ELEMERY

ELEMERY
LAHIRNYA DUA PENERUS



***


Bumi berputar dengan sangat cepat, sampai membuat kita tidak sadar bahwa bumi itu berputar. Begitu pula dengan waktu yang melangkah lebih depan dari pada langkah kita. Sibuk dengan kebahagiaan yang menyelimuti, membuat Mery tidak sadar bahwa kandungannya sudah menginjak bulan ke sembilan.


Hanya menunggu hitungan hari menurut tanggal HPL dokter Mery akan melahirkan anak pertamanya. Banyak nama yang sudah Mery pikirkan, namun belum ada yang cocok di hatinya. Ibu hamil itu sedang di landa galau masalah nama untuk calon bayi-bayi nya itu.


Perut Mery saat ini sangatlah besar, sampai membuat wanita itu tidak bisa berdiri lebih lama. Berjalan lima langkah pun ngos-ngosan. Benar-benar menjadi seorang ibu itu perjuangan panjang. Lelah nya tiada henti, kerjanya sepanjang waktu. Durhaka benar untuk anak yang berani membentak ibunya.


Neanra sudah mendampingi Mery sejak usia kandungan anaknya menginak semester dua akhir. Wanita tua itu sangat rempong menyiapkan banyak hal. Membelikan baju, memilih barang ini itu untuk calon cucu pertamanya. Sesekali pun Neanra membantu mengurus Donan yang sudah bisa berguling ke sana kemari.


"Donan sayang!! Lihat nenek Lily membawakan apa!!" Ucap Lily bersemangat, lalu mengendong Donan dan duduk bersama Mery.


"Mobil-mobilan lagi!! Yaaa!!"


"Aduh, Donan ini semakin besar gantengnya semakin terlihat ya," puji Lilyana senang.


"Dia cucu kita Lily, tentu saja tampan." Sahut Neanra dari dapur dengan nampan kue kering untuk cemilan Mery.


"Kau benar Neanra."


"Sayang, bagaimana dengan kandunganmu?" Tanya Lily.


"Semua baik-baik saja, Bun. Hanya menunggu kapan bayi-bayi ini mau keluar dari perut ibunya."


"Eughh...."


"Dia menendang!!!" Heboh sudah dua nenek itu. Mereka langsung meraba perut Mery yang memang benar sedang bergerak ke sana kemari.


"Mereka tahu sedang di bicarakan."


"Aw! Sensitif sekali bukan!"


"Hallo sayangnya nenek. Kalian sedang apa di sana. Lihatlah nak, kakakmu Donan menunggu kalian. Benar Donan??"


"Heumm ha!!" Seolah menyahut, Donan pun tersenyum senang.


Tawa Lily dan Neanra pun pecah seketika. Dua nenek cantik itu seakan sangat bahagia. Mery yang melihatnya pun juga tersenyum, kebahagian ini tidak akan pernah terlupakan. Kenangan ini tercetak sangat amat jelas di memorinya. Tangan Mery tidak lepas dari mengelus perutnya, pergerakan kecil dari dua calon bayinya semakin menambah kebahagiaan yang tercipta.


"Agriel kemana Mery?" Tanya Lily.


"Ada urusan sebentar, Bun. Katanya sebentar lagi pulang." Jawab Mery seadanya. Dan benar, tidak berselang lama pintu utama di buka besar oleh para maid, Agriel berjalan terburu-buru.


Dia langsung memeluk tubuh Mery, dan menciumi kening Donan. Terakhir dia menyalami tangan Neanra dan Lilyana.


"Baru saja dibicarakan, sudah datang. Panjang umur untukmu, nak."


"Oh ya? Jadi aku tadi menjadi bahan rumpian kalian?" Alis Agriel terangkat menanyakan.


"Maafkan kami nak, kami kurang bahan gosipan. Atau kau punya sesuatu yang bisa kami gosipkan?" Tanya Lilyana di angguki oleh Neanra.


"Haleluyah! Gosipkan saja berkat Tuhan di setiap hembusan napas kalian."


"Oh ya Tuhan, berikan berkatmu."


"Kebahagian ini juga berkat Tuhanku, Haleluyah!"


Mery memutar bola matanya malas, "kalian ini sedang berdrama apa?"


"Menjadi seorang wanita Tuhan."


"Ya terserah kalian. Aku ada informasi."


"Apa Mery?" Tanya Lilyana dan Neanra bersemangat. Dua wanita tua itu seakan siap mengosip. Sampai Agriel menepuk jidatnya sendiri.


"Kakek buyut Wick akan datang. Dia sudah perjalanan menuju ke sini."


"Oh ya ampun! Ternyata hanya kedatangan tua bangka! Aku kira!" Celetuk Lilyana.


"Ayo Lily, kita memasak saja. Mumpung Agriel sudah datang, berikan Donan padanya. Tidak baik jika pria muda itu menganggur."


"Kalian jaga dulu Donan, aku ada urusan penting dengan Mery." Cegah Agriel melotot tidak terima.


"Urusanmu itu hanya perihal cocok tanam. Sedangkan kita memasak untuk perut mu agar kenyang." Balas Neanra, dan mereka pergi.


"Jaga Donan Agriel. Aku tidak bisa bergerak bebas karena anakmu juga."


"Boleh ku sebut diriku baby sister dadakan?" Gumam Agriel.


****


Kedatangan Wick-Hely benar-benar membuat pusing seatero mansion mewah milik Agriel. Pria tua itu membuat kekacauan, dengan kecerewetan yang luar biasa membuat orang kesal nan geram. Bagaimana tidak, pria tua itu tiba-tiba datang dan menjadi penyuruh handal yang mampu membuat semua orang pusing di saat yang bersamaan.


"Hei kau! Cepat belikan aku tahu kupat."


"Bersihkan sofa ini, sudah banyak debu dan bau"


"Kalian ini tidak pernah mengepel lantai ya? Lantainya sangat licin. Tidak tahu aku ini sudah tua, kalau sampai jatuh, nyawaku juga ikut jatuh."


"Kau Lilyana? Ibunya Agriel kan?. Neanra dan Lilyana sekarang kalian masakan aku masakan rumahan khas Indonesia."


"Di mana kau letakkan tas mewah dan mahal ku?"


"Agriel, coba kau telpon Nandhaya. Ada hal yang ingin aku bicarakan."


"Aku suka melihat pemandangan ini." Gumamnya, duduk menyenderkan punggung rentanya. Melihat sekeliling Mansion yang sibuk dengan tugas-tugas mereka. Serentak semua yang ada di sana membersihkan segala benda. Termasuk mencuci kulkas, TV, sofa, AC, semuanya di bersihkan.


Mery berjalan menghampiri Wick, sang kakek. Dia duduk dan menatap lekat kakeknya itu. "Kakek bahagia?" Tanya Mery pelan.


Wick mengangguk, dia mengelus kepala Mery dengan sayang. "Sudah punya ide untuk nama anak kembarmu?"


Wick tertawa jenaka, "kau ingin membuat kakek tuamu kebingungan?" Tanya Wick, mengelus perut besar Mery.


Mery tentu saja menggeleng, "nama awalan mereka sama, tapi belakangnya berbeda."


"Kakekku akan segera datang, Kakek mertua." Ucap Agriel dan mendudukkan diri di sebelah Mery.


Wick mengangguk-angguk, dia terdiam lalu tersenyum sejenak. "Setelah cucuku lahir, aku ingin tinggal selamanya di sini." Keputusan yang memang sudah dia pikirkan matang-matang, sejak dulu.


"Lalu bagaimana dengan bisnis dan asetmu yang ada di China?" Tanya Mery.


"Akan ku pantau dari sini. Kalau memang ada hal rumit yang membuatku harus ada, baru aku akan ke sana."


"Aku ingin menyelesaikan perintah Tuhan bersama cucu-cucuku. Sudah cukup aku sendiri dan hidup penuh ambisi. Sudah cukup kekayaan Wick-Hely untuk ku wariskan pada cucuku kelak." Lanjutnya.


Mery dan Agriel pun hanya diam, tidak mau ikut campur di dalam keputusan yang sudah Wick buat.


"Tua Bangka! Ada apa kau memanggilku kemari? Menganggu waktu ku saja!" Teriak Nandhaya, dan berjalan ke arah Wick, Mery dan Agriel duduk.


"Ck! Duduk dulu orang tua idiot!"


"Kau yang idiot, bodoh!"


"Kalau aku bodoh, tidak mungkin bisa mendirikan perusahaan semegah Wick-Hely!"


"Kalau aku idiot, tidak mungkin juga bisa mengurusi tiga trah sekaligus."


"Cukup!" Sertak Agriel. "Ada hal apa yang ingin kalian bicarakan? Mery butuh istirahat!"


"Suruh kakek tua mu itu duduk dulu, Agriel." Suruh Wick. Dan dengan raut wajah kesal Nandhaya duduk.


"Apa yang ingin kau bahas?" Tanya Nandhaya memulai.


"Pembagian warisan, karena itu berpengaruh pada nama mereka. Trah kita begitu banyak, jadi harus di bagi."


Nandhaya langsung duduk tegap, menyorot tajam pada Wick. "Cucu pertama harus mewarisi Exanta dan Brahtara." Aura yang mendominasi sekaligus sisi egois Nandhaya muncul di permukaan. Wick tentu saja hanya tertawa kecil, sudah hafal betul dengan ambisi yang di miliki Nandhaya.


"Ya ya ya, cucu pertama milik mu, Tuan bau tanah kubur." Wick hanya mengangguk, lalu seperdetik kemudian raut wajahnya berubah. Mencondongkan tubuhnya dan menatap lekat semua mata yang ada di sana.


"Kau habiskan cucu pertama, kedua ataupun ketiga untuk menjadi keturunan waris mu. Tapi tidak dengan anak terakhir Mery dan Agriel. Dia yang akan menjadi pewaris kekayaanku." Licik bagiamana ular basah yang tengah berjalan menuju rawa-rawa.


"Kau sejak dulu menyukai daun muda. Baiklah, baiklah kakek tua bangka." Sahut Nandhaya mengibaskan tangannya.


"Kau akan melahirkan kapan, Mery?" Tanya Nandhaya.


"Kata dokter—ughttt" Mery terpejam, entah kenapa tiba-tiba dia merasakan mulas. Rasanya ada sebuah dorongan kuat yang mendorong jalan lahir itu.


"Mery? Sayang, kau—"


"Tidak, aku akan lahiran sekarang!!" Pekik Mery, sudah pucat di bumbui keringat deras.


Wick langsung berdiri, dia berteriak memerintahkan semua orang yang ada di sana untuk segera menyiapkan mobil, menyiapkan barang kebutuhan Mery. Sedangkan Nandhaya juga langsung sigap, menelpon pihak rumah sakit serta menyiapkan banyak pengawal terlatih untuk mengawal proses kelahiran dua penerus.


Agriel tidak banyak kata, dan langsung membantu Mery untuk duduk di kursi roda. Mendorongnya sampai ke depan pintu utama. Di sana mobil sudah siap, dengan pengawalan ketat.


"Sabar, sayang. Ramalkan banyak doa di hati. Aku yakin kamu bisa melalui semua ini. Ingat, ada aku di sampingmu, sayang." Bisik Agriel. Kalimat cinta serta pujian terus dia lontarkan, berharap itu bisa menjadi sebuah penenang.


Perjalanan menuju rumah sakit tidaklah terasa sumpek dan padat. Karena semua akses jalan sudah di atur sedemikian rupa oleh Wick dan Nandhaya. Mery langsung keluar dari mobil di bantu Agriel menuju ruangan.


***


Pembukaan Mery sudah lengkap. Para dokter dan suster di sana mengangguk, seakan pun mereka siap untuk menjadi saksi terlahirnya calon-calon penguasa dunia. Proses kelahiran Mery pun berjalan dengan lancar dan baik. Hingga suara tangis seorang bayi laki-laki membuat suara haru kian menjadi.


Neanra, Lilyana, Wick dan Nandhaya memejamkan mata. Mereka meramalkan banyak syukur atas karunia Tuhan yang begitu luar biasa untuk kebahagiaan Mery dan Agriel yang lengkap sudah dengan kehadiran sang malaikat kecil.


Mery tersenyum, dia menatap bayi itu. Dan terasa hangat lengket saat dokter meletakkan bayi kecil itu di atas dadanya. Perutnya kembali mulas, Mery mengejan kembali dengan sisa tenaga yang ia punya. Bicara pun tak sanggup saat itu.


"Sadar ya Bu. Ayo sadar. Matanya jangan di tutup." Instruksi itu hanyalah angin berlalu untuk Mery. Mereka tidak tahu betapa lelahnya Mery. Betapa ia ingin tidur seraya merangkul anak-anaknya.


Keringat membajiri sekujur tubuh Mery, dia menutup kuat matanya untuk menahan rasa sakit. Dia meremas kuat gagang besi yang ada di sampingnya.


Agriel sendiri langsung luruh, dia merosot di keramik putih. Tidak sanggup, Agriel tidak sanggup menatap kesakitan yang tengah Mery rasakan. Ingin sekali ini saja Mery merasakan sakit ini, tapi Agriel sendiri juga sadar betul bawasanya itu tidak lah mungkin.


"Mery.... Mery.... Sayang... Bertahanlah.... Bukalah matamu, sayang" bisik Agriel lirih, kecil dan sebulir cairan bening keluar dari mata tajamnya.


Lemah tidak berdaya, jiwa laki-lakinya terguncang hebat melihat perjuangan Mery. Mungkin, jika dia di posisi Mery sudah dia hantam semua barang yang ada di sana, sudah dia hajar habis-habisan rasa kesakitan itu. Tidak sanggup, mungkin lebih pantas.


"Ibu, kurang sedikit lagi. Tahan Bu, atur napasnya. Jangan menutup mata."


"AGRIEL!!!" teriak Mery, dan tangisan anak keduanya menggelegar di ruang bersalin itu.


"Mery... Kau berhasil sayang. Kau berhasil. KAU HEBAT. KAU KUAT. KAU SEGALANYA UNTUKKU. TERIMAKASIH SAYANG."


Dan, bayi keduanya pun di letakkan di dada Mery. Rasa hangat nan lengket menyentuh kulitnya. Rasa haru yang kian menyeruak, dan tangis bahagia yang kini menggelilingi mereka. Kisah panjang ini, ternyata sudah berada di ujung kebahagian. Tirai merah panjang sudah akan di tutup.


Sorak para pembaca membuatnya kembali terbuka. Menuntut akan jalan kelanjutannya.


Akan mereka beri nama untuk putra pertamanya, Therial Aksera Putra Exanta. Dan, untuk putra keduanya, Therial Aksara Putra Brahtara. Bayi yang tampan itu siap mengguncang dunia dengan kekuasaan mereka.


Di luar sana, Nandhaya mengayunkan tongkat dengan kepala singanya. Seorang tangan kanannya—Redel—membungkuk hormat memberi salam pada Nandhaya.


"Aku sudah tidak berkuasa Redel. Atur semuanya untuk dua pewaris ku."


"Baik Tuan. Semua akan segera saya atur."


"Kau cukup cepat, Nandhaya." Puji Wick dengan tawa klasik penuh teka-teki.


BERSAMBUNG.....