
ZN 68
Karena seharian tak tidur, kini akhirnya Lana tertidur nyenyak dan Adrian masih menunggu dengan setia di sana.
"Pulanglah. Aku akan menjaganya," kata Adrian.
"Aku tak percaya padamu. Bagaimana jika kau berbuat seuatu pada Lana?" Sahut Lune.
"Oh God, aku mencintainya jadi aku tak akan berbuat apa pun padanya," jawab Adrian akhirnya.
"Dalam semalam kau sudah mencintainya? Yang benar saja. Terlihat sekali ke-playboy-anmu," jawab Lune.
"Huuuffftt ... Begini, aku dan Lana sudah berpacaran 6 tahun yang lalu sewaktu dia kuliah di sini. Lalu dia meninggalkanku begitu saja dan memutuskanku hanya melalui pesan singkat. Aku dicampakkan oleh Lana. Jadi bukan aku yang mencampakkannya. Dan aku baru tahu kemarin bahwa Lana adalah kakakmu dan alsan dirinya meninggalkanku," kata Adrian yang akhirnya berkata jujur.
"Kalian berpisah karena aku?" tanya Lune.
"Secara tidak langsung, ya kami berpisah karena kecelakaan yang membuatmu koma. Fokus Lana dan orang tuamu hanya kau saat itu. Dan dia tak menceritakan hal ini padaku," jawab Adrian.
"Maaf, tapi aku harus menceritakan hal ini padamu, Lune. Aku tak menyalahkanmu karena semua ini sudah takdir. Dan fokusku saat ini adalah kembali pada Lana. Hanya itu yang aku inginkan," lanjut Adrian.
"Kau benar benar mencintai Lana? Lalu mengapa kau suka bermain wanita hanya karena kecewa pada Lana?" Ucap Lune.
"Oke, aku salah dan aku minta maaf akan hal itu. Tapi itu akan lebih mudah bagiku jika aku hanya bermain main dengan wanita dan tak serius dengan mereka. Aku tak akan melakukan hal yang sama dengan Louis. Dia bahkan bertunangan dan akan menikah dengan Claire. Sedangkan aku tidak, aku hanya bermain main dengan wanita wanita itu," ucap Adrian.
"Hei, mengapa kau bawa bawa aku? Akan kubuat kau babak belur, Adrian," sahut Louis.
"Ya, kau benar juga," jawab Lune akhirnya dan melihat ke arah Louis.
"Kesalahanmu lebih fatal dibanding Adrian, Honey. Kau menjalin hubungan dengan Claire bahkan akan menikah. Sedangkan Adrian tidak," ucap Lune memandang tajam pada Louis.
"Adrian, kau ..." geram Louis dan Adrian tersenyum tengil yang seakan senang melihat Lune sekarang beralih emosi pada Louis.
"Oke," jawab Louis dan merangkul bahu Lune.
Lalu Lune menepis tangan Louis dari bahunya. Louis menoleh pada Adrian yang masih tersenyum.
"Kau akan mati," bisik Louis pada Adrian.
"Selamat bersenang senang, Sepupuku tersayang," jawab Adrian melambaikan tangannya.
*
*
Lune hanya diam saja di dalam mobil ketika mereka dalam perjalanan menuju mansion.
"Kau marah padaku?" tanya Louis berusaha sabar menghadapi mood Lune yang kini sedang buruk karena Adrian tadi.
"Tidak. Jangan bicara padaku dulu. Aku tak marah padamu. Hanya sedikit kesal saja mengingat bahwa kau berhubungan serius dengan Claire ketika aku terbaring koma. Itu menyakitiku," jawab Lune pelan.
"Maaf jika itu akan selalu menyakitimu setiap kau mengingatnya," sahut Louis dan menggenggam tangan Lune lalu menciuminya.
Lune hanya mengangguk dan Louis tak berkata apa pun lagi agar suasana hati Lune tak semakin memburuk.
Setibanya di mansion, Louise memeluk Lune ketika mereka sudah berada di dalam kamar.
"Mau berdansa denganku? Kita sering melakukannya dulu dengan menggunakan musik di ponsel," ucap Louis lirih.
Lune tersenyum di ceruk leher Louis.
"Thank you. I love you much," bisik Lune.