamu. Kalo kaku-kaku rasanya ga nyaman.”


Aku meggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Oh, iya. Maap deh. Aku bangunin Geeta dulu ya, Om,” ralatku lebih santai.


Om melebarkan matanya. “Geeta? Temanmu perempuan?”


Aku mendesis samar. Aku lupa bilang kalau temanku perempuan ya?


“Pfft, kamu nakal juga, Han. Om kira kamu anak yang diem-diem aja.” Om Dien terkekeh. Tidak menanyakan lebih jauh, dia langsung duduk di meja makan dan mengibaskan sebelah tangannya.


Menyuruhku pergi.


“Udah sana, bangunin ‘temenmu’ itu.”


“Beneran cuma temen kok, Om,” sahutku sambil tersenyum kaku dan pergi ke kamar Geeta.


.


.