
Berpulangnya Elina, di susul oleh Sela. Hanya selang dua bulan. Kini, bumi terus berputar, tanpa kenal lelah di porosnya. Tiga bulan, selama itu Mery bekerja di Ele's Group. Semuanya terasa mengalir bak air di hulu sungai. Hari-hari seorang pekerja ya seperti itu. Di jelaskan pun akan tetap sama—hampir sama setiap harinya.
Kenangan singkatnya dengan Elina dan Sela membekas begitu saja. Kadang, hantaman kuat datang dari hati Mery, yang terlambat menolong mereka. Neanra sudah banyak cerita, tentang dia yang sering memberikan uang ataupun bahan pokok pada Sela. Akan tetapi, Neanra tidak tahu jika Sela mempunyai Elina. Kabar dari Sela saat itu adalah anaknya keguguran. Ternyata semua itu hanyalah bualan.
Mengenang nama Desinton, Sela, dan Elina yang telah lebih dulu menemui yang kuasa. Mery menggenggam tangannya, menunduk, dan berdoa dihadapan Tuhannya, di gereja. Segala puja dan puji ia lantunkan. Mengirim doa untuk mereka, yang lebih dahulu meninggalkan semesta.
Setelah ibadahnya, Mery keluar dari sana. Menuju mobil, dan melaju ke arah perusahaan. Ya, hari ini bukan hari libur, akan tetapi jam makan siang. Mery sempatkan berdoa di gereja terdekat. Melihat teman-teman muslimnya yang menjalankan sholat, membuat Mery mengingat gereja—sudah lama ia tidak ke sana. Sibuk memang ada terus, tapi kalau di turutin gak ada habisnya.
Perjalanan menuju kantor, jalanan lumayan ramai. Berlalu lalang banyak orang-orang kantor yang menyepatkan makan siang di luar kantin kantor. Ditemani radio yang menyiarkan acara podcast tentang budidaya tanamna hidroponik. Kepala Mery mengangguk, semakin banyaknya informasi dari raido itu. Lumayan bukan, nanti bisa ia sampaikan pada Neanra.
Perjalanan yang memakan waktu sebentar, moncong mobil Mery pun memasuki basemant kantor. Kaki ramping yang terselimut sepatu sejenis Platform Heels nampak menyembul dari mobil. Kedatangan Meru sontak membuat pusat perhatian. Karena kecantikan, dan kebaikannya.
Dia Elemery desinton, wanita dengan perangai yang jahat akan tetapi mempunyai ketulusan yang luar biasa. Hidupnya penuh luka liku, dari perekonomian, keluarga sampai asmara. Bicaranya memang kadang menusuk, tetapi semuanya pas dengan keadaan. Meru tidak pandai menyusun kata-kata manis, dan ya itu apa adanya.
Elemery, wanita itu mungkin akan menganggap hidupnya akan kembali berputar ke belakang—saat dirinya tenang bekerja di kantor. Akan tetapi, waktu tidak menyukai belakang, waktu terus berjalan ke depan. Dan, itulah yang akan terjadi pada kehidupan Elemery.
Potongan puzzle yang ia cari belum sepenuhnya bisa menutup likunya kehidupan. Ada asmara dan masa depannya yang belum terisi, dan harus ia cari.
Berbekal ambisi, dan pendirian apakah Mery sanggup untuk tidak menginjak masa depannya? Tekanan takdir itu nyata, sejauh mana kamu pergi dan menjauh, ia akan terus mengikuti dan mengintai.
Mata elangnya menatap wanita yang paling ia cintai dari atas gedung, dari jauh, kecantikan Mery malah semakin terpancar. Senyuman tipis terbit dari sudut kanan bibirnya.
"Semuanya sudah saya sampaikan, Tuan" ucap Ree, berdiri di belakang Tuan Exanta.
"Persiapkan dua tiket penerbangan ke Turki." ucap Agriel tegas.
"Baik, Tuan."
"Untuk Nyonya—"
"Biarkan saja, dia kira aku sedang di Balikpapan. Semua sudah sesuai rencana bukan?"
"Sudah, Tuan"
"Kandungan Nyonya Anouk, aman." lanjut Ree, tersenyum lega. Janin malang itu masih ada.
"Anak, ayah atau ibu, Ree?"
"Ayah membutuhkan ibu. Ibu membutuhkan anak" jawab Ree. Dan, keduanya pun tertawa singkat.
"Atur perjalanan ku ke Bandung" ucap Agriel.
"Baik, tuan"
***
Di mansion Exanta,
Kedatangan sang nyonya pun di sambut semewah mungkin, contohnya saja dengan memanggil seluruh pekerja menyuruh mereka berbaris rapi dan menunduk hormat. Sedangkan sang nyonya yang disambut hanya mengangguk sekilas dan segera menuju kamar.
"Kemana saja, Anouk?" suara itu berasal dari anakan tangga paling atas. Berdirilah sosok wanita paruh baya dengan perangai lembut. Ia tersenyum cerah, dan berjalan menuju sang mantu.
"Bunda.." sapa Anouk, mencium tangan Lily.
"Dari—"
"Wajahmu kenapa, nak?" tanya Lily memotong ucapan Anouk.
Anouk menggeleng, "gak papa, Bun" jawabnya dengan tatapan sayu.
Mata Lily nampak berkaca-kaca. Dia menyentuh wajah Anouk perlahan, dengan tangan lembutnya.
"Bukan Agriel 'kan?" tanya Lily dengan napas tertahan.
Lily tinggal di Jakarta. Namun, sesekali dirinya menyempatkan diri menengok anak dan mantunya.
Tangis Anouk pecah begitu saja, wajahnya yang pucat kini memerah karena menahan isak tangis yang kian mengeras. Dia bersujud di depan kaki Lily, menyentuh kaki tua itu dengan lembut. Tangannya nampak bergetar, menyatukan kedua telapak tangan, memohon pada Lilyana, ibunda dari suaminya.
"Bunda.. Aku mohon, tolong nasehati Agriel agar tidak kasar padaku." ucap Anouk dengan nada bergetar.
Lily tetap menggeleng, "apa yang kamu perbuat, nak? Agriel tidak mungkin sekasar ini, kalau bukan kesalahan besar yang kamu lakukan." ucap Lily.
"Aku—"
"Berdirilah, kita bicara di ruang keluarga. Tidak sopan, bicara di depan tangga seperti ini." ajak Lily menuntun Anouk menuju sofa besar di ruang Keluarga mereka.
Setelah duduk dengan tatapan mendayunya, Anouk kembali melanjutkan ucapannya tadi.
"Aku tidak mungkin berani pada Agriel, Bunda. Aku selalu menurut. Bunda ingin tahu sebenarnya aku habis kemana?"
"Aku dari rumah sakit. Memeriksakan luka ku, dan membeli obat." lanjut Anouk.
"Kemarin... Agriel pulang dengan kondisi mabuk. Dia berjalan sempoyongan, bau alkohol menguar dari tubuhnya. Aku sebagai seorang istri pun tentu tidak tega, Bunda. Aku menuntun Agriel dan membantu suamiku membersihkan diri. Tapi, ditengah aku membersihkan tubuh Agriel, suamiku itu meminta jatah. Tentu aku mengiyakan, tapi ditengah penggumulan kami, Agriel—"
"Agriel menyiksaku, dia memukul bahkan menampar pipiku kuat-kuat. Aku bagaikan budak, di depannya. Sikapnya pun tetap sama, dia selalu dingin padaku. Padahal aku sudah berusaha menaklukkan sifatnya. Hatinya masih bukan untukku, Bunda." cerita Anouk dengan lelehan mata yang mengalir begitu deras dari pelupuk matanya.
Lily nampak mengerutkan dahinya,
"Jangan membuat anak semata wayangku di benci ibunya, Anouk." suara berat dari laki-laki paruh baya yang masih nampak awet muda itu.
Basta berjalan menuju Lily, mengecup dahi istrinya lama. Tatapan memuja, mendamba, serta sayang yang begitu ketara. Siapapun pasti iri dengan cinta yang Basta berikan pada Lily. Lilyana, bunga kehidupannya.
"Kamu bingung, sayang?" tanya Basta.
Lily pun mengangguk, membenarkan perkataan suaminya.
"Aku pun juga.."
"Selama beberapa minggu terakhir, anak kita sibuk pejalanan bisnis. Jika singgah, hanya sebentar. Mengecek istrinya ada di rumah atau tidak. Lalu, dari mana asal guratan kelelehan itu? Aku pernah melihat guratan kelelehan itu... Ketika kita masih muda bukan?" tanya Basta, menatap Lily.
Yang di tatap otaknya sudah bekelana pada masa-masa muda mereka. Ketika masa itu, dirinya masih malu dan Basta yang selalu membuatnya kelelahan di saat-saat waktu.
"Aku—maksudku bukan kemarin. Ini luka lebam, Pa, Bun." alasan Anouk, menahan rasa gugupnya.
"Oh ya?" ulang Basta terkekeh.
"Kemarin, Desta menelepon ku. Dia mengatakan kamu menginap di sana beberapa hari."
"Jika merindukan ayahmu, tidak perlu sungkan, Anouk. Kami tidak mungkin memutuskan hubungan ayah dan anak." sahut Lily, tersenyum. Ah, wanita cantik itu memang murah senyum.
"Iya Bunda. Aku izin ke kamar" kata Anouk, yang hendak berdiri.
"Anouk... Bagaimana dengan janjimu? Perusahaan ku membutuhkan itu. Begitu pun kamu yang juga membutuhkan—"
"Sedang aku usahakan, Pa. Asalkan Agriel bisa diajak kerja sama, semuanya akan mudah. Suamiku sangat keras kepala."
"Masih satu wanita yang menjadi penghalang mu?" tanya Basta menaikkan alisnya.
"Kalian boleh bermain gila tapi jangan sentuh Mery lagi. Aku akan tetap tersenyum namun bukan untuk kebahagiaan, tapi duka yang akan datang" ucap Lily, dengan senyuman.
Ucapannya memang lembut, tapi setiap katanya tesirat banyak rencana.
Anouk mengangguk, dia segera ke dalam kamar. Drama antara anak mantu-mertua sudah selesai.
"Sayang....."
"Jangan sakiti dia lagi, Basta. Dia hanyalah wanita cerdas yang tidak tahu apa-apa, mengenai dendam mu dengan Desta, begitu pun berkas saham yang di ambil paksa olehnya." potong Lily tegas.
"Aku akan menjadi garda paling depan, dengan Doni melindungi Mery. Dia sudah aku anggap anak sendiri."
"Dan dia pun titik kelelemahan Agriel" balas Basta tidak kalah sengit.
"Manusia mana di muka bumi ini yang tidak mempunyai titik lemah, Basta? Kamu pun demikian. Walau bukan aku titik lemah mu," sontak saja membuat Basta diam.
"Apa? Kau pun juga sama, Basta." tanya Lily seolah menantang suaminya.
"Yang kau cintai tetaplah Lilyana, bukan Lily sekarang." lanjut Lily, tersenyum.
Ia terbiasa tersenyum—sejak dulu. Senyuman menahan sakit, senyuman menahan pedih. Senyuman, dan hanya ada senyuman yang ia punya.
"Jangan memulai" ucap Basta, berdiri.
"Aku tidak memulai. Hanya saja kadang sakit. Di cintai atas nama orang lain." ucap Lily, berdiri dan melenggang pergi dari Basta.
***
"MERY!!! AAA AKHIRNYA AKU BERTEMU DENGANMU!" teriak Huble, dan segera memberikan pelukannya pada Mery.
"Minggu lalu, kita lari bersama, Huble." desia Mery memutar bola matanya malas.
Huble hanya terkekeh geli, "satu hari tanpa mu bagaikan seribu tahun, Mery" goda Huble, dengan deretan gigi kelinci yang ia pamerkan.
"Aw, Umbelku pandai merayu." ucap Ertan, dengan senyuman menggodanya.
Mery menatap kedua manusia itu horor, penuh selidik dan berakhir senyuman khasnya.
"Ada yang balikan sama mantan?" tanya Mery.
"Yah!"
"Tidak!"
Jawaban yang sama, membuat Mery tertawa gemas.
"Jadi dia yang bernama Ertan, Huble?"
"Ya, seperti itulah wujudnya" balas Huble, menatap sinis Ertan.
"Penguntit ulung!" desis Huble, kesal dengan Ertan.
Hallo! Bagaimana tidak kesal coba. Manusia satu itu hampir satu minggu mengikutinya, mengganggunya bahkan menebeng setiap harinya. Padahal si Ertan adalah atasan Huble, penganti posisi Mery dulu. Kaya? Bahkan lebih kaya dari Huble! Alasannya gak punya duit, Huble doakan duitnya Ertan di colong tuyul.
"Umbel, aku tuh lagi PDKT" jawab Ertan, mentoel pipi kanan Huble yang chuby.
"Pipi apa bakpao sih? Gemes banget, kayak squisy!" lanjut Ertan.
Pipi Huble bersemu, dia memalingkan wajahnya.
"Aw! Umbel salting." ejek Ertan.
"SIALAN!" desis Huble, menghentakkan kaki tanda kesal.
"Pergi sana! Pulang naik taksi! Jangan mancak kere kamu!"
"Aku kan emang kaya, sayang."
"Aku gak mau naik taksi! Ihh gak mau!!" hentak Ertan menarik tas rempang Huble.
"Pulang sendiri, Ertan!! Aku mau metime dengan Mery!"
"Temanmu juga malas sebenarnya dengan mu, Umbel. Lebih baik main denganku saja, main tunggangan mungkin?" gayanya seperti om-om pendofil.
"Matamu!" umpat Huble.
"Umbel—"
"PERGI! LAMA-LAMA KU NIKAHKAN KALIAN!" pekik Mery, dan berjalan menuju rumahnya.
Tadi, sepulang dari kantor, dirinya di cegat oleh suara teriakan yang menggelegar milik Huble.
"GARA-GARA KAU—"
Cup
Ertan mengecup pipi kiri Huble dan secepat kilat melenggang pergi dari hadapan Huble.
"Bangtoyib sialan!" umpat Huble, dan segera mengejar lari Ertan.
BERSAMBUNG....