
Flash back
LL73
Sepulang kuliah, Lana berjalan menuju asramanya seperti biasanya.
Lana jarang bersosialisasi dengan teman kampusnya karena dia ingin fokus dengan kuliah yang materinya cukup menguras otaknya.
Meskipun begitu, Lana adalah pribadi yang ramah dan tak mempunyai musuh sama sekali di asrama maupun di kampus.
Lana menikmati hidupnya ini dengan bahagia meskipun ia tak pernah mengikuti kegiatan bersenang senang bersama teman temannya.
Bahkan ketika liburan, Lana lebih suka pulang ke Inggris daripada berlibur bersama temannya.
*
Dari belakang, terdengar suara langkah kaki yang seperti berlari.
Lana otomatis menoleh ke belakang karena tempat itu lumayan sepi.
"Hei, kau benar benar tak menungguku ya? Bukankah aku sudah mengirim pesan padamu?" tanya Adrian ngos ngosan yang kini di depan Lana.
Lana melihatnya dengan pandangan datar dan tak menjawab apa pun.
"Ayo kita makan malam bersama," kata Adrian menggandeng tangan Lana.
Lana menepiskan tangan Adrian.
"Apa kau tak punya sopan santun? Sepertinya kau memang suka memaksa orang. Dan kau pikir orang yang kau paksa akan suka? Mungkin wanita lain akan suka, tapi aku tidak. Please, jangan memaksaku. Jangan mengikutiku dan lihatlah aku, aku hanya wanita biasa yang tak punya daya pikat apa pun. Pergilah," kata Lana tegas dan berbalik pergi.
Adrian tertawa kecil dan itu justru membuat Lana semakin jengkel karena sepertinya Adrian tak menggubris ucapannya.
Adrian masih berjalan di belakangnya.
"Aku juga pria biasa yang tak punya daya pikat apa pun. Apakah kau mau menjadi kekasih pria biasa ini? Karena tak ada yang mau denganku. So sad," ucap Adrian di dekat telinga Lana.
"Dasar playboy," sahut Lana.
"Aku tak punya predikat itu," jawab Adrian.
"Kau akan bosan dan berlalu begitu saja," sahut Lana berjalan lebih cepat.
"Tidak, aku akan menjemputmu setiap hari. Mengantarmu setiap hari dan kita akan mengobrol setiap hari. Lalu kita akan makan bersama setiap hari. Sepertinya akan menyenangkan," kata Adrian.
Lana tak mnejawab apa pun dan segera masuk ke dalam asramanya meninggalkan Adrian di depan sendirian.
"Dasar penguntit," gumam Lana setelah menutup pintunya.
Lalu Lana langsung menuju kamarnya dan kembali belajar karena besok akan ada ujian tengah semester hari terakhir.
Lana ingin nilainya selalu bagus karena dengan modal itulah ia mendapat beasiswa kuliah. Dan ia akan terus melanjutkan kuliah sampai taraf magister dengan program beasiswa juga.
*
Keeseokan paginya Lana keluar dari asrama dan ia kembali terkejut ketika ada pria tengil itu lagi.
Pria itu memakai jaket jeans yang tak dikancingkan dan memakai kaos putih di dalamnya. Celana jeansnya yang sobek sobek semakin membuatnya terlihat tengil.
"Good morning," sapa Adrian dengan mulut manisnya.
Lana tak habis pikir dengan pria di depannya itu. Bagaimana bisa pria itu langsung menyukainya di pertemuan pertama mereka yang seperti drama opera sabun itu.
Lana tak menghiraukan pria itu dan berjalan menuju kampus.
"Nanti siang kita makan siang bersama di taman. Aku akan mrmbeli burger dan minuman soda," kata Adrian memulai obrolan.
Lana tetap diam.
"Aku sudah tahu jadwal kuliahmu dan jam berapa saja kau free. Dan sangat kebetulan sekali itu cocok dehgan jadwal kuliahku yang hampir sama denganmu. Oh, thank God," lanjut Adrian.
Lana tetap diam hingga akhirnya Adrian menarik tangannya dan memaksanya berhadapan dengannya.
Mata coklat Lana mematap lekat ke arah mata biru Adrian.