
Setelah sekian lama Agriel pergi meninggalkan masalah perusahaan pada Ree, dan membiarkan semua berjalan sesuai alur kehidupan. Hari ini kabar tidak di duga datang, ketika pagi buta Ree mendatangi Agriel di rumah sakit.
"Tuan Agriel, Tuan Nandhaya mengambil alih semua perusahaan tidak terkecuali. Dia sekarang menduduki kursi kebesarannya kembali. Orang-orang di buat terkejut, karena sebelumnya mereka menganggap Tuan Nandhaya sudah tiada. Kekacauan di luar sana sungguh besar Tuan."
"Ada apa sebenarnya ini Ree? Bukankah ini melenceng jauh dari rencana Master?" Tanya Agriel.
Ree menggeleng, dengan wajah pucatnya. Entah kenapa dia merasa takut sekarang. "Kau urus Bisnisku yang lain saja. Urusan Exanta Group biarkan aku saja yang turun tangan." Final Agriel membuat Ree mengangguk dan cepat pergi dari sana.
Agriel kembali masuk ke dalam ruangan rawat Mery. Wanitanya itu akan menjalankan operasi pengangkatan ovarium besok. Sudah menjadi tanggungjawab bagi Agriel menenangkan hati Mery.
"Ada apa Agriel?" Tanya Mery, menatap wajah kusut Agriel.
Agriel berjalan menuju Mery, meminta peluk pada wanitanya itu. "Ada masalah di perusahaan Exanta." Bisiknya, menenggelamkan wajahnya pada cekuk leher Mery.
"Kau sudah banyak membuang waktu mu di sini Agriel. Bukankah seharusnya kau di sana? Mereka pasti membutuhkan mu"
"Lalu, kamu bagaimana? Aku tidak percaya dengan perawat itu"
"Ada Ibuku, ada Ibumu, ada Huble yang datang setiap sore. Aku sudah cukup banyak teman." Tenang Mery, mengelus kepala Agriel.
"Tapi aku sendiri susah bernafas tanpa berbagi oksigen denganmu" bisik Agriel mencium pipi Mery gemas.
"Akhir-akhir ini kau menjadi lebay" desis Mery merusak adegan romantis yang telah Agriel susun sedemikian rupa.
"Mery!!" Sertak Agriel, membuat geli Mery dengan mendusel-dusel kepalanya yang penuh rambut itu ke leher Mery.
"Agriel!!" Teriak Mery, merasa geli.
"Ini hukuman mu! Merusak adegan romantis kita!"
"Oh ya? Tapi kenapa menurutku tidak romantis?" Tanya Mery dengan wajah polos.
"Mery~" ucap Agriel manja, membuat Mery terkekeh gemas.
"Kerja Agriel! Jangan sampai kau miskin, dan harus menjual pakaian untuk membayar rumah sakitku!" Desak Mery.
"Hei! Bisnisku banyak sayang. Kau tenang saja, selama kau di sisiku, aku tentu akan sangat semangat bekerja!"
"Aku kerja dulu sayangku, kalau ada apa-apa telpon aku." Agriel mengedipkan matanya genit, membuat Mery membuat gerakan seolah-olah muntah. Bukan merasa tersinggung, Agriel malah tertawa keras.
***
"MERY!!" teriak Huble membuka pintu kamar Mery.
Mery yang tengah bercanda dengan ibunya pun dibuat terkejut dengan kedatangan Huble yang tiba-tiba, karena biasanya Huble akan datang ketika menjelang sore. Sedangkan sekarang masih di bilang siang.
"Nak Huble" ucap Neanra menyambut kedatangan Huble.
"Aaa mommy kuuu" Huble pun merangkul kan tubuhnya pada Neanra. Mery yang melihat pun hanya bisa memutar bola mata malas.
"Tumben kau datang sesiang ini?" Tanya Mery.
"Aku ingin menjenguk mu saja, Mery sayang. Besok kau akan operasi kan? Bagaimana detak jantung aman?" Kekeh Huble.
"Kalau tidak aman, operasi ku akan terus di tunda."
"Oh iya, ya. Hehehe... Mery." Lirih Huble, menunduk. Mery dibuat tidak mengerti dengan Huble. Dia memberi kode pada ibunya untuk keluar terlebih dahulu.
Dan seketika itu tangis Huble pecah. "HIKSSS, MERY!!" tangis Huble kencang. Menghamburkan pelukan pada Mery.
"Ada apa?" Tanya Mery khawatir.
"Ertan PHP-in aku lagi!!! Sialan banget dia Mery!! Tatapan dia itu seakan kasih aku harapan penuh, perlakuan nya pun manis, semanis madu. Aku benar-benar menganggap Ertan bakal CLBK sama aku. Aku udah nunjukin kalau aku siap di tembak lagi. EHHH, tadi siang dia ngelamar cewek di kantornya!! Sakit banget Mery. Aku langsung sedih, kacau! Gak tau gimana ungkapin perasaan ku ini. Aku benar-benar mau mati. Aku kira yang Ertan kasih madu beruang asli, tau-taunya cuman madu Tj eceran! Aku kapok! Kapok berharap sama laki-laki kayak Ertan! Aku kapok! Sakitnya masih Mery!!!" Cerita Huble, membuat Mery bingung harus menasehati mulai dari mana. Cerita itu terlalu panjang dan cepat.
"Kenapa kau diam? Malah melotot kayak bandeng!" Tanya Huble, menghapus air matanya.
"OMG Huble! Gimana aku gak bingung. Cerita kamu itu basi!" Celetuk Mery, membuat Huble mengangga.
"Kau? Kau bilang apa tadi?" Wajah Huble pun merah, menahan tangis serta rasa patah hati.
Mery menghembuskan napasnya panjang. Memegang pundak Huble, dan menatap maniak mata Huble dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Dengarkan ini dengan baik!" Perintah Mery, dan diangguki oleh Huble.
"Aku gak cantik kayak kamu Mery. Menurut aku cuman Ertan yang mau sama cewek kayak aku." Lirihnya, membuat Mery semakin memberikan elusan di bahu Huble.
"Fisik itu nomor keberapa sih Huble? Fisik itu cuman sementara. Dan, masalah cantik. Cantik setiap wanita itu beda-beda, cewek bakal cantik di mata di cowok yang tepat!"
"Mery... Berarti aku jomblo lagi?" Tanya Huble dengan polosnya. Dengan terpaksa Mery menganggukkan kepala, bagaimana lagi daripada bohong.
Dan, sudah dapat di tebak Huble kembali menangis. Meratapi nasibnya yang menjadi jomblowati sejati.
"YA TUHAN! SAYA JOMBLO LAGI?" teriak Huble.
***
Kini, Nandhaya duduk di kursi kebesarannya. Kursi yang sudah dia tinggalkan bertahun-tahun semenjak usianya di bilang tidak lagi pantas duduk di kursi itu. Kursi yang seharusnya tetap kokoh meskipun harus berbeda pantat. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Nandhaya sudah terlanjur kecewa pada dirinya, sudah terlampau menyesal.
Kakek tua itu menengadahkan kepala ke atas. Memijat pangkal hidungnya. Menertawakan lelucon kehidupan dan alur yang dia buat. Disini, yang membuatnya lucu dan miris adalah membawa-bawa nama Agriel untuk ambisi konyolnya. Ambisi yang dia sendiri tidak ikut andil dalam mempersatukan nya. Ibarat kata, hanya sebuah mimpi besar tapi orang lain yang mengharuskan bekerja. Mati berdiri saja sana kalau begitu.
Master? Lucu sekali, Nandhaya yang angkuh tidak mau di panggil kakek. Sudah jelas Agriel cucunya, anak turun Agriel adalah penerus sejati dari kekuasaan tiga perusahaan raksasanya. Tapi takdir kembali membolak-balikkan kenyataan. Karena cicit pertamanya harus dari Desta.
"Tuan Besar. Tuan muda Agriel hendak menemui anda" ucap orang itu, dengan baju serba hitam dan topi peluru yang melekat pada tubuhnya. Serta helm hitam dan kacamata khusus yang nangkring di wajahnya. Nandhaya mengangguk mempersilahkan cucunya itu memprotes segala hal yang telah terjadi secara tiba-tiba ini.
"Master—"
"Panggil aku Kakek Agriel. Duduklah yang tenang." Potong Nandhaya, dengan suara seraknya. Pria itu seakan sudah lelah dengan segalanya.
Agriel terdiam sejenak, dan memilih duduk untuk meneruskan pembicaraannyan dengan Nandhaya.
"Aku merubah rencana." Langsung saja tanpa basa-basi Nandhaya mengungkapkan hal itu.
Agriel tentu saja terkejut, "kenapa?"
"Ini semua kesalahanku Agriel. Tidak pantas aku menjadikan mu boneka atas kegagalanku."
"Aku tidak merasa demikian." Balas Agriel cepat.
"Tanpa dirimu, mungkin aku sudah di buang oleh Basta jauh tidak tahu belantara bumi."
"Jika itu yang kamu permasalahkan. Jawabannya adalah mana ada kakek tega melihat cucunya menderita?"
"Dan itu kembali lagi Agriel. Aku meminta maaf atas semuanya." Lanjut Nandhaya.
"Lalu, apa rencana mu kedepannya? Dan di mana Basta serta Desta?" Tanya Agriel.
"Basta aku kurung di ruang bawah tanah, biarkan anak itu merenung dahulu atas kesalahannya. Untuk Desta, kau tahu sendiri pamanmu itu adalah seorang ketua dari mafia, serta bisnis haram Desta terus berjalan. Tanpa Obrama, Desta sudah bisa berdiri sendiri. Tidak seperti ayahmu itu Agriel."
"Rencana ku sederhana. Mulailah hidup dengan tujuan hidup mu sendiri. Biarkan masalah ini aku yang mengatasinya. Bebaskan Anouk, berikan dia pada Desta. Tentu di sini, Desta sangat berhak terhadap Anouk." Ucap Nandhaya.
"Aku tidak bisa." Jawaban Agriel membuat Nandhaya sedikit terkejut.
"Bebaskan Agriel! Biarkan dia dengan Desta. Bagaimana pun mereka saling mencintai, hanya egonya yang besar."
"Bagaimana dengan nasib anak itu?" Tanya Agriel.
"Dia anak Desta, tentu itu sudah tanggung jawab Desta. Untuk masalah harta, anak itu sudah aku berikan Obrama." Jawab Nandhaya.
"Tidak! Aku punya tujuan sendiri kakek! Aku sudah membuat rencana besar untuk tiga penerus ini!. Aku tidak akan sudi menyatukan mereka. Desta itu buruk! Dia bandar, dan bisnis yang dia jalani juga bisnis kotor. Bagaimana dengan kondisi anaknya nanti?"
Mata tua Nandhaya menatap Agriel kecewa. "Seburuk-buruknya seorang ayah, dia tidak akan mungkin mau anaknya lebih buruk dari dia Agriel."
"Tapi nyatanya? Seorang anak akan meniru kebiasaan orangtuanya. Begitu juga dengan kondisi sekarang bukan, kek?" Celaan Agriel sudah cukup membuat Nandhaya sadar.
"Aku hanya khawatir denganmu. Kau pasti tahu sendiri bagaimana Mery. Jangan sampai kau sakiti hatinya lagi Agriel."
"Mery pasti akan mengerti." Tandas Agriel.
Nandhaya menghela napas, lalu dia menyuruh cucunya itu untuk tenang. "Akan ada seseorang yang menemui mu, tunggulah sebentar" pentintah Nandhaya.
Tidak memerlukan waktu lama, karena seseorang yang dimaksud itu tengah dibukakan pintu oleh pengawal Nandhaya. Pria tua dengan keriput lebih banyak daripada Nandhaya dan tongkat emas dengan ukiran ular itu mampu membuat pandangan Agriel tidak teralihkan. Walaupun raganya tua renta tapi entah kenapa aura yang di keluarkan tidaklah demikian.
"Kenalkan dia adalah dokter pintar Wick Helena. Trah paling mendominasi dari keluarga Wick-Hely. Nama lengkapnya adalah Tertylo Moon Wick-Hely Helena. Dia adalah kakek dari Elemery Desinton." Ucap Nandhaya mengenalkan Wick pada Agriel. Pada saat itu pun Agriel hanya mampu diam membisu.
BERSAMBUNG....