
Warning 📌 [ Ada beberapa adegan kekerasan, di mohon bijak dalam menelaah setiap kalimat. ]
Terima kasih.
***
Basta nampak mengepulkan asap rokoknya kuat, menatap Lily yang tengah tertidur pulas dengan piyama satunnya. Wanita itu mempunyai kecantikan yang sangat alami. Bahkan lebih cantik dari bunga Lilynya dulu. Basta akui, Lily benar-benar bunga Lily sesungguhnya. Parasnya, elok rupanya, membuat siapapun mencintai wanita itu.
Sayang, kini Bastalah pemenangnya. Dulu, ketika masih muda, tangannya kerap terkena percikan darah guna mencongkel mata pria yang jelalatan mengagumi istrinya. Basta marah ketika Lily menjadi perhatian banyak orang. Basta pun melarang Lily berdandan. Tidak dandan saja sudah begitu cantik, apalagi jika di dempul?
Walau begitu, hati Basta sampai sekarang tetap tidak karuan. Ia masih di landa bingung dengan rasanya pada Lily. Dia nyaman dengan Lily. Dia sayang dengan Liy. Dia bahkan melakukan apapun untuk melindungi Lily. Dia bahkan rela melepaskan tali persaudaraannya dengan Desta, hanya Lily. Akan, tetapi Basta pun kerap menyakiti Lily. Tidur dengan ja-la-ng. Lebih parahnya, ia mengganti nama sesungguhnya Lily, dengan Lilyana. Yah, nama asli Lily adalah Aiyla.
Ai-nya yang cantik. Tapi sayang harus tejebak dengan jelmaan iblis seperti Basta karena warna matanya sama dengan Lilyana-nya Basta. Ai sempat membenci warna matanya, namun lama kelamaan ia sadar. Yang harusnya di bencinya adalah Basta. Laki-laki biadab yang menggurungnya di sangkar penderitaan.
"Ai.." gumam Basta, pria paruh baya itu meneteskan air matanya. Hatinya bagaikan bergetar ketika mengumandangkan nama itu, nama paling istimewa dalam hidupnya. Aiyla prasasti tyana.
Deringan ponsel memecahkan suasana haru. Dan tergantikan dengan senyuman paling mematikan Basta.
"Desta.. Sedikit demi sedikit. Ku pastikan hidupmu tidak akan bahagia. Kau telah berani membunuh Lilyana ku hanya karena ia tidak sudi menerima lamaran mu." ucap Basta dengan nada tersirat kebencian.
Basta pergi, Lily terbangun. Dia mencium asap rokok, dan akhirnya terbangun. Sayangnya, kenapa harus kalimat menyakitkan itu lagi? Sudah berpuluh tahun, dan Basta tetap menganggapnya Lilyana.
"Aku rindu dengan Aiyla. Maafkan aku ibu, harus mengganti nama indah yang kau berikan dengan nama orang yang sudah mati. Lilyana, di mana arwahmu? Boleh ku minta cekik saja aku sekarang!" pekik Lily, menangis.
***
Tubuhnya sakit semua, dengan kissmark memenuhi badannya. Wanita dengan tubuh bak model itu menahan perih di area intinya. Merasakan sakit bertubi-tubi. Perutnya mendadak kram. Anouk mengejapkan mata sesaat. Menahan sakit yang tiada tara.
"PELAYAN!!" teriak Anouk, menahan sakit. Lelehan darah mengalir di pahanya, menderas sampai betis kaki.
Rasa takut menelungkup hati Anouk. Rasa sakit serta takut kehilangan kini hinggap. Anouk menyesal karena pernah ingin mengaborsi janin tidak berdosa ini, tapi untungnya rencana itu di gagalkan oleh Agriel, suaminya sendiri. Mata Anouk terpejam, menahan sakit atas pernyataan Desta yang tidak mau mengakui anaknya sendiri. Padahal hanya pada dia, Anouk tidak meminum pil pencegah kehamilan. Hanya pada Desta. Jadi, bisa Anouk pastikan ini darah daging Desta!
Pelayan pun datang dengan terkepoh-kepoh, menatap terkejut Nonanya yang menahan sakit.
"Ya Tuhan!! Nona!! Saya panggilkan ambulans!!" pekiknya, dan berlari memanggil temannya pun menelepon ambulans.
"DESTA! AKU BERSUMPAH!! JIKA ANAKKU KENAPA-NAPA! TAMAT RIWAYATMU!!" sumpah Anouk dengan sorot mata tajam. Desta biadab! Pria paling brengsek! Yang sayang kenapa Anouk bisa mencintainya?
Suara sirine ambulans memenuhi jalanan kota yang ramai itu. Jalanan sedikit licin, karena seusai hujan. Di dalam, Anouk merintih kesakitan. Keringat dingin mengucur deras dengan tekanan kuat menjepit di perut bawahnya.
"Cepat! Pasien pendarahan hebat!"
Mobil pun di lajukan semakin cepat. Kesadaran Anouk semakin menipis. Pandangan matanya pun mulai memburam.
"Nyonya.. Nyonya.. Tahan sebentar. Percaya dengan Tuhan, tidak akan terjadi apa-apa!"
Sayangnya, Anouk sudah lebih dulu pingsan.
"Nyonya Anouk!!" pekiknya membuat situasi semakin mencekam di dalam mobil Ambulans yang tengah membelah kota.
***
Bau obat-obatan masuk ke dalam lubang hidung Anouk. Wanita itu mengejapkan matanya, pupilnya membesar semakin menciut, mengecil. Perubahan itu membuat kepalanya pening. Sekali lagi, memejamkan mata, guna beradaptasi. Setelah sesuai, kelopak indah itu nampak naik turun.
Secara refleks, tangannya menyentuh perutnya. Rasa takut menyeruap tanpa mau di hentikan. Dada Anouk naik turun. Otaknya kembali mengingat betapa tidak manusiawinya Desta menyiksanya. Sakit di hatinya tidak akan sebanding dengan sebuah kebencian yang kini tumbuh tanpa diminta. Semudah itu cinta menjadi benci. Semudah itu pula maha kuasa membolak-balikkan hati.
"Nyonya.." panggil pelayan yang tadi mengikuti Anouk. Dia bernama Tarly.
Lantas, Anouk menoleh. Dengan mata sembab, jejak air mata dibawah matanya. Seakan menuntut penjelasan dari Tarly.
"Nyonya, syukurlah.. Kandungan anda baik-baik saja." ucapnya, membuang Anouk bernapas lega. Dia sampai menghirup udara serakah, begitu sesak kini berubah menjadi perasaan lega.
Tanpa di sadari, tangannya menyentuh perutnya. Rasa sesal, dan ribuan kata maaf Anouk ucapkan melalui batinnya dengan sang janin.
"Mana ponselku?" tanya Anouk. Giginya tergetak, dia mengumpat kasar Desta.
Anouk membenci Desta. Tidakkah cukup rasa sakit yang dia alami puluhan tahun ini? Lebih baik, dulu Anouk tetap tinggal di panti asuhan. Bukankah kehidupan di luar lebih menyakitkan? Di adopsi dengan banyak maksud. Hidupnya memang enak, limpah ruah akan kekayaan. Hujan emas, berlian, perak dan dollar mungkin kerap membasahi tubuhnya. Tapi, apakah sebanding dengan siksaan batin, mental, fisik yang Desta berikan.
"Ini, nyonya.." ucap Tarly menatap Anouk intens. Memberikan ponsel Anouk.
Tatapan tajam Anouk layangkan, menatap menghunus penuh anakkan panah pada wanita sok baik berkedok pelayan di sampingnya.
Tarly menunduk, dengan senyuman manis yang dia sembunyikan.
"Tuan Desta sungguh tangguh, nyonya." ucapnya membuat Anouk sekali lagi menahan rasa sesak yang menggerogoti.
"Ku bilang pergi, dan mengocehlah pada setan di sekeliling mu" pelik Anouk, kasar.
"Bahkan, dia menghujani saya begitu dalam."
"Katanya saya lebih kuat, daripada Nyonya."
"Nyonya hanya bisa bertahan lima jam? Tuan Desta membutuhkan lebih dari itu. Saya sanggup menggantikan—"
Plak
Plak
Dua tamparan dan rasanya masih kurang. Anouk memegang rambut sanggup pelayan tidak tahu malu itu. Menatapnya tajam, seakan menusuk sampai ke jantung.
"Oh ya?" tanya Anouk, membungkam mulut bau pelayan kolot itu dengan tangannya. Menekan kuat sampai membuat redam sudah suara pelayan itu.
"Kau kuat? Kau sanggup? Desta mengharapkan mu? Berapa dollar yang dia berikan? Sudah kau tukar dengan Rupiah? Lubangmu yang sebesar waduk itu, masih kuat? Jika di masuki batangan sebesar gajah milik Tuan mu Desta?" tanya Anouk, mengancam.
Dia menjambak, mengambil pisau buah yang ada di meja. Menunjukkan ujung pisau yang nampak mengkilap itu tepat di mata Tarly.
"Aku kemarin melihat pelayan mengupas apel degan pisau sejenis ini. Kau tahu? Kulitnya mengelupas, terbuang.. Dan jatuh ke tong sampah." cerita Anouk. Tangannya terulur mengelupas kulit wajah Tarly.
Tarly menggigit tangan Anouk kuat, dan membuat posisi terpindah. Gerakkan Anouk terlampau cepat. Dia berbalik dan menekan kepala Tarly tepat di ranjang yang ia gunakan. Membuang jauh rasa sakit dan lemah yang di sinyalkan dari tubuhnya. Masa bodoh, karena yang penting membunuh wanita busuk ini.
Napas Tarly terengah, mencari pasokan udara. Kakinya menendang-nendang, namun secepat pula Anouk menusuk kaki Tarly kuat.
"Yah!! Bukankah seperti ini bit*ch?? Batangan tuan mu menghujani lubang waduk itu?" tanya Anouk, semakin menenggelamkan wajah Tarly ke ranjang. Tangan lainya, semakin menusuk kasar kaki-kaki pendek itu.
Tarly menangis berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang dia punya. Ruangan yang di tempati Anouk adalah ruangan VVIP di rumah sakit ini, satu wilayah hanya terisi dua kamar besar. Sedangkan kamar sebelahnya kosong. Para penjaga pun seakan tuli. Karena itu bukan tugas mereka.
"Baj1ngan!!" umpat Tarly, dan lemas. Terduduk dan menatap kakinya yang kini tercompang camping, dengan beberapa jari yang akan putus. Syok dan menjerit keras.
"AAAAAAA KAU GILA!! GILA!! TOLONG!! MANUSIA BIADAB! J4LANG!!!" teriak Tarly.
Anouk terkekeh geli. "Dulu Desta juga kerap memperlakukan ku seperti ini. Dan, sekarang aku hanya mencontoh Daddy, ku"
Anouk berjongkok, tepat di wajah Tarly yang pias. Menahan sakit di kakinya, dan darah terus saja keluar. Lantai putih yang kini banjir akan darah merah segar miliknya.
Garisan panjang dari dahi sampai leher, membuat napas Tarly tercekat. Menahan sesak dan sakit. Suaranya bagaikan tenggelam jauh ke ujung samudra. Tarly hanya mampu diam dengan lelehan air mata membanjiri wajah cantiknya.
"Kau korban ke berapa, ya?" gumam Anouk.
"Aku lupa, maaf" cekikikan. Tarly menggeleng, wanita di depannya itu bukan manusia, lebih pantas di sebut iblis.
Dengan tanpa rasa jijik, Anouk mengelupas kulit wajah Tarly. Persis seperti pelayan yang mengelupaskan apel, kemarin. Kulit tipis berwarna putih berdempul bedak itu jatuh di iringi tangisan tergugu Tarly.
Begitu cepat, dan tusukan jatuh tepat di jantung Tarly. Menusuknya cepat, bruntal dan tanpa rasa iba. Tarly tewas dengan banyak luka tusuk.
Rasanya tidak puas, Anouk merombak mulut bau wanita yang kini tengah merenggang nyawa itu. Merobek dan mengonyaknya kasar. Sekali lagi pula, satu tancapan kasar memutuskan urat nadi di leher.
Carrr
Darah memuncrat membasahi baju rumah sakit Anouk. Geram, dan kesal, Anouk menginjak inti tubuh Tarly kasar. Menginjak bagaikan sampah kaleng yang hendak di buang.
Terakhir, ini benar-benar terakhir karena Anouk harus melakukan sesuatu hal. Anouk menebas habis salah satu pepaya kebanggaan Tarly.
Cukup, karena sudah cukup sadis. Anouk melenggang pergi dari sana. Merampas obat rasa sakit di meja itu dan menelannya mentah tanpa minum. Rasa pahit di telak lidah, tidak membuat Anouk meludahkan obat itu.
"Sudah kau kirimkan video sadis ini pada Tuan Desta?" tanya Anouk membersihkan sisa darah di tubuhnya.
Penjaga itu terdiam, karena tanpa di minta pun sudah mereka kirim. Anouk tertawa pelan, dan pergi meninggalkan para bawahan mengurus jasad Tarly.
"Malang sekali nasib mu, Tarly." gumam Anouk, menggelengkan kepala.
BERSAMBUNG...