
Neanra dan Lilyana, Agriel giring untuk istirahat di rumah. Sedangkan dirinya sendirilah yang menjadi Mery di rumah sakit. Kini, tubuh kecil itu tengah tertidur lelap karena efek obat. Pemeriksaan berkala terus di lakukan untuk kesembuhan Mery, jika kondisinya kian baik maka, rencananya besok sudah bisa operasi. Keretakan pada tulang pinggul Mery memang lumayan parah, jika tidak segera di lakukan penanganan.
Tatapan Agriel pun tidak pernah lepas dari Mery. Mengusap-usap ujung kepalanya, dan kadang memainkan hidung kecilnya ketika bosan. Agriel terkekeh geli, saat mengingat Mery pernah dia taklukkan. Asal kalian tahu, Mery Desinton itu sangat sulit untuk di dekati. Pembawaannya terlalu dingin, dengan tatapan mata yang seakan terus memberikan sebuah penolakan.
Kala itu, Agriel langsung jatuh cinta pada Mery. Bukan karena kecantikannya, melainkan karena sikapnya yang sangat dingin. Masa remaja mereka memang begitu indah, namun sayang hanya tinggal sebuah kenangan. Beberapa saat mengelus tangan Mery dengan lembut, kelopak mata sayu itu terbuka secara perlahan.
"Bagaimana perasaan mu?" Tanya Agriel, pelan.
Mery mengangguk, dengan sebuah senyuman. "Aku sudah siap operasi Agriel." Jawabnya mantap.
"Ya, aku tahu."
Hening beberapa saat. Mereka berdua tidak saling berucap, namun sorot pandangnya saling bertemu. Sekelabat ada sebuah bayangan benang merah yang tidak bisa di lihat. Pancaran mata keduanya pun berbeda, dengan tatapan penuh makna.
"Tidurlah, besok rencananya kau akan operasi." Perintah Agriel dengan penuh penekanan.
Mery menggeleng, "aku sudah sangat lelah tidur. Biarkan saja, Agriel. Tidur terus tidak enak." Bantahnya.
"Baiklah, baiklah. Aku menurut para Nyonya saja." Balas Agriel menggeleng, percuma saja dia membatah. Di sini posisinya adalah kodrat laki-laki harus menurut dan mengalah pada perempuan.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Awal Mery, wanita itu pun bangkit dan mendudukkan tubuhnya dengan gaya bersandar.
"Apa? Coba bicara, ceritakan, dan aku siap menatap bibir tipis mu menari." Mery mengerilyakan matanya malas.
"Agriel, kau semakin pandai menggoda."
"Tentu. Sudah ada pawangnya,"
"Oh ya? Mengapa aku menjadi curiga?" Mery memicingkan matanya dengan lorohan mata yang tajam.
"Ampun sayang!" Agriel mengangkat tangannya ke atas, tanda menyerah. "Sifat wanita itu seperti ini ya? Mudah sekali curiga."
"Sifat pria begini juga ya? Pandai mencari celah untuk menutupi kebohongan." Balas Mery tidak ingin kalah.
"Sudahlah! Tidak baik berdebat di malam hari."
"Siapa yang berdebat, Griel? Kau saja belum di mulai sudah kalah, ew!" Ejek Mery dengan wajah menyebalkan.
"Katamu kodrat laki-laki mengalah pada wanita. Aku hanya menjalankan saja." Acuh Agriel, mengangkat bahunya.
"Kau orang yang pasrahan, ya?"
"Aghttt!! Mery! Jangan membuatku semakin terdesak."
"Sudahlah, kau sudah tua. Tidak asik di ajak bercanda. Staminamu turun banyak."
Agriel melotot dengan penuturan yang penuh kebohongan itu. Sungguh! Agriel masih kuat oke! Mau sepuluh rondepun masih sanggup. Asal kau tahu!.
"Apa? Tidak terima?" Ketus Mery.
"Tentu saja tidak! Aku masih kuat. Mau ku buktikan sekarang? Sepuluh ronde? Dua puluh ronde? Atau seratus ronde?" Tersulut sudah emosinya.
"Seratus ronde?" Ulang Mery melotot. "Kau monster!" Lanjutnya dengan mimik wajah takut.
"Iya kau benar! Aku monster yang siap memakanmu!"
"Huh, Untung saja aku sudah punya pelindung." Balas Mery.
"Siapa?" Tanya Agriel mendesak.
"Siapa yang menjadi pangeran kodok kemalaman mu itu Mery?" Lanjutnya, dan maju tepat di depan wajah Mery. Menatap wajah Mery dengan sorot mata terkejut, serta takut yang tersembunyi.
Mery acuh, "menurutmu siapa?" Tanya balik Mery.
"Aku tanya, Mery. Siapapun itu dia juga akan kalah denganku. Aku siap bersaing secara sehat dengannya. Aku tidak takut! Tidak! Tidak ada rasa takut di kamus hidupku. Aku berani bertaruh dan berperang melawan dia secara sehat. Aku janji, sungguh!—"
"CK!. Parnoan sekali kau Agriel!. Berhentilah mengoceh karena segala ocehan mu itu tidak berguna." Tandas Mery malas.
"Bagaimana aku bisa diam sedangkan istriku—"
"Istri? Sejak kapan kita menikah?"
"Setelah kau sembuh, kita akan menikah."
"Lalu?"
"Kau kira aku mau menikah denganmu, huh?" Sungguh raut wajah Mery sekarang sangat menyebalkan.
"Memang aku meminta persetujuan dari mu? Menikah tinggal menikah saja." Balas Agriel tidak kalah menyebalkan.
"Itu namanya kau memaksaku,"
"Salah sendiri, di ajak baik-baik tidak mau." Tungkas Agriel, membuat Mery kalah telak.
"Terserah."
"Jawablah pertanyaan awalku. Siapa pelindungmu, Mery?" Tanya Agriel kembali pada topik awal mereka. Rasanya sangat penasaran, jangan sampai dia kecolongan lagi. Mery hanya untuknya.
"Dia itu orang yang pernah membuatku sakit, kecewa dan hampir ingin mengakhiri hidupku, karena dia. Hingga, dengan setiap kali menghindari namannya aku bertahan untuk hidup. Berjuang demi sosok ibu, dan memikirkan diriku sendiri. Walaupun kadang aku masih saja mengingat namanya. Di mulut memang benci, di hati siapa tahu?. Bertahun-tahun aku berjuang dan berusaha melepaskan semuanya. Hingga pada suatu saat permainan itu terbongkar. Ternyata dia itu selalu ada di dekatku, dia selalu mengawasi gerak gerik ku. Bodohnya aku yang tidak tahu. Bahkan mengirim langsung sosok anak yang sangat aku rindukan, sebagai tali pertama dia kembali mengikat ku. Awalnya, mulut masih mau benci, tapi kekuatan hati sebesar itu."
"Orang kira, aku ini orang yang keras, sombong dan angkuh sekali. Padahal mereka tidak tahu, di mana aku adalah sosok wanita rapuh yang sangat merindukan kehangatan. Mereka tidak tahu, tentang Mery Desinton yang hidup di penuhi teka-teki. Mereka tidak tahu, tentang Mery yang masih saja menyimpan rasa padahal berulang kali di bohongi. Hingga aku sadar, konsep semesta memang seperti ini. Kamu tanya siapa pelindungku, Griel? Itu kamu. Siapa lagi?" Tanya Mery dengan mata basahnya.
Bibir Agriel terkatup rapat. Dadanya seperti terhantam batu besar, dan sangat menyesakkan. Tidak ada ucapan di antara keduanya, karena setelahnya hanya pelukan hangat Agriel yang mendekap hangat tubuh Mery.
****
Operasi untuk keretakan pinggul Mery berjalan dengan lancar. Tidak terasa, sudah lima hari sejak operasi tubuh Mery kian membaik. Tapi permasalahnya, di balik tubuh baik-baik saja Mery ada sebuah kista ganas yang sedang tumbuh asik di salah satu ovariumnya. Agriel, Neanra maupun Lilyana belum ada yang berani mengucapkan kabar tersebut. Mereka semua kompak ingin Mery menyembuhkan satu persatu penyakitnya dulu.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?" Tanya Neanra muncul dari celah pintu.
Mery yang sedang asik di suapi oleh Agriel lantas menoleh, tersenyum kepada ibunya. "Aku baik-baik saja, Mom." Jawab Mery.
Untuk sementara memang Mery tidak boleh banyak gerak, dan tidak boleh duduk terlalu lama dulu. Agar luka operasi cepat mengering.
"Kau semakin ceria setiap harinya. Membuat hatiku lega, Mery."
"Ya, aku harus tersenyum untuk ibuku. Bukankah ibuku pernah mengomel minta seorang cucu?" Canda Mery dengan senyuman khasnya.
Agriel dan Neanra tertawa hambar. Ada sebuah rasa sesak di dada mereka. Benar bahwasanya Mery akan bisa mempunyai seorang bayi dari rahimnya sendiri. Tapi kemungkinan itu sangat kecil, karena sampai saat ini dokter hanya memberikan informasi 50% ovarium sebelah Mery subur. Presentase tersebut sangat tidak membuat hati Agriel lega.
Memang, Agriel tidak begitu mempermasalahkan perihal anak. Tapi tidak bohong juga, Agriel membutuhkan penerus. Dan, Agriel tahu keinginan Mery. Dia ingin mempunyai anak.
"Kenapa tawa kalian sangat hambar?" Tanya Mery dengan kerutan bingung.
"Ha? Tawa yang mana?" Tanya Agriel balik.
"Tidak ada hal yang kalian sembunyikan dari aku kan?" Curiga di hati Mery semakin besar.
"Oh iya Mery. Mom tadi sempatkan mampir ke toko buah. Ini mom belikan buah naga untukmu. Mom kupaskan ya?" Tawar Neanra.
"Mom, lain kali jangan merepotkan dirimu. Aku menjadi tidak enak." Jawab Mery.
"Kau itu! Dengan ibu sendiri alasan tidak enak. Padahal ingin di manja kan?" Celetuk Neanra yang langsung membuat Mery tersipu.
"Kau tidak rindu dengan Huble?" Tanya Neanra.
Agriel yang tahu kondisi sudah bisa di kendalikan memilih keluar.
"Tidak. Dia terlalu cerewet untuk aku rindukan."
Hampir saja hidung mancung Agriel kejedot pintu. "ASTAGA!! MERY! KAU TIDAK RINDU DENGAN KU???" teriak perempuan berambut pendek dengan wajah sembab campur kesalnya.
"Kau tahu! Kau itu sangat amat menyebalkan! Sangat! Menyebalkan!. Sudah pergi jauh tanpa memberiku kabar, menghilang begitu saja. Aku takut kau kenapa-kenapa! Ditambah ponselmu sulit sekali di hubungi dan berakhir hilang! Aku kebingungan. Sampai-sampai aku menanyakan hal tersebut ke ibumu. Dan ternyata kau!! Kau kembali pacaran ke mantan! Aku awalnya kesal. Ditambah mantanmu terlihat sangat buruk ketika kau bercerita. Aku seperti ketinggalan banyak hal. Kau tahu, aku sangat amat kesal denganmu Mery! Seharusnya kau tidak boleh lupa dengan ku! Dan seharusnya kau jangan mengejekku yang kembali pada sampah." Cepat, dan brutal, tidak ada jeda sama sekali. Sebelas dua belas dengan kaleng kosong di pukul.
"UMBEL!" teriak Mery memegang telinganya kuat.
"Ini lah kenapa aku sulit merindukan kau!" Tandas Mery membuat Huble menangis semakin keras.
"OMG! TANTE! KAU LIHAT SENDIRI BUKAN? AKU INI APA?! MEMANG AKU INI SIAPA?! HANYA SEONGGOK DAGING TIDAK BERGUNA. NAMA SEINDAH ITU SERING DIA PLESETKAN DEGAN INGUS. AKU INI MEMANG TERLALU BAIK MENJADI ORANG! BAIKLAH, BAIKLAH MERY JIKA ITU MAUMU! AKU..... AKU SUNGGUH PASRAH. TERSERAH."
"Sudah mendramanya Huble! Kau semakin membuatku pusing. Jika mulut rombengan mu tidak bisa berhenti, keluarlah."
"AAA! TIDAK MAU!"
BERSAMBUNG...