
Bella merekatkan kembali jaket tebal dengan bulu yang mengelilingi lehernya. Menatap hamparan salju yang menutupi sebagian jalanan kota yang ia lewati. Para pekerja banyak yang sibuk membersihkan jalan salju atau sekadar anak kecil yang bermain salju. Mereka nampak bahagia. Suhu udara pada siang hari ini tidak begitu ekstrem, ditambah beberapa minggu lagi musim salju akan segera berakhir.
Atensi mata Bella terhenti pada laki-laki tampan yang ada di sampingnya. Dia bernama Uncel Neel, teman ayahnya yang sungguh baik. Neel adalah pahlawan bagi Bella. Pria tampan berdarah Turki Indonesia itulah yang telah merawatnya penuh kasih sayang.
"Uncel." panggil Bella pelan.
"Iya Honey?" balas Neel tersenyum manis, sampai mata pria itu menyipit bagaikan bulan sabit.
"Aku rindu Papa, dan Mama Mery" ucap Bella yang langsung membuat hati Neel sedikit tersentil.
Sampai saat ini Agriel belum ada mengabarinya, dia paham akan masalah rumit pria itu. Tapi, tidak elak juga akan kondisi psikis Bella yang masih membutuhkan sosok Ayah dan Ibu.
Tangannya terulur mengelus pelan puncak kepala Bella. "Aku juga rindu, sama seperti kamu Bella." jawab Neel.
"Kita sama-sama rindu bukan? Jadi kita sama-sama merasakan sakit. Bella gak sendiri." lanjutnya menenangkan.
Bella menunduk. "Aku mau ketemu Papa, Bella rindu Papa." lirihnya pelan.
"Bella gak suka di sini. Salju tidak sehangat ketika Bella bersama Papa dan Mama Mery."
"Bella...." panggil Neel pelan.
"Turun dulu. Kita sudah sampai. Bicarakan ini di rumah, tidak sopan bukan bicara di mobil?"
"Bella tidak suka Salju, Uncle" jawaban anak itu sontak membuat Neel terkekeh geli.
"Jangan katakan itu, karena hari ini kita akan membuat banyak patung dari salju."
"Uncle"
***
"Bolu adalah kota kecil di Turki. Kota ini dapat di capai selama perjalanan Anda dari Cappadocia ke Istanbul. Kota ini juga dekat dengan Ankara. Tempat terbaik di Bolu yang dapat Anda nikmati selama liburan musim dingin Turki adalah Taman Nasional Yedigoller.
Di sini ada beberapa zona untuk berkemah, tracking, dan aktivitas luar ruangan lainnya. Di sisi lain, Bolu juga memiliki resor ski. Karena terletak di antara Istanbul dan Ankara, banyak pemain ski yang mengunjungi Ankara untuk berwisata, pasti mereka juga akan mengunjungi resor ski ini." Alis Mery terangkat dengan tatapan menukik.
"Kenapa harus kota Bolu? Kau ingin mengucilkan Bella?" tanya Mery.
Agriel terdiam sesaat, lantas menoleh pada Mery yang sedang membaca banyak artikel tentang Kota Bolu. Kota unik, kecil dan sedikit terpencil yang ada di Turki. Kenapa harus kota Bolu? Sedangkan ada Istabul yang menggugah, ada Cappadocia dengan balon udaranya, ada Bursa dengan kepadatannya atau mungkin Izmir? Jawabannya adalah karena kota Bolu adalah kotak kecil di sana. Tidak begitu menarik minat banyak para wisatawan.
"Di sana, Bella bisa merasakan ketenangan. Neel juga kebetulan tinggal di sana." ujar Agriel.
"Penerbangan di tunda, karena sedang ada cuaca ekstrem." Mery mengangguk. Melepas sabuk pengaman dan keluar dari pesawat. Dan benar saja, saat Mery keluar suhu dingin dengan lembab hujan serta angin deras menguyur kulitnya.
"Peluk aku Mery, jangan gengsi." ungkap Agriel membuat Mery berdecak kesal dengan pria cari keuntungan itu.
***
Perjalanan panjang yang hampir memakan waktu 20 jam itu akhirnya selesai. Kini Mery dan Agriel telah sampai di Turki, tepatnya di kota Bolu. Setelah pesawat landing di Istanbul kini mereka perjalanan menuju Kota Bolu. Mery memejamkan matanya, tanda lelah. Menghirup banyak udara dingin lalu membuka mata, dan menatap Agriel.
"Ada apa?" tanya Agriel.
"Tidak percaya, saja." jawabnya seadanya.
Kening Agriel mengerut tanda bahwa sekarang dia bingung dengan pernyataan Mery.
"Aku tidak percaya akan berada di kondisi sekarang. Setelah semuanya berlalu, yang aku pikirkan dulu adalah fokus bekerja dan bekerja. Rasa benci ku terlalu besar, sampai aku sendiri tidak tahu ada sebuah rindu. Pada kondisi sekarang.. Aku merasa sedikit tidak percaya. Bukankah terlalu jauh? Sedangkan saat ini aku merasa masih banyak rahasia yang entah apa itu." ujar Mery menghela napas.
"Bukankah waktu lebih pandai Mery?" tanya balik Agriel.
Mery menoleh, menatapnya seksama. "Begitu pula kegelisahan mu itu. Waktulah yang akan menjawab." sambung Agriel.
"Karena pada ujungnya, bahagia adalah hal semu yang terus ingin di kejar. Ibarat kata, kita sibuk mengejar dunia, sedangkan mati sudah ada di belakang kita—setiap saatnya."
Sunyi. Keadaan tiba-tiba menjadi sunyi. Keheningan yang menenggelamkan mereka dengan tanda tanya dan rasa cemas sendiri.
Untuk Agriel yang masih tetap berbohong,
Untuk Mery yang tetap egois,
Untuk rahasia besar yang belum terungkap.
Waktu yang akan membuka semuanya. Cukup lewati saja hari-hari bahagia dan duka. Untuk segala macam rahasia serahkan pada hukum semesta. Bumi masih fasih berputar pada porosnya, masih ada siang dan malam. Jadi, tenanglah. Segala rahasia dan kegelisahan akan terbuka, pada saatnya. Karena mungkin, saat ini bukan giliran mu untuk merasakan.
Umat Tuhan banyak, jangan jadi egois yang hanya bersembah dan mendeklarasi diri paling menderita. Aku dengan hidupku, kamu dengan hidupmu, kami dengan hidup kami, mereka dengan hidup mereka. Jadi, yang sedang sedih gak cuman kamu. Yang menderita gak cuman aku. Tapi, membandingkan posisi diri dengan oranglain hanyalah mengejar udara. Tidak akan nampak, tidak akan tergapai dan engkaulah yang akan lelah sendiri.
"Jika waktu akan membuatku kecewa. Jangan lagi berencana Agriel." ucap Mery memecahkan kesunyian.
"Aku ingin berdiri di atas waktu yang terus berjalan. Karena berlari hanya membuang tenaga. Untuk bumi yang bulat, aku akan kembali pada titik itu lagi. 0,0." sambungnya, sebelum mobil berhenti.
Supir taksi tersebut menoleh, menatap Mery dan Agriel. "Sudah sampai tuan dan nyonya."
"Thank you, sir. Here are the tips for you"
***
Neel menatap bocah berumur delapan tahun itu dengan tatapan tak terbaca.
"Uncle, kemarin aku ulang tahun." ceritanya, dan menoleh pada Neel yang sejak tadi diam.
"Maaf Bella, aku sebelumnya tidak tahu tanggal ulang tahun mu."
Bella menggeleng, "tidak papa Uncle."
"Lalu, apa yang membuatmu gelisah sepanjang hari gadis manis?" tanya Neel mengangkat Bella dan mendudukkan bocah itu di atas pangkuannya.
"Apakah karena salju sepanjang hari?" tebak Neel karena Bella hanya diam membisu.
"Iya. Salju hanya akan membuatku teringat dengan janji Papa. Janji Papa yang akan menjemput Bella bersama Mama Mery" jawab Bella mendongak, menatap bulu-bulu tipis di wajah Neel.
"Wah, Honey ku semakin pintar." pujian berkedok mengejek itu membuat Bella mendengus sebal.
"Itu salah uncle! Tidak memberitahuku aku dulu tinggal di mana. Dan di mana ini?" pertanyaan polos itu membuat Neel mencubit pipi gembul Bella.
"Kota Bolu, Turki." jawab Neel, mencium kening Bella gemas.
"Ohhh" Bella mengangguk tanda mengerti.
"Uncle itu umur berapa? Kalau Bella umur.. Delapan tahun."
"Berapa ya? Uncle lupa. Adik manis tolong Uncle mengingat dong" candaan Neel yang hanya di balas tatapan polos tertaut kebingungan.
Krik krik
Suasana canggung kini menguar. "Salah sasaran kali ini" gumam Neel menatap Bella dengan senyuman.
"Umur Uncle tahun ini 20 tahun. Uncle di sini sebenarnya untuk kuliah. Tapi karena keluarga Uncle ada bisnis di sini, ya udah deh Uncle di suruh handle. Gitu honey. Jadi Uncle menetap di sini. Entah sampai kapan." ucapnya menaikkan bahu.
"Suasana di sini masih asri. Kotanya kecil, namun penuh makna bagi Uncle sendiri. Karena dulu, di rumah inilah Uncle di gendong Buna, di cium dan di ajak bermain Buna. Tempat ini berharga Bella. Sama seperti kamu." lanjutnya menatap Bella.
"Siapa Buna, Uncle?"
"Ibuku.. Dia sudah lama meninggal."
Sontak saja Bella memeluk Neel erat. "Uncle jangan sedih. Jangan nangis ya, yang boleh cengeng Bella aja. Uncle gak boleh cengeng."
Neel tertawa keras, mengusap rambut panjang Bella. Kasih sayang dia salurkan untuk bocah cantik di hadapannya. Sejak ada Bella rasa suram di kehidupan lebih berwarna. Efek tingkah anak kecil benar-benar luar biasa. Apa mungkin ini kode dari Tuhan? Untuknya menikah muda? Rasanya Neel ingin tertawa geli. Boro-boro nikah, dekat sama cewek aja enggak.
"Bella mau gak tinggal sama Uncle?"
***
"Ini benar rumahnya?" tanya Mery. Sedikit heran karena suasana rumah sangat sepi.
"Ini musim salju Mery. Kebanyakan dari mereka lebih memilih bercekrama di dalam rumah dengan penghangat tubuh bersama keluarga."
Mery mengangguk paham. "Ayo Agriel ketuk pintunya. Di sini dingin."
"Kenapa harus mengetuk jika ada tombol bell"
"Agriel!" dengus Mery kesal. Sama saja bukan? Sama-sama memanggil orang di dalam rumah untuk keluar karena ada tamu di depan.
Ting tung
Sedangkan di dalam rumah, Neel asyik mengelus kepala Bella. Bocah itu berceloteh panjang lebar akan kerinduannya dengan sang Mama dan Papa. Sampai-sampai kelelahan sendiri dan berakhir tidur di pangkuan Neel.
Pria itu menyisir rambutnya kasar. Menatap langit-langit rumahnya. Bisnis keluarga sedang terancam bangkrut. Sebuah perusahaan besar yang berjalan pada bidang pembuatan kabel itu mengalami goncangan turunnya harga saham. Grafik terus menurun, yang berarti perusahaan itu akan terjual dengan harga rendah, jika memang benar akan bangkrut.
Dunia frustrasi sampai membuat Neel tidak mendengar suara bell dari luar. Manusia yang bersandang menjadi tamu kini mulao kedinginan, dengan emosi yang memuncak.
"Ck! Teman mu itu sejenis manusia budeg?" tanya Mery geram. Ayolah di luar sangat dingin.
"Sebentar, aku coba hubungi"
"Dan tidak akan menjadi sebuah kejutan. Sia-sia Agriel!" Wanita memang sudah di mengerti. Agriel menghirup udara kasar.
"Coba sekali lagi, dan teriakan." saran Agriel.
Mery mengangguk dan menyiapkan suara oktafnya untuk menggugah manusia di dalam rumah.
"PERMISI!! ADA TAMU!!!"
Ting tung ting tung
Mata Neel terbuka paksa, mencoba menajamkan pendengarannya.
Ting tung
"Ada tamu? Siapa yang bertamu? Buta kah? Suhu di luar sangat dingin." gumam Neel. Berjalan membuka pintu. Namun sebelum itu dia memindahkan Bella ke dalam kamar dan menyelimuti gadis manis itu.
"Tidur yang nyenyak honey" bisik Neel.
"SEBENTAR!" teriak Neel mencari pintu rumah.
"Ada orang," gumam Agriel.
"Apakah kau berharap tidak ada orang?" tanya Mery tersulut emosi.
"Bukan Mery, aku hanya bergumam saja."
"Lebih baik pria itu diam!" hentaknya mengetuk pintu rumah.
"Tolong kesopana—"
"Agriel??" potong Neel terkejut bukan main dengan kedatangan Agriel beserta—
"Siapa dia? Istri ke dua mu?" tanya Neel sedikit pelan, seraya menatap Mery aneh.
"Simpanan! Cepat minggir! Aku benar-benar kedinginan!" ujar Mery menerobos masuk. Sungguh ia tidak kuat dengan suhu dingin. Rasanya semua tulang-tulang yang ada di tubuhnya membeku.
"Agriel kau—"
"Tidak baik memperlakukan tamu yang datang jauh-jauh seperti ini. Suruh dia masuk, nyalakan penghangat ruangan, sajikan teh, dan cemilan lebih bagus daripada menjadi wartawan kegetan dadakan."
"Ck! Kalian itu!" geram Neel, mengikuti langkah Agriel yang menerobos masuk begitu saja.
BERSAMBUNG....