ELEMERY

ELEMERY
KEBEBASAN



Happy Reading 💞🧚‍♀


***


Hari ini bisa dikatakan sebagai hari kebebasan seorang Elemery Desinton. Tragedi kebakaran di gudang membuatnya kembali pada sosok Agriel. Padahal pun dulunya, kebakaran juga yang membuat tekanan mental pada diri Mery. Sama. Namun beda kondisi. Sebenarnya ada rasa tidak percaya dihati Mery, akan ada di mana dia bisa sedekat ini dengan Agriel.


Benci, dan kecewa itu masih ada. Tapi, tidaklah baik terlalu memperlihatkannya langsung. Bisa jadi malah sekarang Mery tetap di kurung.


Dadanya nampak naik, menghirup lamat nan pelan udara di taman Mansion Agriel. Mery menggelengkan kepala, dia bahkan lupa kapan terakhir kalinya menghirup udara sebebas ini. Begitu segar dan melegakan kepenatan hatinya.


Taman di Mansion itu sangat luas, tapi beberapa hektar tanah sebagian ditanami pohon alpukat dan sampingnya Bunga Lily—dengan rumah kaca. Desain yang aneh. Mery tidak peduli, wanita itu mengedikkan bahu acuh.


"Kau tidak penasaran?" tanya Agriel, tepat di cekuk leher Mery.


"Tidak penting, juga" balas Mery, mencoba melepas dari cekalan Agriel.


Kekuatan Agriel begitu besar, sampai membuat Mery diam tidak berdaya.


"Bagimu." Hembusan napas terdengar, mengecupi leher putih itu asal. Memberikan jejak samar, dan lelehan saliva memenuhi sebagian leher jenjang Mery. "Taman ini aku buat untuk dua orang yang aku cintai" ucap Agriel.


"Ya, aku tahu. Anouk pernah—"


Grep!


Agriel membalik tubuh Mery dan mengecup bibir Mery, menarik bibir bawahnya kesal, dengan gerakan sesekali menggigit bibir atas Mery.


"Untukmu dan Bundaku. Tidak lebih dari itu." jawab Agriel cepat.


Sorot mata Mery menghunus tepat di pupil mata Agriel. Pancaran matanya, penuh dengan akan keraguan. Bolehlah Agriel mengatakan benci itu terlalu ketara?


"Mery.. Tidaklah kau percaya dengan ku?" Memegang pundak Mery. Menekannya, seakan meminta jawaban yang pria itu inginkan. Egois.


"Untuk apa percaya pada pria pengkhianat dan pembohong sepertimu?" lorohan itu seolah menghantam dada Agriel cepat. Menusuk begitu dalamnya. Tidak terhitung banyak belati yang kini mengores sebagian hidupnya.


Ya, dia akui bahwa Agriel memang pembohong, penipu dan pengkhianat. Sebuah paket komplit untuk sekadar kabur dari rumah.


"Mery... Akan aku ceritakan semuanya. Dengarkan aku!" tegas Agriel bersungguh-sungguh.


"Sejak aku ke sini hanya ada kalimat itu ketika aku mengungkit masa lalu. Tapi, sayangnya itu hanya tong besar yang kosong. Sekalipun aku gelindingkan, bunyinya membuat telingaku sakit. Tidakkah kau tahu manusia mempunyai sifat lelah yang alami?" bantah Mery, menarik diri dari pelukan Agriel.


"Butuh berapa sabar lagi, Agriel? Butuh berapa lagi? Sabar memang tidak ada batasnya. Tapi, kesabaran setiap hati manusia ada batasnya sendiri. Jujur saja.. Kau itu mulai tidak waras. Mengurung ku, sok menjadi pahlawan berkedok balikan? Cih! Ingat umur, tuan!" geleng Mery, menghempaskan tubuhnya menjauh. Pusing, penat, dan segala kerisauan hatinya keluar sudah.


Agriel mengerang, menjambak rambutnya asal dengan hembusan kasar di kalimat terakhirnya.


"Maafkan aku Mery. Kau juga tahu sendiri, setiap aku ingin menceritakan itu selalu ada halangannya." Mery anggap itu alasan paling konyol yang Agriel berikan.


"Akan aku ceritakan, semuanya! Percayalah! Jangan kuras kesabaran mu untuk abu-abu yang menyelubungi hatimu, sayang." lanjutnya lagi, membuat Mery muak, sungguh!


"Oke, anggap saja aku bocah idiot, yang kolot." sahut Mery mengibaskan tangannya ke udara.


"Mery—"


"Bisahkah kau diam saja? Omongan mu penuh kekosongan, jujur." tandas Mery, melotot kesal.


"Jadi ini yang kau rencanakan?." Ucapan Agriel, merubah gaya bicaranya. Meloroh tajam Mery, dengan tatapan dingin.


"Jadi ini adalah jawaban dari sikap baikmu, Mery? Aku kira aku sudah berhasil, selangkah lebih maju memperbaiki hubungan ini. Ternyata aku terlalu bodoh, sampai tidak tahu mana ketulusan dan kebohongan." lanjutnya, rasa sedih mendalam. Agriel bahkan menunduk, dengan getaran aneh menyakitkan di hatinya.


"Sejak kapan kita berhubungan?" tanya Mery, tetap mempertahankan ketajamannya.


Kepala Agriel mendongak, merasa tidak percaya dengan ucapan yang wanita itu lontarkan. "Bahkan lebih dari sekadar pacaran, Mery. Jika kau lupa!" tekan Agriel.


"Dan, pria itu menodai kekasihnya tanpa rasa tanggung jawab. Melarikan diri, dan menghilang. Muncul setelah semua luka berhasil di kubur. Ku tanya, wanita mana yang mau? Kau kira aku tidak tahu rencanamu?"


"Suka sekali menerka." Tawa Agriel, penuh kepedihan.


"Kadang terkaan itu boomerang untuk kehidupan. Apa yang terjadi kedepannya pun kadang sesuai dengan magnet pemikiran kita sendiri." sambung pria itu.


Mery membuang muka, menekan rasa penasaran yang ada di hatinya. Kembali pada masa lalu adalah pantangan. Untuk apa bersama dengan orang lain di masa lalu? Sedangkan di masa depan sudah ada kepastian?


"Sekarang permainan anak kecil selesai. Bebaskan aku!" ucap Mery dengan penekanan, mundur selangkah demi selangkah dengan langkah pelan. "Ralat. Apa alasanmu, Agriel. Apa tujuanmu? Kau sudah meracuni Ibuku bukan? Kau kira aku bodoh? Hari di mana Ibuku menangis setelah menerima telepon, dan pergi dengan tergesa-gesa. Aku memang gila waktu itu, tapi tidak gila untuk menjadi waspada. Negara ini masih kau jajakki, dan aku tidak akan pernah merasa damai." lanjut Mery, matanya menyalang marah.


Agriel terdiam, dengan keplan tangan erat. Menonjolkan beberapa urat-urat di tubuhnya. Rahangnya pun ikut mengetat, kuat seakan ingin menumpahkan segala amarah di hatinya. Kesunyian melada, dengan ego kedua manusia yang sama tingginya.


"Bicaralah, aku tidak suka membuat drama berlama-lama. Muak, jika kau ingin tahu perasaan ku selama ini. Kau kira aku tidak jijik kau ciumi? Cih! Bahkan aku harus mencari batu kali untuk membersihkan kutukan itu." tajam, dan melukai hati Agriel.


"Bicaramu sangat kasar, Mery." pendapatnya.


"Aku tidak butuh komentator untuk gaya bicara ku. Simpan itu dan bebaskan aku dari Mansion mu ini." tandasnya, penuh penekanan.


"Tidak. Sampai matipun tidak akan bisa pergi dari sini."


"Agriel!!!" sertak Mery, menjambak rambutnya frustrasi.


"Kau kira aku ini pengangguran? Kau kira aku hewan peliharaan mu? Atau kau mengira kita tidak terjadi apa-apa dan seenak pantatmu kau kurung aku, bagaikan aku ini kekasih yang amat kau puja-puja? Heh! Aku ingin tertawa jadinya."


"Hari ini yang kau tunggu, Mery? Membuatku terlena dan membiarkan mu—"


"Kau kira apa?" potong Mery cepat.


"Mery.. Kau bahkan belum mendengarkan penjelasan ku. Seperti Mom—"


"Aku tidak mudah kau rayu, baj1ngan!" umpat Mery.


"Ck! Banyak alasan dan pengalihan pembicaraan. Aku paling benci menghadapi orang banyak drama. Yang ku tanya adalah maksud dan tujuanmu? Bagaimana juga kau bisa tahu aku terperangkap di sana?" pincing Mery, matanya menyipit guna menyelidik.


"Aku—"


"Tuan Agriel!!" panggil Ree dari ujung sana dengan tas laptop yang bertengger di genggaman tangannya, nampak berlari cepat.


Agriel menghembuskan napasnya, "ada apa?"


Ree tidak banyak bicara dan langsung membisikkan suatu hal penting paling Agriel.


"Anouk berhasil kabur." bisik Ree amat pelan. Aplaagi saat di rasa hawa mencekam antara Mery dan Agriel.


"Perketat penjagaan! Beritahu di mana lokasinya berada" ucap Agriel tegas, melenggang pergi dari hadapan Mery.


"Pengecut! Lari dari masalah!' teriak Mery, menggertak giginya kesal.


"Anggaplah begitu. Aku siap menerima komentar mu, sayang" sahut Agriel tenang.


"Cih!"


***


Agriel berdiri tegap, menghenbuskan banyak udara keresahan. Pusing, dan sakit. Berdebat dengan Mery membuat hatinya kini tidak tahu arah.


"Tuan.. Apakah Anda, yakin?" tanya Ree pelan. Menunduk, dengan meremas laptopnya. Jujur saja, Ree merasa ide tuannya itu malah akan membuat boomerang di masa depan.


"Yakin. Keputusan ku sudah bulat." jawab Agriel tegas.


"Tapi tuan.. Apakah Anda tidak memikirkan perasana nona Mery, jika dia mengetahuinya?" tanya Ree memberanikan diri.


"Aku—" ucapnya tercekat, "aku sudah memikirkan semuanya. Meryku, akan tetap bersamaku. Dan ahli waris pertama Brahtara aman."


"Menurut—"


"Kitab itu.. Aku tidak menggunakannya. Kitab Tiga Tahta, terlalu mengekang."


"Tuan... Janin yang dia kandung bukanlah hasil ikatakan suci dari pemberkatan Tuhan. Bila di istilahkan di Kitab Tiga Tahta, maka dilarang baginya mendapatkan harta, sebiji zarah pun tidak boleh. Maaf, jika lancang." jelas Ree, menunduk.


Agriel mendesah lelah, menyandarkan punggungnya. Memijat pangkal hidungnya pelan.


"Tapi janin itu adalah ahli waris yang pertama. Aku tidak akan bisa membunuh janin itu."


"Dalam kitab Tiga Tahta tertulis bahwa melindungi ahli waris adalah tugas utama penyangga. Nandhaya tidak hanya mempunyai satu anak, dia mempunyai dua anak. Sebrengsek apapun anak itu, tetap saja ikatan darah lebih kental. Basta mempunyai aku, sebagai ahli waris, itu pun hanya sementara, sampai Tiga Ahli Waris yang sebenarnya tumbuh dan berumur 20th. Bahkan Nandhaya pun tidak memberikan harta itu pada generasi setelahnya, tapi melampaui jauh pada tiga generasi setelahnya. Dan terus seperti itu." jelas Agriel.


"Anak dari Desta dan Anouk adalah generasi penyangga, karena secara garis besar. Anak dari anak Anouk itulah yang menjadi ahli waris sebenarnya. Tapi, karena dalam keturunan Desta hanya ada itu. Berarti ahli waris secara garis besar sudah menjadi hal calon anak Anouk. Menjaga dan melindungi anak itu, penting, Ree"


"Benar, sangat penting. Terima kasih atas amanat yang aku berikan kau kerjakan dengan baik." ucap Nandhaya membuka pintu, dengan tongkat andalannya.


Jalannya dibuat tegar, sorot mata tuanya di buat bersinar.


"Tapi rencanamu, membuat kekasihmu sendiri semakin membencimu, untuk kedua kalinya. Jika memang tidak sanggup, lepaskan saja. Keturunan Brahtara, dan Exanta biarkan di kandung seorang biarawati pilihan." celetuk Nandhaya membuat Agriel menegang.


"Sampai mati pun, hanya rahim Mery yang akan aku taburi benih." tegas Agriel, berdiri.


"Jadilah orang bijak. Keputusanmu dengan menjadikan Anouk istri sesungguhnya malah membuat semua kacau. Kau jangan menjadi idot bodoh hanya untuk mempertahankan harta."


"Cara kerjamu membuat ku risih kali ini." Nandhaya berjalan mendekat pada Agriel. Sedangkan Ree semakin menjauh, karena merasa itu bukan urusannya.


"Desta mencintai Anouk." Kata itu terlontar begitu saja, membuat Agriel sedikit terperanjat.


"Seorang Desta—"


"Aku ayahnya, Agriel."


"Aku tahu.. Anak itu sudah mencintai gadis polos dengan kulit pucat di panti asuhan yang akan dia gusur—namun tidak jadi."


"Kau tahu apa alasan Desta menghamili dan membunuh pacarnya waktu SMA?" tanya Nandhaya, mengorek masa lalu.


"Aku tidak tahu, Master. Saat paman SMA, adonanku masih di awan-awan" balas Agriel.


"Ya. Bahkan aku tidak mengira kau akan ada."


"Antara Basta dan Desta, aku akui bawasannya sifat Destalah yang paling keras dan kejam. Komitmen yang pria itu pegang teguh. Bahkan, dalam hati tidak ada nama Lilyana, tapi tetap saja nama itu muncul terus di otaknya, karena dia merasa sudah berkomitmen mencintai pela*cur itu."


"Pacarnya dulu hamil. Tapi janin itu bukan milik Desta. Dia memang—"


"Tapi kenapa dengan Anouk—"


"Diamlah dulu, bodoh!" ucap Nandhaya memotong, kesal.


"Cara seseorang mengungkap rasanya berbeda-beda. Dan itulah cara Desta. Dia tidak suka terlihat lemah, dia juga tidak suka komitmen di otaknya buyar. Basta dulu lemah karena rayuan pela*cur Lilyana, komitmen Desta adalah mencegah Basta lemah akan wanita. Berakhirnya Lliyana menjadi bahan rebutan."


"Yang akhirnya,—"


"Desta sendiri yang membunuh Lilyana." tungkas Nandhaya.


"Pilihanmu, dua. Biarkan Desta dan Anouk. Atau bertekad dan kau kehilangan Mery untuk selamanya. Aku jamin, sampai mati pun kau akan kehilangan jejak wanita itu. Sejak awal pun sosok Mery sudah aku sematkan." Pria tua itu pun pergi, meninggalkan kemenungan serta kegundahan di hati Agriel.


BERSAMBUNG....