FINDING MY HOT BILLIONAIRE

FINDING MY HOT BILLIONAIRE
Bab 85 ADRIAN LANA



AL 85


Hari ini adalah hari libur, dan Lana tak ke mana pun karena ini adalah waktu santainya di asrama.


Tak lama kemudian, Adrian meneleponnya dan gadis itu sebenarya malas untuk mengangkatnya.


Tapi karena dering telepon itu tak berhenti sama sekali, akhirnya Lana mengangkatnya.


"Aku di luar, keluarlah sekarang juga," ucap Adrian.


"Aku sedang bersantai dan tak ingin diganggu," sahut Lana.


"Baiklah," jawab Adrian dan menutup sambungan teleponnya.


Lana mengerutkan keningnya dengan reaksi Adrian yang tumben tak memaksanya.


Lalu Lana menaruh ponselnya kembali di atas meja.


Gadis itu kembali mendengarkan lagu melalui head phone yang dipasang di telinganya.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar Lana terbuka dan ia kaget bukan main ketika melihat Adrian sudah berdiri di depannya.


Lana langsung beranjak duduk.


"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk?" sahut Lana sambil membelalakkan matanya.


"Aku bisa menembus gedung mana pun," ucap Adrian dengan entengnya.


"Oh my ... Kau memang gila," sahut Lana.


"Kau ingin bersantai, bukan? Jadi aku akan menemanimu bersantai di sini. Atau kau ingin keluar denganku? Kita berkencan di luar," ucap Adrian to the point.


"Hmm, kau tak memakai bra mu?" tanya Adrian yang membuat Lana otomatis menutup bagian dadanya dengan tangan karena Lana saat ini hanya menggunakan kamisol kaos dan celana pendek.


Lalu Lana berjalan ke lemarinya dan mengambil jaketnya.


"Jangan melihatku seperti itu. Kau seperti maniak saja," sahut Lana dan memakai jaketnya.


Adrian tertawa kecil dan duduk di tepi ranjang Lana.


"Keluarlah, Adrian. Kau sangat tak sopan masuk ke area wanita," ucap Lana.


"Aku akan ke luar bersamamu," sahut Adrian.


"Ck," ucap Lana dan kemudian mengambil celana panjangnya.


"Aku akan ganti baju, jangan melihatku," kata Lana.


Lalu Adrian menolehkan wajahnya ke arah pintu.


Lana tak menyadari bahwa Adrian melihat kegiatan Lana itu dari cermin yang ada di balik pintunya.


Senyum nakalnya tersungging.


"Apakah itu tanda lahir?" tanya Adrian ketika melihat tanda garis di belakang punggung Lana yang sudah terlihat tak jelas.


Lan melihat ke arah Adrian.


"Kaauuuu ... Tutup matamu, Brengsek," sahut Lana melempar bantal ke arah kepala belakang Adrian.


Adrian hanya tertawa saja.


Lalu Lana dengan cepat memakai semua pakaiannya dan akhirnya selesai sudah.


Lana mengambil sepatunya dan memakainya dengan duduk di atas ranjangnya berseberangan dengan posisi Adrian.


"Sudah?" tanya Adrian.


"Hmm," jawab Lana dan mengambil tas kecilnya.


Lalu Adrian menggandeng tangan Lana dan Lana berusaha melepaskannya tapi Adrian menggenggamnya dengan sangat erat.


"Kau tak akan bisa melepaskannya," ucap Adrian dan membuka pintu kamar.


Beberapa gadis yang berlalu lalang di lorong asrama melihat ke arah mereka berdua.


Lana tak nyaman dengan hal ini pasalnya pria tak boleh masuk ke dalam asrama ini.


Tapi Adrian dengan santainya berjalan di lorong itu seakan tak punya beban dan rasa bersalah sama sekali.


Lana berdecak kesal dan melihat tajam ke arah Adrian.


"Ya ya ya ... Aku tahu kau sangat kagum padaku," ucap Adrian tersenyum tengil.


Lalu mereka keluar dari asrama dan menuju ke arah mobil sport Adrian yang sudah terparkir di halaman asrama.


"Ayo naik," ucap Adrian.


Meskipun Lana berasal dari keluarga kaya, tapi ini pertama kalinya dia menaiki mobil sport yang biasanya dimiliki oleh para konglomerat.


Dan ia berpikir bahwa Adrian pasti lah seorang anak konglomerat.


"Ini mobil pamanku. Aku meminjamnya," ucap Adrian seperti tahu apa isi kepala Lana.


Lalu mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.