
LL 37
Tak lama kemudian Lune keluar dari kamar dan melihat Louis masih berdiri di depan kamarnya.
"Jika kau sudah menganggapku meninggal, tahukah kau di mana kuburanku?" tanya Lune.
"Aku tak sanggup mendatanginya. Kau tak tahu betapa kacaunya aku ketika mendapat kabar buruk itu dari ayahmu. Aku mengenal baik ayahmu dan aku tak pernah berpikir bahwa ayahmu berbohong padaku. Jika kau tak percaya, kita temui ayahmu. Bila perlu siang nanti kita ke Singapura untuk menanyakan semuanya pada ayahmu," jawab Louis.
Lune kemudian menutup matanya dan masih frustasi dengan apa yang baru saja dihadapinya.
"Bagaimana kecelakaan itu terjadi?" tanya Louis.
"Aku tak tahu. Aku lupa dan masih tak ingat dengan kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi," jawab Lune yang kemudian berjongkok dan menutup wajahnya yang ada di atas lututnya.
Louis kemudian berlutut dan menggendong Lune menuju ke ranjang.
"Pulanglah, aku sedang tak ingin melihatmu," ucap Lune dengan rasa kecewanya yang begitu dalam.
"Aku akan menunggu sampai Sasha kemari," jawab Louis.
Lalu Lune menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan kembali menangis. Dia merasa jijik membayangkan Louis yang menjalin hubungan Claire.
Louis memeluknya tapi Lune tak mau dipeluk oleh Louis.
"Kau pasti sudah memeluknya. Aku jijik membayangkannya," ucap Lune dari balik selimut.
"Kau tak mencintaiku, Louis. Kau tak mencintaiku. Kau berbohong padaku bahwa cintamu begitu dalam padaku. Kau bohong. Semua ucapanmu bullshiiitt!!" Bentak Lune emosi.
"Aku mengakui kesalahanku. Aku tak mencari tahu tentangmu sebelumnya. Aku minta maaf. Aku akan selalu mengatakan hal ini padamu. Kau tak pernah hilang dari hati dan pikiranku. Selamanya," sahut Louis.
"Bullshiitt!!" Bentak Lune.
"Seharusnya aku tak mengingatmu jika ternyata ini membuatku sakit. Seharusnya aku mencari pria lain seperti yang kau lakukan dengan Claire," kata Lune.
"Aku tak akan membiarkannya. Kau hanya milikku," sahut Louis.
"Tapi kau menghianatiku," ucap Lune.
"Bagaimana jika kau ada di posisiku?" tanya Louis.
"Aku tak akan pernah berpacaran dengan sahabatmu sekalipun dia baik padaku. Kau meragukan cintaku? Aku tak akan pernah melakukan apa yang sudah kau lakukan dengan Claire. Kalian menghianatiku," jawab Lune.
Lalu Louis membuka selimut yang menutupi tubuh Lune dan menghadapkan wajah Lune ke arahnya.
"I love you so much. Seeing your smile is happiness for me. Meanwhile, having you is the most beautiful gift in my life." Louis menangkup rahang Lune lalu menekan tengkuk lehernya.
Louis begitu rindu dengan bibir Lune yang dulu selalu menjadi candu baginya.
Lune mendorong dada Louis ketika Louis ingin mencium bibirnya.
"I can't. Kau pernah berciuman dengan Claire dan itu membuatku jijik," ucap Lune yang kemudian kembali berbalik menghindari tatapan Louis.
Louis begitu pasrah dengan sikap penolakan Lune padanya karena dia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi.
Seharusnya Louis mendengarkan kata Jared. Kala itu, Jared ingin menyelidiki kecelakaan Lune tapi Louis menolaknya karena dia begitu terpukul dengan kabar kematian Lune.
Louis bahkan mendatangi psikolog selama satu tahun untuk mengatasi masalah mentalnya akibat kehilangan Lune. Bahkan Louis mencegah keluarganya untuk ikut masuk ke dalam area privasinya ketika dirinya terpuruk.
Tak lama setelah Louis sudah sedikit membaik, Claire datang dengan persahabatannya. Dia mengatakan bahwa mereka mengalami hal yang sama setelah kematian Lune.
Claire juga merasa sangat kehilangan Lune dan itu membuatnya terpuruk karena mereka bersahabat dekat.