ELEMERY

ELEMERY
NANDHAYA



Nandhaya menatap pria tua yang ada di depannya. Tatapan yang bercampur aduk menjadi satu. Antara percaya dan tidak, namun hal itu benar terjadi adanya. Pria tua yang kini duduk dengan sebatang cerutu besarnya itu terkekeh geli, menyadari tatapan dari Nandhaya.


"Kenapa, Nandhaya?" Tanyanya mengepulkan asap tebal itu, memenuhi ruang tamu istana Nandhaya yang jarang di ketahui banyak orang.


"Nasib kita sama bukan?" Lanjutnya.


"Mempunyai harta melimpah bukan jaminan untuk mendapatkan anak yang baik. Kita sama Nandhaya. Sama-sama salah dalam mendidik anak." Nandhaya mengangguk, lalu tersenyum tipis. Mengambil kopi hitam pahit yang ada didepannya dan menyeruput tenang.


"Hidupmu penuh misteri Wick!" Desus Nandhaya.


"Telinga mu pasti sudah mendengar kabar aku mati? Atau bahkan kau sama bodohnya dengan mereka? Bertanya-tanya apakah Wick-Hely sudah tamat di China?" Kekeh Wick Helena. Pria tua renta yang itu sudah sampai di Indonesia, tempat di mana keberadaan Elemery berada.


"Batang hidungmu saja tidak muncul. Aku mengira kekayaan Wick-Hely benar-benar akan lenyap di telan zaman. Ternyata masih ada seonggok daging tua yang menggenggamnya." Ejek Nandhaya.


"Kau juga sama tuanya, Tuan Nandhaya. Penguasa tiga tahta raksasa." Pujinya dengan membawa-bawa kekuasaan Nandhaya.


Bukannya tersanjung Nandhaya malah semakin berdecih tidak suka. "Sombong!"


"Kau kira aku manusia bodoh? Kekayaan mu ada di seperempat China. Negara dengan perekonomian baik itu, kau samakan dengan ku? Kau niat menyanjung atau merendahkan ku, Wick!"


"Sudah. Kedatanganku ke mari bukan untuk bersaing untuk mu" sahut Wick Helena memotong.


Nafas Nandhaya sedikit memberat. Kalau-kalau tidak berhati dalam bicara bisa putus urat di kepalanya.


"Sebenarnya kau hanya ingin mengetes? Atau hanya menguji kebenaran informasi yang telah kau dapat?" Tanya Nandhaya, amat sangat tahu betul sifat dari pesaing sekaligus teman bisnisnya dulu itu.


"Lama berbisnis, membuatmu hafal dengan caraku Tuan Nandhaya" kekeh Wick.


"Mery Desinton adalah cucu mu Wick. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara kerjamu. Buruk sekali! Sampai, cucu mu sendiri kau lupakan. Aku tahu bagaimana dulu seorang Desinton, tapi tidak begitu juga. Jujur saja, aku jika berada di posisi Desinton tidak akan lagi menganggap mu seorang ayah." Desis Nandhaya.


"Itu kesalahan terbesar ku. Sampai detik ini penyesalan masih tergenang nyata. Aku kemari hanya ingin meminta maaf pada Mery, dan kembali pada sang kuasa. Aku berhutang kata maaf pada anakku Desinton."


Nandhaya menggeleng, "Mery, cucumu adalah seorang wanita cantik. Dulu aku pernah berpikir untuk menjadikan istri—"


Plak


Tongkat Wick pun melayang di kepala putih Nandhaya. "Sampai itu terjadi, tamat riwayat hidupmu di dunia ini Nandhaya!"


"CK! Pernah berpikir! Dengarkan setiap kata-kata yang aku ucapkan! Emosi saja yang kau unggulkan!" Omel Nandhaya.


"Cucuku, semua keturunan ku memang akan terlahir tampan dan cantik. Aku sendiri sewaktu muda idola para gadis."


"Kau kira aku tidak? Banyak lubang yang minta di celup!"


"Lebih banyak aku."


"Kau mengejek masa muda ku Wick? Kau lupa dulu istrimu bahkan pernah hampir mencintaiku?"


"Asal bicara! Dulu istriku hanya mengidam saja. Selebihnya tidak!"


"Iya, mengidam cowok tampan dan panas!" Ejek Nandhaya dengan wajah penuh kemenangan.


"Bicara denganmu lebih banyak omong kosong!" Desis Wick kesal.


"Kau sendiri yang memancing, bodoh!"


"LANJUTKAN! IDIOT!" sertak Wick membuat Nandhaya memegang kupingnya erat.


"Iya!. Cucumu itu dulu pernah berpacaran dengan cucuku. Agriel dan Mery dulunya satu sekolah. Hingga—" Nandhaya meneguk ludahnya kasar. Kalau mulai pada inti cerita selanjutnya yang di pastikan dapat membuat kuping Wick merah karena marah.


"Hingga kedua anak mu Basta dan Desta berebut harta serta wanita. Membuat kau merenggut kebahagiaan Agriel dan Meryku, dengan membiarkan Basta—anak kesayanganmu—berbuat hal konyol, dan bodoh. Dan lucunya, Kau malah seolah mendukung Nandhaya! Menyeret Agriel ke dalam lubang masalah tanpa henti dengan kedok kau memberinya amanat untuk menyatukan kembali tiga penguasa raksasa. Padahal sejak zaman si kembar tiga penguasa sudah hancur berantakan!" Cerita Wick tanpa henti, membuat Nandhaya memalingkan wajahnya.


"Sekarang! Pilihanmu ada dua Nandhaya!" Desak Wick melotot tajam pada Nandhaya yang nampak berusaha menghindar.


"Beri pelajaran berharga pada Basta, dan hentikan semua ini atau kau akan semakin kehilangan segala hal! Cicit pertama mu sudah tiba! Walau pun itu anak Desta. Tetap, keturunan itu akan menjadi cicit pertama mu. Exanta Group sudah jelas menjadi miliknya!"


"Cermin kehidupan ku dahulu Nandhaya. Rusak lebur karena aku membedakan kasih sayang kepada mereka." Lanjut Wick-Hely, berdiri dan berjalan pelan meninggal Nandhaya. Tongkat yang menjadi penyongkong tubuh Wick terpatuk dengan lantai, menghasilkan suara merdua mengema memenuhi ruangan itu.


"Kenapa aku lebih menyayangi Basta? Karena Basta anak kandungku sendiri, Wick. Sedangkan Desta tidak." Gumam Nandhaya memejamkan mata.


Meremas kuat dadanya yang tiba-tiba sakit. Mengingat kejadian lalu, di mana istrinya diperkosa oleh teman bisnisnya. Di mana kehancuran yang sebenarnya terjadi.


***


Helikopter itu mendarat tepat di atas perusahaan Exanta Group. Nandhaya dikawal banyak orang berbadan kekar, berjalan menuju ruangan CEO berada. Langkah tuanya kini menjelma menjadi tegas nan kuat. Aura keangkuhan yang kini membrigdir siapa pun yang ada di sana.


"Sudah Tuan." Asisten pribadinya itu pun lantas membungkuk seraya memberi jawaban.


"Turun ke bawah, kosongkan gedung ini dalam waktu sepuluh menit. Aku tidak mau satu telinga pun mendengar kerusuhan yang akan terjadi." Tegas Nandhaya. Dia duduk di kursi besar yang telah di sediakan. Menunggu seluruh karyawan yang ada di gedung ini pergi.


"Jangan sampai kabar ini terdengar oleh Agriel atau siapapun tanpa terkecuali!" Perintah Nandhaya pada pengawal yang lain.


Tanpa menunggu lama sosok pengawal bertubuh kekar datang dengan berlari. Menunduk hormat kepada Nandhaya. "Lapor Tuan! Gedung ini sudah kosong!" Ucapnya tegas.


Nandhaya mengangguk, lantas berdiri mengibarkan jubah hitam berlambang singa putih di belakangnya. Langkah tegas berirama dengan separuh bot yang dia kenakan. Masuk ke dalam ruangan Basta yang tengah asik bergumul ria dengan seorang ****** sewaanya.


"Tebak kepala ****** itu" perintah Nandhaya.


Dor!


"KENAKAN PAKAIAN MU BASTA!" teriak Nandhaya menggelegar. Bahkan beberapa dari mereka mundur secara spontan. Sosok Nandhaya muda seakan bangkit, meninggalkan keriput yang kini melukis indah tubuhnya.


"Ayah... Ada apa ini?" Basta bertanya dengan raut wajah terkejut bukan main. Dia bahkan harus menanggung malu, dengan mengenakan pakaian di depan semua pengawal Nandhaya.


"Ada apa?" Ulang Nandhaya dengan nada mengancam.


"Aku menitipkan mu di sini bukan untuk mengotori tempat ku Basta. Kau di sini kerja, untuk menghasilkan uang." Nandhaya meraih vas bunga, dan langsung melemparkannya pada Basta.


Vas itu pecah mengenai kepala Basta. "APA-APAAN YAH!" teriak Basta tidak terima.


"Duduk! Jika berteriak sekali lagi ku robek mulutmu itu Basta." Perintah penuh nada otoriter yang khas.


Basta duduk, dengan dipaksa oleh pengawal Nandhaya. Nandhaya pun duduk dengan gagahnya di kursi besar Basta.


"Kau kira selama ini hidup mu sudah jaya? Dengan kepura-puraan aku menghilang seakan mati, kau memanfaatkan situasi ini Basta. Aku mendidikmu untuk menjadi seorang pemimpin, bukan melacur dengan para PSK bayaran! Kau tidak mengaca, ha? Uban mu hampir mengelilingi kepala mu itu. Ada istri dan anak mu di luar sana. Bahkan anakmu sudah sebesar itu, tidakkah rasa malu ada di urat mu Basta?" Tanya Nandhaya, mengambil tongkat dengan kepala singa itu dan memukul kepala Basta dengan keras.


Basta tentu tidak akan bisa memberontak, dia di cekal kuat oleh pengawal ayahnya.


"Menikahkan Agriel dengan Anouk? Sudah jelas Anouk adalah wanita kesayangan Desta. Untuk apa Basta? KU TANYA UNTUK APA?!, HAH!"


"Kau merusak segala sendi kehidupan mereka! Tidak Aiyla tidak Agriel! Kau rusak mereka!" Lanjut Nandhaya dengan teriakan penuh penekanan.


"Kau anakku! Anak kandungku! Bisa-bisanya kau berulah seperti anak setan tidak tahu aturan!"


"AKU ANAKMU, DAN KAU TETAP SAJA MEMBERIKAN DESTA SEBAGIAN HARTA OBRAMA!" pekik Basta menatap tajam ayahnya.


"SEBERAPA PERSEN HARGA OBRAMA ITU BASTA?! SEBERAPA BUTIRAN DEBU DI BANDINGKAN DENGAN KEJAYAAN EXANTA?" tanya Nandhaya, memegang kepala Basta.


"Kepalamu ini penuh dengan harta! Dan harta!" Bisik Nandhaya sampai mengelatukkan giginya geram.


"Sekarang, aku beri satu sebuah fakta! Sampaikan mati pun harta ku tidak akan aku berikan kepadamu ataupun Desta! Kalian tidak berhak!"


"Pilih kasih! Kau telah menyiapkan ini semua untuk cicit pertamamu bukan? Darah DAGING DESTA! LAGI DAN LAGI DESTA!" teriak Basta angkuh.


Plak


Bug


Tidak hanya pukulan, tapi juga tamparan keras yang Nandhaya berikan.


"Rasa irimu sungguh melampaui hati nurani dan akal pikirmu Basta." Ujar Nandhaya.


"SERET DIA KELUAR DARI SINI!" teriak Nandhaya keras.


"MULAI HARI INI, BASTA TIDAK LAGI BERHAK MENGATUR KEKAYAAN KU!" keputusan final, yang mampu membuat seorang Basta semakin membenci semua situasi.


"Akan aku ingat ayah! Akan aku ingat! Tunggu pembalasan ku!" Desak Basta dengan nada sungguh-sungguh.


"Kau mengandalkan Mafia Surie Martine?" Ejek Nandhaya.


Dia berjalan mendekat pada Basta, membisikkan suatu hal yang membuatnya lumpuh seketika.


"Surie Martine adalah bagian dari Singa putih. Kau anakku, tapi kenapa kau begitu lemah Basta?" Tanya Nandhaya.


"Jika ingin kuat, jadilah ketua! Bukan hanya anggota! Anehnya, kau sudah sangat bangga?"


"Heh! Kau hanya sebutir debu tanpa kekayaan ku dan nama anggota mafia yang kau gadang-gadang itu"


BERSAMBUNG....