
LL 74
Malam harinya, Adrian baru kembali ke rumah sakit.
Dia berharap mood Lana sudah membaik dan tak mendiamkan Adrian.
CEKLEK
Adrian membuka pintu kamar dan melihat Lana sudah tertidur.
Tadi Beau dan Louis sudah menghubunginya bahwa mereka sudah pulang ke mansion karena Lana sudah tidur.
Adrian menutup pintunya dengan pelan dan melangkah perlahan ke arah ranjang.
Adrian kemudian naik ke atas ranjang dengan sangat pelan agar tak mengganggu tidur Lana.
Pria itu berbaring di sebelah Lana dan melingkarkan tangan kanannya di perut Lana.
"Good night," bisik Adrian.
Adrian akan tidur seranjang dengan Lana karena dia masih sangat merindukan wanita itu.
Lana masih sedikit menghindar darinya dan selalu menjaga jarak.
Tapi Adrian tak pantang menyerah dan yakin akan bisa mendapatkan hati Lana kembali karena dia tahu bahwa Lana masih sangat mencintainya seperti dirinya.
Lana terbangun karena gerakan Adrian yang ada di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lana lirih dengan suara seraknya.
"Sofa itu terlalu kecil untuk tubuhku yang jangkung. Aku lebih nyaman di sini. Lagi pula ranjang ini ukurannya cukup besar," jawab Adrian pelan.
"Aku yang sakit, bukan kau," sahut Lana yang tak bisa melepaskan tangan Adrian karena tangan kanannya sakit dan tangan kirinya terdapat selang infus.
"Tak masalah, bukan? Mungkin dengan seperti ini kau akan lebih cepat sembuh," jawab Adrian yang mempunyai sejuta jawaban dan alasan.
"Aku tak akan bisa tidur jika seperti ini," ucap Lana lagi.
Lalu Adrian mengusap usap rambut Lana.
"Aku akan me-nina bobo-kanmu," ucap Adrian.
Lana akhirnya terdiam karena tak ada gunanya berdebat dengan Adrian karena sifat Adrian yang selalu dominan dan semaunya sendiri sejak dulu.
(Aku cinta kamu. Aku rindu kamu. Aku ingin bersama kamu selamanya)
"Apakah salah satu mantanmu berbahasa portugis? Kau cukup fasih mengucapkannya," sahut Lana menyindir.
Adrian tertawa pelan.
"Temanku yang mengajarkan kata kata cinta ini. Quillo -- kakak kandung Paris. Dia orang Brasil," jawab Adrian.
"Kau tahu artinya?" tanya Adrian.
"Ya, aku memiliki teman kerja dari Brasil dan dia sering mengatakan hal itu pada pacarnya," sahut Lana.
"Kau belajar ucapan itu untuk merayu wanita?" tanya Lana.
Adrian tertawa lagi.
"Tadinya," jawab Adrian jujur.
"Menyebalkan. Kau sepertinya benar benar pemain wanita sampai seniat itu untuk belajar ucapan romatis bahasa lain," sahut Lana.
"Tidak, aku hanya bermain -main dan berbeda dengan apa yang kuucapkan padamu," jawab Adrian yang kemudian mengecupi pipi merah Lana yang dingin.
"Adrian, stop it," ucap Lana.
"Aku suka pipimu yang lembut dan empuk seperti bayi. Seperti keponakanku," sahut Adrian yang masih menciumi pipi Lana.
"Adrian ..." kata Lana.
"Mengapa tak memanggilku dengan panggilan sayangmu lagi?" tanya Adrian dengan bibir yang masih menyentuh area pipinya.
"Kita sudah tak berhubungan lagi," jawab Lana.
"Tentu saja sudah," sahut Adrian.
"Terserah kau. Aku tak mau berdebat denganmu," kata Lana yang kemudian menutup matanya.
"Good night, Baby," ucap Adrian.
"Lesca akan mengusirmu jika kau tidur di ranjang pasien," kata Lana dengan mata yang tertutup.
"Aku justru akan menyuruh pihak rumah sakit untuk menyediakan ranjang yang lebih besar dan lebar agar bisa dibuat tidur oleh kita berdua," jawab Adrian dengan sikap tengilnya seperti biasa.