Hansa & Geeta

Hansa & Geeta
Chapter III



“Aku akan baik-baik saja, janji deh. Lagian, ga ada satupun diantara Ayah, Bibi May, atau paman, yang mau tinggal di sana kan?”


Ayah mengangguk lalu menatap Bunda. Sudah pasti, dia memperbolehkan. Bagi Ayah, alasannya tidak ingin tinggal di sana adalah memori.


Sama sepertiku, Ayah merasakan sakit yang luar biasa di hatinya saat berada di rumah itu. Bedanya ingatan Ayah tidak sampai menghilang.


Alasan yang sama juga berlaku pada bibi dan paman, sepertinya.


Bunda menunduk sedikit menanggapi tatapan Ayah.


“Baiklah, tapi sering-sering kabarin kita,” kata Bunda dengan suara tertahan.


Aku sudah akan tersenyum saat Zihan merengek dan memutar-mutar lenganku.


“Kakak jangan pergi! Jangan pergi!!!”


Bunda menarik Zihan untuk melepaskanku, kemudian mengelus pipinya yang memerah.


“Saat seusiamu, kakak juga sama keras kepalanya,” kata Bunda lirih.


Aku tersenyum lemah.


“Maaf. Buku keempatku akan berlatar pedesaan. Aku pikir kawasan rumah Nenek akan menjadi inspirasi yang bagus.”


Bunda melirik ke arahku, kemudian tersenyum lembut. Mata kecoklatannya menatapku dengan penuh kasih sayang. Tersirat rasa takut akan kehilangan.


“Jaga dirimu, Tuan penulis.”


Aku menghela lega. Bunda, dia yang paling khawatir saat aku sedang depresi. Segala cara dia lakukan untuk mengembalikanku.


“Baiklah. Sudah cukup. Hansa hanya ingin tinggal di rumah Neneknya. Hal buruk apa yang akan terjadi?”


Ayah berdiri dari kursi. Mendengar itu Bunda langsung ikut berdiri dan menatap tajam Ayah.


“Jangan mengentengkan masalah ini,” geramnya.


Ah, begini lagi. Pertengkaran kecil karena diriku yang keras kepala.


Zihan berhenti merengek melihat perdebatan kecil antara Ayah dan Bunda. Entahlah, tapi menurutku setiap kali Ayah dan Bunda berdebat, Zihan tampak menikmatinya.


Seakan semua itu adalah hiburan yang menarik.


Aku mendengus geli. Keluargaku, kurasa tidak akan ada yang bisa menggantikan mereka.


...…...


Bruk!


Aku menutup pintu mobil dan menarik napas panjang. Kupandang rumah besar bergaya eropa milik Nenek dalam-dalam.


Ini dia. Kenangan dua puluh dua tahun lalu. Sejak aku dilahirkan.


Ponselku berdering di tengah keheningan. Aku membaca nama penelepon, kemudian baru mengangkatnya.


“Halo, Bun?”


Terdengar suara khawatir Bunda dari ujung sana.


“Hannie! Kamu sudah sampai? Gimana? Kamu gapapa kan?”


Aku tertawa kecil mendengarnya.


“Jangan ketawa! Bunda lagi serius ini.”


Aku berkacak pinggang dan mengangguk.


“Iya, aku gapapa. Rumah Nenek masih terlihat bagus seperti dulu.”


Bunda mendesah lega, tapi masih ada rasa khawatir.


“Iya, rumah Nenekmu kan dirawat sama tetangga di sana. Ayahmu yang nitipin. Kamu minta kuncinya sama dia.”


Aku mengangkat alis. Tetangga?


“Tetangga yang mana?”


“Di seberang.”


Aku menatap ke arah belakang rumah Nenek. Di sana, di seberang rawa ini, ada perkampungan yang lebih ramai.


“Di seberang rawa?” tanyaku lagi memastikan.


“Iya. Kamu bisa nyebrang lewat jembatan. Ayahmu udah bilang sama mereka kalo kamu bakal dateng.”


Serius? Tahu begitu aku ke sana dulu.


“Oke, nanti aku ke sana. Makasih Bunda. Salam sama Ayah.”


Bunda menahanku sebentar.


“Eh, jangan lupa makan ya nanti!”


Aku tersenyum tipis. Sepertinya walau aku sudah kakek-kakek pun Bunda akan tetap melihatku sebagai anak kecil.


“Iya. Nanti aku makan semua bekel yang Bunda bawain. Dah ya!”


Panggilan berakhir. Sekali lagi, aku memandang jauh ke area rawa belakang rumah.


Rawa itu tidak terlihat kotor dan mengerikan. Sebaliknya, rawa itu terlihat sangat bersih, dan indah. Nyaris seperti danau.


Sekali penasaran, tetap penasaran.


...…...


Tujuh belas tahun yang lalu.


Usiaku masih lima tahun. Seperti minggu-minggu biasanya, kami pergi berkunjung ke rumah Nenek. Kala itu aku masih memanggilnya Nana.


Aku adalah tipikal anak pada umumnya, senang sekali saat pergi ke rumah Nenek. Wanita paling baik setelah ibu, benar?


Tapi agaknya, kehadiran Nenek sedikit berbeda untukku. Aku lahir di rumah besar bergaya Eropa itu.


Nenek merawatku selama Ayah dan Bunda pergi kerja. Kami sering menghabiskan waktu bersama.


Saat berusia empat tahun, keluarga kecil kami pindah ke kota. Meninggalkan Nenek sendirian. Aku menolak dengan tegas tentu saja.


Sampai Ayah harus memberikanku obat tidur. Jahat? Ya, memang. Tapi harus kalian tahu, aku yang masih sangat kecil dan sangat keras kepala itu jauh lebih liar daripada harimau.


Bahkan Zihan masih kalah jauh liarnya.


“Nana!!!” seruku begitu sampai di pekarangan luas, tempat Nenek menungguku.


“Hannie!” Nenek balas memanggilku.


Aku berlari dan memeluknya erat. Harum tubuhnya sangat khas.


Aku suka.


“Ayo masuk, sayang. Udaranya dingin sekali di luar sini.”


Nenek mengusap lembut kepalaku. Aku tersenyum riang. Mata kelabu Nenek sangat menenangkan.


Nenek tidak benar-benar tinggal sendirian sih. Ada beberapa asisten rumah tangga yang siap melayani Nenek.


Semuanya Ayah yang menyiapkan.


“Ibu, apa kabar?” sapa Ayah di ruang keluarga.


Sejak sampai tadi, Ayah dan Bunda sibuk menata barang-barang bawaan kami.


“Baik. Kamu?”


Ayah mengangguk. Walaupun dia bisa mengontrol emosi dan ekspresi wajahnya dengan sangat baik, tapi di depan Nenek dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Aku tersenyum penuh percaya diri. Dalam hati aku bergumam, aku tahu perasaan itu Ayah. Rumah Nenek ngangenin, kan?


Bunda, yang baru saja selasai merapikan pakaian kami dikamar lantai atas, turun ke bawah. Kemudian menyalami Nenek.


“Ibu baik-baik aja kan?”


Nenek lagi-lagi mengangguk.


“Walau tidak sebaik saat kalian berada di sampingku setiap hari.”


Bunda tersenyum tipis. Merasa agak bersalah.


Aku mendengus. Kenapa Bunda harus merasa bersalah seperti itu? Kita pindah ke kota kan ide Ayah.


Harusnya Ayah saja yang merasa bersalah. Aku menatap sinis Ayah, dan dia balas menatapku dengan tatapan heran.


Rambut kuning Nenek yang mulai berubah putih tertiup angin dari jendela. Dia menoleh menatapku.


“Hannie, mau lihat-lihat ke halaman belakang?”


Mataku berbinar. Tanpa meletakkan kembali kue biskuit yang sedang kumakan, aku berdiri.


“Ayo!”


Ayah terkejut dan berusaha menahan. Baginya halaman belakang adalah tempat paling berbahaya untukku.


Tapi Nenek memberi isyarat kepadanya untuk diam.


Aku tertawa puas. Hanya Nenek yang dapat mengatur Ayah.


Pintu besar yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang terbuka. Angin sejuk menggelitik wajah mungilku.


Aku memejamkan mata. Membiarkan diriku menikmati sejuknya udara pedesaan.


Nenek mengusak rambut lurus kecoklatanku yang digerakkan oleh angin.


“Lihatlah, Hannie. Pemandangan desa seberang sana tidak kalah indah dengan rumah Nana kan?”


Aku mengangguk.


“Iya! Tapi bagiku rumah Nana tetap yang paling keren.”


Nenek tertawa mendengar penyataan polosku.


Hari itu, aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan kehilangan Nenek.


Menurut pikiran kecilku, Nenek akan hidup selamanya, abadi seperti vampir.


.


.