FINDING MY HOT BILLIONAIRE

FINDING MY HOT BILLIONAIRE
Bab 71



LL71


"Apa kau ingin menambah waktu di sini, Lana? Lukamu benar benar maaih basah. Dengan injeksi sedikit meringankan sakitnya," kata Lesca.


"Baiklah kalau begitu, aku akan di sini dulu sampai lumayan sembuh. Jika sakitnya datang terasa sekali menusuk tulangku," jawab Lana.


"Ya, itu lebih baik," sahut Adrian.


"Aku akan menunggumu sampai kau sembuh," lanjut Adrian.


"Kau pengangguran?" Ucap Lana menyindir.


"Aku bos nya. Jadi tak masalah kan?" sahut Adrian.


"Kau bertanya pada orang yang salah, Lana," kata Lesca.


Adrian hanya mengedikkan bahunya sambil melihat ke arah Lana.


Setelah memeriksa Lana, Lesca jeluar dari kamar meninggalkan Lana berdua saja dengan Adrian di kamar.


Lalu Adrian mengambil ponselnya dan menelepon asistennya bahwa tidak akan masuk kerja.


Adrian menyuruh sang asisten untuk mengiriminya email jika ada masalah pekerjaannya.


Setelah itu, Adrian kembali duduk di sebelah Lana.


"Kau tak bosan menungguku? Pergilah makan. Kau belum makan, bukan? Aku tak mau membuatmu mati di sini gara gara menjagaku," kata Lana.


"Aku sudah makan terlebih dulu sebelum kau bangun tadi. Jadi jangan khawatirkan aku," jawab Adrian tersenyum.


"Aku tak mengkhawatirkanmu," sahut Lana.


"Ya ya ya. Kau tak mengkhawatirkanku. Aku tahu itu," kata Adrian tersenyum kembali.


Lalu Adrian mendekati Lana.


"Apa? Kau mau menciumku lagi? Aku tak akan membiarkannya," kata Lana.


Adrian tertawa pelan dan kemudian mendekatkan wajahnya pada Lana hingga hindung mereka bersentuhan.


Adrian pun menggesekkan hidungnya ke hidung mancung Lana.


"I love you," bisik Adrian.


"Oh ya? Jika kau mencintaiku kau tak akan bergonta ganti pacar. Mulut pria semua sama," jawab Lana.


"Kau keras kepala sekali. Sudah kubilang jangan menciumku sembarangan," kata Lana.


"Marahlah sesukamu karena aku akan selalu melakukan hal itu padamu," jawab Adrian cuek.


"Ah ya, aku tak sabar menunggu tanganmu sembuh agar bisa meraba tubuhku lagi," bisik Adrian menggoda Lana.


"Menyebalkan," kata Lana.


Adrian hanya tersenyum dan mengambilkan ponsel Lana yang ada di meja.


Adrian memberikan ponsel itu pada Lana.


"Agar kau tak bosan dan tak mengomel terus," kata Adrian.


Lana berdecak dan mencebik lalu mengambil ponselnya. Kemudian wanita itu menyalakan ponselnya yang telah mati sejak kemarin.


Banyak pesan yang masuk di ponsel Lana, tapi dia tak bisa membalasnya karena tangannya masih sakit.


Lana merasa sangat bosan dan akhirnya menaruh kembali ponselnya di atas bantal.


"Ada apa?" tanya Adrian yang juga menaruh ponselnya.


"Aku bosan," jawab Lana.


"Mau keluar? Kita bisa ke taman," kata Adrian.


Lana akhirnya mengangguk karena ia sudah benar benar bosan hanya ada di kamar saja.


Adrian kemudian membantu Lana turun dari ranjang dengan menggendongnya.


Dan Adrian tak langsung menurunkan Lana, melainkan memeluknya terlebih dulu.


"Aku merindukanmu," kata Adrian lirih.


Lana melihat ke arah wajah Adrian dan mereka saling bertatapan.


Wangi tubuh Adrian masih sama seperti dulu. Itu artinya Adrian sama sekali tak mengubah wangi parfumnya sejak enam tahun yang lalu.


Dan Adrian tahu bahwa itu adalah wangi parfum yang disukai oleh Lana.


Adrian kemudian duduk di sofa sambil memangku Lana. Lana pun tak menolak hal itu karena di relung hatinya yang terdalam, wanita itu juga merindukan Adrian.