
"Mom, Bunda." Panggil Agriel, berjalan mendekati dua wanita terhebat yang dia punya. Lilyana dan Neanra pun dengan segera mendekat pada Agriel.
Raut wajah Neanra sangat terlihat bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Rasa khawatir dengan segala macam ketakutan kini memenuhi pikirannya.
"Agriel.... Bagaimana kondisi Mery, nak." Ujarnya, yang sudah tidak bisa menampung lagi air mata yang terus mendesak keluar.
Saat itu juga, Agriel langsung bersujud di bawah kaki Neanra. Dengan tangis diamnya, Agriel mencium kaki Neanra. Seribu kata maaf dia lontarkan.
"Mom, dengan berkat Tuhan pada malam hari ini. Aku Agriel, meminta maaf sebenar-benarnya padamu. Lewat takdir Tuhan yang membuatku semakin kuat menjalani kehidupan. Aku meminta maaf kepadamu, Mom Neanra. Anak yang kau lahirkan atas izin Tuhan, kini aku sakiti atas kecerobohan ku. Kasih Tuhan yang senantiasa menyertai langkah seorang ibu, aku meminta maaf sedalam samudera untukmu. Di mana lagi akan ada malam dan siang tanpa kasih seorang ibu. Tangan Tuhan juga tanganmu. Aku meminta maaf, sungguh aku tidak bisa—"
"Agriel sudah, nak. Sudah!" Potong Neanra memeluk Agriel erat.
"Tidak bisa aku tidak memaafkan mu. Aku yang harusnya berterima kasih sudah menyelamatkan Mery dari Basta. Aku yang seharusnya bersujud dibawah kakimu. Tidak ada ujian tanpa sebuah keberkahan di masa depan." Lanjut Neanra.
"Semua sudah terjadi, nak. Menyesal adalah sebagian dari sisihan kasih sayang yang terlewatkan. Biarkan ini menjadi pelajaran kalian berdua. Cinta tidak hanya sekadar kasih, namun juga komunikasi dan kejujuran. Bunda, hanya bisa memberimu nasihat itu." Lilyana tahu bagaimana perasaan Agriel sekarang.
Anak itu rapuh, dengan segala isak tangis yang menjadi. Kacau sekali, dunia memang maafkannya. Tapi, di saat bersamaan, dunia juga memojokkan dirinya. Memang, kesalahan akan tetap kesalahan. Perlu di pahami, kesalahan ada karena pemicu. Tidak mungkin semua ini terjadi tanpa adanya arus yang membawa. Akar dari ini semua hanyalah harta dunia yang tidak ada artinya di mata Tuhan.
"Coba kamu ceritakan, bagaimana kondisi Mery sekarang?" Tanya Neanra. Lilyana pun ikut mengangguk.
Agriel membawa kedua ibunya ke atas, di mana lantai VVIP rumah sakit berada. Di lantai itu hanya ada tiga kamar, yang tentunya setiap kamarnya akan sangat luas. Mengingat hanya orang berkelas tinggi saja yang bisa menyewa ruangan itu.
"Mery mengidap kista ovarium."
"Astaga! Apakah itu sangat berbahaya? Bagaimana dengan rahim Mery, Agriel." Desak Neanra dengan tangisan.
"Neanra, tenanglah. Biarkan Agriel menceritakan semuanya secara tenang juga. Sakit itu ujian. Ujian untuk kita syukuri." Lilyana mencoba menenangkan Neanra walau sebenarnya dia juga ikut terkejutnya dengan kabar duka itu.
"Kista di ovarium Mery sudah ada sejak lama. Kista itu terjadi karena siklus menstruasi Mery yang kacau. Awalnya, Agriel kira Kista yang ada di ovarium Mery hanyalah kista jinak. Karena, dokter saat itu mengatakan bukan masalah, kista Mery pada saat itu hanyalah sebesar zarah. Kalau tidak di rontgen tidak akan nampak. Gejala kista ovarium memang tidak ada, sulit di prediksi ada tidaknya. Makanya, harus ada pengecekan secara rutin pada area panggul setiap bulannya." Agriel menghelakan napas sesaat sebelum melanjutkan ceritanya.
"Dokter saat itu mengatakan bahwa dengan meminum obat secara rutin akan membuat kista itu perlahan hilang. Walaupun tanpa obat juga akan bisa hilang sendirinya. Pada saat itu, aku kira semua tidak akan menjadi masalah serius. Dan, Mery pun terpantau meminum obat secara rutin. Obat itu yang Mery kadang mengira adalah obat KB. Tidak ada yang tahu, bahwa aku sudah melakukan vasektomi pada diriku sendiri. Memang itu menjadi rahasia, yang akhirnya aku bongkar di hadapan kalian."
"Kecerobohan ku yang terlalu menyepelekan kista jinak di ovarium Mery berdampak pada saat ini. Ternyata kista di ovarium Mery tidak sejinak yang di kira. Kista itu tumbuh dengan pesat, karena kelainan sel. Kini, Kista di ovarium Mery sudah sangat besar. Takutnya jika pecah membuat ovarium Mery terpelintir. Itu sangat berbahaya, karena bisa saja menuju pada kematian. Hal itu lah yang membuat Agriel memutuskan untuk mengangkat satu ovarium Mery."
"Ini kesalahanku, Mom, Bunda. Maafkan aku." Tunduk Agriel, tidak berani menatap Neanra serta Lilyana.
Neanra mencoba tersenyum, "bukan, bukan salahmu. Kamu sudah berusaha menyembuhkan Mery. Ini sudah menjadi jalan takdir dari Tuhan. Kalau kita saling menyalahkan hanya akan terjadi sebuah perseteruan yang tidak ada ujung. Ini, mungkin cara Tuhan menyatukan kita semua."
"Benar, nak. Kamu sudah berusaha sampai titik ini. Kamu sudah bekerja terlalu keras pada perjuangan cintamu pada Mery. Bunda akui, Bunda sangat iri dengan Mery yang di cintai sebesar itu olehmu. Ini merupakan alarm dari Tuhan untukmu istirahat dan lebih memperbaiki caramu mencintai Mery. Komunikasi, kejujuran, keterbukaan dan transparan kadang memang perlu. Hubungan tidak hanya berdasarkan cinta saja. Hubungan tercipta karena adanya komitmen yang kuat antar keduanya."
"Di mana Mery, Nak?" Tanya Neanra mengelus pundak Agriel. Tanpa kata, wanita itu telah memberikan semangatnya untuk Agriel.
"Mery istirahat, untuk operasi keretakan pada pinggulnya." Jawab Agriel.
"Mery tahu sakitnya?"
"Hanya keretakan pada pinggul, yang dia tahu. Aku tidak sanggup mengucapkan hal mengerikan itu pada Mery, Mom. Dia pasti akan terguncang. Karena yang paling penting adalah operasi pada bagian pinggulnya dulu. Untuk operasi ovarium, sebenarnya masih ada keraguan. Tim dokter masih ingin memastikan apakah ovarium sebelahnya subur atau tidak. Ditakutkannya jika ovarium sebelahnya tidak subur, Mery akan kesusahan memiliki anak." Terang Agriel.
"Kita berdoa yang terbaik untuk Mery." Sambut Lilyana menyakinkan.
****
Neanra mendekat, mengusap kepala anaknya itu. "Maafkan Mom yang tidak memberitahu kamu apapun Mery." Lirihnya, menahan sebuah rasa sesak tidak berujung di hatinya sendiri.
"Agriel, ayo kita keluar sebentar. Aku tahu, Neanra ingin bicara sendiri dengan Mery. Ada hal yang ingin bunda tanyakan padamu juga" ajak Lilyana meninggal Mery dan Neanra di ruangan itu sendiri.
Pintu tertutup, saat itulah Neanra memegang tangan Mery. Mengenggamnya dengan sangat erat. "Mery, ini Mom." Bisiknya tepat di telinga Mery.
Kening Mery tambah berkerut, seakan bisikan itu semakin membuatnya gelisah.
"Mery, sayang... Ini mom. Mom ada di sini, bukalah matamu, nak. Jangan tidur dengan membawa kegelisahan."
Perlahan namun pasti, mata Mery terbuka. Dengan linangan air mata yang sudah membanjiri kelopak matanya. Bulu mata Mery basah, dengan isakan kecil yang mampu membuat dunia Neanra hancur seketika.
"Mom.... Hiks, Mery rindu sekali dengan Mom."
Mery kecilnya kembali hidup. Entah kapan terakhir kali Merynya merengek seperti ini. Neanra merasa de Javu dengan semua. Dia, melihat sosok peri kecilnya di dalam manik mata Mery.
"Mommy, semua badan Mery sakit. Mery merasa ini adalah sebuah ne—"
"Mery, jangan sekali-kali mengucapkan hal demikian. Dua dunia itu ada ditangan Tuhan. Jangan menyebutnya jika tidak mau Tuhan mengabulkan." Ucap Neanra memotong.
"Hikss... Sakit, mom. Mery ingin meminta maaf pada Mom. Maafkan Mery."
"Apa yang bisa Mom maafkan dari kamu Mery? Tidak ada kesalahan. Kamu tidak melakukan hal salah. Setiap langkahmu, mom selalu berdoa agar jiwa Mom senantiasa menjagamu. Tidak ada kesalahan, sekali lagi mom mengucapkan."
"Tapi Mery pernah membatah Mom. Mery pernah membentak Mom. Mery pernah marah pada Mom. Mery pernah berbohong pada mom. Mery anak—"
"MERY!!!" Pekik Neanra, meloloskan air matanya.
"Tidak ada yang perlu mom maafkan. Kamu tidak pernah membuat kecewa, Nak. Kamu kebanggaan Mom. Sekecewanya seorang Ibu pun tidak akan sanggup mengutuk anaknya. Jangan ucapkan segala itu, karena itu sungguh membuat Mom semakin sakit dan merasa gagal menjadi seorang ibu."
"Hikss.... Mery takut, Mom. Jika Mery tidak di izinkan Tuhan bisa menjadi seorang ibu. Perut bagian bawah Mery sakit banget Mom. Besok Mery akan operasi keretakan tulang pinggul. Ini menyiksa, dua kesakitan dalam satu waktu." Keluh Mery, yang tidak mampu lagi menyimpannya sendiri.
"Mery kuat. Anak Mom adalah anak kuat. Tuhan itu baik Mery. Tidak boleh kamu berprasangka buruk pada zat yang telah menciptakan dirimu. Tidak ada tidak mungkin, hal itu hanyalah ketakutan mu." Nasihat Neanra.
"Bukankah sekarang waktunya untuk semakin dekat dengan Tuhan, nak? Buang segala keraguanmu. Ini ujian dari Tuhan. Nikmati amanah ini dengan baik. Mery kuatkan? Anaknya Mom itu kuat."
Mery mengangguk, dia mendekat pada Neanra. Memeluk tubuh Neanra dengan segala rasa cemas yang mulai memudar.
Yah, dewasa hanyalah tentang umur yang semakin terkikis hidup di dunia. Seberat masalah, serapuh kita kembalinya hanyalah pada seorang Ibu. Tidak akan kamu temukan penenang sebenarnya selain dari ibumu. Kita lahir darinya, sembilan bulan mendekam di perutnya. Dan, pada akhirnya segalanya akan kembali pada pelukan sosok ibu.
Hormati ibumu, maka senantiasa kebahagiaan akan terus menyertaimu. Tidak akan ada ridho Tuhan selama kamu saja membangka pada ibumu. Ibarat kata, keberkahan Tuhan telah di titipkan pada Ibumu.
Sayangi ibumu, ya.
BERSAMBUNG....
Hai! hari ini Nana doubel Update 😆 senang sekali bisa kembali ke dunia NovelToon ini. ELEMERY memang gak banyak yang tahu, cerita ini seperti tersembunyi, iya gak sih? 🤣 itu karena Nana belum kontrak ELEMERY dengan pihak NovelToon. Ada beberapa alasan pribadi kenapa Nana belum siap daftarkan ELEMERY kontrak dengan platfrom ini. Maka dari itu, untuk kamu yang menemukan ELEMERY, bantu Nana untuk Like👍, Komen💌, serta kalau boleh minta vote😂 MAKASIH ORANG BAIK 🥰🙏✨