ELEMERY

ELEMERY
AFTER ENDING : 4 PENERUS



Banyak sekali orang berlalu lalang, berjalan ke sana kemari dengan koper-koper besar mereka. Kostum-kostum mewah nan megah itu harus mulai di lipat dan di simpan. Kelak pasti akan berguna untuk drama selanjutnya. Peralatan syuting juga pun demikian. Di tata serapi mungkin dan sebaik mungkin.


Mery tersenyum, dengan senyuman paling terkesannya. Di samping kirinya, ada Agriel yang juga tersenyum. Mereka berdua melihat betapa sibuknya para kru yang menata dan membersihkan sisa-sisa permainan.


"Teksnya sudah selesai." Awal Agriel membuka pembicaraan.


Mery mengangguk, dan mendudukkan diri di sofa panjang dekatnya. "Ya kau benar, sudah selesai. Padahal belum usai aku menceritakan kisah dibalik diriku serta dirimu. Kita masih mempunyai rahasia."


Santai saja, Agriel meletakkan kedua tangannya di belakang leher. Bersiul dengan gaya manis, dan ikut duduk di samping Mery.


"Tapi kisah kita memang sudah berakhir bahagia. Kau mempunyai banyak anak."


"Sejak awal pun, cerita ini hanya fokus pada kita. Sebagian besar rahasia dirimu, dan sebagian kecil latar belakang ku. Dan sebagain banyak kisah romansa kita."


"Sudah saatnya kita pensiun. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat."


"Satu tahun sejak Neanra memarahiku untuk segera menikah, satu tahun yang lalu aku di juluki perawan tua. Perdebatan Huble dan Ertan, dan konflik keluarga mu yang rumit."


Agriel dan Mery lantas tertawa, sampai keluar air mata sialan itu dari matanya.


"Kalian!!" Sang sutradara itu memanggil mereka untuk naik ke atas panggung.


"Ayo Agriel, kita ucapkan salam perpisahan dengan mereka." Ajak Mery mengulurkan tangannya.


Agriel mengedipkan matanya satu dan lantas berdiri menerima uluran tangan Mery.


Di atas panggung yang megah dan mewah itu, Agriel dan Mery berdiri. Menatap dengan intens Bella yang duduk dengan Neel di kursi paling depan. Ada Aksera dan Aksara yang mengampit seorang gadis manis. Di belakangnya ada Donan yang merangkul dua wanita sekaligus. Jangan lupakan si cantik Angkara, yang tersenyum dengan duduk sendirian.


"Kisah mereka sudah bisa ku baca." Bisik Mery pada Agriel.


"Yaa, bersiaplah menjadi kakek nenek."


"Ayoo cepat!" Bisik sang sutradara tidak sabaran.


Mery dan Agriel menunduk, "terima kasih." Hanya satu penggal kata dan tirai besar itu tertutup rapat. Sorak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan teater tersebut. Haru tangis Nandhaya dan Wick, si buyut yang lupa di sebut karena mungkin mereka duduk terlalu depan. Dan Neanra dan Lilyana yang dianggap hanya sebutir debu, karena duduk terlalu memojok.


"Tinggal menunggu kabar duka atas kematian mu." Nandhaya mengelap air matanya.


"Jangan lupakan bahwa kau juga bau tanah!"


"Oh astaga Neanra!! Aku berakhir menjadi seorang janda?" Lilyana menggerutu, dengan raut wajah kesal.


"Kau kira hanya kau? Bahkan aku sudah menjadi janda tidak laku sejak bertahun-tahun."


"Hidup kita tragis."


"Sebab kau bukan pemeran utamanya!"


"Ya kau benar. Segera ajukan permohonan pemeran utama ke sutradara."


"Untuk apa?" Tanya Neanra menarik tangan Lilyana.


"Kau lebih baik duduk, dan menunggu cerita baru versi mereka. Menjadi pemeran utama banyak ujiannya, lebih baik menjadi seorang nenek atau ibu yang sok menasehati. Duduk manis seraya menonton aksi baku hantam, tangis dan kebahagiaan. Itu lebih baik, Lily!!"


"Benar juga. Kau semakin pandai."


"Sejak dulu pun aku memang sudah pandai."


****


Donan Obrama Putra


Seluruh jari-jari kanannya di penuhi tato, dengan banyak gambar menyeramkan tapi menurut Donan itu adalah seni yang paling dia sukai. Memegang kemudi, dan menggesernya ke kanan dan kiri. Meliuk-liuk mobil sport ganas modifikasinya sendiri. Knalpot yang menggebor memenuhi jalanan yang cukup padat.


Menyalip, dan nyaris menabrak pembatas jalan tidak membuatnya gentar untuk berhenti. Tangan kekar berototnya lantas mengambil nikotin gulung panjang yang ada di saku celananya. Membakar ujungnya, dan menghisap kuat sampai menjadikannya asap memenuhi mobil.


Hari masihlah pagi, tapi Donan sudah membuat keonaran di sepanjang jalanan kota. Menyelipkan ban belakangnya, menemukan kuat pedal rem, dan mengencangkan pinjakan gas. Membuat mobilnya berputar-putar membuat pusing. Decitan api yang terkumpul dengan debu berterbangan. Donan menghentikan mobilnya, sampai berbunyi decitan galak yang mampu membuat siapapun menutup telinganya karena bising.


"Hai baby!" Sapa Donan, merangkul pacar sekiannya. Wanita itu lantas meneguk ludahnya susah payah. Aksi keren Donan mampu membuat di bawah sana basah! Ini gila! Tidak sia-sia dia menggoda Donan yang keren serta kaya raya.


"Uh~ very cool!" Pujinya berjinjit dan memberi hadiah kecupan manis di pipi pacarnya.


Donan tersenyum kecil, dan merangkul pinggang kekasihnya itu. Menggiringnya ke dalam mobil dan mendudukkannya di jok sebelah kemudi.


"Duduk yang manis, sayangku. Segera list kita akan ke mana saja hari ini!"


"OMG!! tentu kita akan memborong isi mall. Benarkan begitu?"


"Apa imbalanku?" Tanya Donan, mengedipkan satu matanya.


Wanita meraih kerah baju Donan, memberinya kecupan manis di pipi kanan pria itu. Dan terakhir hisapan kecil di leher Donan.


"Aku siap menjadi saksi keperkasaan mu, Tuan Donan." Bisiknya.


"Aku tunggu." Dan tanpa aba-aba Donan mengencangkan pedal gasnya meluncur dengan aksi onar yang dia buat. Siapa yang peduli? Siapa yang berani? Bahkan polisi pun tunduk dan takut dengan Donan.


Dia santai dan pemakan wanita. Tapi ketahuilah, dia juga cukup berbahaya hanya untuk candaan belaka.


****


Therial Aksera Putra Exanta.


Pertegaskan lagi bahwa Aksera adalah seorang kakak! Sedikit menyebalkan saat orang-orang beranggapan bahwa dia adiknya. Apakah hanya karena namanya Aksera? Cih! Pemikiran orang awam memang sempit.


Dia yang keluar terakhir pada saat itu, Aksara lebih dulu. Pendapat ayah dan ibunya dia memang harus bernama Aksera karena dia yang menjaga Aksara. Huruf a selalu ada di depan, tapi vocal hidup yang mempunyai banyak bacaan adalah huruf e. Kau paham? Jika tidak jangan pikirkan terlalu rumit. Itu cukup membosankan.


Aksera yang tampan namun juga dingin. Raut wajahnya datar, sedatar triplek. Tidak ada ekspresi berlebih yang bisa ia tampilkan. Badan kekarnya, pahatan sempurna wajahnya memang membinus siapa pun yang memandang. Tapi sayangnya, hati yang di miliki cukup keras dan tegas.


"Aksera!!" Panggil Bella yang datang dengan perut besarnya.


Aksera mundur, dia tidak menyukai Bella. Gadis itu terlalu cerewet dan manja.


"Kau kenapa? Merasa ilfeel dengan ku?" Sinis Bella.


"Awas kau! Lebih baik meminta bantuan pada Aksara daripada muka triplek seperti kau itu. Menyebalkan!!! Awas saja jika suamiku sudah pulang!! Ku adukan kau padanya!!" Geruntu Bella, membuat Aksera menutup telinga.


"Berisik!" Satu kata dan dia pun pergi.


"Ku kutuk kau akan mendapatkan gadis manja!! Cerewet!! Ceroboh!! Kutukan ibu hamil sangat manjur asal kau tahu!!"


Aksera berbalik badan, menatap tajam Bella. "Kutukan itu akan berbalik ke anakmu!"


Ketar ketir sudah Bella dibuatnya, dengan ocehan kekesalan Aksera meninggalkan Bella.


***


Therial Aksara Putra Brahtara.


Pria itu terlampau manis dengan aura cerianya. Kacamata yang bertengger apik di cuping telinga menambah kesan friendly serta manis. Tersenyum ramah pada setiap gadis yang menatapnya, tidak hanya gadis saja pada setiap orang yang melihatnya pun akan dia balas dengan senyuman manis.


Aksara, penyuka senja dan buku sains itu memang gemar berdiam diri di perpustakaan atau di kamarnya. Tapi tidak semata-mata dia akan berdiam terus-menerus. Aksara itu tipe cowok pintar namun juga kalem. Siapapun pasti akan menyukai pria itu.


"Aksara." Panggil seorang gadis dengan malu-malu. Seorang gadis dengan wajah polos dan kacamata bundar itu menunduk tidak berani menatap wajah Aksara.


"Ya ada apa?" Tanya Aksara. "Cobalah untuk menatap lawan bicaramu, tidak sopan jika terus menunduk" ajarnya membuat gadis itu mendongak.


Darah keluar dari hidungnya, tanpa banyak waktu gadis itu pun pingsan di hadapan Aksara.


Samar-samar, terdengar suara "ya Tuhan! Malaikat apa yang sedang kau turunkan di bumi ini."


Aksara pun tersenyum hampir saja dia tertawa. "Apakah aku setampan itu? Sepertinya harus segera dibuatkan patung replika untuk membuat haluan para gadis itu semakin lancar." Sombong dan tenggil. Walau Aksara itu terlihat kalem nan menawan tapi ketahuilah bahwa dia tipe laki-laki sombong, yang suka membusungkan dadanya saat di puji.


Bukannya menolong, Aksara malah memanggil sekuriti untuk membawa gadis itu ke rumah sakit. Sedangkan dia, mengeluarkan ponselnya dan lalu berselfi.


"Kian hari kian tampan saja aku. Pantas saja mereka tambah tergila-gila." Terkadang memuji diri sendiri itu di butuhkan.


****


Margaretha Angkara Helen putra Wick-Hely.


Pantas jika dia disebut sebagai cowok cantik. Rambut yang sengaja di panjangkan, dengan dicat merah di bagian depan, membuat kesan sangat dan menawan tersendiri untuk Angkara. Postur tubuh Angkara pun lebih tinggi dan kekar daripada kakak-kakaknya. Otot perutnya terbentuk sempurna, sebab Angkara menyukai hal berbau olah-raga.


Bulumatanya pun lentik, dengan kulit putih bersih. Tidak heran jika banyak wanita akan insecure melihat betapa mulusnya ciptaan Tuhan satu ini. Apakah Tuhan enggan membuat pori-pori di kulitnya? Bahkan di zoom ribuan kalipun tetap mulus.


"Kar!!" Panggil Donan, membanting pintu mobilnya dan berlari menuju Angkara yang tengah duduk manis bermain laptop.


"Gak usah teriak-teriak."


"Temenin gym."


"Bentar, sepuluh menit lagi. Tugas kuliah belum selesai. Kalau gak sabar sama Kak Aksera atau Aksara aja."


"Nanti aja tugasnya. Ayo cepat, Kar!"


Mata tajamnya menatap Donan dengan tatapan curiga. "Kamu promosiin aku lagi?" Tanyanya dengan nada mengancam.


"Enggak, buruk banget pikirannya sih, dek."


"Jangan panggil dek, geli banget sumpah!"


"Ya udah enggak. Ayo Kar! Lama banget gak gym nih."


Angkara pun menutup laptopnya dan berdiri menghadap Donan. "Aku suka gym. Tapi gak suka sama cewek."


"Why??"


"Mereka terlalu norak!" Tungkas Angkara dan hendak pergi meninggalkan Donan. Namun, langkahnya terjeda, "kalau gym di rumah ayo. Kalau di luar gak dulu. Trauma!"


"Ck!!" Decakan Donan yang terdengar jelas.


"Gak Aksara, Aksera, semuanya gak suka sama cewek. Kalian itu kenapa sih??" Tanya Donan mengikuti langkah lebar Angkara.


"Cewek itu nikmat, bro!! Ayolah, jangan terlalu sopan lah. Kalian kan laki-laki. Cinta sejati itu butuh di cari!"


"Itu pemikiran kamu."


"Emang ada yang salah? Kalian itu terlalu nurut. Sekali-kali berani, seru tahu."


"Kak, wanita itu punya kehormatan yang tinggi. Kalau pun mereka menggoda, itu sudah menjadi kodrat mereka. Tidak perlu usik, dan kita sebagai pria cukup menghindar. Tuhan tengah menata kehidupan kita. Cukup berikan pelayanan terbaik mu. Cinta sejati memang butuh di cari, dan carilah dengan cara sejati pula. Selamat siang, haleluyah. Semoga berkat Tuhan senantiasa bersamamu."


Donan pun memutar bola mata malas. Salah memang membujuk si Angkara yang begitu taat.


"Ya! Haleluyah Tuhan Yesus!" Teriak Donan mengangkat tangannya tinggi.


"Kau kenapa Donan?" Tanya Mery yang datang dari dapur membawa kue buatannya.


"Belikan aku kalung salip, Ma. Agar Tuhan senantiasa memberiku berkat. Haleluyah!!" Teriaknya lagi.


Mery pun menatap dengan tatapan tak terbaca. "Apakah Desta terlalu keras mendidiknya? Sampai-sampai dia seperti orang gila." Gumam Mery yang hanya dapat bingung dengan sikap aneh Donan hari ini.


***