
Kaku, terasa semua otot dan tenaganya seperti terkuras habis. Linglung dan bingung, Agriel benar-benar dibuat syok dengan kehadiran Mery yang tiba-tiba.
"Kejar Agriel!!" Sertak Anouk membuat pria itu tersadar dan berlari menyusul Mery.
Berlari sekuat tenaga dengan kepala bergoyang ke sana kemari, matanya tak luput mengawasi banyak celah. Namun sayang, bayangan dan aroma itu telah hilang. Mery hilang begitu cepat, entah bersembunyi atau memang sejak awal Mery lari.
"MERY!!!" teriak Agriel menghantam udara di lorong-lorong itu. Sunyi dengan cahaya lampu yang menemani. Melolong keras pun tak ada gunanya.
"Mery, aku tahu kamu masih di sini. Tolong tenang dan dengarkan penjelasan ku dulu. Ada banyak hal kenapa aku tidak memberitahu mu, Mery." Monolog Agriel mencoba mengatur napasnya.
Keringat sebiji jagung dengan dada yang bergemuruh tak karuan. Pandangan Agriel memanas. Menyesal kini menghantam relulung hatinya. Menyugar rambutnya, dan mengusap wajah penuh keringat itu dengan kasar.
"MERY!!!" Sekali lagi dia berteriak, tak ada yang peduli. Hingga salah satu pintu terbuka.
"Mach keinen Lärm oder ich rufe die Polizei. Sie sind verrückt!"
"Jangan berisik atau ku panggilkan polisi. Dasar gila!"
"SIALAN!!" desis Agriel dan memutar balik tubuh kokohnya. Meraup ponsel di saku celana dan menelpon seseorang.
"CARI MERY SAMPAI DAPAT!! BAGAIMANA PUN CARANYA!!!" teriak Agriel penuh tekanan.
Tangan Agriel terkepal keras, menampilkan urat-urat kokoh yang siap menghajar siapapun yang berani menyentaknnya. Matanya pun ikut melotot menahan buliran air mata yang seperti ingin merembes keluar. Bayang-bayang menyedihkan muncul secara acak bak kaset rusak. Seharusnya tidaklah seperti ini.
Seharusnya sejak awal Agriel jujur pada Mery. Seharusnya tidak ada lagi hal yang di sembunyikan. Seharusnya pun Agriel terbuka dan percaya dengan Mery. Matanya terpejam erat, menahan sesak yang kian menjadi. Baru berapa jam mereka bahagia? Baru setitik air.
Tepuk tangan dari ujung lorong itu membuat atensi Agriel teralihkan. Menatap sinis pada Desta yang bertepuk tangan seraya tersenyum manis. Senyuman penuh ejekan.
"Cinta saja tidak cukup untuk mengikat wanita, Agriel. Kau salah, jika menganggap istrimu akan menghancurkan rencana mu. Justru, kau sendiri yang terjebak oleh rencana konyol itu." Ucapnya menahan tawa. Rasanya ada ribuan kupu-kupu menggelitik perut Desta saat ini. Kaki kokohnya maju menghadap Agriel.
"Ketahuilah sejak awal aku tahu semuanya Agriel. Aku tahu kau menyembunyikan Anouk, aku tahu kau ingin mengumpulkan pewaris. Aku pun tahu kau ingin membuat ku seperti Basta. Aku tahu... Memang kau kira aku orang bodoh? Sekalipun kau picik, tapi aku lebih dulu merasakan garam kehidupan."
Pria itu berbalik badan, memunggungi Agriel. Kepalanya mendongak ke atas langit yang gelap.
"Semua sudah ku pikirkan. Mungkin ketahuan ku inilah yang membuat pikiranku lebih terbuka. Aku melepaskan semuanya...."
"Termasuk harta Nandhaya. Sejak awal, aku memang tidak sudi berkerja di bawah naungan seseorang. Tapi, tanpa harta Nandhaya dulu aku hanyalah anak ingusan. Beranjak dewasa aku bisa mencari uang sendiri, walaupun dengan cara kotor."
Desta membalikkan badannya kembali, meloroh tatapan Agriel dengan intimidasi khasnya. "Kau jaga anakku, ku serahkan semua perpecahan ini kepadamu Agriel. Kau boleh membuatku seperti Basta—jika itu bisa." Lanjut, dengan tawa mengejek.
Desta mengibaskan tangannya ke atas. Seakan menyibak udara parau di sekitarnya. "Segera kau cari istri pintarmu itu. Sebelum dia kawin lagi dengan jantan yang lebih kokoh dan pintar daripada kau."
***
Tepat hari ini juga Agriel langsung kembali ke Indonesia, harap-harap cemas. Semoga saja Mery tidak pergi jauh. Mery hanya marah dan menggurung dirinya di kamar. Ya, Agriel berharap demikian. Sejak tadi pun Agriel hanya diam, tapi tangannya terus bekerja di layar ponsel. Menghubungi banyak anak buahnya untuk membantu mencari Mery dan memastikan keadaan Mery.
Ting
Maaf Tuan, Tapi Nona Mery tidak ada di Mansion sejak seminggu yang lalu.
Hancur. Merynya kembali hilang. Perjuangan Agriel bertahun-tahun untuk mendapatkan Mery, pecah hanya karena satu kebohongan. Sebesar inikah efek bohongnya? Memang sejak awal pun yang Mery harapkan darinya hanyalah kejujuran. Dan itu, yang Agriel anggap sepele. Dia kira cinta tulus saja cukup menyakinkan Mery akan kebahagian di masa depan.
Sayang seribu sayang, cinta yang hanya berlandaskan tulus saja memang tidak cukup. Sejatinya yang di butuhkan pasangan kita adalah kejujuran, dan kesetian. Karena keduanya adalah watak. Jika memang cinta tulus, itu sebagian nafsu. Ketahuilah itu perbedaan yang berbeda. Dan, baru saja Agriel sadari cintanya pada Mery memang lebih besar di landaskan oleh nafsu.
Buliran bening jatuh menimpa pipi mulus Agriel. Dia terpejam erat, di hantam oleh kenyataan-kenyataan yang menyakitkan. Berbagai spekulasi datang di otak Agriel, menari-nari dengan senyuman mengejek.
Ting
Tuan Agriel, Tuan besar Wick ingin bertemu denganmu.
"Sial!sial!.."
***
Berhari-hari Agriel melakukan perjalanan dari Jerman ke Indonesia. Kepalnya ingin pecah saat itu juga, setiap harinya hanya ada kata maaf dari para bawahannya. Tidak adakah kabar gembira sedikit pun? Agriel menatap Donan di gendongannya. Menatap bayi kecil itu intens dan perasaan yang bercampur aduk.
"Bawa Anouk ke rumah sakit." Perintah Agriel dan dia berjalan gagah dengan tangan kiri mengendong Donan. Langkah lebar, dengan bahu yang sengaja di tegakkan. Menyorot tajam untuk para bawahannya.
Memasuki mansion mewah nan megah itu, tepat di kursi tengah. Ruang tamu, tempat di mana keluarga itu menyambut tamu-tamu mereka. Terdapat Wick-Hely dan Nandhaya. Dua manusia tua renta itu menyorot Agriel tajam bak pedang siap membinus apapun yang ada di sana.
"Duduk!" Perintah Wick nadanya tegas penuh amarah.
Agriel lalu mendudukkan dirinya, menatap tak gentar pada Wick yang menatapnya seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Ceritakan, Agriel! Kenapa Mery bisa menghilang. Bahkan luka yang sembuh pun membekas, sedangkan ini baru saja kau beri obat sudah kau lukai lagi." Terang Wick, menusuk dan benar-benar tepat pada sasaran.
Agriel menghela napasnya, menatap Nandhaya dengan sorot sayu tak berdaya. Sedangkan Nandhaya memalingkan wajah, tak sudi menatap Agriel. "Salahmu yang tidak menuruti perintahku." Ucap Nandhaya seakan lepas tangan.
"Dia Donan Obrama Putra, sang pewaris pertama. Dia terlahir untuk menjadi penguasa Obrama Group serta kekayaan Obrama. Kehadirannya memanglah tidak sesuci yang kalian damba. Tapi, Tuhan meniupkan roh kekudusan di dalam dan di setiap darahnya."
Agriel menghela napas, membalas tatapan Wick. "Sadari awal Mery membenci Anouk. Baginya Anouk adalah ancaman dan parasit yang harus di musnahkan. Aku akui bahwa wanita itu dulunya sangat jahat. Aku pun membencinya. Tapi, setelah aku tahu dia hamil. Dan bayi yang dia kandung adalah pewaris trah raksasa kita. Maka tidak akan ku biarkan dia terlahir sendiri dan tumbuh sendirian."
"Aku memang sengaja. Aku akui aku salah, benar-benar terlampau salah. Aku menyesal, tidak menuruti Nandhaya. Ini melenceng dari remcanaku. Aku berencana akan menceritakan semuanya pada Mery, setelah Donan lahir. Tapi, Donan lahir tepat saat aku dan Mery seusai melangsungkan pernikahan. Tentu aku menunda rencana itu. Ingin aku beritahu padanya, Donan sakit. Bayi ini mengalami sakit di pernafasannya. Sampai-sampai aku membawanya ke Jerman—bersama Anouk."
"Itu kesalahanku. Aku diam dan bungkam. Hingga Mery curiga. Karena aku bohong. Aku membohongi Mery." Ringkas Agriel.
"Kau pun menjadi alat pria tua itu mau-mau saja."
Agriel tersenyum kecil, "aku anak ingusan yang membutuhkan topangan. Erial group ku belum sebesar Trah Brahtara dan jajarannya. Ketahuilah aku sudah sejak awal tahu."
Nandhaya menghela napasnya, "bukan maksudku Agriel. Kalau bukan kau yang menjadi bidak catur ku, siapa lagi?"
"Aku hanya ingin setelah kematian ku trah ini bisa tertata dengan baik. Tambah besar dan kuat dengan trah Wick-Hely. Dulunya, trah kita penuh konflik dan gelap. Tidak ada ruang secelah lubang tupai pun hanya untuk bernapas. Kau tahu sendiri dari ayahmu dan pamanmu. Mereka rusak."
"Itu karena didikan mu, Nandhaya." Tungkas Wick.
"Bukan Wick, aku pun dulunya di didik demikian. Mauku buat baik sifat ini, yang namanya watak tetaplah watak. Orang bilang miskin bisa menjadi kaya, tapi berkhianat tetaplah pengkhianat."
"Di mana Mery?" Tanya Agriel.
"Aku ingin menjelaskan semuanya. Tolong bantu aku untuk menemukan Mery." Lanjutnya memohon penuh.
"Itu salah mu! Bukan urusan ku untuk ikut campur. Yang pasti sampai satu bulan kau tidak menemukan cucuku, ku habisi kau di kediaman mu sendiri Agriel. Ini bukan hanya peringatan tapi hal yang akan terjadi di masa depan!" Tegas dan singkat, Wick berdiri di ikuti para bodyguard nya.
"Mampus! Riwayat hidupmu bisa ku hitung menggunakan jari Agriel." Ejek Nandhaya.
"Tua Bangka bau tanah! Ini semua juga rencanamu! Mau tidak mau kau juga harus ikut membantu ku mencari istriku. Atau ku bunuh kau lebih dulu sebelum aku mati dibunuh Wick!"
"Cih!!"
***
Satu Minggu,
Agriel meremas rambutnya kasar, sampai rontok beberapa. Menatap tajam pada anak buahnya yang tidak becus. Garang dan penuh amarah yang kian meledak. Bangkit dari kursinya dan mendorong bawahan itu keras.
"CARI!! CARI SAMPAI KE LUBANG SEMUT PUN CARI ISTRIKU SAMPAI DAPAT!!"
Dua Minggu,
Jenggotnya kini tidak di cukur. Dibuat panjang seperti duda yang tidak di urus. Bola matanya membesar merah, dengan mata panda yang begitu ketara. Rasanya lelah marah-marah pada anak buahnya. Percuma dan hasilnya pun sama, mereka benar-benar kehilangan jejak Mery.
Agriel mengadah ke atas, menatap langit-langit kantornya. Merembes keluar air mata Agriel. Mengingat betapa konyol dan bodoh dirinya.
Pintu terbuka, terdapat seorang pengasuh yang tengah mengendong Baby Donan. Bayi itu tumbuh dengan baik. Pipinya mulai gembul dan raut wajahnya ceria.
"Tuan, Baby Donan terlihat gelisah. Mungkin dia mencari anda."
Agriel bangkit dan merebut baby Donan dari pengasuhnya. "Pergilah." Ucap Agriel singkat.
"Donan..." Lirih Agriel, dan akhirnya pria itu menangis di hadapan Donan kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Mamamu pergi, nak. Papa harus cari ke mana lagi. Kalau begini terus, kau bisa-bisa menjadi pewaris tunggal." Sesegukan dibuatnya. Agriel menunduk, dan merenungi semua kesalahannya serta mencari jalan keluar yang terbaik.
Tiga Minggu,
Kurus kering, sungguh tidak terawat. Agriel mendongak, menatap bangunan mewah nan megah di depannya. Rumah kebesaran Nandhaya.
Tanpa mengetuk pun, pintu lebar besar itu terbuka. Sunyi, sepi nan gelap adalah nuansa dari rumah Nandhaya. Banyak bodyguard yang berjaga, mereka diam membisu tanpa di perintah. Kakinya berjalan tegas, walau sedikit sempoyongan karena kurang tidur selama tiga Minggu belakangan.
Terbukanya pintu ruang pribadi Nandhaya, Agriel langsung sujud. Dia menunduk, merendahkan dirinya di hadapan Nandhaya.
"Tolong, bantu aku mencari istriku, kek." Lirih merdu dan rendah.
Nandhaya menghela napasnya. Menatap tak kuasa pada Agriel yang lemah tidak berdaya.
"Aku meminta bantuan mu. Sebagaimana hubungan antara kakek dan cucunya" mendongak, menatap Nandhaya dengan mata penuh permohonan.
"Agriel... Saat ini Mery mungkin masih marah kepadamu. Dia tidak akan keluar. Sekuat tenaga kau mencari ke seluruh dunia, kalau orang yang kamu cari saja berdiam diri, itu hanya usaha yang sia-sia."
"Kau tahu keberadaan istriku," ucap Agriel cepat menungkas.
"Aku tidak tahu. Aku juga mencari keberadaan Mery tanpa kau perintah. Tapi, setelah ku ambil kesimpulan, dia memang adanya tidak mau keluar. Biarkan Agriel. Seseorang kadang memerlukan waktu untuk merenung."
Satu bulan,
"Kau akhirnya datang." Ucap Wick dari anakan tangga.
"Di mana istriku?"
"Dia tidak mau bertemu denganmu, Agriel. Pulanglah. Cucuku akan kembali setelah apa yang dia ketahui terjawab sudah."
Agriel menggeleng, dia berjalan mendekat pada Wick. Aura kemarahan yang kental, membuat para bodyguard Wick bersiaga.
"Berikan salamku padanya."
"Aku rindu, serindu-rindunya. Maafkan atas kesalahan ku, sayang."
BERSAMBUNG....