FINDING MY HOT BILLIONAIRE

FINDING MY HOT BILLIONAIRE
Bab 88 ADRIAN LANA



AL 88


(Masih flashback)


Tak terasa Adrian dan Lana telah berpacaran selama dua bulan. Dan Lana belum memberikan ciuman pertamanya pada Adrian.


Reaksi Adrian? Lumayan gemas karena Lana masih menganggap hubungan meraka hanya sebatas status saja.


Tapi Adrian tak memaksa Lana dan hanya bisa mencium pipinya saja. Dan itu sudah membuat Adrian senang meskipun terkadang pria itu memancingnya dengan mencium sudut bibirnya.


Adrian masih setia menjemput dan mengantar Lana kuliah ke asrama nya meskipun terkadang ia tak bisa melakukan hal itu karena sudah mulai sibuk di perusahaan ayahnya.


Percaya atau tidak, Lana masih tak tahu menahu tentang keluarga Kingsford yang notabene adalah keluarga konglomerat.


"Kau tak ingin tinggal di apartemenku?" tanya Adrian di suatu siang yang cerah.


"Tidak," jawab Lana sambil memakan burgernya.


Kedua sejoli itu tampak duduk di atas rumput yang ada di taman kampus


"Why? Aku tak akan melakukan sesuatu yang melenceng padamu," kata Adrian.


"Kita hanya berpacaran dan bukan suami istri," jawab Lana santai.


"Aku ingin kita lebih dekat karena aku serius denganmu," kata Adrian.


Lana menoleh ke arah Adrian.


"Apakah itu berarti kita harus satu atap? Tak masuk akal," jawab Lana.


"Oke, aku tak akan memaksamu. Nanti menonton lagi di apartemenku?" tanya Adrian.


"Tak bisa, aku ada tugas yang harus dikerjakan hari ini," jawab Lana.


Adrian hanya mengangguk dan ia sadar bahwa mungkin perasaan Lana belum terlalu mendalam padanya.


Dan Adrian mencoba memahami hal itu. Dia lah yang memaksa Lana untuk menjadi kekasihnya jadi ia terima resikonya jika Lana masih bersikap agak cuek padanya.


"Minggu depan aku akan ke luar negeri," kata Adrian.


Lana hanya mengangguk sambil membaca bukunya. Lalu Adrian menutup buku itu dan memegang pipi Lana agar wanita itu fokus ke arahnya.


Lana melihat Adrian sambil masih mengunyah burger nya.


Adrian tertawa kecil ketika melihat pipi chubby Lana bergerak lucu karena gerakan mengunyah itu.


Sekali lagi Lana hanya mengangguk dan Adrian mencium hidung dan pipinya dengan gemas.


"Adrian, di sini banyak orang," kata Lana menjauhkan wajah Adrian dari wajahnya.


Adrian tersenyum dan memencet hidung Lana.


"Aku sedikit lama di luar negeri. Karena ada beberapa negara yang harus kukunjungi," jawab Adrian.


"Apakah pekerjaan penting? Kau sudah direkrut oleh perusahaan besar sebelum kau lulus?" tanya Lana.


Adrian tersenyum lalu mengangguk.


"Kau tak masalah kutinggal lama?" tanya Adrian.


"Hmm, memangnya ada masalah apa jika kau pergi ke luar negeri. Sebelum kita berpacaran, aku selalu sendirian ke kampus, Adrian. Dan aku bisa bersama teman temanku juga," jawab Lana.


"Baiklah, jangan lupa untuk selalu mengangkat telepon dariku dan menjawab pesanku," kata Adrian mengingatkan.


"Oh my ... Kau masih akan berangkat minggu depan, bukan? Jadi jangan membahasnya sekarang," kata Lana.


"Aku hanya mengingatkanmu sejak awal agar kau tak mengabaikanku," ucap Adrian yang merangkuk bahu Lana dan menyandarkan kepala wanita itu di pangkal lengannya.


"Kau senang bersamaku, Baby?" tanya Adrian.


"Hmm, kau teman terdekatku selama di sini," jawab Lana.


"Teman? Aku kekasihmu. Jangan lupakan hal itu," kata Adrian.


Lana tertawa kecil dan mencium pipi Adrian.


"Thank you," kata Lana.


"Untuk apa?" Tanya Adrian yang jarang sekali mendengar kata kata itu dari Lana


Lana merasa Adrian cukup sabar menghadapinya dan memiliki sikap serta pemikiran yang dewasa di balik sikap tengilnya itu.


Adrian tak pernah memaksanya melakukan apa yang tak ingin dilakukan oleh Lana termasuk berciuman.


"Untuk semuanya," jawab Lana dan tiba tiba mengecup bibir Adrian yang tentu saja membuat pria itu kaget.


Lana langsung berdiri dan berlari setelah melakukan hal itu.