ELEMERY

ELEMERY
KESADARAN PEMERAN UTAMA



Di luar sana hujan menguyur begitu derasnya. Tanah yang semula kering, berubah menjadi becek seketika. Aroma tumbuhan kering yang kini tersiram air pun tidak luput dari suasana tenang malam ini. Aspalan jalan yang tadi siang panas membahara, kini berubah menjadi dingin. Rintik hujan tidak henti, membawa udara dingin karena bercampur air.


Siang tadi, cuaca begitu panas, sorenya hujan deras—sampai malam ini. Begitu cepat Tuhan membalikkan segala sesuatu. Seakan tidak ada yang mustahil di dunia ini. Sama, seperti malam-malam lalu, Agriel masih menunggu kesadaran putri tidurnya. Setiap lelehan air mata yang di keluarkan Mery, seakan menambah luka tusuk di hatinya terdalam. Tuhan, seakan membisu untuk menjawab doa-doa Agriel.


Guratan rasa lelah pun tak luput menghiasi wajah tampan, yang kini berubah menjadi buruk rupa. Sepertinya, Agriel ingin cosplay menjadi bapak kyai. Atau mungkin, calon suami untuk perempuan perawan yang ketika menyapu, tidak bersih. Astaga, cercaan kuno dari nenek moyang, masih melekat penuh. Tidak apa, yang penting ada makna baik.


"Mery.. Mery.. Mery.." gumam Agriel, dalam tidurnya. Di samping tubuh Mery yang masih terbujur di atas ranjang.


Suara petir membangunkan Agriel. Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Menampilkan Ree yang beberapa minggu ini sengaja menginap di mansion Agriel.


"Tuan.." panggil Ree menunduk. Dia senantiasa menjaga ketat mansion ini. Agar terjauh dari jangkauan Anouk maupun celurut got lainya. Agriel tidak mau bertemu, atau memasukkan apapun sebelum wanitanya itu bangun. Bila perlu, Mery mati ia pun ikut mati. Masa bodoh janjinya dengan Master.


"Ah.. Ree, aku bermimpi Meryku tersadar. Di sana, dia tersenyum hangat. Seraya mengendong anak kami. Itu yang aku mau Ree. Bisakah Tuhan mendengarkan doa kecilku ini?" ucap Agriel melepaskan mantel yang tadi di pakaikan Ree.


"Tuhan maha mendengar, Tuan. Percayalah, Nona Mery akan segera sadar." sahut Ree prihatin.


"Ini salahku! Seharusnya aku langsung mengurung Meryku, ke dalam istana yang sadari dulu aku bangun. Seharusnya seperti itu. Bukan malah melepaskannya dan membiarkan Meryku di luar. Dunia luar jahat. Aku sendiri merasakannya."


"Tuan, sesal tidak usah di ungkit. Aku yakin, Nona Mery akan segera sadar. Petugas terapi pun mengatakan, nona Mery sudah dapat merangsang sentuhan." ungkap Ree, menghentikan rasa penyesalan Tuannya.


"Yah.. Membual lah," ucap Agriel mencium lama kening Mery.


"Bangun, sayang. Bukankah kau penasaran dengan alasanku? Akan aku ceritakan semuanya. Tidak ada yang terlewat. Percayalah.." bisik Agriel pelan, cenderung lirih hampir tidak terdengar. Tenggorokannya kering, sadari pagi belum minum apapun.


"Tuan.. Makanlah terlebih dahulu. Aku mohon Tuan, jangan menyiksa diri sendiri.." ucap Ree, merasakan sedih atas duka yang menimpa tuannya.


"Meryku belum makan, bagaimana bisa aku makan?" tanya Agriel.


"Nona Mery sudah mendapatkan asupan dari selang infusnya, sedangkan Tuan, tidak—"


"Pasang saja selang infus di tangan ku, Ree. Atau perlu pasang dua, satu di tangan, satunya di kaki." potong Agriel, gila.


Kewarasan Tuannya bagaikan menguap, ditelan waktu. Bisa pecah kepala Ree bila ini berlanjut lama.


"Tuan.. Master akan datang kemari, beliau sudah perjalanan ke mari. Jetnya akan mendarat dua jam lagi. Aku harap, Tuan bisa menyambut Master dengan—"


"Jadi, Tua bangkaku sudah berani keluar dari goa?" tanya Agriel, tertawa pelan.


Bahkan, tidak ada yang tahu jika seorang Nandhaya masih hidup, Bahtara group masih berdiri kokoh. Desta dan Basta pun tidak mengetahuinya, kakeknya itu bersembunyi sangat jauh dari campur tangan manusia. Berlindung di bawah naungan klannya sendiri, singa putih.


"Tuan.." peringat Ree. Seperti tidak terima, senseinya di hina tua bangka. Walau pun benar adanya.


"Apa? Tidak terima? Pergilah, Ree. Kau menganggu Mery ku" ucap Agriel.


"Bukan tuan." ucap Ree menunduk takut.


"Apa lagi? Kau itu semakin lama semakin cerewet. Ambillah aku vodka saja, tenggorokan ku kering."


"Maaf, saya menolak, tuan" ucap Ree mundur selangkah.


"Tuan, Master itu suka bermuslihat. Bisa jadi dua jam—"


"HEI KAU AGRIEL BRENGSEK! CUCU PAYAH!" teriakkan menggelegar memenuhi lorong.


Agriel memejamkan matanya, segera berdiri dan menuju kamar mandi. Membuka kran, dan meminum air kran itu dengan telapak tangan yang ia buat cekung. Astaga, dia sampai lupa bagaimana sifat kakeknya itu. Kalau saja bukan karena sumber kekayaan di tangan pria tua itu, Agriel memilih mengurung kakeknya itu.


"Di mana Agriel?" tanya Nandhaya dengan tatapan tajam, menusuk pada Ree.


"Di dalam, master" jawab Ree, menunduk.


"Balita itu tidak mau makan?" tanyanya lagi, membuat Ree meneguk ludah kasar.


"Be-benar, Master. Tu-tuan Agriel su-sulit ma—"


"Halah! Lama berbicara dengan idi*ot seperti mu!" potong Nandhaya kesal.


"Maaf.." ucap Ree kembali menunduk.


Dengan tongkat andalannya pun, kakek tua itu memukul kepala Ree keras. "Berlatihlah kembali sana. Bersama balita itu kau semakin lemah. Yang tegas! Kalah dengan aku yang muda ini!" dengusnya, marah.


"Siap! Tuan Agriel di dalam, master." ucap Ree, tegak. Tidak mau dia berlatih lagi, Ree sudah telanjur sayang dengan one packnya. Perut buncit ala bapak-bapak. Sudah cukup, say goodbye pada six pack!


"Bagus! Baru anggotaku!" Tungkas Nandhaya, masuk ke dalam.


Menutup pintu keras, sampai menimbulkan bunyi yang memekik.


Astaga, Ree sampai menutup telinga karena suara tidak berperasaan itu.


"Apa kabar?" tanya Houla—bodyguard andalan Nandhaya.


"Baik. Kau bagaimana? Sudah lama aku tidak berkunjung ke markas" ucap Ree, memeluk tubuh kekar Houla.


"Berkunjung lah, sesekali melakukan tinju di atas hutan lagi. Hahaha"


"Aku sudah berubah menjadi pria hello kity, Houla." ucapan Ree sontak membuat tawa Houla terhenti. Menatap


"Berarti kau sekarang, gay?" tanya Houla pelan.


Bugh


Ree memukul hidung keras Houla. "BUKAN BEGITU MAKSUDKU, AN*JI*NG!!" pekik Ree kesal.


"Astaga. Kau gila, bro!" dengus Houla.


***


"Master" sapa Agriel keluar dari kamar mandi.


Nandhaya menatap Agriel dari bawah ke atas, lalu dari atas ke bawah. Dari atas nampak rambut cucunya itu acak-acakkan, bau wedus menguar sampai membuat Master menutup hidung, kumisnya di potong asal—nampak baru saja di potong. Jenggotnya pun demikian, Master akui potongan Agriel sungguh jelek. Pipinya tirus, dengan cekungan mendalam dibawah mata, yang nampak hitam. Bajunya terbalik, dengan celana kolor yang mlorot.


Mata Nandhaya melotot tidak karuan. Terlihat ingin keluar dari tempat.


"Burung mu bisa terbang, jika kau tidak membenarkan kandangnya." ketus Master, memukul kepala Agriel dengan tongkat andalannya.


Agriel meringis, memegang pelan kepalanya yang pening. Efek tidak makan dan minum seharian.


"Tidak mati sekalian, kau?" tungkasnya tajam.


"Dan aku pun bisa menikahi Mery" lanjutnya membuat Agriel melotot.


"Sekarang! Kau MANDI, CUKUR SEMUA BULU SIALAN MU ITU DAN PAKAI MINYAK WANGI SEBANYAK DUA BOTOL. BAU WEDUS. SEBELUM KAU WANGI, JANGAN MENYANDANG SEBAGAI PENERUS KU!" bentak Nandhaya membuat Agriel kikuk. Dia lantas berbalik dan mandi.


Menatap pantulan dirinya yang—sangat amat buruk rupa— pantas saja tua bangka itu marah besar. Sampai-sampai keluar dari goa persembunyiannya. Padahal hujan deras, tapi tetap nekat saja kakeknya itu. Kalau sampai terjadi apa-apa bagaimana coba. Membuat khawatir saja. Ayo bantu Agriel mengingatkan bahwa masternya itu sudah tua bangka!


"Kau yang bernama Mery?" tanya Nandhaya menatap wanita cantik yang nampak tidur pulas itu.


"Cantik. Cocok dengan aku yang tampan." candanya, lalu tertawa sendiri. Andai dia masih muda dan tidak loyo, berani bertaruh saingan dengan Agriel.


"Kau kenapa, nak?" tanya Nandhaya menatap buliran mata Mery yang jatuh di pelupuk matanya.


Tangan keriput itu mengusap buliran itu, merasakan betapa sangat terjebaknya Mery. Sekarang, Nandhaya sadar. Mery sudah siluman, akan tetapi dunia bawah sadarnya ingin selalu Mery mengingat sebuah rasa sakit, yang sengaja wanita itu sembunyikan.


"Sadarlah. Lawan kejahatan dalam dirimu sendiri nak!" tegas Master. Dia meletakkan tongkat berkepala singa itu di samping Mery.


Menatap sekilas wajah Mery, dan menutup matanya dengan kain hitam.


"Bangunlah! Tarik semua kejahatan yang memenuhi pikiranmu. Pikirkan hal yang membuat mu bahagia. Jangan jadi pecundang untuk dirimu sendiri. Bangun! Mereka semua derajatnya hanya sebatas ujung kukumu. Lawanlah, nak. Karena tepat di depanmu, kebahagiaan akan datang. Kau jalan lahirnya penerus tiga tahta tertinggi dunia." bisik Nandhaya, melepaskan lain hitam di mata Mery.


Sorot mata Nandhaya meloroh tajam, tiga tahta tertinggi. Tapi, salah satu tahtanya harus di ambil oleh pewaris sesungguhnya. Nandhaya tahu, Obrama tetap milik janin yang di kandung Anouk. Brahtara dan Exanta akan tetap milik calon anak Agriel. Semoga, Agriel bisa mengumpulkan tiga pewaris tahta tertinggi itu dalam satu istana. Nandhaya yakin, Agriel pasti bisa.


Dikatakan membanting stir, memang benar adanya. Nandhaya tidak akan egois untuk menyatukan kembali sesuatu yang sudah pecah. Brahtara, Exanta dan Obrama, sudah terlanjur membelah. Jalan satu-satunya bersatu adalah dengan hidup rukun dengan pewaris. Calon cicit-cicitnya lah yang harus berkumpul. Melupakan kesalahan orangtua mereka.


"Kau harapan, Mery. Cicitku tak akan bisa bersatu tanpa kepedasan mulut mu. Bangunlah. Sebelum singa putih yang menjemputmu" ucap Nandhaya tidak main-main.


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Agriel dengan wajah dan tubuh lebih segar. Ketampanan sedikit demi sedikit mulai terbit.


"Sekarang isi ususmu dengan makanan dan guyur tenggorokan mu dengan air!" perintah Nandhaya.


"Tidak—"


"Kau berani membantah ku? Ingin aku potong batangmu, hah?" ancam Nandhaya yang tidak pernah main-main.


Agriel menghembuskan napas gusar. Baiklah, demi kekayaan yang tua bangka itu berikan nanti.


Di tengah perbincangan Agriel dan Nandhaya mengenai suatu hal. Kelopak mata Mery perlahan terbuka. Sedikit menyipit karena merasa cahaya terlalu tajam membinus pupil matanya. Beberapa kali mengejap, dan akhirnya mata dengan payung bulu lentik itu terbuka lebar.


Tatapannya kosong, kepalanya tidak berisikan informasi apapun. Membuat Mery terbangun bagaikan mayat hidup.


"Wanita mu sudah bangun." ucap Nandhaya membuat Agriel menghentikan acara memakan kuenya.


"Mery... Sayang.." ucap Agriel terharu pilu. Dia lantas memeluk tubuh Mery dengan amat erat.


"Sayang.. Akhirnya.. Tuhan, terima kasih" ucapan itu di iringi terhentinya hujan lebat di luar. Tuhan memang kadang terlihat bisu, tapi yakinlah ia maha mendengar.


Mulut Mery nampak terbuka, namun tidak ada suara. Ada kata yang ingin wanita itu ucapkan, namun tertahan di kerongkongan. Tatapannya pun menatap Agriel kosong.


"Dia linglung. Panggilkan dokter ke mari" celetuk Nandhaya membuat Agriel mengangguk cepat.


BERSAMBUNG...


Kok semakin sepi ya 😢 apakah ceritanya terlalu berbelit-belit? atau tidak seru 😩 awal kalian baca Elemery, kalian menebak alurnya kagak gimana? (。ŏ_ŏ) tidak sesuai ekspetasi kalian 'kah? ๏_๏ I'm sorry guy's tapi, sejak awal cerita Elemery memang seperti ini 🙏 TERIMA KASIH YANG SUDAH MAU BACA SAMPAI SINI DAN MENUNGGU TERUS KELANJUTAN CERITA ELEMERY 💖🌸


Selamat hari raya Adha 💞 bagi umat muslim.


tertanda,


Nanaitelian.