
Setibanya di mansion, Beau menunjukkan kamar Lana yang ada di lantai dua. Itu adalah kamar Adrian dulu sebelum Adrian memutuskan untuk memiliki mansion sendiri.
"Istirahatlah jika kau masih ingin istirahat," ucap Beau.
"Ya, mungkin aku akan di kamar dulu, Aunty," jawab Lana tersenyum.
"Aunty biasanya ada di ruang tengah atau taman jika kau ingin mencari Aunty nanti," ucap Beau.
"Baik, Aunty. Terima kasih," sahut Lana.
"By the way, ini adalah kamar Adrian dulu," kata Beau.
Lana hanya mengangguk dan tersenyum saja. Lalu Beau keluar dari kamar dan menutup kembali pintunya.
Lana mengedarkan pandangannya di kamar itu dan kemudian melihat lihat ke meja kerja Adrian yang terdapat foto di sana.
Ketika berpacaran dengannya, Adrian lebih sering berada di apartemennya dari pada di mansion orang tuanya.
Mereka hanya berpacaran tak sampai enam bulan saja karena proses penaklukan hati Lana cukup panjang kala itu.
Adrian sedikit susah untuk mendapatkan perhatian Lana yang kala itu benar benar ingin fokus kuliah di mana Lana termasuk murid dengan program beasiswa karena Lana adalah gadis yang pintar.
Bisa dibilang, pertemuannya dengan Adrian cukup membuatnya mengambil langkah berani hingga akhirnya bercinta dengan pria itu.
Pesona Adrian kala itu benar benar memporak porandakan pertahanan yang sudah dijaganya selama ini.
Bertemu dengan Adrian lagi tak pernah terlintas di kepalanya sama sekali.
Dia bahkan berpikiran akan fokus bekerja dan menjadi wanita karir yang tak memikirkan apa pun kecuali pekerjaan dan keluarganya saja.
Lana duduk di kursi dan melihat beberapa buku di atas meja kerja Adrian.
Buku buku itu hanya buku entang bisnis. Ketika membuka buku itu, terselip sebuah foto.
Foto itu adalah foto Adrian dan dirinya ketika Lana masih berumur 20 tahun. Lana tak menyangka Adrian masih menyimpan foto yang sudah tampak kusam itu.
Senyumnya mengembang ketika melihat foto dirinya yang sedang berpelukan dengan Adrian. Dan foto itu diambil dengan kamera polaroid teman Adrian ketika mereka sedang berlibur di sebuah vila pegunungan.
Di saat Lana membuka pintu, Adrian juga akan masuk ke dalam kamarnya.
"Sorry, tadi aku tak bisa mengantarmu," ucap Adrian yang langsung memeluk Lana.
"Hmm, aku bersama Aunty Beau," jawab Lana.
"Kau mau ke mana?" tanya Adrian dan tetap memeluk Lana.
"Ke bawah. Lune akan datang makan siang ke sini bersama Louis," jawab Lana.
Adrian melepaskan pelukannya dan melihat arloji di tangannya.
"Masih dua jam lagi dan itu masih lama," kata Adrian.
Pria itu kembali menarik Lana masuk ke dalam kamarnya lagi dan menutup pintunya.
"Kau mau apa?" tanya Lana.
"Aku akan mandi dan kau tunggu aku di sini saja. Jangan ke bawah dulu. Kau harus menungguku terlebih dulu," jawab Adrian dan menggadeng tangan Lana hingga wanita itu duduk kembali di ranjangnya.
"Aku bisa menunggu di bawah, bukan? Bukankah itu sama saja?" tanya Lana.
"Berbeda, karena kau pergi sendiri dan meninggalkanku di kamar," jawab Adrian.
Lana mengerutkan keningnya.
Adrian membuka bajunya di depan Lana dan membuangnya ke atas lantai.
"Kau sama sekali tak berubah," ucap Lana dan mengambil baju itu dengan tangan kirinya.
Adrian tersenyum dan membuka semua pakaiannya.
"Kau bisa membukanya di dalam kamar mandi, Adrian," kata Lana sambil berdecak.
"Aku sengaja membukanya di depanmu agar kau mengingatnya," jawab Adrian tersenyum tengil dan pria itu masuk ke dalam kamar mandi.