
AL 89
Lana baru selesai mengikuti kuliahnya ketika akan menjelang sore.
Dia langsung keluar dari kelasnya karena ingin menghindari Adrian yang tadi siang diberinya kecupan bibir.
Lana hanya merasa malu saja jika harus bertemu Adrian saat ini dan ia akan bertemu besok saja dengan pacarnya itu.
Lana berlari kecil ke di lorong sekolah. Setelah keluar dari gedung sekolah dia pun berjalan cepat karena Adrian akan keluar dari kelasnya lima menit lagi.
Beberapa menit kemudian, ada tangan yang mencengkeram pergelangan tangan Lana dan menariknya hingga tubuh Lana bersandar di dinding gedung.
"Kau mau lari dariku?" ucap Adrian tersenyum.
"Tidak, aku hanya terburu buru karena aku sedikit sakit perut," sanggah Lana.
Adrian tertawa mendengar hal itu lalu memagut bibir Lana yang sedikit terbuka.
Adrian sudah lama menantikan hal ini dan ia tak ingin menyia nyiakan lampu hijau yang sudah dinyalakan oleh Lana.
Lana menahan dada Adrian dan melepaskan ciuman itu.
"Kau gila? Ini tempat umum," kata Lana.
Adrian tertawa kecil lalu menarik tangan Lana dan membawanya ke mobil yang jaraknya hanya 20 meter dari tempat mereka berdiri.
"Adrian, kau mau membawaku ke mana?" tanya Lana.
Adrian hanya diam dan membuka pintu mobilnya. Lalu menyuruh Lana masuk ke dalam.
Setelah masuk, Adrian pun masuk ke dalam mobil.
"Kau tak ada kegiatan setelah ini, bukan?" tanya Adrian yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.
"Ya, lalu?" sahut Lana.
"Kita ke apartemenku," kata Adrian.
"Untuk apa?" tanya Lana dengan kata penuh selidik.
"Kau sudah biasa ke apartemenku. Mengapa sekarang masih bertanya untuk apa?" sahut Adrian.
"Adrian, dengar, aku hanya membolehkanmu memciumku. Hanya itu saja dan bukan yang lainnya," kata Lana memperjelas hal itu.
Adrian tergelak mendengar ucapan Lana.
Lana bernafas lega mendengar hal itu. Setidaknya Adrian tak melanggar batas kesepakatan mereka, sampai sejauh mana pria itu boleh menyentuhnya.
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di apartemen Adrian.
*
*
Baru saja menutup pintu, Adrian kembali menyerang Lana dengan kulumann bibirnya.
Lana tahu hal ini pasti akan dilakukan Adrian lagi dan lagi. Lana mengalungkan tangannya ke leher Adrian dan membalas ciuman sang kekasih.
Adrian mengangkat tubuh Lana hingga Lana melingkarkan kakinya di pinggang Adrian sambil tetap berciuman.
Adrian membawa Lana ke sofa yang berada persis di depan balkon.
Adrian duduk dan Lana berada di atas pangkuannya. Mereka masih berciuman panjang hingga akhirnya terhenti karena ponsel di celana Adrian berbunyi.
Ingin rasanya Adrian mengumpat kasar, tapi dia menahannya dan memilih mengangkat ponselnya.
Lana masih ada di atas pangkuannya dan Adrian tak membiarkan gadis itu beranjak pergi dari tempatnya duduk.
"Halo, Mom," sahut Adrian.
"Kau di mana?" tanya Beau -- ibu Adrian -- dari seberang telepon.
"Aku di apartemen," jawab Adrian.
"Bersiaplah, kita akan berangkat malam ini," kata Beau.
"Ada apa? Mengapa harus dimajukan?" tanya Adrian mengerutkan keningnya.
"Perintah mutlak dari daddy," jawab Beau.
"Kita bertemu di bandara. Bye," ucap Beau dan menutup ponselnya.
Adrian kemudian menaruh ponselnya dan melihat ke arah Lana.
"Ada apa?" tanya Lana.
"Aku akan berangkat nanti malam," jawab Adrian dengan menempelkan bibirnya pada bibir Lana.