ELEMERY

ELEMERY
KASET RUSAK TELAH BERHENTI



Sejak kejadian itu, Mery perlahan bangkit, dengan bantuan seorang psikiater yang di sewa Neanra. Hidup memang kejam, dan itulah yang membuat Mery kadang sulit mengontrol emosinya. Hidupnya dulu sangat amat sulit, luntang luntung bersama Neanra membangun usaha.


Pada akhirnya, Mery bekerja di sebuah kantor besar. Walau itu hanya anak cabangnya. Tapi, dengan tekat dan usaha akhirnya terbukti bukan? Kehidupan Mery sudah lebih baik.


Beberapa tahun Mery merasakan ketenangan, kini harus terusik kembali dengan kedatangan pria berengsek itu.


Tak terasa, air mata Huble menetes begitu saja.


"OMG! MERY!!!" pekiknya, lantas berdiri dan memeluk Mery erat.


"Kenapa tidak cerita sejak awal, ha??" tanyanya kesal, menghapus air mata sialan itu.


"Lalu, Bella?"


"Dia masih hidup, Huble" jawab Mery, menghela napasnya lelah.


"Dibawa manusia dengan nama aneh itu?" tanya Huble, mengelus punggung Mery.


"Aku tidak tahu, Huble" desis Mery, memegang kepalanya. Pusing nan penat.


"Sejak kebakaran itu, aku melihat sendiri mayat Bella. Dia hangus dengan luka bakar yang hampir memenuhi tubuhnya. Bayi malang itu mati. Tepat di hadapan ku, dengan mata kepalaku sendiri, melihat pemakaman Bella, melihat anakku di kuburkan." jelas Mery, menerawang.


"Sejak dulu sepertinya aku memang bodoh, ya. Di tipu habis-habisan. Bahkan anakku di tukar pun aku tidak tahu. Walau jujur, di dalam hatiku sudah tertanam bahwa Bella meninggal. Tapi, ketika mengingat tanda lahir anak itu aku menjadi teringat dengan Bella. Dan tatapan Agriel pun mengatakan demikian." akhir ucapnya.


Huble diam, tak elak pun tangannya masih betah mengelus punggung Mery.


"Hidupku kacau. Sejak dulu pun demikian." tawa Mery, memukul dadanya sesak.


"Kamu tahu? Apa yang aku takutkan sampai detik ini, Huble?" tanya Mery.


Tidak menunggu jawaban Huble, Mery menjawab. "Aku takut pada manusia. Bagiku mereka itu pembohong. Mulut mereka tidak ada yang bisa ku percaya. Terlampau sakit. Bahkan detik ini aku eggan menikah karena aku takut.. Takut di tipu kembali. Trauma gagal menikah tidak bisa di anggap sepele" jawab Mery.


"Mery..." lirih Huble.


"Sakit banget, Huble. Si berengsek itu masih bersama Anouk. Kata-katanya penuh kemunafikan. Dan rendahnya aku, masih saja tidak berkutik di hadapannya. Terlalu lemah bukan? Aku—"


"Mery.. Stop, jangan ungkit kembali. Rasanya, rasanya aku tidak sanggup. Kau ingin kita menangis bersamaan? Bersahut-sahutan? Cosplay menjadi bayi, huh?" ujar Huble, memegang tangan Mery.


"Sudah Mery. Kaset rusakmu telah berhenti. Masa depan ada ditanganmu. Tidak usah kamu memikirkan mereka. Aku jadi benci sendiri dengan Tuan Exanta."


"Ayo bangkit. Jika dulu kamu sendiri, kini ada aku. Gunakan sahabatmu ini dengan baik, Mery." jelas Huble membuat senyuman tipis Mery mengembang.


"Nah begitu.. Kau itu! Cantik sekali."


"Oh iya, ngomong-ngomong kita sama. Sudah tidak perawan. Jadi selama ini salah ya aku mengucapkan perawan tua?. Tidak masalah Mery!"


"Tidak perawan bukan berarti kau busuk. Lagi pula, sejak awal kamu sudah berusaha melindungi dirimu sendiri. Hanya saja setan memang terlalu lihai menggoda. Aku yakin, pasti ada laki-laki yang menerima mu apa adanya. Tidak perawan bukan berarti longgar! Jangan berkecil hati okey?" hibur Huble.


"Cih! Memang selama ini aku memikirkan itu, ha? Dasar Huble otak mu mulai kotor sejak menjadi janda. Ingin menghibur ku atau menghibur dirimu sendiri?" desis Mery.


Huble tertawa canggung. "Keduanya, sih" ucapnya menunduk malu. Sialan!


"Hah! Sudahlah.. Aku ingin mandi. Pulang lah Huble, karena aku malas membuatkan minuman lagi" usir Mery halus.


"MERY!!" pekik Huble kesal, menghentakkan kakinya.


"Habis manis, sepah di buang. Dasar! Kau Mery jelek! Tidak tahu rasa terima kasih. Dia kira merangkai kata-kata itu mudah apa? Seenak jidatnya mengusir ku!"


"Kau benar ingin pulang? Kalau iya pintu akan ku tutup. Mengoceh saja" kata Mery, yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya di ambang pintu.


"AAA KAMU MEMANG MERY! PAHIT PAHIT MANIS. TENTU SAJA AKU MASUK, LUMAYAN KAN DAPAT MINUMAN GRATIS! LOVE YOU, BABE!" pekik Huble dan segera masuk ke rumah Mery.


***


Nenara hanya bisa menghela napasnya, meratapi semua kejadian, demi kejadian yang menimpa hidupnya pun Mery. Walau Mery belum menjelaskan apa yang terjadi padanya, kenapa pulang tanpa adanya kabar dulu. Neanra tahu, berarti ketenangan Mery di sana terganggu. Hanya ada satu, kembalinya Agriel.


Tatapan itu mengarah ke atas. Mengingat betul kejadian tujuh tahun yang lalu. Tepat, di mana Mery saat itu pingsan karena kebakaran yang membakar rumahnya, dulu.


"Tolong, jangan usir saya." cegah Agriel berkaca-kaca.


"Apa lagi yang ingin kamu ucapkan? Tidak puas membuat Mery menderita?" tanya Neanra menatap nyalang Agriel.


"Saya tahu, Mery menderita karena saya. Tapi, tolong dengarkan saya terlebih dahulu."


Helaian napas gusar terdengar, Agriel menatap Neanra teduh nan sayu. Dia jugaa lelah, bahkan hampir menyerah.


"Jaga Mery... Tolong jaga dia, sayangi Mery. Jangan pernah anda meninggalkan nya lagi. Lindungi dia. Seribu serapah, seribu tindakan anda mengusir saya dan menjauh dari Mery. Sampai mati, saya tidak akan pernah!. Saya pergi, untuk mengambil kekuatan saya sendiri."


"Di dunia yang luas ini, ekor mata hanya bisa melihat salah satu sisi. Begitu pun yang kalian tangkap tentang saya. Saya bicara demikian, untuk membuat anda percaya. Saya tidak berbohong. Kelak, saya akan kembali. Membawa Mery kembali. Saya bukan pecundang, jika itu yang anda pikirkan."


"Hari itu tiba.. Jangan usik kami lagi. Saya mencintainya, tidak akan melukai dan membuatnya kecewa lagi. Semuanya akan jelas pada waktu yang tepat. Selama saya masih hidup, saya tidak akan pernah membiarkan Mery terluka. Sampaikan maaf padanya, saya pamit pergi. Tidak anda sampaikan juga tidak masalah. Akan ada waktu pertemuan itu sendiri... " akhir ucapnya.


"Jaga kesehatan, Mom. Agriel pergi.." sedunya. Dia pergi meninggalkan Neanra yang terpaku dengan ucapan Agriel.


Air mata tentu sudah luruh. Menatap punggung Agriel yang kian menjauh, bagaikan tertelan lorong-lorong itu.


Neanra kembali menangis. Apalagi saat telinganya tidak sengaja mendengarkan cerita Mery. Sebagai seorang ibu Neanra tahu, di mana kebahagiaan sang putri. Tapi, kebahagiaan itu pula kesedihan. Berbohong, jika Neanra membenci Agriel.


Ketulusan pria itu sangat ketara. Apa yang membuat Agriel menjauh bahkan membohongi putrinya? Masih menjadi misteri di benak Neanra.


Jika saja waktu bisa di putar. Neanra hanya ingin mendengarkan sekali saja, alasan Agriel yang berani melukai cintanya. Apa yang membuat sosok pria tegas itu melemah? Pasti ada penyebabnya.


Deringan ponsel terdengar, membuat lamunan Neanra buyar, terpecah begitu saja.


"Nomor tidak di kenal?" gumamnya.


"Hallo? Dengan siapa?" tanya Neanra ketika telepon itu telah tersambung.


Jawaban itu lantas, membuat keringat dingin mengguyur tubuhnya.


Ucapan demi ucapan terdengar, semakin membuat Neanra bingung. Matanya melirik kamar Mery, dan seketika kemudian.


"Baik.. Saya tunggu kamu di Caffe Rinjani," Jawab Neanra dan menghentikan telepon itu sepihak.


"Maafkan, Mom, nak. Tapi kali ini, jangan bohongi dirimu sendiri... Tuhan menciptakan manusia berpasangan begitu pula di iringi masalah dan cobaan. Jadikan, Mom berguna kali ini." lirih Neanra, menahan air mata yang hendak keluar itu.


***


Di dalam kamar, Mery dan Huble nampak berleha-leha. Dua wanita itu seperti hidup tanpa adanya masalah di pundak. Menerawang langit-langit kamar, secara bersamaan. Entah, apa yang mereka pikirkan.


"Huh, si Ertan itu mau nya gimana, sih?" geruntu Huble ketika mengingat wajah mantan pacarnya dulu itu, Ertan.


"Gak niat banget PDKTnya." sambung Huble, membanting ponselnya pelan.


"Aku bingung, Mery" cerita dari Huble sepertinya akan di mulai.


Mery bangkit, dia berjalan ke meja riasnya. Menatap wajahnya yang—sangat cantik—polos tanpa adanya polesan apapun. Melakukan mask sepertinya bukan ide yang buruk juga.


"Maunya si Ertan itu apa sih? Ngasih harapan ke aku, tapi juga deket sama si Moni" dengus Huble kesal.


"Kan udah benar, mantan tempatnya di tempat sampah. Kenapa juga mau kau punggut, Huble?" tanya Mery mengejek.


"Idih! Kau saja masih terjebak dengan mantan." balas Huble, mengerucutkan bibirnya.


"Dulu, aku menikah dengan Satya karena perjodohan. Gimana orangtua ku gak ketar-ketir coba, anak gadisnya punya pacar tapi kayak gak punya pacar, hubungan ku di gantung sama si Ertan. Dan, yaa akhirnya nikah deh sama Satya."


"Satya itu ganteng, mapan. Aku pikir gak masalah juga nikah sama Satya. Dia itu tipe laki-laki dingin, kayak di novel-novel, makanya aku yes aja waktu di ajak nikah. Ehhhh kok tahunya, tukang selingkuh. Dua tahun aku di tipu." ujar Huble kesal, ketika mengingat itu semua.


"Kalau si Ertan itu tipe cowok cerewet, gak ada romantisnya."


"Mery.. Menurut kamu, aku harus gimana?" tanya Huble mencari kesimpulan.


"Kamu harus diam, Huble. Aku sudah cukup pusing dengan masalahku." jawab Mery, melepaskan mask nya.


Berjalan ke arah kamar mandi, karena rasanya badan Mery sudah leket semua. Efek dari tadi pagi belum mandi.


"SIALAN!" pekik Huble kesal. Di tengah kekesalannya, tampang nama si Ertan berkedip di lockscreen teleponnya.


"Ogah! Ogah! Mantan itu tempatnya di tong sampah!" ejek Huble, mengejek.


Panggilan telepon tersambung, tetap dengan nama si Ertan.


"Hallo?" ucap Huble, mengangkat.


Mery yang masih termanggu di sana, menggeleng sekilas.


"Kalau sayang di buang, di jaga." ucap Mery menyindir membuat Huble tersenyum malu.


***


Mansion keluarga Anouk,


Wanita dengan wajah pucat, tinggi semampai, dan lekuk tubuh yang profesional. Orang lain—orang Indonesia tulen—banyak yang menganggap wajahnya aneh, karena kulitnya yang terlalu putih, ditambah bintik-bintik cokelat yang menghiasi area pipi.


Tapi tidak bagi orang Belanda. Wajahnya bisa dikatakan cantik, bahkan sangat cantik. Dia memang bukan orang Indonesia asli. Banyak humor yang mengatakan dia campuran Inggris-Belanda. Humor, hanyalah humor. Kebohongan hanyalah kekosongan, belaka.


Dia—Anouk—adalah orang asli Belanda. Lahir di Belanda, lebih tepatnya di sebuah panti asuhan disana. Bukan, namanya bukan panti asuhan. Tapi, bahasa gampangnya, sebut saja panti asuhan. Dulu, seorang biarawati menemukan bayi itu di depan pintu gereja.


Jadilah, sosok Anouk. Di adopsi oleh keluarga Desta Deflig Obrama, keluarga milyader asal Belanda. Desta adalah orang gila, yang mudah sekali terobsesi dengan suatu hal. Contohnya saja, kekayaan.


Demi apapun, akan Desta lakukan hanya untuk kekayaan. Pria yang umurnya sekarang sudah hampir menginjak kepala lima. Tapi, tidak dengan tubuhnya yang gagah bagaikan usia empat puluhan ke atas. Ada tanda petik juga, karena keriput halus tidak bisa membohongi.


Selain gila kaya, Desta juga gila pada satu wanita. Dulu, hanya sebatas ayah-anak. Tapi sekarang, lebih dari sekadar itu.


Di mansionnya yang megah, tepatnya di sebuah kamar mewah yang kedap suara. Nampak sepasang insan manusia beda usia itu sedang berolahraga ria. Tanda kutip, 'olahraga'.


Boleh saja mereka berhubungan lebih. Karena tidak ada ikatan darah, tapi yang membuat geli adalah status awal mereka, sebagai ayah dan anak.


Desta yang aneh. Mencintai Anouk tapi juga memanfaatkan gadis itu. Gaya bercinta Desta, yang kadang kasar, membuat luka lebam di seluruh tubuh Anouk.


Anouk? Wanita yang malang. Karena janji cinta dari Desta, dia rela merendahkan diri. Demi dendam Desta pada Basta pun Anouk rela di injak-injak oleh Agriel. Sosok suami yang hanya diatas kertas. Demi, keuntungan masing-masing.


Agriel untuk bisnisnya, Anouk untuk cintanya. Korbannya? Banyak juga bukan.


BERSAMBUNG...