
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, nona Mery hanya sedikit syok, setelah beberapa minggu koma. Keadaan tubuhnya sudah kembali normal. Hanya perlu memberikan asupan makanan bergizi untuk mengembalikan berat badan." ucap Yuna.
Agriel dan Nandhaya mengangguk, "pergilah." usir dua orang itu bersaman.
Yuna mendengus kasar, namun pelan. Membungkuk dan segera melenggang pergi, bisa panas hatinya seruangan dengan dua generasi menyebalkan.
Mery masih diam, mengejapkan mata berulang kali. Menatap langit-langit kamar. Asing. Itulah yang otaknya tangkap. Keningnya mengerut, tanda bahwa dia bingung. Badannya terasa mati rasa. Tidak ada tenaga hanya untuk mengayunkan lengan tangan.
Otak Mery pun masih blank. Tidak ada informasi apapun, membuatnya tambah bingung. Seakan kosong, bak bayi baru lahir di dunia. Tidak tahu apapun, terlihat polos. Kepalanya sedikit menoleh. Menatap maniak mata Agriel yang menatapnya sayu. Penuh cinta dan rasa rindu yang menyeruak.
Kini, kenangan, memori kelam kembali. Secepat itu, sampai membuat Mery kaget. Dia membalas tatapan Agriel nyalang. Ekspresi yang Mery keluarkan malah membuat Agriel tertawa pelan. Sangat lucu sekali wanitanya itu. Bak boneka berbie yang amat mengemaskan.
Cup
Tidak tahan, rasa rindu yang membuncah membuat Agriel mencium pipi Mery, mengelusnya pelan penuh rasa cinta. Asmaraloka yang bergebu-gebu, membuat detak jantung berdebar tidak karuan. Tidak apa bukan jika saat ini Agriel menangis? Yah, dia menangis. Rasa bersalah bercampur rindu tanpa deskripsi arah.
Mata Mery melotot tajam, mulutnya kelu. Suaranya tersendat di pangkal kerongkongan. Terasa lenyap di telan rasa membuncah yang sulit di gambarkan di hatinya pula.
Ah, dua manusia ini sepertinya saling gensi untuk sakadar pembuktian. Nandhaya menatap penuh malas drama di depannya.
"Detakan jantung kalian sampai ke telingaku, membuat bising!" umpatnya, dan tua bangka itu berdiri berjalan keluar.
Mengangkat tinggi tongkat saktinya. Dengan pelototan mata penuh intimidasi.
"Jika ku dengar kalian bertengkar. Ku ambil Mery darimu, Agriel!" celetuk Nandhaya, membuat Agriel menatap marah.
Sontak saja, Agriel merekuh tubuh Mery dan menciumi penuh wajahnya di depan Nandhaya.
"Acara live. Sialan!" umpatnya dan keluar membanting pintu kasar.
Agriel terkekeh, menatap penuh kemenangan di balik pintu yang kini tertutup rapat itu.
Kesadaran mengambil alih jiwa kosong itu. Tidak menunggu jarum panjang jam berganti posisi, Mery sudah melayangkan tatapan paling mematikan miliknya. Tubuhnya masih di dalam rengkuhan Agriel, membuatnya bergerak sesuai dengan sisa tenaga yang ia punya.
Pergerakan kecil itu membuat Ageriel menoleh, tersenyum manis pada Mery yang menatapnya tajam. Tidak ada rasa gentar bagi Agriel untuk tidak menciumi wajah Mery. Aroma khas wanita itulah yang Agriel rindukan. Rasa membuncah bersamaan dengan haru yang menyelimuti hatinya. Menggelitik ulu hatinya halus, membuat tawa bersahut senandung bahagia keluar dari mulut Agriel.
Hidung mancungnya bertemu dengan hidung mancung milik Mery. Mengesek-gesekkannya, menimbulkan geli. Bibirnya pun tidak luput menemplok pada bibir Mery. Debaran gemas yang kini menghantam kepala Agriel, berdenyut rasa bahagia.
"Kau manis, sayang." ucap Agriel, tersenyum. Tidak elak pun cekungan di bawah matanya masih ada. Pesona tampan milik Agriel perlahan muncul, berarti cinta yang pria itu miliki.
"Ssttt... Kau belum bisa bicara, sayang. Jangan paksa untuk memakiku, atau tidak kau akan sembuh lama."
"Asap yang kamu hirup terjebak di kerongkongan mu, dan menyebabkan luka. Tidak serius, hanya saja membuat mu berhenti mengoceh beberapa jam." lanjut Agriel menjelaskan.
Mery nampak menghembuskan napasnya kasar. Pantas saja rasanya tenggorokannya sangat amat sakit. Terlalu banyak menghirup asap, membuatnya terluka. Walau bisa dikatakan 'cuman' tetap saja, luka di bagian dalam tubuh tidak bisa dianggap remeh. Koreng saja pun bisa menjadi penyakit berbahaya jika tidak di tangani dengan baik.
Agriel berjalan, mengambil bubur yang masih berada di dalam panci, di tumpu kompor listrik. Tak lupa juga pria itu menyiapkan obat serta minum untuk Mery.
Membantu Mery duduk dengan benar, menyandarkan punggung wanitanya pada tumpukan bantal tinggi yang ia buat. Memeriksa juga infus Mery, karena infus itu sebentar lagi akan habis.
"Buka mulutmu, Mery." perintah Agriel. Mery masih menutup rapat mulutnya. Dari pergerakan wanita itu, bisa Agriel simpulkan bahwa Merynya masih marah dan membenci dirinya.
Agriel mencoba tersenyum walaupun tidak elak, rasa nyeri di hatinya membuatnya sadar akan banyak hal.
"Mery..." ucap Agriel pelan, matanya pun berkaca-kaca, seakan tidak suka dengan penolakan Mery.
"Maafkan aku.." lirihnya, menunduk.
"Aku tahu aku salah. Pergi tanpa penjelasan, dan membuatnya bingung banyak hal." lanjutnya.
Mata Mery mengejap, guna menyeka buliran air mata yang hendak keluar itu.
"Akan aku ceritakan semuanya, sayang.. Akan aku ceritakan. Tapi tolong, isi dulu perut mu dengan makanan." mohon Agriel, memelas.
"Aku tahu amarah di hatimu sangat membara saat ini. Tapi percayalah, daratan di bumi lebih kecil dari pada luasnya perairan. Kobaranmu akan padam. Aku yakin itu" ucap Agriel penuh sebuah keyakinan.
Mery masih diam, seakan ucapan Agriel tadi hanyalah angin belaka. Melihat itu, Agriel meletakkan mangkuk bubur itu, dan menyuapkannnya di dalam mulutnya. Mencekal rahang Mery, dan memaksanya membuka mulut.
Agriel mencium Mery, mengigit bibir bawahnya dan membuat Mery membuka mulutnya seketika. Membigo bubur tadi dan meletakkannya di kerongkongan Mery, sedikit demi sedikit. Jakun Mery bergerak naik turun, serirama dengan di salurkannya bubur tadi.
"Maafkan aku Mery. Tapi, ini yang terbaik untukmu juga." bisik Agriel.
Dia menyodorkan air minum pada Mery dan langsung wanita itu minum dengan rakus. Tidak lupa pun Agriel memasukkan obat ke dalam mulut Mery. Obat itu masuk, dan menidurkan tubuh Mery.
Agriel tersenyum, menatap Mery sayang. Mengusap-usap puncak kepala Mery, dengan di selingi ciuman di sekujur wajahnya. Sungguh, Agriel tidak tahan jika tidak mengecupi wajah mengemaskan itu.
"Aku ganti dulu infusmu sayang." ucap Agriel.
"Kata Yuna, kau hanya perlu menghabiskan setengah infus ini, dan setelahnya kau bisa tidur dengan nyaman." lanjut Agriel.
Pria itu mengoceh bagaikan burung yang akan di sembelih. Tidak dengan atensi Mery yang menatap ruangan itu penuh. Sepertinya kamar mewah ini di sulap bagaikan rumah sakit. Ketahuilah, ocehan milik Agriel adalah iriangan musik bagi Mery menuju alam mimpi. Efek obat itu sangat luar biasa, tidak banyak waktu sudah membuat Mery tertidur, lagi. Sepertinya memang, Yuna sengaja membuat Mery istirahat total dulu.
****
Bahkan sebelum ayam jago berkokok, Agriel sudah mandi, sudah sarapan dan tentu saja sudah sangat wangi. Mungkin saat ini ayam jago sedang mengumpat kesal pada Agriel yang berani-beraninya bangun sebelum mendengar kokokannya. Dan, bodohnya pula di mansion itu tidak ada satu pun ayam hidup. Kalau ada pun sudah berbentuk daging ayam siap olah. Akan tetapi lebih bodohnya lagi, kenapa juga harus di tulis? Trik asik seorang penulis untuk menambah banyak kata per-babnya.
Tubuhnya sudah sangat amat segar, tidak ada acara cosplay menjadi bapak kyai. Kini Agriel kembali pada Agriel yang tampan dan berkharisma. Tidak ada lawan untuk si tampan Agriel. Sejak dulu, dan ketampanan itu awet, padahal Agriel rajin mandi. Senyuman melebihi sinar mentari, dan lagi-lagi membuat Matahari mendecak kesal dengan kesombongan Agriel, sudah terpapang nyata menyambut Mery yang masih asik pada dunia mimpinya.
Pintu terketuk, berulang kali, namun sayang Agriel tidak minat membukanya. Malas saja, karena tidak penting. Tidak ada taya tarik sekuat yang Mery punya. Salahkan saja siapa-siapa itu, karena Agriel pun hanya menikmati alurnya saja.
"Tuan.. Aku tahu kau mendengar ketukan pintu ini. Tapi, karena sudah sangat bucin angkut, membuatmu malas berjalan dan berpaling sedetik saja pada wajah Nona Mery. Tapi, mohon pikirkan seranjang dokumen yang membutuhkan keputusan mu dan tandatanganmu." ucap Ree lelah. Nasib jomblo, ditambah siksaan mematikan yang Agriel luapkan padanya.
Matanya memerah, menahan kantuk serta perih karena menghadap layar laptop setiap malam. Wajah Ree pun kusut bak baju lupa di setrika. Tidak ada tampan-tampannya. Kini, wajah usang itu pun tambah usang. Uapan bau Ree sodorkan, jika saja pintu di depannya mempunyai hidung, pasti sudah mendorong badan Ree menjauh. Saking baunya! Karena Ree belum mandi. Mungkin sejak kemarin pagi?
Tidak ada acara kantor-kantoran! Sudah mumet karena musibah bucin angkut, jangan menambahi pertanyaan yang membuat Ree mencuri dalamanmu! Camkan itu!
"Jujur! Aku ingin mengumpat, tapi takut gajiku di potong! Kebiasaan para boss, yang menolak asas perikemanusiaan." decak Ree kesal. Menendang-nendang pintu di depannya, namun sengaja tidak di kenakan. Membayangkan di depannya adalah Agriel dan kini ia sebagai bossnya.
"Rasakan kau!! Rasakan!! Ku potong gajimu, bad*ebah, sialan!" umpat Ree dalam hati, mana mungkin berani berucap.
Kini, tidak hanya kaki yang maju-maju bak ingin lomba lari, tangan Ree pun turut beraksi layaknya ingin mengambil buah manga yang letakknya tinggi. Kesal, dan tambah kesal saat pintu itu pun tidak segera di buka.
"Sialan! Kenapa aku harus menjadi anak buah ya Tuhan!! Aku ingin menjadi boss!!" ucap Ree setengah tertahan, takut kalau sampai telinga tajam Agriel mendengarnya.
"Nasibmu, rupamu, sifatmu, watakmu, jelekmu, kolotmu, bodohmu, perangaimu, burukmu, upilmu, komedomu, minyakmu, jerawatmu, kurapmu, kutilmu, dan semua keburukan mu! kau memang di takdirkan menjadi bawahan." sahut Agriel, seraya membuka pintu. Tidak lupa dengan sorot mata tajamnya.
Ree menunduk, seperti kucing oren yang sedang di marahi. Tidak berani menyahut, dia semakin menunduk. Meremas kaos oblongnya, guna menetralisir kekesalannya pada Agriel.
"Diam?" pekik Agriel.
"Membatin apa kau tadi? Sampai berdengung nyaring, mengganggu kendang telingaku" degusnya, menatap Ree dari bawah ke atas.
"Kau sudah miskin? Apakah gajimu bulan kemarin kurang? Sampai-sampai menjadi gembel seperti ini." komennya pedas.
"Jengotmu minta di lombakan, kumismu terlalu tebal. Apakah tukang cukur di dunia ini sudah punah? Sampai-sampai rambutmu seperti sarangan burung. Perlu ku belikan burung putut, ha?" lagi, komen Agriel melebihi julitan ibu-ibu kompleks.
Ree semakin membatin Agriel kesal, 'gara-gara kau boss bodoh!' umpatnya.
"Kau masih berani menyuara di hati Ree? Kuping mu bermasalah, nampaknya." oceh Agriel. Moodnya sedang amat baik, sedang gembira ria. Jadi, jangan heran jika pria berkedok cool itu kini menjadi pemenang lambe hot.
Hendak saja Ree berucap, di sebelah Agriel berdiri Mery dengan tatapan paling mematikannya.
"Tuβ"
"Kau sekarang pandai menyahut!" celetuk Agriel langsung memotong.
"Taβ"
"Husss, jangan mengganggu ku, karena moodku sedang baik. Pergilah ke tukang cukur dan mandi! Atau perlu ku panggilkan tukang cukur dadakan di sini!!" usir Agriel, menyentak bahu Ree.
"Terserah anda tuan. Semoga tuan selalu bahagia. Saya permisi,"ucap Ree cepat, dengan satu tarikan napas. Mengangkat keranjang berisi tumpukan dokumen itu, pergi dari sana. Melangkah cepat, dan sedikit berlari. Ree kapok, dia tidak mau mengurusi urusan dunia perbucinan orang-orang tua itu.
"Cih! Mempunyai asisten satu saja, tingkahnya sepertinya babon ingin bertelur!" decak Agriel, berdecak pinggang, sombong.
BERSAMBUNG...
Maaf para pembaca Nana, baru bisa update π’π kerjaaanku lagi banyak dan aku juga ada beberapa acara yang tidak bisa disambi menulis. Ini tulisan hasil curi-curi waktu, di sela istirahat. Semoga tidak mengecewakan kalian ya π π Tenang! Elemery tetap lanjut kok! dan aku usahakan update rutin! ππ dukung Nana terus yaaa... terima kasih ππ Love you all π§ββππ