ELEMERY

ELEMERY
MENJEMPUT BELLA 2



Kediaman Mery membuat senyuman Agriel pun juga menghilang. Kebahagiaan yang tadi terasa meriah kini meredup entah pergi ke mana. Dua insan itu nampak sama-sama diam. Tidak ada sepatah kata hingga sebuah sorotan kekhawatiran kuat dari Mery terlihat jelas. Mata Agriel meloroh tajam, mendengus sesaat lalu merekuh Mery semakin kuat.


"Kenapa Mery?" Tanya Agriel, dengan nada berat serak menahan kekecewaan.


"Menikah adalah hal paling mustahil di hidup ku." Jawab Mery, memalingkan wajahnya.


Tangan Agriel meraih dagu Mery, memegangnya guna kontak mata itu saling beradu pandang. Mata Mery berkaca-kaca merasa intimidasi dari Agriel meluluh lantakkan pertahanannya.


"Kau meragu? Atau takut menghadapi sebuah komitmen seumur hidupmu, Mery sayang?" Tanya Agriel berbisik. Mery menggeleng keras, dia menangis sesenggukan di hadapan Agriel.


"Aku takut, Agriel" ujar Mery berbisik lirih. Hampir tidak terdengar.


Agriel menghela napas, lalu tangannya semakin merekuh tubuh kecil Mery. Mengelus punggung kekasihnya itu, dan memberi banyak kecupan di wajahnya. Pipi Mery bersemu merah, antara malu dan sedih yang bercampur menjadi satu.


"Dengarkan aku, Mery!" Perintah Agriel, dengan nada tegas. Lantas, atensi Mery pun berubah penuh meloroh mata tajam Agriel.


"Apa yang kau takutkan? Menikah memang tidak diwajibkan, tapi dengan menikah kita mempunyai status yang jelas. Dimana letak bahagia itu pun juga sama jelasnya. Kebudayaan yang kita serap memang sama-sama di luar perkiraan orang-orang di tempat ini. Aku tahu dan paham itu. Tapi bukan berarti kau akan selamanya hidup diantara ketidakjelasan."


"Tidak ada hal yang membuatku takut akan sebuah pernikahan Agriel! Tidak ada! Sama sekali!" Sertak Mery, dia menatap Agriel dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Tapi orang yang akan menikahi ku!" Lanjutnya.


Agriel terkejut dengan apa yang dia dengar. "Apa yang kurang dariku Mery sayang?"


"Kau memang memberi ku sebuah banyak kelegaan tapi di satu sisi aku merasa di curangi Agriel. Siapa yang kau sembunyikan saat ini? Aku hanya butuh kejujuran di dalam hubungan kita! Tidak lebih dari itu! Bisakah?" Tanya Mery kian melemah. Dia juga sama lelahnya, merasa diangkat tinggi namun di satu sisi ada yang lebih tinggi. Ingin merasa bahagia namun, ada yang lebih bahagia. Sifat Agriel penuh tanda tanya, yang membuat Mery harus berpikir keras.


Dalam sebuah hubungan, yang ingin Mery dapatkan hanyalah kejujuran, selain itu tidak ada.


"Apa yang ingin kamu tanyakan Mery?" Tanya Agriel luluh. Dia memeluk Mery erat, seakan tidak sanggup untuk melepaskan kehangatan itu.


"Kejujuran mu Agriel." Jawab Mery.


"Tidak ada hal yang aku sembunyikan. Aku sudah terbuka kepada mu. Aku tahu ini salah ku yang dahulu. Terlalu banyak berbuat bohong, sampai membuatmu trauma dengan diriku. Maafkan aku Mery, aku mengerti. Kita jalani semuanya secara pelan-pelan saja, ya? Kita bangun rumah tangan ini secara baik-baik."


"Mery, mungkin tidak ada kata romantis yang bisa aku ucapkan. Tapi, yang pasti dan jelas, mata ini hanya mampu menghangat ketika menatap mu. Banyak wanita di dunia ini, dan aku hanya sanggup mencintai mu. Hatiku penuh akan namamu Mery. Apapun aku perjuangkan untuk mu. Dan, sekarang, maukah kau menikah denganku Elemery Exanta?" Tanya Agriel, menatap dalam sosok Mery.


Mery tersenyum kecil, "sejak kapan namaku berubah?"


"Sejak dulu, sejak aku menganggapmu adalah sebagian duniaku." Balas Agriel.


"Jawaban apa yang kamu minta Agriel? Ya, Aku mau, Yes atau Kapan kita akan menikah?" Tawar Mery, membuat Agriel tersenyum lebar. Rasa-rasa baru kali ini Agriel tersenyum selebar ini. Bahkan saking senangnya, Agriel tidak bisa bicara. Ini terlalu sulit di deskripsikan.


"Aku memilih opsi terakhir, dan jawabannya setelah kita menjemput Bella." Jawab Agriel, meraih tubuh Mery dan me-lu-matnya dengan rakus. Seakan menyalurkan semua rasa takutnya, serta bahagianya lewat perlakuan hangat itu.


"I love you, Mery."


"Love you to Mr.Agriel."


****


Selang beberapa hari, Agriel dan Mery terbang kembali ke Turki. Mereka akan menjemput Bella.


"Bagaimana jika setelah kita menikah, Bella tinggal dengan kita Agriel?" Tawar Mery, menyandarkan kepalanya di bahu Agriel.


Agriel mengecup sekilas puncak kepala Mery, "aku juga berpikir demikian."


Mery tersenyum, dia mendongak dan memberi kecupan balasan kepada Agriel. "Setelah itu kehidupan kita akan benar-benar baru di mulai. Di mana aku hanya menginginkan satu,"


"Apa?"


"Kejujuran" ucap Mery, dan memejamkan matanya. Rasa kantuk semakin berat, dan pada akhirnya menghantarkannya pada alam dibawah sadar.


Agriel tersenyum kecil, "ya sayang, akan aku kabulkan. Kau akan segera mengetahui semua itu, setelah aku berhasil menyatukan Basta dan Desta." Bisik Agrie, dan mengelus pipi kemerahan Merynya.


Mery terbangun karena guncangan kecil yang mengusik tidur nyenyaknya. Mata indah itu mengejap beberapa saat setelahnya baru terbuka dengan lebar. Menatap Agriel dengan kening berkerut tanda bertanya.


"Sebentar lagi sampai Mery, bangunlah. Tidak sabar kah menjemput Bella?" Tanya Agriel mengecup kening Mery.


Mery tersenyum kecil, dan mengangguk bersemangat. Pandangan di luar menarik perhatian Mery, membuat kepala wanita cantik itu menoleh dan menatap apa yang ada di sana. Saat itu, kota Bolu tertimbun salju yang dingin, membuat Mery tidak begitu jelas melihat pemandangan kota yang indah itu. Ternyata saat musim semi seperti ini, rerumputan hijau dengan bunga-bunga cantik menghiasi penuh pinggir jalan. Matanya seakan dimanjakan oleh pemandangan itu.


"Kota Bolu yang asli memang seperti ini Mery, hijau dan subur." Celetuk Agriel.


"Tidak menyangka kalau sebagus ini."


Rumah Neel ini seperti tidak ada penghuni. Sudah dua kali Mery datang ke sini, dan penampakan sunyi bak rumah kosong selalu Mery dapatkan. Rasanya sangat waspada pada sosok Neel, teman Agriel ini. Apakah sesibuk itu? Apakah memang dia manusia yang anti keluar rumah? Berarti, selama ini Bella berada di bawah naungan Neel setiap saat.


Mereka serumah, laki-laki dan perempuan. Rasa takut itu memang kerap hadir di benak Mery. Walau bukan ibu kandung Bella, tapi hati Mery untuk Bella sepenuhnya tulus. Apapun yang membuat Bella sakit, maka Mery berlipat kali lebih sakit.


"Kosong. Setiap kita ke sini selalu kosong Agriel." Mery berani melontarkan kalimat yang ingin sekali dia ucapkan sadari tadi.


Agriel bergumam tidak jelas, "aku juga tidak tahu sayang. Sudah coba aku hubungi tapi si Neel tidak cepat menjawab"


"Aku telpon Bella, kau terus hubungi Neel." Agriel mengangguk singkat. Dan kedua orang itu asik menghubungi dua manusia yang entah kemana itu.


"Tidak aktif." Ucap Agriel.


"Nomer Bella salah Agriel." Ucap Mery. Agriel mendekat dan mencocokkan nomor itu, dan sama. Tidak ada angka yang tertinggal.


"Coba aku hubungi, Mery." Hasilnya pun sama, nomer itu sudah tidak aktif lagi.


"Kita duduk dulu, pasti mereka keluar." Ajak Agriel, mengarahkan Mery untuk duduk di depan deras rumah itu.


Cukup memakan waktu, mungkin hampir satu jam. Mobil Neel nampak masuk ke halaman rumahnya. Neel lantas langsung turun, di susul Bella dengan baju penuh cat.


"MAMA PAPA!!! BELLA KANGEN SAMA KALIAN!!!" teriak Bella, bocah itu langsung memeluk tubuh Mery dengan erat.


"Bella.... Love you so much babe!!" Bisik Mery, dan memangku Bella di pangkuannya.


"Udah lama? Maaf, handphone aku tadi kehabisan baterai. Dan, nomernya Bella emang ganti setelah insiden handphone ketinggalan di tempat wisata dan hilang. Aku lupa kabarin kamu, Griel. Benar-benar lupa, karena pada saat itu Bella juga panik, aku ketularan paniknya." Jelas Neel.


Agriel mengangguk, "dari mana tadi Neel?" Tanya Agriel.


"Nganterin Bella les lukis. Sejak kalian balik lagi ke Indonesia, Bella mau les lukis. Sebenarnya tadi cuman mau nganter, tapi cat akrilik Bella habis dan mau gak mau aku beliin dulu. Eh, sampai sana kepo lihat Bella lukis apa. Ternyata lukis kamu sama Mery." Cerita Neel, membuat Agriel menoleh pada Bella yang asik bercerita tentang lukisannya pada Mery.


"Masuk dulu yuk, mau ngerepotin aku kan? Jangan sungkan!"


****


"Jadi, aku sama Mery mau menikah, dalam waktu dekat ini." Informasi dari Agriel sontak membuat wajah sumringah Neel tercetak jelas. Begitu pula Bella yang menatap berbinar kepada Mery dan Agriel.


"Maka dari itu, aku mau ucapkan makasih. Kalau gak ada kamu, aku gak tahu lagi harus percaya sama siapa. Di posisi saat itu juga, aku gak bisa mantau Bella secara intens, aku terlalu sibuk dengan duniaku. Makasih Neel udah merawat Bella sampai saat ini. Waktu beberapa bulan yang gak kehitung ini, gak bisa aku balas pakai rangkain kata apapun."


"Aku juga terimakasih sama kamu Neel, mau merawat Bella sepenuh hati." Lanjut Mery. Neel tersenyum, dia menepuk bahu Agriel sedang. "Kalian ini!! Santai aja. Aku juga di sini sendiri. Bella anaknya nurut, gak banyak tingkah malah berprestasi di sekolahnya. Aku turut senang, kalian bisa bersatu lagi. Cinta kalian kuat banget!!" Neel mengacung jempolnya.


Agriel tertawa, lalu menatap Bellanya dengan rasa rindu sekaligus tatapan serius.


"Bella..." Seru Agriel, membuat anak itu tersentak sesaat dan menatap balik Agriel.


"Iya Pa." Jawab Bella.


"Besok kita pulang ya ... Kamu akan tinggal di Indonesia bareng mama Mery dan papa. Sama. Seperti cita-cita kamu waktu itu, kamu senang?" Tanya Agriel.


Bella terdiam, dia menunduk dan meremas rok yang dia gunakan. "Selamanya?" Tanya Bella.


"Selamanya di Indonesia? Ya enggak dong, kamu bakal papa ajak jalan-jalan ke luar negeri kok."


"Bukan itu maksud Bella, Papa!"


Dahi Agriel mengerut tanda bingung. "Lantas?"


"Bella senang banget akhirnya papa dan mama bersatu. Bella bangga banget punya kalian berdua. Bella juga sangat bersyukur waktu itu papa sama Mama adopsi Bella. Tapi, Bella udah terlanjur sayang sama Kota Bolu ini, Pa. Bella udah nemuin hidup Bella di sini. Bella udah nemuin jati diri Bella di sini Pa. Bella gak sanggup kalau pisah sama teman-teman Bella di sini. Bella mau ke Indonesia, tapi setelah itu kembali lagi ke Turki. Maafin Bella, Ma, Pa, buat kalian kecewa."


Agriel terdiam, begitu pula Mery yang langsung menunduk.


"Sayang, maafin kami yang waktu itu—"


"Ma, bukan salah kalian. Bella cuman takut kalau Bella bakal pisah sama jati diri Bella sendiri. Bella gak bisa lagi adaptasi di lingkungan baru. Bella sudah terlanjur nyaman di sini ma. Maafin Bella, Ma" potong Bella, membuat Mery diam tidak berkutik.


"Jika memang itu keputusan kamu, sudah kah kamu bicarakan dengan Uncle Neel? Tidak mungkin papa membiarkan kamu tinggal di apartemen sendirian, di umur yang sedini ini, Bella." Putus Agriel. Mery menoleh kepada Agriel, memberi kode bahwa dia tidak setuju dengan keputusan itu. Namun, Agriel pun juga tidak bisa memaksakan Bella.


Anak itu, pasti ada sesuatu di sini. Sampai-sampai menolak keras untuk pergi. Dan, Agriel akan mencari tahu.


BERSAMBUNG....