
21+ 📌
Semua tamu undangan sudah membubarkan diri mereka masing-masing, tertinggal beberapa keluarga yang masih setia menunggu kedua pasangan itu turun. Senyuman merekah bak bunga mawar baru saja mekar, harum nan semerbak kisah dan aroma cinta itu. Sampai kering gigi Agriel maupun Mery, tulang rahangnya dibuat kaku karena terlampau bahagia. Hari yang mereka tunggu dan kini sah mereka di hadapan Tuhan.
"Segeralah istirahat. Biarkan kekacauan di sini kami yang urus." Ucap Neanra, di sambung Lilyana dibelakang, "itu benar, kalian pasti lelah. Apalagi Mery, memakai gaun seberat itu hampir seharian."
"Seumur hidup hanya sekali. Tak masalah untukku, Bun." Jawab Mery.
"Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian. Bunda sangat bahagia, sampai-sampai kering mataku ini, nak. Perjuangan kalian sampai di titik ini tidak sia-sia."
"Terimakasih, Bun. Tanpa doa dari kalian mungkin aku dan Agriel tak sampai pada masa ini."
"Agriel, jaga anakku dengan baik. Ku serahkan semua tanggung jawab Mery kepadamu."
"Itu sudah pasti, Mom." Jawab Agriel tegas nan lugas.
"Tuan Agriel, mobil sudah siap."
"Selamat beristirahat." Ucap Neanra tersenyum penuh arti. Lalu, dia mencolek bahu Lily. Kedua wanita paruh baya itu seketika tertawa pelan bersamaan.
"Semoga segera jadi. Kenyang sudah Mery selama sembilan bulan."
"Dan, kita akan segera mengendong bayi-bayi lucu nan menggemaskan."
"Neanra! Tak sabar aku menanti hari itu tiba."
"Kau kira aku selama ini sabar? Aku sudah menanti ini lama sekali Lily. Dulu aku takut anakku itu hanya akan sibuk pada dunia karirnya. Bahkan aku dulu sampai berteriak pada Mery, jika saja anak bisa di download maka aku tak akan menyuruhmu menikah!" Curhat Neanra mengingat masa lalu.
"Aku dulu malah khawatir pada anakku, takut dia akan mati rasa karena menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Tapi pada akhirnya, Agriel berjuang penuh untuk mendapatkan MeryNya lagi."
"Perjalanan mereka terlampau panjang."
"Semoga Tuhan senantiasa menggelilingi mereka."
***
"A-aku ingin ke toilet." Gugup sudah Mery. Tidak ada lagi kata berani, angkuh dan sombong. Kepercayaan dirinya lenyap entah tenggelam di mana.
Agriel menoleh dan mengangguk singkat. Tangannya sibuk mengobrak-abrik koper, mencari baju tidur yang akan dia kenakan malam ini. Di balik sikap tenangnya Agriel juga berkeringat dingin. Pandangannya penuh dengan hawa-hawa mesum. Padahal memasuki Mery bukan lagi hal pertama untuknya, tapi ini berbeda.
Mereka akan bersatu atas nama Tuhan. Bukan lagi zinah. Ini sulit di jabarkan. Detakan jantung Agriel terpompa lebih cepat. Dia berjalan ke segala arah, melepaskan jasnya dan membuang asal. Meraih remote AC untuk menurunkan suhu. Kamar dingin ini berubah panas, sangat panas.
"Ada apa Agriel?" Tanya Mery melihat kegelisahan suaminya. Suami? Mengingat bahwa mereka sudah sah menjadi suami istri membuat Mery ingin mimisan.
"Oh kau sudah selesai?" Bukan menjawab tapi kembali bertanya.
"Kau lihat? Aku sudah di depanmu. Ada apa Agriel?" Tanya Mery sekali lagi.
"ACnya rusak."
"Rusak bagaimana? Perlukah kita memanggil tukang servis di tengah malam?"
"Sepertinya tidak, masih dingin. Kalau begitu aku yang giliran mandi." Ucap Agriel lalu bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Mery memegang dadanya, merasakan degup jantungnya. Menatap lingerie seksi yang sudah dia siapkan itu seraya menelan ludahnya kasar. Tidak mungkin di tunda bukan? Ini hari spesial yang telah ditanti selama bertahun-tahun. Walau bukan pertama, tapi setidaknya buatlah berkesan.
Pintu kamar mandi terbuka. Wajah segar Agriel terpampang nyata. Udara panas membinus keduanya. Tatapan Agriel pun jatuh pada pakaian yang Mery kenakan.
Bongkahan padat yang dia pamerkan, tak ada ****** ***** yang menutup segitiga tembam itu. Tidak ada bra yang menutupi dua pepaya besar itu. Semua seakan sudah siap di santap dalam satu waktu.
"Mery... Tapi ini yang kau mengundangnya." Bisik Agriel, menelan ludahnya sendiri.
"Tanpa aku yang mengundang kau juga pasti akan menerkam ku Agriel." Balas Mery, dengan keangkuhannya. Agriel tersenyum, dan langsung menerjang Mery, membuat tubuh Mery terhempas di ranjang empuk besar.
"Kau wangi, sayang." Ucap Agriel menciumi seluruh tubuh Mery.
"Ya, karena aku habis mandi."
"Tadi kau gugup, aku kira malam ini kita hanya akan tidur."
"Bukan gugup. Hanya saja aku sedang membiasakan diri menjadi istrimu."
"Aku tahu ini bukan yang pertama. Tapi kenapa aku tiba-tiba takut, Agriel."
"Kau takut karena di pikiranmu kau sudah tahu apa yang akan terjadi pada malam ini sampai besok." Bisik Agriel, menunduk rendah. Meletakkan kepalanya ke leher Mery untuk menyesap setiap inci kulit Mery.
Mery mulai kepanasan, leguhan kecil nan menggoda membuat Agriel semakin melancarkan aksinya. Melepaskannya semua benda yang menempel pada tubuh Mery, dan membuat tubuh itu benar-benar polos bak bayi baru lahir.
Bibir Agriel menyambar bibir Mery, menciumnya dalam seakan bibir itu adalah madu manis yang dia sesapi. Lidah mereka bertemu, melilit-lilit untuk mencari kepuasan yang mereka cari. "Julurkan lidahmu, sayang." Perintah Agriel. Dan, setelah itu di hisapnya lidah Mery semakin dalam.
Disaat Mery kewalahan menghadapi permainan lidah Agriel. Tangan Agriel turun, merambat memainkan pepaya besar itu. Memutarnya seraya memberi pijatan-pijatan yang semakin membuat Mery ingin mendesah namun tertahan. Menarik-narik biji kecil itu, seakan-akan ingin melepaskannya dari daging kenyalnya.
Lembah itu sudah basah, tiga jari langsung Agriel masukkan. Mengocoknya pelan, dan cepat. Mengelus klitorisnya, dan mencubit kacang kecil yang menggoda, membuat gemas seakan memintanya untuk segera di sodok saat itu juga.
"Agriel! Ou-hh tidak!! Bisa kau masukkan sekarang? Ini-Aahhhh...." Mery merancau. Agriel semakin tak gentar, dan semakin menambah jarinya masuk ke dalam lembah yang sudah basah, becek penuh lendir putih itu.
"Agriel!!!!" Teriakkan Mery menggema. Tersentak sampai melengkung punggung kecil itu, mengeluarkan banyak cairan bening yang pada saat itu juga langsung Agriel hisap sampai tersedot habis semua cairan itu. Lidah hangat Agriel membuat lembah Mery berkedut tak karuan.
Agriel lantas berdiri, menuntun Mery yang lemas untuk duduk. Menunjukkan kejantanannya, dan Mery hisap habis permen lollipop berurat itu. Memijatnya dengan gaya nakal, dan memainkan dua telur yang membuat Mery penasaran. Agriel menggerang sesaat dan langsung menelentangkan kembali tubuh Mery.
"I Love You Mery." Bisik Agriel, dan belalai itu mulai menjelajahi lembah Mery. Masuk, sampai tandas tak tersisa.
Punggung Mery dibuat melengkung, dengan mata terpejam erat. Keringat membasahi tubuhnya sudah. Meremas erat bahu Agriel. Melebar-lebarkan pahanya membuat Agriel semakin leluasa. Agriel raih tubuh Mery, sampai posisinya setengah duduk. Semakin Agriel tancapkan jauh, menggedor dinding rahim Mery. Juling sudah mata Mery menerima sodokan dalam Agriel.
Dan, pinggul itu mulai bergoyang. Menyentak dalam, pelan namun pasti. Kedutan dahsyat itu Agriel rasakan. Keduanya terpejam masing-masing menerima kenikmatan yang sungguh luar biasa.
Gerakan Agriel semakin dalam, dan cepat. Mengobrak-abrik lubang kenikmatan Mery. Lembah sempit itu seketika melebar, seiring dengan semakin semangatnya sodokan Agriel.
"Ouhhh Aahhhh" mengerang Mery dibuatnya.
"Agriel!!! Aku-aku akan sampai!!" Teriak Mery. Sentakan Agriel semakin cepat dan dalam, hingga cairan Mery meledak. Mery lemas dengan Agriel yang masih setiap menghujamnya tanpa ada tanda-tanda akan sampai.
Basah, licin dan melebar bengkak lubang Mery. Libido Agriel semakin tinggi, dia membalikkan tubuh Mery dan membuat wanita itu menungging. Memasukinya melalui celah anus dan membuat Mery semakin menggelinjang tak karuan. Tusukan itu semakin dalam, dan dalam.
Agriel mengeplak bongkahan Mery kasar-kasar menciptakan rasa panas sekaligus nikmat untuk Mery. Semakin kuat dan erat. Hingga Agriel rasakan belalainya mengembang penuh. Dia balik kembali tubuh Mery, dan mengajak Mery kembali pada posisi setengah duduk. Menyemprotkan semua cairan spermanya ke dalam rahim Mery.
Penuh, sampai terasa ngilu sesak Mery rasakan. "Ini penuh, Agriel." Adu Mery membuat Agriel tersenyum dan kembali mencium bibir Mery penuh.
"I Love You, Mery."
"I Love You Too Agriel..."
Agriel membawa Mery duduk, dan membuat Mery mendesah sesaat. Karena batang Agriel masih saja menancap di lembah Mery.
"Sesak." Rengek Mery.
"Hanya satu malam ini saja. Boleh ya?" Tatapan mata Agriel dibuat imut, membuat dada Mery sesak dan ingin mencubit pipi Agriel gemas.
"Tapi jika besuk pagi punyaku bengkak dan melebar awas, Agriel!! Aku—"
Terputus sudah omelan Mery, karena Agriel sudah kembali menggoyangkan pinggulnya.
Sepertinya malam ini tidak akan berakhir sampai di sini saja. Keringat membasahi tubuh keduanya, hingga kain sprei yang sudah seperti di guyur air satu baskom.
***
Kondisi tubuh Anouk menurun seusai operasi di lakukan. Denyut jantungnya menurun drastis yang membuat beberapa perawat serta dokter di sana mengelap keringat.
"Dok, bukankah lebih baik kita segera memberitahu tuan Agriel?" Tanya salah satu perawat.
"Fasilitas di sini memang seperti rumah sakit besar di kota, akan tetapi nuansa dan leluasaan kita tidak seperti di rumah sakit."
"Kalian selalu pantau kondisi Nyonya Anouk. Dan tetaplah tenang. Alasan terbesar ku tidak menghubungi tuan adalah karena menghormati pernikahannya. Coba saja kalian bayangkan, di posisi Tuan Agriel. Ditambah kalian tahu, siapa Nyonya Anouk sebenarnya dan asal usulnya."
Mereka terdiam, berakhir pandangan mereka tertuju pada bayi mungil itu. Bayi yang lahir dengan kondisi prematur itu harus melakukan perawatan intensif.
"Coba kalian dekatkan Baby Donan dengan Ibunya. Semoga batin antara ibu dan Anak ini bisa membuat Nyonya Anouk sadar."
BERSAMBUNG.....