ELEMERY

ELEMERY
PENGANGGURAN SEJATI



Oke fine! Mery lelah! Sudah minggu ke-8 nya dia mencari pekerjaan ke sana ke mari. Rasanya kepalanya sudah ingin copot dari tempat. Keuangannya semakin menipis setiap hari. Bahkan, Mery sampai berdalih diet, untuk tidak makan malam dan menyemil. Semudah itu kehidupan menjukar balikkan keadaan.


Kalau sampai hal demikian berlanjut, maka rubah segera judul cerita ini menjadi Elemery si gadis miskin. Sial! Menjadi pengangguran untuk sekelas pekerja seperti Mery, bukanlah hal mudah. Badannya lemas, otaknya seketika melemah.


"Mery! Tenang lah... Jangan berdesis seperti orang gila." dengus Huble kesal, seraya menyedot jus mangga di depannya.


"Ayolah! Manusia di muka bumi mana yang bisa tenang kalau mau otw miskin, Huble?" sertak Mery, menarik-narik alis tebalnya. Kalau di rambut terus, takutnya besok Mery botak.


"Makanya kamu tenang dulu. Teman mu si Hendra itu gimana? Sudah ada info belum?" tanya Huble.


Mery menggeleng, tadi malam si Hendra menawarkan pekerjaan untuk Mery. Katanya sih dari temannya yang lagi merintis usaha. Usaha peternakan b a b i. Ya mana mau dong si Mery?? Gila apa gendeng itu si Hendra?


Permintaan maaf pun terdengar dari bibir pria itu. Hendra sendiri pun juga di buat pusing mencari pekerjaan untuk Mery. Karena kelas wanita itu paling rendah harus jadi karyawan kantoran. Kalau hanya pekerjaan dengan kelas biasa, temanya yang penting kerja, mungkin tidak akan sesulit ini.


"Kamu juga! Susah banget Mery, kalau yang kamu mau kerja kantoran." gerutu Huble gemas.


"Jadi koki aja ya? Gajinya juga gak kalah besar. Aku ada kenalan dengan koki hotel berbintang." lanjut Huble.


Mery menggeleng keras. "Yang ada semua orang di hotel itu mati keesokan harinya." ucap Mery. Dulu saja waktu bersama Agriel, pria itu yang masak. Mery hanya terima makan saja.


"ASTAGA!!! BANYAK MAU! KELAS TINGGI!" pekik Huble, melenggos kesal.


"Kalau keberatan bantu.. Bilang aja." balas Mery, meminum jus alpukatnya.


"Aku tahu, sejak beberapa minggu yang lalu menjadi bahan repot kalian. Jujur, aku terharu. Tapi di lain sisi jangan mendesak ku. Aku seorang sarjana, berpengalaman dalam dunia kerja. Lalu, kalian dengan mudah menyuruhku kerja di sembarang tempat? Yang menjadi bahan timbang ku adalah Apa gunanya semua pengalaman dan kerja kerasku selama ini?" alis itu terangkat sebelah. Menatap sinis pada Huble yang diam tidak berkutik.


"Aku memang pusing hampir stress. Tapi bukan berarti menyerah ada di dalam pendirian ku saat ini. Bukankah stress, pusing dan tekanan hati itu warna warni kehidupan? Manusia mana di muka bumi ini yang belum pernah merasakan hal demikian?" tanya Mery. Nada bicaranya tenang, tegas dan menusuk tepat sasaran


Huble diam tidak berkutik. Bisa-bisanya Huble lupa! Kalau dulu Mery adalah atasannya. Kecerdasan Mery dalam menelak lawannya menggunakan ucapan, adalah senjata menangnya beberapa tender dan kerjasama yang baik pada beberapa bagian lainya.


"Maafkan aku Mery.. Aku bukannya tidak mau menolongmu. Aku juga tidak keberatan kamu bebani. Apa gunanya teman? Bukankah saling tolong menolong adalah hal baik?. Jadi, aku minta maaf Mery.. Aku terbawa suasana gemas denganmu." ucap Huble dengan satu tarikan napas.


"Saranku, kamu membuka usaha dengan Mom Neanra. Untuk sementara. Karena untuk bekerja di kantor tidak semudah itu.. Apalagi kamu tidak ingin berhubungan dengan Exanta group. Padahal sebagian besar perusahaan di kota ini adalah cabang dari Exanta group."


"Satu saja permintaan ku. Jangan meminta perusahaan sekelas Exanta Group. Karena itu... Akan sangat sulit." lanjut Huble, mencoba menjelaskan.


"Aku tahu... Tidak perlu terkenal sampai ke pelosok dunia. Yang aku inginkan adalah bekerja dan kehadiran ku di sana memberi dampak baik untuk kemajuan perusahaan." Mery tersenyum lebar. Sampai-sampai mata Mery menyipit bak bulan sabit.


Huble yang melihat itu lantas bergidik ngeri. Tidak berani menatap lama Mery.


"Tadi kamu bilang.. Kamu suka di bebani." lirih Mery penuh penekanan di setiap katanya.


"Kalau begitu.... Bayar makan siang ku kali ini, oke? Karena aku harus berhemat. Tenang saja, akan ku ganti dengan doa." sambung Mery.


Huble memutarkan bola matanya malas. Menatap jenggah basa basi Mery.


"Ya, semoga doamu cepat di jabah Tuhan" jawab Huble, seadanya.


***


Neanra menatap Mery teduh. Dia nampak menghelakan napasnya, mencoba berbicara pelan-pelan dengan Mery.


"Nak.." ujar Neanra tercekat.


"Apa mom?" tanya Mery menautkan kedua alisnya, bingung. Dia bahkan menghentikan acara menonton Tv, dan fokus pada Neanra saat ini.


"Sudah dapat pekerjaan?" tanyanya mengalihkan topik utama.


Mery menggeleng lesu. "Belum, mom. Anakmu jadi pengangguran sejati."


"Jangan bicara seperti itu.." nasihat Neanra.


"Kamu berusaha semaksimal yang kamu bisa, dan serahkan semua hasilnya pada Tuhan."


"Iya.. Besok, terpaksa Mery gadaikan mobil ya? Kita naik motor." tanya Mery, sedu.


Hanya itu satu-satunya barang berharga yang ia punya. Tidak, Mery tidak akan meminta Neanra menjual perhiasan itu. Kehidupan ibunya sudah menjadi tanggung jawab Mery.


"Mom masih punya—"


"Simpan aja, Mom. Naik motor juga bukan masalah. Toh, beberapa minggu ini Mery lebih sering jalan kaki, naik angkot, naik transportasi umum. Mobil itu biaya bahan bakarnya juga mahal." jelas Mery.


"Kalau sampai dua minggu kedepan belum ada perubahan. Mery sudah ada bayangan ke Singapura" ucap Mery. Tadi, baru saja Hendra memberikan kabar ada lowongan kerja kantoran di Singapura. Perusahaan yang baru merintis, bidang pangan.


Bukan masalah, yang penting Mery bisa bekerja pada bidangnya.


"Mery jauh banget..." ucap Neanra terkejut.


"Gak usah acara jauh dari Mom lagi. Cukup kejadian di Jakarta saja. Kalau kamu sampai dua minggu kedepan belum mempunyai pekerjaan, ayo merintis usaha kue dengan Mom."


"Mery.." sela Neanra ketika anaknya itu ingin menyahut.


"Kamu bisa.. Jangan menilai rendah diri sendiri, nak." ucap Neanra.


Sedetik kemudian, Neanra kembali menatap intens Mery.


"Ada apa, Mom?" tanya Mery.


"Ayahmu meninggal, kemarin." Ucapan itu hanya membuat Mery ber oh ria. Walau ada sedikit rasa nyeri di hatinya yang terdalam.


"Besok kita ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kamu tidak membenci nya kan, nak?" tanya Neanra.


"Tidak," jawab Mery cepat.


"Tapi berita tentang kematian Ayah, tidak begitu mengguncang, karena sudah sekian lama Ayah pergi." lanjut Mery.


"Syukurlah..." lirih Neanra.


"Dari mana, Mom tahu berita itu?" tanya Mery menyelidik.


"Dari Sela." jawab Neanra.


"Oh, jadi Ayah tetap bersama wanita itu sampai akhir hayatnya?" tanya Mery, menyunggingkan bibirnya.


"Sudah, tidak perlu membahas itu. Kesalahan kami biarkan abadi di masa lalu. Bukan maksud membela, tapi setelah Mom ulas. Kesalahan itu karena kami sendiri yang kurang komunikasi dan Mom yang tidak bisa belajar mencintai lagi."


"Dan, Mom berharap.. Kisah mom cukup terjadi pada Mom, saja Mery." ucapan itu sontak membuat Mery menoleh.


"Kalau hatimu masih mencintainya.... Jangan berdusta. Bicarakan dan cari tahu penyebabnya. Kamu sendiri yang hafal dengan wataknya. Jangan sampai penyesalan datang lebih awal, Mery." pernyataan Neanra membuat Mery bungkam.


Hanyut di dalam pemikirannya sendiri.


***


Setelah sholat Magrib, Hendra segera meluncur ke rumah Mery. Nampaknya pria itu kalau sudah berniat menolong tidak ada kata nanggung. Selama beberapa hari, Hendra pun dibuat sibuk mencari pekerjaan untuk Mery. Dia mempromosikan Mery di mana-mana, dan membicarakan pengalaman Mery juga.


Zaman sekarang mencari kerja memang tidak mudah. Seperti yang bisa kalian lihat, sulit banget. Kalau gak punya pelicin yang kuat, memang sesusah itu. Apalagi di sini Mery adalah seorang sarjana. Ia ingin memanfaatkan sebaik mungkin skil yang ia punya. Dan, Hendra dapat memahami maksud wanita itu.


Besok adalah keberangkatannya kembali ke Bali. Jadi, ini adalah hari terakhir Hendra berada si Surabaya. Hendra berharap, kehadiran sebentarnya ini berguna untuk orang lain.


Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Mery dengan baju tidur berwarna birunya.


"Ngobrolnya di luar aja." Ucap Hendra tersenyum.


"Iya.. Aku buatin minum dulu." Mery pun berbalik menuju dapur.


Neanra yang hendak masuk kamar, melihat Hendra tidak sengaja.


"Waduh, ada temannya Mery. Duduk nak.." sapa Neanra tersenyum, dan berjalan ke arah Hendra.


"Malam, tante." ucap Hendra dan mencium punggung tangan ibu Mery.


"Malam juga, nak. Nama kamu siapa? Tante baru lihat Mery punya teman salain Huble" celetuk Neanra


"Hehe, Nama saya Hendra Prasaja. Dipanggil Hendra, singkatnya Hen. Saya teman masa kuliah Mery, dulu. Alhamdulillah, setelah lulus dapat kerja di Bali. Ini lagi dinas, sekalin menyambung tali silahturahmi." jelas Hendra, diangguki Neanra.


"Ya sudah, duduk nak Hendra. Tante pamit ke dalam dulu. Raga tua soalnya, gak bisa diajak lama-lama dekat udara malam." kekeh Neanra.


"Gak tua kok, Tan. Malah saya dibuat pangling, Ibunya Mery cantik sekali. Gak heran deh, kalau Mery juga cantik, keturunan dari ibunya ternyata" puji Hendra membuat tawa Neanra pecah.


"Kamu asik orangnya ya nak.. Ya sudah Tante masuk dulu. Jangan lama-lama ya ngobrolnya, udah malam juga.."


"Kalau itu tentu siap tan!"


Tak berselang kepergian Neanra, Mery datang dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat.


"Di minum, Hen" ucap Mery, dan di angguki Hendra.


"Makasih loh, Mery. Udah mau repot buatkan aku minum."


"Santai aja."


"Sebelumnya aku mau minta maaf.." ucap Hendra pelan, menunduk. Merasa tidak enak dengan Mery.


"Ternyata lowongan kerja si singapura itu udah penuh.. Calon pekerja di sana gercep semua. Dan, pemilik sendiri lebih mengutamakan warga lokal." jelas Hendra.


"Gak masalah, Hen. Aku yang seharusnya minta maaf, repotkan kamu terus."


"Gak kok, aku suka di repotkan. Tolong menolong tidak ada kata repot, Mery."


"Tapi.. Aku tadi hubungi senior kampus kita dulu, katanya ada lowongan kerja di Brunei. Perusahaan barang elektronik besar. Kalau kamu mau, harus cepat. Berkas lamaran bisa kamu kirim dulu." jelas Hendra.


Mery menghela napasnya. Menatap maniak mata Hendra seduh.


"Makasih untuk informasinya. Tapi, aku ingin kerja di sini aja. Kalau memang gak ada lowongan kantoran di sini. Aku mau usaha sama ibuku." ungkap Mery.


Hendra tersenyum menanggapi. "Kalau itu keputusan kamu, aku tetap dukung. Semangat Mery."


BERSAMBUNG...