
LL 70
Zei mengambil piring dari tangan Adrian dan mulai menyuapi Lana.
"Terima kasih," kata Lana.
"Semoga lukamu cepat sembuh. Dan pelakunya mendapat hukuman yang setimpal," kata Zei.
Lana hanya mengangguk saja dan kembali mengunyah.
Lana merasa canggung dengan hal itu tapi di dalam hatinya ia merasa senang melihat kebersamaan keluarga Adrian yang terlihat kompak.
Tak lama kemudian nyonya besar Kingsford pun datang.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Beau pada Lana yang masih disuapi oleh Zei.
"Masih seperti kemarin, Aunty," jawab Lana.
"Apakah kedatangan kami mengganggumu?" tanya Beau.
"Ya," jawab Adrian.
"Tidak," sahut Lana bersamaan.
Beau melihat ke arah Adrian.
"Aku tak akan bertanya apa pun karena itu urusan kalian berdua. Nanti kau akan pulang ke mansion bersamaku. Tapi aku akan pergi ke perusahaan bersama Zavian terlebih dulu karena ada yang harus kuurus," kata Beau.
"Aku yang akan mengantarnya, Mom," kata Adrian.
"Baiklah, kalau begitu," jawab Beau.
"Jangan kau bawa kabur anak orang, Adrian," kata Davian.
"Cepatlah kalian pergi," kata Adrian.
"Dia mengusir kita, Mom," ucap Lucian.
Lalu Beau berpamitan pada Lana, begitu juga dengan anak anaknya yang lain.
*
"Huuuffftt .... Finally," ucap Adrian lega.
"Kau merasa lega sekarang?" tanya Lana.
"Ya," jawab Adrian.
"Ya, tentu saja kau lega karena tak ada lagi yang membocorkan sifat burukmu," kata Lana menyindir.
"Aku tak punya sifat buruk," jawab Adrian dengan percaya dirinya.
"Hah, lucu sekali," sahut Lana.
"Ya, aku memang sangat lucu. Thank you, My baby," jawab Adrian tersenyum lalu akan mencium bibir Lana, tapi tangan kiri Lana menutup dan menahan bibir Adrian yang mendekat.
"Kau belum memberitahu kedua orang tuamu?" tanya Adrian.
"Tidak, aku tak akan memberitahu mereka," jawab Lana.
"Ya, itu lebih baik agar mereka tak khawatir," kata Adrian serius.
Lana hanya mengangguk saja dan kemudian kembali meringis kesakitan karena tangannya kembali ngilu.
"Apakah kau perlu di sini dulu sampai lukamu membaik?" tanya Adrian.
"Tidak, aku pulang saja. Aku bosan jika harus selalu berbaring," jawab Lana.
"Apartemenku berada dekat dengan rumah sakit ini. Kita tinggal di sana saja sementara sampai kau sembuh. Aku bisa menyuruh perawat ke apartemen," kata Adrian.
"Kita tinggal bersama? No way," sahut Lana.
"Kita pernah tinggal bersama dulu. Apa salahnya jika sekarang kau tinggal bersamaku lagi? Apalagi sekarang kau sedang terluka," kata Adrian.
"Dulu berbeda," sahut Lana.
"Tak ada bedanya. Kau dan aku masih sama," kata Adrian.
CEKLEK
Pembicaraan mereka terpotong karena pintu kamar terbuka.
Dokter Lesca tampak masuk bersama dua perawatnya.
"Aku akan memeriksa lukamu sebelum kau pulang, Lana," kata Lesca.
Lana mengangguk dan kemudian dua perawat itu membuka perban di tangan Lana untuk mengobati luka basahnya dan juga mengganti perbannya.
"Ini sedikit sakit," ucap Lesca pelan dan mengobati sembari memeriksa luka jahitan di tangan Lana.
Adrian melihat hal itu dan memegang tangan kiri Lana yang menggenggamnya erat.
Lana mengalihkan pandangannya dari luka di tangannya.
"Lihat aku saja," bisik Adrian.
"Bisakah kau menggunakan bius, Lesca?" tanya Adrian karena tak tahan melihat Lana yang sepertinya kesakitan meskipun Lana kini dalam keadaan diam.
"Kau pikir ini sedang dioperasi?" Sahut Lesca.
"Kalau begitu cepatlah. Aku saja ngeri melihat lukanya kau aduk aduk seperti itu," sahut Adrian.
"Hei, aku mengobatinya bukan mengaduk- aduknya," jawab Lesca.
"Adrian, bisakah kau diam?" ucap Lana.
CUP
"Oke," jawab Adrian sembari mengecup bibir Lana meskipun di sana ada Lesca dan dua perawatnya.