FINDING MY HOT BILLIONAIRE

FINDING MY HOT BILLIONAIRE
Bab 87 ADRIAN LANA



AL 87


Lana menghabiskan waktunya seharian di mansion Adrian seharian penuh hingga sampai waktu makan malam tiba.


Mereka hanya mengobrol di atas perahu dan juga berjalan mengitari taman. Dan itu sudah menghabiskan waktu yang cukup lama.


Dari situlah, Lana mulai mengenal pribadi Adrian lebih dekat.


Pria itu tak selalu tengil seperti biasanya. Adrian ternyata merupakan pendengar yang baik juga dan selalu memperhatikan apa yang lawan bicaranya ucapkan.


Adrian juga sosok yang cerdas ketika Lana sudah mengenalnya lebih dekat. Bahasan yang mereka omongkan selalu menyambung dan membuat komunikasi mereka berjalan lancar.


Malam itu Adrian mengajak Lana ke restoran terlebih dulu sebelum mengantarnya pulang.


Mereka akan makan malam bersama. Adrian mengajaknya ke sebuah restoran kecil dan tak tak terlalu mewah.


Mereka masuk ke dalam restoran dan langsung duduk di meja paling pinggir di dekat jendela karena Lana suka melihat orang berlalu lalang di trotoar.


Setelah makanan pesanan mereka datang, Lana dan Adrian pun menyantap makan malamnya bersama.


"Kau pernah berpacaran?" tanya Adrian di sela sela makan malamnya.


"Tidak, karena ayahku cukup keras untuk hal ini dan anehnya aku menurutinya," jawab Lana.


Adrian tersenyum.


"Kau suka pada pria, kan?" tanya Adrian random.


Lana mengerutkan keningnya.


"Tidak," jawab Lana yang juga random.


Adrian tertawa pelan.


"Mau berpacaran denganku?" tanya Adrian yang kini membahas topik ini setelah tadi seharian dia tak membahasnya.


Lana menghentikan makannya dan melihat ke arah Adrian.


"Aku tak akan mengganggu kuliahmu. Aku akan menghormati privasimu dan aku akan mengutamakan keinginanmu," lanjut Adrian.


"Apa yang kau suka dariku? Wajahku?" tanya Lana.


"Banyak wanita cantik di kampus dan tak hanya dirimu. Tapi aku memilihmu bukan karena alasan itu," jawab Adrian.


"Lalu apa yang kau suka dariku?" tanya Lana.


"Aku menyukai semua bagian dari dirimu. Aku menyukai wajah sinismu. Aku menyukai kemarahan dan kekesalanmu. Aku menyukai komitmenmu dalam belajar. Aku menyukai sifatmu yang keras kepala. Aku menyukai semuanya dan itu tak terbatas hanya pada fisik saja, bukan?" ucap Adrian.


"Ya, baik atau pun buruk dirimu, aku menyukai semuanya," jawab Adrian.


"Kau sudah terbiasa mengatakan hal ini pada banyak gadis, benarkan? Aku tak semudah itu terhasut dan terbuai," sahut Lana dan melanjutkan makannya lagi.


"Terserah kau menilaiku apa. Tapi aku memang serius denganmu. Beri aku kesempatan menjadi pacarmu," jawab Adrian dengan nada sedikit memohon.


"Aku tak suka kau memohon. Jangan lakukan hal itu. Aku tak sebaik itu hingga kau bersikeras ingin berhubungan denganku," kata Lana.


"Siapa yang bilang bahwa dirimu sebaik itu? Aku tak bilang hal itu," sahut Adrian.


Lana berdecak dan mencebik.


Lalu Adrian berdiri dan berlutut di depan Lana meskipun di sana banyak orang melihat ke arah mereka.


"Terima aku, hmm?" ucap Adrian.


"What are you doing?" sahut Lana lirih.


"Begging you," jawab Adrian tersenyum dengan santainya.


"Bangun sekarang juga," ucap Lana membelalakkan matanya.


"Tidak, sebelum kau menerimaku," jawab Adrian.


"Kauuu ...," bisik Lana kesal dan tak habis pikir dengan kelakuan Adrian itu.


Banyak pengunjung restoran yang masih melihat ke arah mereka berdua.


"Baiklah, sekarang berdirilah," ucap Lana akhirnya karena seakan tak punya pilihan.


"Katakan dengan jelas," kata Adrian.


"Ya Tuhan. Ingin kutinju hidungmu itu," sahut Lana.


"Say it," ucap Adrian.


"Aku menerimamu sebagai pacarku. Kau puas?" ucap Lana.


Lalu Adrian pun tersenyum lebar dan mencium tangan Lana.