
LL79
"Kau bisa bersikap ramah pada yang lain lalu mengapa tidak padaku?" tanya Adrian dengan mata birunya yang tajam.
"Karena kau alpha. Kau dominan dan sepertinya suka memaksa. Aku tak suka orang semacam itu," jawab Lana jujur.
"Kau baru mengenalku sehari dan mengambil kesimpulan seperti itu? Baiklah, kau juga sama, bukan? Itulah mengapa kau tak menyukaiku. Kau tipe wanita alpha. Kau dominan dan keras kepala," sahut Adrian tersenyum.
"Lalu? Apa masalahmu? Aku mengatur diriku sendiri. Jadi hidupku adalah masalahku. Kau tak perlu memasukinya dengan mendobraknya paksa," jawan Lana.
Adrian tertawa pelan dan memajuka wajahnya pada wajah Lana hingga wanita itu mendongak.
"Aku menyukaimu dan aku pastikan kau akan menjadi milikku tak lama lagi," kata Adrian.
Lana tak mengatakan apa pun karena sepertinya percuma berdebat dengan pria semacam Adrian.
"Lepaskan tanganku. Aku akan ada ujian sebentar lagi," ucap Lana.
"Ya, aku tahu hal itu. Sudah kubilang aku tahu semua jadwalmu, bukan?" Sahut Adrian.
"Kau seperti penguntit," jawab Lana.
"Penguntit tak muncul di depanmu, tapi mengikutimu dari belakang dan mengawasimu diam diam. Tapi aku tidak," sahut Adrian dan akhirnya melepaskan tangan Lana.
"Bye, My future. Semoga ujianmu sukses," kata Adrian dengan senyuman manisnya.
Lana berdecak dan pergi dari hadapan Adrian.
"Semakin lama dia semakin menakutkan," gumam Lana bergidik.
Lalu Lana berjalan cepat menuju kelasnya dan segera mengambil tempat duduk karena lima menit lagi ujiannya akan dimulai.
*
*
Siang hari, Lana tak keluar dari kelasnya karena dia malas bertemu Adrian lagi.
"Lana? Kau tak keluar?" tanya Linda.
"Tidak, ada yang harus kukerjakan di sini," jawab Lana.
"Ya, tapi aku ingin belajar sebentar di sini," sahut Lana.
"Baiklah, aku pergi dulu," kata Linda.
"Hmm," sahut Lana sembari mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Adrian masuk ke kelas Lana dan menaruh sebungkus burger serta sebotol minuman di depannya.
"Kau belum makan siang, bukan? Makanlah, aku tak akan mengganggumu," kata Adrian dan kemudian berbalik pergi dari hadapan Lana.
Lana melihat ke arah Adrian yang berjalan pergi. Lana masih terdiam sampai pria itu hilang di balik pintu.
"Sorry. Aku hanya tak ingin fokus kuliahku terpecah dengan hal hal receh semacam ini," gumam Lana berbisik.
Lalu Lana melihat burger itu dan membukanya. Lana memang sangat lapar dan burger itu cukup membuatnya meneguk ludahnya.
Lana langsung memakan burger itu dengan lahap dan menghabiskannya dalam sekejap.
*
*
Gosip kedekatan Lana dan Adrian tampaknya terdengar sampai ke telinga wanita yang paling populer di kampus yang bernama Rosette.
Wanita itu seakan tak terima dengan hal itu karena dulu ia pernah ditolak mentah mentah oleh Adrian.
"Jadi itu yang sedang didekati oleh Adrian? Apakah Adrian sakit mata? Lihatlah penampilannya. Sama sekali tak menarik dan jauh di bawahku," ucap wanita itu dengan sombongnya sambil melihat ke arah Lana yang sedang berjalan melewati taman kampus.
"Mungkin selera Adrian rendah," sahut teman wanita Rosette.
"Dia cantik di mata pria. Lihatlah, wajahnya cantik dengan mata besar, hidung mancung, bibir seksi. Dan tubuhnya tinggi berisi. Benar benar selera pria," celetuk teman pria Rosette yang juga ada di sebelahnya.
"Sepertinya kau rabun juga," sahut Rosette tak terima.
"Kau yang iri, Rosette. Pantas saja Adrian menyukainya, wanita itu juga masih lugu sepertinya. Mengapa aku baru melihatnya sekarang? Ck," kata pria itu lagi.
Rosette tampak semakin kesal dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.