
AL 86
Adrian mengajak Lana ke mansionnya karena di sana cukup tenang dan mereka bisa berjalan di tepi danau serta taman yang luas.
"Rumah siapa ini?" tanya Lana.
"Pamanku. Dia sedang ke luar negeri sekarang," jawab Adrian berbohong.
"Kau yakin kita boleh masuk kemari?" tanya Lana.
"Tentu saja. Ayo," jawab Adrian dan menarik tangan Lana agar masuk ke dalam mansion itu.
Beberapa pelayan yang melewati mereka tampak menundukkan kepalanya dengan hormat.
Dan Lana menanggapinya dengan mengangguk juga.
"Kita akan ke mana? Kau tak mungkin mengajakku ke kamar, bukan?" tanya Lana.
Adrian tertawa pelan dan tetap berjalan menuju halaman belakang.
Lana kemudian melihat hamparan taman yang cukup luas dan ada sebuah danau di ujungnya.
"Apakah itu danau?" tanya Lana.
"Ya," jawab Adrian.
Lalu mereka berjalan berdua dan Adrian masih menggandeng tangan Lana.
"Bisakah melepaskan tanganku?" tanya Lana.
"Tidak," jawab Adrian mutlak.
Meskipun Adrian sedikit pemaksa, tapi dia masih bersikap sopan dan tak kurang ajar pada Lana.
Itulah yang membuat Lana merasa masih aman jika bersama Adrian.
Dia percaya Adrian tak akan melakukan hal hal di luar batas meskipun mereka baru saja berkenalan.
Kini mereka tiba di dermaga danau. Adrian membuka tali pengikat perahu dan mengajak Lana naik ke perahu kecil itu.
"Ayo," ucap Adrian yang kini sudah naik ke perahu itu.
Adrian mengulurkan tangannya dan Lana memegangnya lalu melompat pelan ke atas perahu itu.
"Apakah ini danau buatan?" tanya Lana.
"Bukan, ini alami dan rumah ini dibangun karena ada danau indah ini," jawab Adrian.
Lana mengangguk dan menurunkan tangannya ke arah air danau.
Senyum Lana mengembang dan mengedarkan pandangannya ke area danau itu.
"Apakah itu bukit?" tanya Lana.
"Hmm," sahut Adrian dengan masih mendayung.
Lalu Lana melihat ke arah Adrian.
"Aku ingin mencoba mendayung," kata Lana.
Lalu Adrian menghentikan gerakannya dan memberikan dayung itu pada Lana.
"Begini?" tanya Lana memperagakan gerakan mendayungnya.
"Ya, begitu. Tekan dengan kuat agar perahu ini maju," ucap Adrian.
Lalu Lana mulai mendayung dan dia terlihat sedikit susah melakukannya.
"Ini sangat berat ternyata," ucap Lana.
"Ya, tak semudah kelihatannya. Dan kau harus menyeimbangkan gerakannya agar perahu ini tidak goyang," jawab Adrian.
Lana mengangguk dan mendayung hingga sepuluh dayungan.
"Aku sudah tak kuat," kata Lana dan memberikan dayung itu pada Adrian lagi.
Lana masih masih mengatur nafasnya dan meregangkan tangannya yang pegal akibat mendayung.
"Kau jarang berolah raga?" tanya Adrian.
"Ya, aku terlalu sibuk belajar," jawab Lana.
"Mau berolah raga bersamaku? Aku akan ke asrama di sore hari dan kita bisa joging bersama. Cukup tiga kali seminggu," kata Adrian.
"Biasanya kita akan malas berolah raga jika tak ada teman menemani kita. Jadi aku akan menemanimu," kata Adrian.
Lana masih diam dan berpikir.
"Hanya berolah raga," ucap Adrian lagi.
"Baiklah," jawab Lana akhirnya.
Adrian adalah satu satunya teman pria Lana selama dirinya berada di New York, karena hanya Adrian saja yang berani mendekatinya meskipun sudah diusir berkali kali dan tak pernah patah arang.
Lana biasanya akan menjadi wanita yang menyebalkan jika ada pria yang mendekatinya karena dia memang menghindari hal semacam itu agar fokus dengan kuliahnya.
Tapi berbeda dengan Adrian yang memiliki sifat keras kepala meskipun Lana sudah membuat pria itu tak menyukainya tapi tetap saja Adrian tak putus asa mendekatinya.