
Anouk jalan mengendap, memasuki ruangan kerja Desta. Sesaat, matanya menatap CCTV yang mengarah pada almari penuh dokumen penting. Melepeh permen karet pucatnya, memanjat meja dengan gaya kodok hendak menyebur ke sungai. Tanpa menunggu jarum panjang jam berpindah posisi, Anouk sudah lebih dulu menempelkan permen karet di dalam mulut ke kamera CCTV.
Mengobrak-abrik lemari besi itu, dan berkas yang Anouk cari berhasil ketemu. Senyuman kemenangan terbit begitu saja. Menatap penuh benci ruangan itu. Dulu, saat ia kecil ruangan kerja Desta adalah ruangan paling Anouk takuti. Desta selalu melarangnya ke sana, dan jika melanggar dia akan dengan cara menggurung Anouk di kamar.
Tapi, beranjak dewasa, Anouk paham kenapa Desta sangat menjaga ketat ruangan kerja itu. Lukisan wanita dengan baju seksi, yang memerkan belahan dada. Anouk tahu siapa wanita itu. Wanita yang membuat hubungan darah Basta dan Desta rusak. Dasar pela*cur, umpat Anouk kasar.
Anouk keluar dari ruangan itu. Membidikkan sebuah senapan panjang pada penjaga. Melotot tajam, penuh kebruntalan.
"Mundur, atau ku bolongi kepalamu dengan jarum suntik mainan ku?" ancam Anouk, berdecih.
Penjaga itu angkat tangan. Sesaat, semuanya mencoba memikirkan taktik rencana. Secepat kilat Anouk berlari memanjat balkon dan hinggap ke daratan. Menatap lantai dua, mansion Desta. Nyeri di perut, Anouk acuhkan. Karena rasa benci yang membuatnya gelap mata. Masa bodoh dengan segala hal, karena hatinya terlanjur sakit.
Tatapan sinis Anouk layangkan, mengangkat tinggi tangannya, dan mengacungkan jari tengahnya tinggi-tinggi. The fu*ck!
"Bang*sat!" umpat Anouk dan segera berlari. Sebelum Desta pulang dari bisnis haramnya.
***
Ruang bawah tanah, Marine surine
Bahir—ketua dari pimpinan Mafia Marine Surine—menatap Basta lamat. Pria paruh baya bertubuh gempal dengan kepala botak dan minyak berlebih di wajahnya. Bahir adalah ketua dari Mafia Marine Surine. Wataknya garang dengan taktik yang mampu melenyapkan orang tanpa jejak. Lenyap, bagaikan di makan bara api.
"Kau terlihat bahagia, Basta" ucap Bahir, tertawa rendah. Menyesap pelan cerutunya, dengan sesekali meminum kopi hitam panas.
"Bagaimana aku tidak bahagia, Bahir?" tanya balik Basta.
"Sedikit demi sedikit Obrama Group akan lenyap." lanjutnya. Bahir melotot sedikit kaget, namun tanpa lama pun dia tertawa. Mengibaskan tangannya tinggi.
Membentuk lubang kecil antara jari telunjuk dan jempol, memasukkan jari telunjuk lainnya, bergerak melingkar. Seakan meng*cok va*gina, lalu mengeluarkan nya asal, menyesap sendiri jarinya bagaikan menelan cairan kental putih kepuasaan.
Basta tertawa, cukup kencang. "Otakmu tetap, selang*kangan"
"Haha.. Semua otak para pria seperti itu, Basta." sahut Bahir.
"Bukankah berarti kau bisa tidur dengan banyak wanita VVIP? Mereka akan memberikan servis paling memuaskan untukmu. Aku punya banyak." tawar Bahir, menaikkan alisnya.
Tawa Basta terhenti sesaat. Denyutan rasa nyeri kini menghantam dadanya. Namun, tidak lama, karena tawa balasan yang Basta layangkan.
"Untukmu saja," ujar Basta.
"Aku lagi tidak berselera menjamah kotoran." lanjutnya.
Bahir menatap penuh heran raja ranjang di hadapannya itu. "Oh, penyakit mu sudah sembuh?" tanya Bahir.
Basta menggeleng, "aku masih perkasa, kau tau!"
"Tapi akhir-akhir ini, aku lebih suka bercinta dengan Ai." sambung Basta pelan.
"Ai? Bukankah istrimu Lilyana? Kau menikah lagi?" pelotot Bahir, bertepuk tangan. Berdecak kagum pada kemahiran Basta menaklukkan wanita.
"Ah! Kau membuat ku iri saja." hentak Bahir, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Dietlah, kurangi makan ba-bi dan kulit ular. Kau tampan Bahir, cara hidup mu saja yang kurang sehat." nasehat Basta.
Bahir mengibaskan tangannya, merasa tidak berselera dengan nasihat yang Basta berikan.
"Terserah!" decih Basta.
"Sebentar lagi ada Anouk. Dia kemari untuk memberikan saham Obrama Group padaku." ucap Basta membuat Bahir menatap nyalang.
"Bodoh! Kau menyuruh orang licik seperti dia ke mari?" tanya Bahir, meludah kesal.
"Ssttt.. Dia membawa keturunan pertama di tahta Bratara." bisik Basta pelan.
"Putramu bukankah juga pertama?!" decih Bahir kesal. Dia tidak suka orang asing masuk ke wilayahnya.
"Yang akan dijadikan ahli waris oleh kakek tua itu seorang cicit. Anak dan Cucu bukanlah apa-apa baginya. Bang*sat!" umpat Basta marah.
"Desta—"
"Kamu kira Anouk itu wanita pertama yang dia hamili?"
"Desta dulu pernah menghamili seorang temannya di masa SMA. Aku sendiri yang menjadi saksi kelahiran cucu pertama keluarga Bahtara itu." lanjut Basta memijat pangkal hidungnya. Adiknya, Desta memang sangat bruntal dan tidak bisa di atur. Ditambah Nandhaya dulu, sangat sibuk dengan bisnisnya. Begitu pula dengan Ibunya.
"What?? Keluarga mu sungguh rumit, membuat pusing saja!"
"Kemana anak itu sekarang berada?" tanya Bahir, penasaran.
"Di bunuh... Oleh Desta langsung, bersamaan dengan Ibunya." ucap Basta pelan. Sangat pelan.
Bahir mengangga, mengusap kasar keringat di pelipis. "Keluarga psikopat? Yah, adikmu gila, Basta!"
"Dia kehilangan hati nuraninya." balas Basta, menekan rasa sakit di dadanya.
"Tuan Bahir.. Ada seorang perempuan, bernama Anouk—"
"Suruh dia masuk." potong Bahir. Dia lantas berdiri, sedikit kesusahan karena berat badannya.
"Aku pusing dengan kerumitan masalahmu, empat ronde apakah cukup untuk mu mengobrol dengan wanita itu?" tanya Bahir.
Basta mengangguk. "Cukup. Dua rondemu saja, aku sudah selesai mengobrol dengannya."
"Kalau begitu, setelah senjata-senjata itu selesai di kemas, segera kau kirim ke Russia."
"Sialan! Jangan bahas uji coba gagal itu. Aku muak mendengarnya."
"Hahahaha. Kau kurang asupan, Bahir."
"Dan kini aku ingin mengecasnya" balas Bahir dan segera masuk ke mansionnya.
Tak beselang lama, Anouk datang di giring oleh pengawal yang ketat. Basta meletakkan rokoknya pada asbak, membiarkan api membakar habis tembakau itu.
"Selamat—"
"Aku tidak suka basa-basi. Tidak ada drama, Anouk" potong Basta cepat. Malas mendengarkan basa-basi itu.
"Ouh.. Cukup membuatku terkejap kaget" jawab Anouk.
Map berwarna hitam dengan hiasan huruf O berlilit bunga mawar bewarna silver gemerlap. Map itu diangkat Anouk tinggi, seakan memamerkan apa yang ia punya pada Basta.
"Map ini berisi semua saham milik Obrama Group." ucap Anouk, tajam.
"Tanpa tanda tangan?" tanya Basta, membalas tatapan tajam Anouk.
"Kau pikir, adikmu dengan mudah memberikan tandatangan itu, Basta?" jawab Anouk.
"Apa gunanya, lalu?"
"Hahahaha.. Kau sangat meremehkan, Basta"
"Kau memang patut di remehkan. Banyak bertele-tele" tanda Basta menohok, membuat Anouk mengumpat kasar.
"Aku punya salinan tandatangan Desta. Begitu pun cap Obrama. Tapi.. Ada sebuah syarat yang harus kau penuhi." Anouk tetawa singkat, yang membuat Basta cenderung menyenderkan bahunya. Banyak ba*cot sekali wanita di depannya itu. Sungguh memuakkan!
"Apa?" tanya Basta, malas.
Anouk malah tambah tertawa, "yah, aku sekarang tahu menurun dari siapa sifat jutek Agriel. Untung saja anakkku bukan darah dagingnya."
"Aku bersyukur. Tidak mempunyai cucu dari wanita sewaan pamannya sendiri. Kalau beginikan jadi ketara, siapa yang di panggil Bibi dan siapa yang di panggil Ibu." celetuk Basta.
"Tapi, memang kau akan tetap hidup saat itu tiba? Ku rasa cucuku kelak hanya mempunyai Ayah sekaligus paman." lanjut Basta, kejam.
"Itu mau ku!" ucap Anouk serius. Matanya mneyeloroh tajam, seakan membinus langsung mata kelam Basta.
"Biarkan aku bicara menggunakan hatiku, Ayah. Biarkan aku memanggilmu, Ayah." ucap Anouk, menghirup napas banyak. Menyiapkan banyak oksigen untuk paru-parunya.
"Mata ini, dulu sangat gembira melihat kedatangan sosok pria. Pria itu menatapku penuh kasih, menggendong ku, penuh sayang. Telinga yang kerap mendengar seruan ayah dari teman sebayanya, membuatnya iri. Hingga, doaku di kabulkan Tuhan. Pria baik itu mengadopsi ku. Aku kira, kehidupan bahagia akan segera menyelimuti diriku"
"Namun apa? Hidup yang aku kira bahagia tidak sedemikian. Aku mencintai Desta, pria yang dulu menggendong ku penuh sayang. Aku mencintainya tulus. Aku selalu di sampingnya, di kala duka maupun senang. Sekalipun dia menyamakan harga diriku dengan binatang, aku tetap menyayanginya. Setiap tidurnya, dia ku belai. Setiap harinya dia ku puja. Aku mengasihi dia, sampai aku sendiri lupa kapan aku mengasihi Tuhan."
"Amukan, cambukan, segala luka fisik aku terima. Aku bungkam, dengan banyak rasa cinta yang melekat. Sejalan waktu, aku mulai sadar. Aku mencintainya benar-benar tulus, aku bertekat memperjuangkannya. Bahkan, harus dengan menjilat tungkai kakinya. Aku pun jabahi. Aku melakukan segala hal. Dia menyuruh ku menjadi pe-la-cur pun aku menurut. Dia menyuruhku menjilati bekas cintanya dengan wanita sewaaannya pun aku menurut. Aku merendah, menjijikkan diri di bawah lututnya." isakkan Anouk pun tidak terelakkan. Tangisannya merdu, menyayat penuh pada luka batinnya. Dia tersakiti, anak panti asuhan, tidak punya siapa-siapa, dan berakhir menjadi mengenaskan.
"Apa aku salah mengharapkan cinta dari Desta? Ketulusan ku, pun tidak seberapa. Rasa sakit fisiku bisa ku obati dengan obat merah. Namun, bagaimana hatiku? Cukup dengan cinta busuk, aku mengobatinya. Hal yang paling menyakitkan adalah aku di paksa membunuh. Aku ini pembunuh! Aku ini pela*cur! Aku ini si pemilik lubang waduk! Lubang bau!. Semua orang menyumpahi ku begitu bukan?" Tanya Anouk, tertahan.
"Begitu pun saat aku di lemparkan pada anakmu, aku di siksa lebih parah! Aku tidak bisa mengelak. Menjadi Agriel pun aku pasti marah. Karena cinta memang sebesar itu pengaruhnya. Bahkan ketika dadaku di injak, lubangku di sodok. Kakiku di cincang, napasku di bungkam. Mulutku di paksa mengemut, aku tetap diam. Aku diam, aku tidak pernah sekali saja melapor. Aku tidak sekali saja membenci."
"AKU MENERIMANYA!! AKU MENERIMANYA! DEMI KEDOK PANGGILAN AYAH DAN KASIH SAYANG YANG AKU DAMBA!" tangisnya semakin pecah, dengan memegang perutnya sendiri.
Anouk terjun dari kursi, terduduk lemas di lantai. Menunduk, menatap Basta penuh permohonan. "Ayah.. Sekali saja aku mendapatkan cinta Ayah. Tuhan yang maha pengasih. Maafkan aku, aku salah. Kenapa kau titipkan seorang nyawa di tubuh pendosa ini? Keagunganmu, membuat hatiku bergetar tidak karuan. Aku merindukan mu, merindukan segala tentangmu" bisik Anouk.
Basta memejamkan matanya kuat, menahan rasa sesak di setiap perkataan Anouk.
Tangan Anouk yang bergetar hebat menyentuh kaki Basta. Tangan dingin itu membuat Basta membelak, menunduk dan menatap apa yang di lakukan Anouk.
"Ayah.. Aku mohon.. Lindungilah putrimu. Lindungilah calon anakku, calon cucumu. Aku memohon padamu." lirih Anouk.
"Ragaku tidak sekuat itu, ayah. Aku kuat demi titipan Tuhan di dalam diriku. Aku berdiri tegak demi janin ini. Aku tidak mau-tidak mau melenyapkannya. Aku mera-sa men-yesal. Aku menyesal... Tuhan... Maafkan aku." lanjutnya.
Kepala Anouk mendongak, dengan lelehan air mata yang kini bersisitatap dengan Basta.
"Akan aku berikan map itu. Asalkan kau mau menyelamatkan ku. Tidak lama, sembilan bulan.. Dan aku akan pergi." bisik Anouk, yang masih terdengar.
"Cukup!" ucap Basta.
"Tolong aku!!" histeris Anouk, mencekram kuat lantai dingin di hadapannya.
"Akan aku relakan semuanya.. Tapi tolong jaga anakku, Basta. Jaga dia!!" pekik Anouk kasar. Dia frustrasi. Hidupnya kini tambah rumit.
"Maafkan aku, Anouk." ucap Basta pelan, mengambil cepat Map di meja itu dan pergi dari sana menggunakan mobil sport mewahnya.
Anouk tertunduk, mendongak pada bayangan yang menyorotnya tajam. Desta—menatapnya penuh hawa otoriter.
"Kau berkerja sama dengan Basta, baby?" tanya Desta pelan.
"Hidupmu lucu, baby.. Di permainkan ke sana ke mari."
"Tapi... Bukankah lebih dulu, menghukum binatang kurang ajar pada tuannya?" tanya Desta, menyeret Anouk pergi dari sana.
Lewat balkon, Bahir menyesap rokoknya dalam. Tersenyum smirk, penuh kelicikan. Tangannya merogoh ponsel yang ada di saku celananya.
"Sampaikan pada Tuan Brahtara, bahwa semuanya berjalan sesuai rencana"
BERSAMBUNG..
Sabar, karena setelah bab ini kita lanjut ke keadaan Mery 🧚♀ kira-kira Mery gimana ya? reaksinya ketemu Agriel? 🤣