
Agriel menghelakan napasnya, menatap bosan pada wujud Ree yang semakin lama, semakin tenggelam ditelan lorong.
"Ck!" decaknya kesal.
"Bisa minggir, tuan yang terhomat?"
Agriel pun melangkah maju, dengan sorot mata tidak lepas dari ranjang dokumen yang dibawakan Ree. Kenapa tiba-tiba Agriel jadi menyesal ya. Padahal berkas yang dibawakan Ree adalah berkas penting, keputusannya, tandatangannya pasti di perlukan. Bayangan Agriel tertuju pada angan, di mana dia berubah menjadi miskin dan Mery kesayangannya pun ikut pergi.
Bergidik ngeri, Agriel sampai menaikkan bahunya takut. Amit-amit! Jangan sampai! Bisa hancur imagenya sebagai presdir yang kaya raya dengan harta tujuh turunan, tujuh tikungan, tujuh kebelokan dan tujuh galian. Kaya? Indentik dengan harta yang melimpah—di dunia, pertanyaannya apakah ada yang abadi?
Jika pemikiranmu dunia novel sungguh indah, maka duniamu bukannya juga indah? Karena sebagian dari adegan novel adalah adaptasi pemikiran penulis dari dunia nyata. Entah di lingkungan sekitarnya ataupun hanya sebatas haluan semata. Halu itu datang karena di pancing oleh angan dan harapan. Tidak mungkin ada yang ingin menjadi kipas angin, tanpa ia melihat dulu wujudnya kipas angin. Paham? Jika tidak, juga bukan masalah.
Mery mendengus kesal, meremas ****** Agriel—yang ia colong dari almari pakaian pria itu. Dada Mery sesak, penuh dengan rasa kecewa dan marah yang masih membekas. Coba saja bayangkan, di posisi Mery dulu. Mempunyai sahabat, tapi malah nikung. Sudah membayar sewa sana sini, dengan jumlah tidaklah sedikit, dengan uang tabungan dan untungnya saat itu Neanra masih menjadi boss. Tapi hasilnya? Mery gagal menikah dengan jutaan penyesalan dan kesedihan.
Yang pergi memang kadang segan untuk kembali, yang datang pun tidak selamanya akan datang. Ah, dunia penuh dengan tipu-tipu.
Rasa kesal semakin kesal ketika melihat wajah Agriel yang nampak melamun. Jika dulu wajah Agriel adalah pangeran berkuda putih di matanya, kini wajah itu lebih pantas Mery sebut sebagai bangkong! Menjijikkan!
"Di mana pintu keluar?" tanya Mery, mengertakkan giginya kesal. Ingin rasanya Mery menghunus banyak anakkan panah di dada Agriel. Membolongi kepalanya dengan linggis, jika tidak jijik Mery pun ingin membuat nasi goreng hati, langsung dari organ hati milik Agriel. Sialan! Ide bodoh macam apa itu.
"Di sana!" ujar Agriel tanpa sadar, dasar bodoh!
Kakinya saja sudah lemas, bak jelly tanpa agar-agar. Mery lemah, menatap wajah Agriel. Berbohong itu memang perlu, tapi alam bawah sadar kejujuran itu pun begitu ketara. Biarkan saja rasa sakitnya dulu sebagai pelengkap masa lalunya. Mery kapok, ia tidak akan mau menikah! Bualan saja jika saat itu dirinya berjanji pada Neanra.
Janji adalah hutang. Si penagih lupa, yang si penghutang pun ikut lupa. Eksposisi singkat lika-liku dunia perhutangan. Lupakan, karena membahas masalah hutang sangatlah pembahasan sensitif. Sensor!
Terseok-seok tubuhnya berjalan. Menahan rasa sakit di hati begitu pun rasa kaku di badannya. Astaga, sudah berapa hari Mery tidak bangun dan terus tertidur itu? ******* rasa lelah begitu pun di iringi dengan kekesalan yang hakiki.
Agriel menghempaskan tangannya asal ke udara. Masih ada si tua bangka, kenapa risau dengan harta gono-gini. Sudahlah, serahkan semua pada sang pencipta novel ini. Bahagia, pun sedih sudah tertulis pada outline.
Matanya memincing, menatap tajam penuh sorot amarah pada kasur yang kini kosong dengan infus yang dipaksa lepas. Agriel langsung berbalik dan berlari secepat cahaya kilat.
Terdapat punggung Mery yang kecil, terlihat menahan sakit. Perlahan menuruni anakkan tangga. Agriel tersenyum merekah. Dengan jalan lambat bak siput itu, tidak usah berlari maraton, cukup berjalan mengendap dan tangkap wanita itu.
Usaha yang menghasilkan hasil, walau pun lelah dengan keringat membasahi tubuhnya. Mery menghelakan kelegaan.
"Hei kamu!" tunjuk Mery pada seorang pelayan yang membawa pakaian bersih.
"Iya nyonya?" tanyanya, menunduk hormat.
"Jangan panggil Nyonya, aku tidak suka." tungkas Mery cepat. Kepalanya pening bukan main.
"Maaf, nona.." ucapnya.
"Kau tahu di mana pintu utama rumah ini?" tanya Mery cepat, tidak ingin membuang-buang waktu.
Pelayan itu melirik pada Agriel yang menatapnya tajam. Menusuk dan seakan ingin mengulitinya saat itu juga.
"Maaf, Nona.. Saya permisi." Tidak menunggu banyak waktu, pelayan paruh baya itu segera pergi dari sana. Berurusan dengan majikan adalah hal pertama yang perlu mereka hindari. Jangan sampai karena dua patah kata, menyebabkan mereka menjadi gelandangan.
Mery mendesah frustrasi. Bahkan menjambak rambut lepeknya dengan kesal. Kepalanya sangat amat sakit, ditambah bekas jabutan infus itu mengeluarkan darah, sialan! Desisnya. Dengan tekat yang telah membulat, Mery pun berjalan tak menentu arah. Di situ ada pintu, maka akan ia buka. Hal itu pun tidak luput dari pengawasan Agriel. Menahan rasa iba sekaligus marahnya, melihat Mery yang bisa di bilang nekat.
Apa susahnya menurut dulu? Bukankah wanita itu lebih bisa merasakan kondisi tubuhnya? Tidak bisakah Mery sedikit saja menurunkan rasa bencinya? Bukan untuk masa lalu menyeramkan itu tapi untuk kesehatan tubuhnya. Tidak habis pikir, dan pada akhirnya Agriel geram. Dia berjalan menuju Mery, dan mengangkat tubuh wanita itu ala mengangkat beras, di selampirkan di pundak.
"LEPASAN! DASAR BAJ1NGAN KOLOT!" sertak Mery, bersumpah serapak. Memukul pun rasanya percuma, tapi mengigit keras cuping telinga Agriel sampai mengeluarkan darah pun hanya memberikan efek sedikit kaget oleh pria itu.
"Diamlah, Mery! Jangan bertindak seperti anak kecil kurang didikan!" desis Agriel, menahan rasa sakit di cuping telinganya.
"Dan kau bertindaklah sedikit waras wahai tuan bodoh! Badanku sakit, dan kau mengangkat tubuhku bak seorang pela*cur!" pekik Mery.
Langkah Agriel berhenti. Berbalik arah, dan menurunkan Mery di meja panjang tempat aksoris penghias ruangan itu. Melemparnya kasar, sampai beberapa vas beling itu pecah. Suaranya tentu membuat beberapa pelayan kaget, namun hanya bisa diam. Tanda bahwa tuannya sedang marah.
Agriel mendudukan Mery di sana, mengapit tubuh Mery. Mencekram kuat rahang Mery yang menirus itu. Rambut wanita itu pun acak-acakkan. Tapi sayangnya, wajah Mery malah memancarkan kecantikan yang seakan abadi. Sejak SMA, dan cantik itu pun tetap sama.
"Jangan pernah kau ulangi ucapan kasarmu, Mery." desis Agriel, menyedot pipi Mery. Salivanya jatuh membentuk jaring laba-laba. Mata Mery berkaca-kaca, dia menatap Agriel penuh amarah yang tertahan.
"Kau bukan pela*cur!, aku benci mendengar ucapan kotor mu, Mery. Sejelek-jeleknya aku jangan sampai kau menjelekkan dirimu." lanjut Agriel, menempelkan hidung mancungnya di depan hidung mancung Mery. Saling bergesekkan, dan mencium sekejap bibir Mery yang menggoda.
"Maafkan, aku" bisiknya, menenggelamkan kepalanya di atas dua bulatan besar Mery.
"Maafkan aku Mery... Sayang maafkan aku." ulangnya.
Tangis pun keluar beserta penyesalan terdalam. Di iringi pelukan yang semakin mengerat. Tubuh Mery benar-benar lemas, jatuh begitu saja. Hatinya lunglai tanpa tahu tujuan.
"Kau ingin tahu sebuah cerita?" tanya Agriel, memeluk tubuh Mery. Menaruh kepalanya di cekuk leher Mery. Menghirup lamat nan dalam aroma yang menjadi candunya.
"Akan aku ceritakan, semuanya..."
"Mery, aku terpaksa meninggalkanmu tanpa pamit. Aku menghilang tanpa jejak. Semuanya tidak ada yang tiba-tiba. Aku di paksa juga Mery. Paksaan papaku yang menyuruhku menikahi wanita itu. Aku diancam. Hidupku pun—"
"Bisa kau hentikan bualan mu, tuan? Jujur, aku muak!" tandas Mery memotong ucapan itu. Lelehan bening pun sudah keluar begitu saja.
"Mery.. Sayang, tolong—"
"AKU MUAK! BISAKAH KAU BERHENTI MENGOCEH?" tanya Mery dengan suara tingginya. Memekik begitu saja.
Turun dengan cepat, dan mendorong tubuh Agriel. Dia lelah, telinganya tidak mau menerima bualan kosong Agriel. Biarkan argumennya selama ini benar. Karena bagi Mery, masa lalu biarkan masa lalu. Walau jejak bekas sejarah itu ada, tapi cukup sampai di sini cerita itu. Jangan sampai terulang dan menjadi sama atau lebih sakitnya. Bersama Agriel, di mata Mery—hanya ada sebuah kehancuran dan kesakitan.
Berlari, berlari sekuat tenaganya. Mencaci maki Agriel dengan sumpahan.
"Di mana pintu keluar?" sertak Mery, menatap tajam Agriel.
"Tidak ada." jawab Agriel, menarik tangan Mery tapi langsung di hempas wanita itu.
"Tidak hanya yang menempati rumah ini yang bodoh, tapi pun arsitektur rumah ini sama bodohnya!" desis Mery. Melirik korden besar itu.
Secepat kilat, Mery menyigap korden besar bewarna cokelat muda itu. Pintu utama ada di balik kain korden.
"Mery!! Kau boleh membenciku, tapi ingatlah kesehatanmu, sayang.." ucap Agriel mencoba membujuk.
"Kesehatan ku mungkin akan membaik di sini. Tapi kesehatan mentalku akan rusak di sini." tungkas Mery. Mencoba membuka pintu mansion itu.
Sial!. Batinnya ketika pintu itu terkunci rapat.
"BUKA SIALAN!" teriak Mery.
"Mery.. Tanganmu berdarah, sudahi marah mu. Lupakan semua masa lalu, kesehatanmu lebih penting!"
"Kau budeg?" tanya Mery, tajam.
"Aku tanya apa, kau jawab apa?" lanjutnya kesal.
"Karena aku sedang membujuk mu, sayang. Bagaimana ada orang membujuk dengan memaki." balas Agriel, mencoba menjinakkna singa betina itu.
"Cih! Kau sepertinya menganggapku remeh, tuan" ancam Mery dengan tatapan paling mematikkannya.
Berjalan mengambil vas, membuat gerakan seakan melemparkan Vas bunga berbahan beling itu tepat ke kepala Agriel.
"Sayang.." ucap Agriel, secara refleks menutup kepalanya.
Pyarr!
Vas itu pecah, dibanting Mery. Gelap dan penuh emosi. Kenangan demi kenangan bersama Agriel terlintas begitu saja. Bagaimana sepengkhianatnya pria itu. Rasa sakit di tipu dan di bohongi adalah hal menyakitkan. Sakitnya membekas sampai kapanpun.
Pecahan vas itu berhamburan di lantai. Serpihannya berceceran di lantai. Mery mengambil salah satu serpihan panjang itu. Tepat di saat mata Agriel terbuka.
"Mery! Jangan bertindak menjadi wanita bodoh!" ucap Agriel ingin meraih serpihan beling itu.
"Kau mendekat, ku putus sendiri urat nadi di pergelangan tanganku!" ancamnya dengan air mata yang mecucur deras.
"Kenapa kau harus kembali hadir Agriel! Kenapa!" teriak Mery memekik keras.
"Kau seakan menjawab betapa sia-sianya usahaku melupakan mu! Kenapa Ya Tuhan!!"
"PERNGKHIANATANMU YANG TIDAK BISA AKU MAAFKAN, BANG*SAT!" teriak Mery merdu.
"Kau bercinta secara terang-terangan di mataku, dengan Anouk! Kau sendiri siapa Anouk! Dia temanku! Kau jahat Agriel! Kau jahat! Sampai matipun aku—"
Secara cepat Agriel memeluk tubuh Mery erat. Dia biarkan beling di tangan Mery mengores tangannya. Biarkan darah di tubuhnya keluar, sebagai bukti betapa bodohnya dirinya.
"Maafkan aku Mery." bisik Agriel.
Dia merekuh tubuh Mery dan mengendong wanita itu ala bride style. Menciumi wajah Mery dengan lembut. Tatapan Mery meneduh, bersamaan dengan isak tangis yang tergugu itu. Menenggelamkan wajahnya di dada Agriel yang kokoh.
"Jadi, peranku adalah simpanan?" tanya Mery.
"Tidak, kau milikku. Peran mu satu, menjadi pendamping hidupku. Tuhan akan memberkati kita. Cinta itu ada, di asuh dan di rawat. Di jaga dan di pelihara." jawab Agriel, mengecupi wajah Mery.
"Sudahi mengamukmu, dulu sayang. Kau masih belum pulih"
"Kau benar, aku bodoh. Seharusnya aku langsung membunuh mu, idi*ot!" tungkas Mery yang membuat tawa Agriel membesar.
"Oh Meryku sayang, kau tetap berlidah tajam di mana pun berada."
BERSAMBUNG....
Yuk ajak yang lainnya untuk baca Elemery 🤩
Terima kasih orang baik 😍💖