
"Bisakah kalian membantuku ke kamar mandi?" Tanya Anouk, dengan suara bergetarnya. Jujur, semua badannya terasa sakit, dan kaku. Mati rasa di saat bersamaan.
Suster pribadi yang diberikan oleh Agriel itu mengangguk, dan menghantar Anouk menuju kamar mandi. Wanita itu kian hari kian menggurus, daging-daging seolah enggan tumbuh di tubuhnya. Hanya ada tulang belulang dan mata sayu pun penuh duka.
Auranya gelap, penuh dengan kesedihan yang mendalam. Anouk menyesal secara berlebih, dia di rundung sedih secara berlebih. Seakan-akan hanya dialah pendosa di sini. Menganggap dirinya paling kotor, hingga membuat dunianya penuh kabung duka.
"Bisakah kau tinggalkan aku sendiri, Tata?" Ucap Anouk pada Tata, dan Tata pun mengangguk patuh. Dia pergi meninggalkan Anouk di kamar mandi sendirian.
Tidak berselang lama, pintu kamar mandi itu terbuka. Sosok Desta yang menjulang tinggi memenuhi pintu. Anouk menatap Desta sesaat lalu menoleh ke arah lain.
"Aku tahu di mana Mery. Akan ku antar kamu ke sana." Ucap Desta.
"Harus ku panggil apa dirimu?" Tanya Anouk dengan suara bergetar. Desta, karena pria itu dia tejerumus pada dosa terdalamnya. Memberikan lubangnya pada banyak orang, bagaikan dia sungai yang bisa saja banyak orang mengobok-oboknya.
Desta menghela napas, menatap Anouk penuh kesayuan pun penyesalan. "Yang sakit, dan menyesal bukan hanya kamu Anouk."
"Aku pun demikian." Lanjut Desta menunduk. Dia berjongkok di hadapan Anouk. Menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya.
Matanya berkaca-kaca, "maafkan aku. Membuatmu masuk ke dalam dunia gelap, dan akhirnya terperangkap sampai sejauh ini. Mari kita sudahi kegilaan ini, Anouk."
"Kegilaan apa? Kau yang membuat ku GILA!!!" tekan Anouk dengan tegas, bibir bergetar kuat. Mengelatuk menahan amarahnya yang kian membuncah. Ingin meledak, dan meluapkan rasa amarah ini langsung pada Desta.
"Maafkan aku. Mungkin, cara mencintaiku beda dengan orang lain Anouk. Rasa cintaku membunuh semua kebahagiaan itu sendiri."
Anouk terdiam, dengan air mata yang tak kunjung usai mengalir deras di pipinya. Kata cinta itu terlontar begitu epik dari mulut Desta. Pertanyaan demi pertanyaan yang hanya mampu terperangkap di otaknya, Anouk tidak akan mampu membalas. Sebab, rasa itu sudah mati seiring dengan waktu. Semua sudah berubah.
"Bantu aku menemui Mery, Daddy." Desta melotot, rongga dadanya tiba-tiba saja sesak. Kalimat itu seakan menjawab sudah semua yang dia ucapkan. Kisah mereka memang benar-benar sampai pada hubungan ayah dan anak angkat. Walau terlanjur jauh, akan tetapi pada akhirnya arus kehidupan membalikkan fakta pada awal mereka bertemu.
"Dia di China. Bagaimana dengan kondisi mu? Apakah—"
"Jangan pedulikan kondisi ku lagi. Sebab, kematianku sudah di depan mata, Dad."
"Anouk...bisakah jangan memanggilku dengan sebutan itu? Hatiku semakin sakit mendengarnya."
"Lalu, bagaimana denganku? Kau menyuruhku mengerti keadaanmu tapi kau sendiri tidak peduli dengan keadaan orang lain. Kehidupan macam apa itu, Desta?" Senyum remeh di balik wajah pucatnya. Anouk tersenyum gentir, menatap Desta.
"Semua sudah berakhir Desta."
***
Dengan bantuan tongkat kesayangannya, Wick berjalan menelusuri rumah besar namun sangat mewah itu. Dekorasi cenderung putih ungu menghiasi kediaman Wick yang berada di desa. Rumah pria tua itu banyak, asetnya berpuluh-puluh, hartanya melimpah dengan simpanan emas, berlian sampai mutiara murni. Trah Wick-Hely, memang terkenal di penjuru daratan China. Berada tepat di jantung perekonomian dunia. Terkenal pun dengan taktik bisnis perdagangannya.
Beruntung Mery terlahir dari garis keturunan Wick. Pintu besar bewarna cokelat mengkilat itu terbuka lebar, menampilkan sosok Mery yang tengah duduk sendirian menatap hamparan bunga melewati jendela besar berbentuk oval di kamarnya.
Wick menghampiri cucu tersayangnya itu, merangkul pundak Mery walaupun tangannya kerap bergetar dengan sendirinya. "Nak..." Seru Wick.
Wajah pucat, bibir kering, dan panda panda menghiasi wajah Mery. "Kek, aku—hoek.." segera saja dia berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan cairan bening, sebab sejak tadi pagi perutnya kosong belum makan apapun.
"Astaga.." gumam Wick menghapus air mata sialannya.
"Kau tidak meminum obat yang sudah di resepkan dokter?" Tanya Wick. Dan, Mery pun menjawab dengan gelengan.
"Aku rindu, Agriel. Ingin mencium pipinya, ingin memeluknya, kek. Tolong bawakan jas atau pakaian Agriel." Mery berucap dengan nada bergetar.
"Kemarin dia datang, kau tidak sudi menemuinya. Sekarang berujar rindu?"
"Kek, aku sendiri juga tidak tahu. Jujur hatiku masih dongkol dengan kebohongan Agriel. Sadari awal aku hanya ingin dia jujur. Apa susahnya jujur? Aku tahu ini demi kebaikan ku. Tapi alangkah lebih baiknya aku marah di awal dan kini kita bahagia bukan?" omel Mery dan berjalan ke arah kasur. Merebahkan tubuhnya di kasur besar itu.
"Anouk perjalanan menuju ke sini. Mungkin tiga sampai empat hari lagi akan datang. Temui dia Mery, itu saranku."
"Aku memang sedang menunggu dia, kek."
***
"Tuan Anouk menghilang. Tadi—"
"Aku tidak peduli! Yang ku tunggu adalah kepulangan Mery, bukan Anouk. Toh, Donan sudah berada di tanganku. Pewaris pertama sudah aku jaga. Dan, amanat itu sudah aku jalankan." Potong Agriel, kembali mengendong Donan seraya mengerjakan tugas kantor yang menumpuk bak gunung Everest.
Ree terkatup, dia tidak berani menyela ataupun menyanggah. Memberi salam, dan menunduk. Lantas pergi dari hadapan Agriel dan kembali mengerjakan tugas kantor yang padat merayap.
"Maafkan aku Donan. Tapi mungkin ini lebih baik." Bisik Agriel dan memberi kecupan manis di dahi bayi mungil itu. Tersenyum lah Donan, dengan mata tertutup. Agriel terkekeh dibuatnya. Mengendong Donan seraya bekerja bukan hal yang buruk.
"Masuk." Munculah Herlina, sekertaris kedua Agriel di kantornya setelah Ree. Dia nampak membawa setumpuk dokumen, dengan susah payah.
"Permisi Tuan, ini berkas yang harus Anda periksa serta tandatangani. Saya ingin menginformasikan akan ada rapat setiap sie untuk membahas pembangunan taman air tahun depan."
"Jam berapa?" Tanya Agriel, tanpa menoleh.
"Jam dua siang Tuan."
"Keluarlah. Panggil aku lagi jam dua siang nanti. Dan, siapkan pengasuh untuk Donan."
"Pastikan dia orang yang benar dan tulus. Aku tidak akan menanggung hidupnya jika saja berani melukai Donan." Ancaman Agriel. Membuat Herlina meneguk ludahnya susah payah.
"Baik Tuan." Dan dia menunduk, lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan Agriel.
Dua hari kemudian,
Bandar Udara Internasional Lukou Nanjing. Bandara besar yang berada di Nanjing, provinsi Jiangsu, Republik Rakyat Tiongkok. Walau langkah kakinya melemah, terseret-seret jalannya. Anouk tetap memaksakan dirinya, dia harus bertemu dengan Mery dan menjelaskan semuanya.
Sejak tadi, tangannya di genggaman erat oleh Desta. Pria itu merangkul Anouk erat, walaupun sebenarnya Desta takut akan membuat tulang-tulang tubuh Anouk patah, saking kurusnya. Wanita keturunan Belanda itu semakin pucat, bak mumi hidup berjalan.
"Orang-orang memandang kita aneh." Seru Anouk, melepaskan diri dari Desta.
"Biarkan."
"Tolong, jaga batasan, Dad. Itu arti dari kalimatku." Jelas Anouk, membuat Desta mundur beberapa langkah.
"Terima kasih." Lirihnya dan kembali berjalan.
***
Mery duduk dengan tenang—walau jujur saja dia menahan rasa mualnya—menatap Anouk angkuh seraya menyeruput teh di depannya. Matanya melirik pada Anouk yang hanya diam tidak berani membuka bibir. Terhitung sudah setengah jam lebih, dan dua wanita itu hanya diam.
"Jadi, pembicaraan yang kamu maksud adalah berdiam-diaman seraya memandang seperti orang kasmaran?" Tanya Mery. Terkekeh merdu, dan menegakkan duduknya. Dress motif polos berwarna silver yang dia kenakan mampu mencetak tubuhnya, yang ramping. Mery memajukan tubuhnya, lalu mengangkat kepala Anouk menggunakan jari telunjuknya.
"Jujur, aku lebih menyukai mu sombong, angkuh dan garang. Di mana kau buang itu semua?" Tanya Mery lagi, dan Anouk tersenyum tipis.
"Tuhan yang menitipkannya sebentar, dan sekarang dia mengambilnya bersama dengan semangat ku untuk hidup." Dia lontarkan kalimat pertamanya dengan mata berkaca. Bibirnya bergetar, pucat dan kering.
Rahang tegas Anouk melorot, membuatnya jauh lebih tua dari umurnya. Hidungnya bertambah mancung, terlihat tulang hidung yang kian nampak. Matanya pun terlihat cembung, karena kurang tidur dan stress setiap harinya.
"Kau payah." Ucap Mery meledek.
"Kau lemah Anouk. Tuhan mengambil apa yang seharusnya bukan milikmu. Dan, seharusnya kau sadar bahwa apa yang bukan milik kita memang pada akhirnya harus kita relakan. Rangkaian ini seperti kehidupan, kamu mengambil napas berupa oksigen. Tuhan memberimu oksigen, kamu mengambilnya untuk kebutuhan hidupmu. Tapi, pada saatnya Tuhan akan mengambil oksigen. Dan mau tidak mau, terima tidak terima kau harus menerimanya. Karena sadari awal, kamu hanya meminta dan meminjam. Bukan hak mu."
"Aku tahu Mery. Aku sadar akan itu semua." Lolos sudah air mata Anouk, membanjiri pipi tirus keringnya.
Anouk bersujud, dia menundukkan kepalanya tepat di paha Mery. "Siang yang di temani oleh matahari yang menyinari Bumi. Cahaya yang Tuhan titipkan di setiap celah-celah awan. Aku Anouk, meminta maaf sebenarnya terhadap engkau. Aku menundukkan kepala, seraya menggugurkan dosa-dosa ku. Memohon ampun padamu, meminta doa untuk ketenangan tidur panjangku. Tiada kata berakhir, tiada kata kekal dan abadi. Marah dan kecewa, akan lenyap di telan masa. Aku tak sanggup jika harus menunggu masa itu. Aku tidak mau mati dengan memikul beban seberat ini. Aku minta maaf Mery. Akan aku ceritakan semua hal kepadamu, termasuk hubunganku dengan Agriel dulu."
"Kami sebenarnya tidak pernah menikah. Kami sebenarnya sama-sama mempunyai tujuan. Agriel mencarimu. Dan, aku ingin lepas dari siksaan Desta. Dia laki-laki paling kejam, Mery. Dia kejam. Orang lain tidak akan pernah tahu sekejam apa Desta. Hanya aku, hanya ada aku korban dari kekejamannya." Anouk mengangguk keras, melotot dan matanya mengeluarkan banyak embun. Dia mengingat semua. Semua kebohongan orang-orang di sekitarnya. Kemunafikan mereka. Dan, Anouk hanyalah korban dari pemegang kendali.
"Desta?" Tanya Mery bergumam, lalu tertawa pelan.
"Dia yang paling awal hancur, Anouk. Bersama dengan Basta." Bisik Mery.
Anouk diam, menatap Mery bingung. "Kau sadari awal memang tidak tahu bagaimana keluarga trah Brahtara dan anakannya. Dan kau pun akan lebih terkejut mendengar trahku, Wick-Hely."
"Kalian memang trah rumit dan penuh intrik."
"Oh ya?" Tanya Mery.
"Aku bahkan tidak tahu mana orang yang tulus dan tidak. Topeng kalian, sungguh terlihat nyata."
"Entah, semengerikan apa penerus-penerus kalian kelak."
"Penerus ku semua akan baik. Ku pastikan itu."
BERSAMBUNG....