
“Kamu ga apa-apa? Ada yang sakit ga?”
Aku memandang cemas gadis berambut hijau yang duduk di atas trotoar dengan tangan bergetar.
Bodoh. Sudah jelas Geeta tidak baik-baik saja. Kenapa aku menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya?
Kami sudah di parkiran. Sebelum masuk ke mobil, aku memilih menenangkan Geeta terlebih dulu. Sepertinya dia kaget sekali.
Geeta menatap lurus ke mataku. Air matanya menggenang.
“Hangi….”
Aku berlutut di hadapan gadis itu dan memeluknya. “Kamu pasti kaget ya. Sampai memanggilku ‘Hangi’ lagi,” ujarku mendengus geli.
Aku menempelkan daguku di atas kepalanya. “Maaf, aku ga lihat kamu melambaikan tangan.”
Hal yang sama juga suka aku lakukan pada Zihan kalau dia sedang sedih. Biasanya tidak lama Zihan akan kembali tenang.
Aku harap cara ini berlaku juga pada Geeta.
Merasakan air matanya mulai membasahi bajuku, aku mengusap lembut rambut Geeta. Dia yang memperlihatkan sisi rapuhnya membuat hatiku sedikit terluka.
Di luar dugaanku, ternyata Geeta juga bisa sangat ketakutan seperti ini. Dia lebih ‘manusia’ dari yang aku bayangkan sebelumnya.
Kupikir karena dari kemarin dia sangat periang, hal semacam ini tidak mungkin terjadi. Aku terlalu meremehkan kepribadian Geeta.
Masih banyak yang belum aku ketahui. Bukan. Masih banyak yang belum aku ingat.
Setelah dirasa Geeta mulai tenang, aku melepaskan pelukan dan memberinya sebotol air mineral.
“Kita makan di rumah aja, ya? Aku masakin makanan yang enak.”
Geeta mengulum senyum, dan mengangguk. Aku ikut tersenyum melihatnya. Kemudian mengusak rambut gadis itu.
“Ayo. Kita pulang,” ajakku sambil mengulurkan tangan.
Kami jadi gagal beli baju untuknya. Padahal kenalan Tante sudah mau datang.
Yah, aku bisa cari solusi lain. Yang terpenting saat ini Geeta baik-baik saja.
...…...
Aku meraih ponsel untuk memesan jam tangan baru. Sejujurnya sayang juga aku memberikan jam itu secara cuma-cuma.
Kalian tahu? Itu barang pertama yang aku beli dengan uangku sendiri!
“Mau makan apa? Kayak yang tadi, atau mau beda lagi?” tanyaku begitu urusan beli membeli selesai.
Suaraku tampaknya membuyarkan Geeta yang sedang melamun sambil melihat keluar jendela mobil.
Dia menoleh dan berpikir sejenak. Lalu menuliskan sesuatu di atas kertas yang memang sedari tadi dia bawa di kantung jaket.
[Terserah.]
Aku tertawa kecil membaca tulisan itu. Ternyata mau gadis Manusia ataupun Diwa tetap saja mengucapkan kata ‘keramat’ itu ya?
“Terserah? Kenapa terserah? Dengar, aku tidak suka jawaban yang tidak pasti, jadi lebih baik kamu bilang aja apa yang benar-benar kamu inginkan,” kataku tetap fokus pada jalanan, walau sesekali melirik Geeta.
Dia menekuk bibirnya. Kemudian menulis lagi.
[Aku suka semuanya.]
Membaca itu aku tertawa lagi. “Apa bedanya sama terserah? Cepat putuskan. Mau makan apa? Ayam? Ikan? Atau yang sama kayak di restoran tadi?”
Yang aku maksud adalah makanan cepat saji.
Geeta diam. Menekuk kaki, dan memeluknya. Caranya duduk seperti anak kecil.
Karena tidak menjawab juga, akhirnya aku yang mengusulkan.
“Kalo gitu mau kubuatkan makanan kesukaan Nenek?”
Geeta menoleh menatapku dengan antusias. “Maw!!” katanya kencang.
Aku terkekeh. “Oke. Kita beli bahannya dulu. Stok makananku sudah habis sama kamu.”
Geeta mengangguk, tidak peduli pada apa yang aku katakan. Tampaknya dia sudah baik-baik saja.
Iya, teruslah seperti itu. Aku lebih baik melihat Geeta yang bersemangat dan tidak bisa diam, daripada Geeta yang diam ketakutan seperti tadi.
Sampai di minimarket terdekat, aku turun dari mobil. Meninggalkan Geeta di dalam.
Dia tidak mau keluar. Masih takut kejadian tadi terulang lagi. Jadi kutinggalkan dia di sana.
Sebenarnya aku malah takut meninggalkannya sendiri. Tapi, sudahlah. Dia tidak mau.
Dengan langkah lebar, aku memasuki minimarket. Membeli bahan-bahan yang dibutuhkan, membayarnya, kemudian kembali lagi ke mobil.
“Geeta! Aku—”
Mataku melebar begitu membuka pintu mobil.
Geeta tidak ada di sana. Dia tidak ada di dalam mobil!
“Geeta!”
Kemana dia? Harusnya aku paksa saja tadi!
Agh, bodoh.
Kau sangat bodoh Hansa.
Aku gelagapan mencari Geeta ke sana dan kemari. Kutanya tukang parkir, tapi katanya dia tidak lihat. Kemudian dia jadi ikut bantu mencari.
Sampai aku ingat kalau kalungku akan bercahaya di dekat Geeta.
Aku mengeluarkan kalung itu tergesa-gesa dan mengarahkannya ke depan. Seperti pelacak.
Beberapa detik kemudian, kudapati kalung itu lebih bercahaya di dekat semak. Ujung area parkir.
Aku mendekat. “Geeta! Geeta!!” seruku.
Dari kegelapan, aku melihat sesuatu bergerak.
“Geeta?” Aku mendekat perlahan.
“Geeta! Cepat kemari kalau itu kau!”
Aku mengigit bibir. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana. Menyalakan senter, dan mengarahkannya ke dalam kegelapan itu.
Aku bisa melihat rambut hijau lumut Geeta. Kemudian bernapas lega.
“Geeta… kau membuatku cemas setengah mati. Cepat kemari.”
Saat aku berusaha menepuk pundaknya, Geeta tiba-tiba berdiri dan berbalik menghadapku.
“UWAH!!!”
Aku terperanjat, sampai nyaris terjatuh. “Apasih? Kenapa tiba-tiba?!”
Aku menyorot wajah gadis itu. Dia tampak berseri-seri. Kemudian aku sadar dia memeluk sesuatu.
Aku menurunkan sorotan cahayanya. Dan, oh- itu kelinci!
“Apa itu? Maksudku, dari mana kau mendapatkan itu?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.
Geeta mengangkat kelinci hitam itu lebih tinggi. Berusaha menunjukkan sesuatu.
“Hannie, aang! Aang!” katanya sambil menunjuk kaki kelinci.
Rupanya kaki binatang malang itu terluka. Sepertinya terkena perangkap.
Ah, kita sudah ada di dekat desa. Dan biasanya banyak yang memburu binatang-binatang seperti ini.
“Wah, kasihan….”
Tapi tampaknya Geeta mengharapkan respons lebih dari itu. Dia terus memelototiku penuh harap.
Aku mendesah pasrah. “Kau mau merawatnya?”
Geeta mengangguk semangat. “Aaang! Aaang!!!”
Aku berkacak pinggang dan menyibakkan rambut. Rasanya hari ini aku lelah sekali. Terlalu banyak yang terjadi.
“Baiklah. Kalo gitu kita beli perlengkapannya dulu.”
Kali ini Geeta mengikutiku keluar dari mobil ke toko-toko penjual perlengkapan untuk memelihara kelinci.
Setelah itu membawa kelincinya ke dokter hewan. Agak sulit mencari dokter hewan saat sudah memasuki kawasan desa.
Tapi untungnya ada, jadi kami tidak perlu kembali lagi ke kota.
Haahh, kalau dipikir-pikir, kenapa aku tidak bisa bilang ‘tidak’ pada Geeta ya?
“Cepat sehat~” kata dokter begitu aku selesai membayar biaya pengobatan.
Di luar klinik, aku melakukan perjanjian dengan Geeta perihal kelinci itu.
“Geeta, janji padaku kau akan merawatnya. Kamu yang mau.”
Geeta mengangguk tanpa pikir panjang. Kemudian kembali ke mobil.
“Hannie! Aang!” seru Geeta sambil menunjuk mobil dengan tangannya yang bebas. Satunya memegang kandang kelinci.
Dia memintaku membukakan kunci mobilnya ya? Haha.
Aku manarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
Tadi Geeta agak marah saat aku memasukkan kelinci itu ke kandang. Tapi, lebih baik begitu kan? Kasihan kakinya sakit.
“Oke, okee. Sabar sebentar…” sahutku sambil memaksakan seulas senyum.
Baru keluar satu kali, tapi sudah semelelahkan ini. Mungkin aku tidak akan membawa Geeta keluar lagi untuk waktu yang lama.
.
.