
Di ruang keluarga, tepatnya di depan sebuah televisi besar yang menampilkan beberapa petugas sedang membersihkan jalanan. Musim salju akan segera berakhir, beberapa dari mereka membuat perayaan sambutan sederhana. Entah itu bersama keluarga atau mungkin teman. Ditengah kebahagiaan tidak semua menampilkan suka. Tepat, di depan Televisi yang setia menyala itu, Bella menatap Agriel dan Mery bersamaan.
"Papa, kata mama ini hari terakhir papa tinggal di sini. Kenapa tidak pulang setelah musim semi saja?" Tanya Bella polos.
Agriel hanya bisa memandang Mery dan Neel secara bergantian. Sedetik kemudian helaan napas terdengar, "maaf, sayang. Kamu akan ikut dengan kami."
Bella menggeleng kuat, seakan menolak dengan ajakan Agriel. "Kemarin aku sudah mengatakan pada Mama, bahwa aku ingin tinggal di sini sampai besar. Sampai aku seperti Uncel Neel, dan aku akan kembali ke Indonesia." Serunya bersemangat.
Mery tertawa pelan, "siapa yang mengajarimu bocah kecil" canda Mery.
"Aunty Berry, dia banyak bercerita tentang cita-cita masa mudanya yang tidak tergapai. Dia asal Indonesia, Ma. Hanya saja setelah tinggal lama di sini, dia mengganti namanya. Katanya terlalu kuno untuk tinggal di luar negeri." Jelas Bella.
"Ouhh, itu terlalu keras. Seharusnya kita selalu bersyukur. Nama itu bentuk dari doa orangtua. Jadi, jangan pernah menyia-nyiakan hal sesempurna itu."
"Kalau aku menjadi Aunty Berry pasti aku juga menganti namaku, Ma." Tegas Bella.
"Memang apa namanya?" Tanya balik Mery dengan kening berkerut.
"Uniltil. Panggilannya dulu, Aunty Til."
"Hanya itu? Tidak ada nama panjang?"
"Tidak, Ma. Kasihan sekali. Sedangkan orang sini kerap memanggil Upil," lanjut Bella seadanya.
Sontak saja hal tersebut membuat Mery menahan tawanya. Tidak, tidak hanya Mery namun juga Neel serta Agriel.
"Oke, aku pamit pergi ke keluar sebentar. Membeli kopi, dan susu kesukaan Bella." Izin Neel yang nampak membuka dirinya. Dari gelagatnya yang mengatakan bahwa ini harus segera di selesaikan. Agar cepat juga, Bella kembali dan berkumpul bersama keluarganya.
"Hati-hati Uncle, Neel."
"Siap, mau pesan apa lagi selain susu Bella?"
"Tidak. Aku sudah kenyang." Jawabnya.
Setelah kepergian Neel, Agriel serta Mery sama-sama mendekat pada Bella. Mengelus puncak kepala anak itu dengan elusan paling lembut.
"Bella... Mungkin pembicaraan ini akan sedikit sensitif dan akan sedikit melibatkan hati. Emosi, atau bahkan ketidakrelaan. Aku harap itu hal wajar, Bella. Karena setiap keputusan akan mengambil banyak resiko. Aku tahu, kamu anak yang pandai. Di usiamu yang sekarang, pola pikirmu tidaklah sama seperti anak-anak sebelantara mu. Dengan demikian, Mama yakin bahwa Bella bisa." Terang Mery.
Bella mengangguk, menatap manik mata Mery seksama. "Mama sedih?"
"Tentu saja sangat sedih! Kamu segalanya bagiku, Bella! Hampir saja aku gila karena kehilangan kamu. Menjadi orangtua tidaklah semudah itu, ya. Pantas saja Tuhan tidak mengizinkan semua orang menjadi orangtua."
"Mery... Tolong jangan bahas hal demikian." Potong Agriel, tahu di mana arah pembicaraan Mery.
"Ada hal yang ingin kami sampaikan Bella." Sambung Agriel menatap Mery yang kemudian terdiam seribu bahasa.
"Tentang sebuah keputusan besar." Lanjutnya masih dengan nada sama.
"Bella ingin tinggal di sini, Ma, Pa" jawab Bella langsung.
"Sejak kemarin Bella sudah banyak mengobrol dengan Athe dan yang lain. Mereka menangis, mereka akan benci pada Bella jika Bella pergi. Mereka sayang sama Bella. Uncle Neel juga baik. Sedangkan, Mama dan Papa banyak masalah yang belum selesai. Bunda Anouk masih jahat, Pa?" Tanya Bella pelan.
"Tidak ada yang jahat." Jawab Mery langsung.
"Jangan pernah berpikir bahwa bunda Anouk jahat Bella. Dia juga ibumu." Sambung Mery.
"Aku tahu. Hanya saja, dia pernah memukul Bella. Dan itu tidak bisa lenyap di ingatkan Bella." Cerita Bella.
"Cukup tahu saja, Oke? Jangan menyimpan bangkai di sebuah hati. Rawan banget soalnya."
Lantas, Bella menggeleng kuat. "Tidak, Ma. Tidak akan membenci Bunda Anouk." Jawabnya mantap.
Agriel bernapas lega, setidaknya hal ini tidak akan menjadi kekacauan di masa depan.
"Jadi Bella mau tetap tinggal di sini? Bersama Uncel Neel?" Tanya Mery pelan. Sungguh, dia tidak rela meninggalkan Bella bersama Neel. Rasanya dia sudah menjadi ibu paling buruk di dunia, menelantarkan anaknya sendirian di negara orang bersama orang yang tidak begitu Mery kenal.
Di lain sisi, dia juga ingin fokus pada penyembuhannya. Dan, kembali bertahta di atas nama Agriel. Sesekali matanya memandang wajah Agriel. Cinta yang di kirannya akan usai di makan zaman, nyatanya tidak demikian. Sebagian penopang adalah sebagian dari rasa gengsi. Percayalah itu.
"Mery, tenanglah. Sayang..." Usap Agriel pada punggung Mery.
"Bella sangat yakin? Mama dan Papa tidak bisa secara rutin datang ke sini. Kita akan jarang bertemu lagi. Apakah salju benar-benar membuatmu tidak bisa berpaling, hm?" Bella mencibikkan bibirnya ke atas, menatap Agriel dengan tatapan tidak sukanya.
"Tidak. Bella sudah tidak suka salju, Pa."
"Bukan itu, Ma. Bella tidak suka salju karena salju membuat Bella sering flu dan panas. Kasihan Uncle Neel yang terus terjaga mengompres dahi Bella." Ucapnya seraya meragakan apa yang Neel lakukan saat itu. Di mana tubuhnya masih beradaptasi pada lingkungan baru.
"Kamu lihat sendiri, Mery. Menitipkan nya pada Neel sudah sangat tepat. Kamu fokus pada penyembuhan dulu, dan kita akan memulai semua. Setelah semuanya selesai dan tuntas." Desak Agriel. Dan, mau tidak mau Mery mengangguk.
Hari ini badan Mery sangat panas, bagian pinggulnya sakit sekali. Rasanya sudah tidak kuat Mery berpura-pura tegar di hadapan Bella. Setelah obrolan tadi, Mery langsung pamit ke kamar untuk istirahat. Walaupun yang benar tidalah benar-benar istirahat. Melainkan menahan sakit yang luar biasa.
"Kenapa baru terasa?" Tanya Mery pada Agriel.
"Aku menggurung mu di mansion itu tidaklah tanpa sebab. Bukan tindakan kosong, Mery. Di sana aku sedang berusaha juga memastikan semua inci tubuhmu. Kau pasti tidak ingat apapun."
"Baik akan aku ceritakan bagaimana aku bisa membawamu keluar dari gudang itu." Agriel menarik tubuh Mery dan membawanya ke dalam dekapan.
"Saat itu, kau sudah aku temukan pingsan. Wajahmu pucat karena kekurangan asupan oksigen. Posisi mu saat itu adalah tergeletak tidak berdaya di lantai yang panas. Sungguh, Mery kondisimu saat itu membuatku mati di tempat. Tanpa basa-basi aku langsung memboyong mu keluar. Di luar gedung, sudah sangat banyak orang menonton. Bahkan ada yang memvideo kebakaran itu. Benar-benar tidak berguna, karena api tambah besar dan mereka malah asik dengan telepon masing-masing."
"Rasanya aku ingin marah dan mengamuk, tapi segera aku urungkan. Cepat saja aku membawamu ke fasilitas kesehatan terdekat. Di puskesmas kamu diberi pertolongan pertama. Tapi, sayang saat selang oksigen di tancap di hidung mancungmu itu, kau malah kejang-kejang tidak karuan. Bibirmu bahkan mengeluarkan busa. Tanpa rasa sopan santun aku membawamu dan segera ku larikan ke rumah sakit. Di sanalah kamu mulai tenang." Helaan napas Agriel mengingat serangkai peristiwa kelam itu.
"Aku merasa aneh, Agriel. Kau sudah merencanakan semuanya bukan? Lalu kenapa tentang kebakaran itu bukan salahmu? Dan alasanmu sungguh tidak logis. Api sangat membara saat itu. Sedangkan pabrik sebagian dari besi, namun anehnya pada saat itu aku melihat banyak sekali besi yang terbakar. Apinya berwarna biru, seperti cairan alkohol yang di percikan api." Jelas Mery.
Agriel terdiam, nampaknya sudah tidak ada celah untuknya membohongi Mery lagi.
"Itu ulah seseorang Mery. Aku sengaja menyembunyikan dari siapapun." Terang Agriel, membuat Mery menatapnya intens.
"Siapa? Sungguh dia orang yang jahat. Aku memang cantik, tapi jangan terlalu iri. Karena cantik ku dulu aku modal membeli banyak produk penunjang."
"Iyaa, kau memang cantik. Tapi bukan itu maksud di pembuat ulah." Gemas Agriel mencium cekuk leher Mery.
"Ayo jawab siapa?" Tanya Mery mendesak.
"Basta, ayahku yang tidak menyukai keberadaan mu Mery. Alasan pria bangka itupun tidak jelas." Jawab Agriel menahan sesak. Rasanya bagaikan satu batu besar menggelinding dari hatinya. Lega namun tetap menyisakan rasa sakit yang amat luar biasa.
"Alasan itu akan ada jawabannya, nanti."
***
Acara dramatis sudah selesai. Mery dengan mata sembabnya dan Bella dengan wajah kecilnya yang merasa ragu dengan keputusan yang telah dia buat.
"Bella , tolong jangan lupakan Mama. Jangan lupa makan, sekolah yang pinter ya, nak. Jadi anak yang bisa membawa perubahan untuk dirimu dan bangsamu. Tidak ada kasih sayang seorang ibu yang bisa di deskripsikan." Ucap Mery lagi, yang lagi dan lagi membuat wanita itu menangis lagi.
"Mama, tenang saja. Bella akan belajar dengan giat di sini. Agar saat Bella ingin ke Indonesia, mama dan papa tidak ke sini. Bella yang akan ke sana. Benarkan Uncle?" Tanya Bella polos. Neel mengangguk, seraya mengelus puncak kepala Bella.
"Kalian tenang saja, Bella aman dengan ku. Semoga cepat sembuh Mery"
"Aku akan berusaha."
***
Pesawat Mery dan Agriel telah terbang di udara Turki. Asapnya yang tidak kasat mata mengebul memberikan jejak di awan-awan. Intensi mata Bella tidak tetap di atas awan yang terus bergerak pelan. Seakan tidak ada hal menarik lainya, selain gumpalan putih di langit itu.
"Uncle," panggil Bella mengharap Neel.
Untuk menyetarakan tingginya dengan Bella, Neel berjongkok dengan senyuman yang senantiasa tercetak di bibirnya.
"Ada apa Bella?" Tanya Neel pelan.
"Bella, sebenarnya bohong."
"Bella mau ke Indonesia." Lanjutnya, menguat Neel membulat mata.
"Uncle... Bella bukan anak kandung Mama dan Papa. Tidak pantas bukan, jika Bella ada ditengah-tengahnya? Itu yang dikatakan Athe dan teman-teman Bella lainya. Maafkan Bella Uncle...." Bibirnya bergetar, menahan Isak tangisnya.
Ayolah, di umur sekarang Bella sudah tahu betul apa yang terjadi. Walau semacam tidak jelas, dengan pertanyaan bagaimana bisa dia hadir dengan kata tidak sedarah? Masih menjadi misteri bagi sosok Bella. Mungkin saja, waktu yang akan menjawab.
"Ada Uncle. Kau tidak akan sendiri... Mereka menyayangi mu Bella. Setulus itu mereka menyayangi mu." Ucap Neel dan segera menggendong Bella, menyembunyikan betapa sakit hatinya mendengar penuturan Bella tadi.
Bocah itu berbohong. Dengan alibi untuk kebaikan. Padahal, kenyataannya Bella berbohong karena mereka tidak pantas. Kehidupan memang kadang sejujur itu. Kehidupan pun memang kadang suka berbohong.
BERSAMBUNG.....
Bantu vote dan komen yuk! jangan lupa likenya juga! Nana sempatin nulis pas istirahat 😅 rencana mau update rutin lagi 😭 doain yaaa🙏✨