
Gelak tawa Mery terdengar merdu memenuhi mobil. Sampai-sampai dia mengusap air matanya yang keluar karena saking kuatnya tawa. Seketika ruangan hening, untuk menutupinya Mery membunyikan radio.
Menghembuskan napasnya panjang, dan mengeluarkannya perlahan. Hatinya sudah plong, melupakan kejadian tidak mengenakan itu.
"Satu bulan, bertahanlah Mery!" gumamnya, dan melajukan mobil menjemput Ella—sesuai janjinya.
***
Kaca mobil itu diturunkan perlahan, menampilkan sosok wanita muda yang mengenakan kacamata hitam lebar, dengan hiasan manik-manik gemerlap dibagian kerangkanya. Dibalik kacamata hitam itu, mata Mery melirik ke seluruh penjuru lingkungan sekolah, mencari keberadaan Ella.
"MAMA!!" teriak Ella berlari menerobos banyak orang disana. Mery tersenyum simpul dan segera turun dari mobil menemui Ella, dan terjadilah adegan pelukan. Sebuah adegan dramatis yang tidak bisa dielakkan.
"Ella kira mama gak bakal jemput," ucapnya keluarkan kegelisahannya.
Mery menatap jam di pergelangan tangan kirinya. "Hanya terlambat sepuluh menit. Dan kau sudah takut saja. Bagaimana kalau jalanan macet dan waktu terulur sampai satu jam? Apakah kau akan menangis, Ella?" tanya Mery.
Dengan mantap, Ella mengangguk mantap. "Tentu saja, Aku akan menangis. Menunggu itu suatu hal yang membosankan, Ma. Apalagi saat sekolah sudah mulai sepi. Malu juga.."
"Berarti kau kurang sabar, Ella. Tidak semua hal bisa tepat pada proposinya. Cintailah proses itu. Mama harap, Ella bisa memanjangkan rasa sabar, terkesan sepele. Tapi, kesabaran secara tidak langsung adalah kunci kesuksesan."
"Oke, Ma. Ella bakal sabar, kok." ucap Ella tersenyum cerah, seraya mengacungkan jempol mungilnya pada Mery.
"Ma, sebelum pulang kita mampir ke restoran ya? Ella lapar."
"Ma, tadi Ella ke pilih lomba buat mewakili sekolah. Lomba tari gambyong."
"Ma, Ella ada banyak banget PR. Tema satu ada dua. Tema empat di suruh gambar. Tema lima di suruh buat puisi. Nanti Ella dibantu ya, Ma."
"Ma, hari ini Ella seneng banget. Ternyata enak dijemput Mama daripada supir. Kalau sama supir Ella gak bisa cerita banyak. Soalnya pak Terdi gak tahu soal dunia sekolah." akhir cerita Ella, dan Mery memasangkan selt beat pada Ella.
"Kau ingin makan apa?" tanya Mery.
"Kesukaan Ella ayam goreng, tapi kata Papa Ella gak boleh makan ayam goreng banyak-banyak."
"Apakah kita akan memesan satu ember?" tanya Mery dengan wajah serius.
"Ma!"
"Tidak apa-apa, Ella. Papamu juga tidak ada, asalkan mulut kecilmu jangan sampai keceplosan. Aku memperolehkan kau makan ayam goreng, tapi juga di imbangi dengan sayur."
"Terbaik!" puji Ella dengan wajah semringah.
"Oke, dimana bisanya kau membeli ayam goreng?"
"Di restoran Masyus, Ma." jawab Ella.
Mery hanya mengangguk sebagai jawaban.
Keheningan datang, namun hanya sebentar. Karena setelah itu ada sebuah pertanyaan yang membuat Mery ingin mencincang batu.
"Ma?"
"Ya?"
"Kantor Mama letaknya dimana?" tanya Ella, dengan mata tak luput dari cekuk leher Mery.
"Sebelah Barat KFC jalan Monarka, emm, sekitar tiga kiloan dari situ. Memang ada apa?"
"Aku kira, Mama kerja di kantor pembuatan madu." jawab Ella.
"Terus, leher mama itu kenapa? Mama sakit ya?" tanya Ella khawatir.
"Merah keunguan, Ma. Kita ke dokter? Atau Ella panggil dokter Luhut ya? Dia dokter pribadi Ella." sambungnya, menatap dalam luka di cekuk leher Mery.
Tangan Mery terulur, menutup bekas kissmark itu. Mery mendengus kasar, mengumpat dan mencaci si pembuat sengatan lebah itu.
Yang sakit bukan aku, Ella. Tapi pria itu yang sakit. Sakit jiwa, sakit mental bahkan urat malunya sudah putus sejak lahir. Batin Mery.
"Terkena lemparan pulpen dari temanku. Tidak sakit, karena hanya sebuah luka kecil, dan kau lebih baik mulai mencicil pekerjaan rumahmu, Ella." ucap Mery.
"Oke, Ma" ucap Ella mengangguk patuh.
***
Mery menatap Ella yang tertidur pulas. Mungkin gadis cilik itu kecapekan. Walau sekolah Ella menerapkan peraturan tidak mengekang pada pagi harinya, yaitu masalah datang. Tapi, Mery rasa itu harus dibayar setimpal dengan jam pulang sekolah. Apalagi kata Qeila, Ella merupakan anak yang aktif dan mengikuti banyak ekstrakurikuler.
Bayangan Mery terdampar pada masa SDnya, dulu ketika dirinya SD, tidak ada yang namanya ekstrakurikuler. Pelajaran bahasa asing saja tidak ada. Sepertinya zaman terus berkembang, anak SD sekarang sudah dituntut menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris. Jika disekolah Ella, ada dua bahasa asing yang benar-bena harus dikuasai; Inggris dan Jerman.
Melihat tugas sekolah Ella, kadang Mery berpikir itu terlalu susah untuk anak sekecil itu. Namun, sepertinya zaman tidak akan pernah mau menunggu, tapi kita yang harus menyesuaikannya.
Sibuk dengan lamunannya, sampai tidak terasa mobil Mery telah terparkir di basment Apartemen.
"Ella..." ucap Mery menepuk bahu Ella pelan.
"Sudah sampai, bangun dulu.. Dilanjut nanti tidurnya ya?"
Sayang, mata itu masih terpejam. Terlihat sangat pulas dan tidak bisa diganggu gugat.
Hembusan napas Mery terdengar, tanpa beralama-lama Mery keluar dari mobil dan berjalan kearah pintu kirinya. Membuka pintu itu perlahan dan langsung menggendong Ella.
Mery menahan napasnya, tubuh Ella yang gempal itu tidak sebanding dengan tubuh Mery yang mungil tinggi. Sedikit tersempoyong tapi untungnya Mery bisa menahan—entah sampai kapan.
Tangannya memencet tombol lock dan segera berjalan menuju lift yang tersedia.
"Ella... Bangun," ucap Mery seraya membangunkan.
Pintu lift terbuka, dan dengan segera Mery masuk. Rasanya punggung Mery akan patah, dia duduk dilantai lift dengan tangan yang mengelus puncak kepala Ella sayang.
"Apakah seperti ini rasanya menjadi ibu, Tuhan?" gumam Mery. Hatinya sakit, sangat amat sakit. Peristiwa kelam masa lalu itulah yang membuat Mery selalu takut akan bayangan masa depan. Apalagi sebuah komitmen panjang.
"Aku selalu bangga pada wanita di luar sana yang berani menikah. Tidak seperti aku yang takut pada sebuah pernikahan. Konyol" desisnya menertawakan nasibnya sendiri.
Dreeettt
Suara ponsel Mery terdengar, sebuah panggilan masuk. Neanra, ibunya yang menelpon.
"Mery" ucap Neanra senang, senyuman merekah saat melihat panggilan itu terangkat.
"Ya, mom? Ada apa menelponku" jawab Mery.
"Pertanyaan mu kurang berbobot Mery, aku ini Ibumu tentu saja menanyakan kabar anaknya. Masih kau tanya?" dengusnya kesal.
"Kau baik? Sehat? Mom sangat mengkhawatirkan mu. Entah kenapa sejak tadi pagi, perasaan Mom tidak enak." ucap Neanra mengeluarkan kegelisahannya.
"Aku baik, aku sehat, dan Mom jangan terlalu cemas. Itu tidak baik untuk kesehatan raga rentamu, Mom."
"Syukurlah..."
"Mery" panggil Neanra lagi.
"Ada apa mom?"
"Tadi saat mom membersihkan kamar mu, mom menemukan fotomu dengan—"
"Buang saja," potong Mery cepat.
"Bukan itu, Mery. Saat mom ingin memindahkan foto itu ke gudang. Mom menemukan sebuah—"
"Aku mohon, jangan ungkit masa itu. Hati Mery masih sakit, Mom." potong Mery lagi.
******* Neanra terdengar, "Aku lebih senang saat mom mengejekku atau menuntutku untuk menikah. Daripada membahas dia. Aku sudah tidak peduli, aku ingin lepas sepenuhnya dengan dia." lanjut Mery.
"Maaf... Mom tahu. Maafkan mom, kau harus bahagia Mery. Segera lepas masa lanjangmu. Lupakan semua hal tentang masa laluku ataupun masa lalu mu sendiri."
"Aku tahu.." jawab Mery.
"Lift ku sudah akan sampai. Ku tutup, sehat selalu, Mom."
"Kau juga sayang"
Tut.
Sedangkan disebuah ruangan dengan nuansa cokelat terang, seorang pria dengan tubuh kekar itu mengepalkan tangannya kuat. Otot-otot tanganya yang tercetak jelas, semakin membuat penampilan pria itu semakin perkasa.
Rahangnya mengeras, bibirnya terkatup rapat dengan gigi yang saling begertakan.
"SI-ALAN!" ujarnya keras.
"SEMUA INI GARA-GARA KAU! KAU YANG MEMBUATKU KEHILANGAN SEPARUH DARI HIDUPKU SENDIRI." hardiknya keras, sampai urat-urat di lehernya menonjol. Menatap sebuah bingkai dengan foto sosok pria tua yang tersenyum ditengah sebuah pernikahan.
"Apapun yang terjadi. Sebesar apa rasa sakitmu, kau harus menjadi milik ku Mery!" ucapnya.
Melalui earphone itu, dia mendengar semua perbincangan Mery dengan ibunya. Dan, itulah yang membuat dia marah akan takdir yang tidak pernah berpihak padanya.
***
"Astaga, Nona.. Nona muda kenapa?" tanya Qeila singap mengendong Ella dan berjalan cepat menuju sofa.
"Ketiduran saat perjalanan pulang." ucap Mery seadanya, dia duduk meletakkan punggungnya yang terasa akan copot itu.
"Qeila, tolong pijat semua tubuhku." perintah Mery seperti bos.
Qeila menggangguk patuh, bagaimana pun secara tidak sengaja pula Mery adalah atasanya.
"Baik nona. Membutuhkan minyak urut sekalian?" tawar Mery.
"Baunya apakah seperti bau aki-aki tua? Kalau iya, lebih baik simpan baik-baik rencana itu."
"Tidak nona, baunya bunga lavender."
Mata Mery terbuka, menatap Qeila tak terbaca. Sejenak hanya ada sebuah kesunyian sebelum jawaban Mery memecah kesunyian itu.
"Baiklah. Cepat pijat badanku, karena hari ini adalah hari yang mengguras tenaga." ujar Mery.
Qeila tak banyak bicara dan langsung berjalan menuju kotak obat. Mengambil minyak urut dan mulai memijat badan Mery perlahan.
Disamping Qeila sibuk memijat Mery. Penglihatan Mery terpatok pada Ella, gadis itu nampak sangat kelelahan. Saat melihat Ella seperti ini, hati Mery berdesir. Bukan desiran sebuah kasih sayang namun, lebih ke desiran sebuah rasa sakit. Entah kenapa ada sebuah rasa rindu dan sakit secara bersamaan. Wajah Ella yang tenang semakin mengingatkan Mery akan sebuah kejadian nahas itu.
"Qeila, siapa ayah Ella?" tanya Mery tiba-tiba.
"Seperti sebelumnya, nona. Identitas nona Ella bahkan sampai siapa orangtua asuhnya dijaga sedemikian rupa." jawab Qeila.
"Aku mulai lelah sampai berubah menjadi bodoh. Menanyakan hal penting pada sekutu." canda Mery dan tertidur karena nyaman dengan pijatan Qeila.
BERSAMBUNG...
Novel ini gak seru ya? atau alurnya pasaran banget? waduh.. gawat kalau ini. Ya, maaf ya.. author sendiri baru belajar hehe.. karya pertama juga. Takut mau publish cerita, tapi kalau takut terus gak maju-maju dong 🙇♀
Jangan lupa, buat kamu yang baca; Like, coment and share 🌸🍄 terimakasih