ELEMERY

ELEMERY
HAMPA



Sial!


Beberapa kali Mery mengumpat. Rasa kesal seakan mendidih di dalam ronggo hatinya. Menatap hamparan rerumputan di depannya dengan kata muak. Bisakah seseorang membantunya? Mery hanya ingin bebas. Ada beban tanggung jawab besar di bahunya. Perlukah di perjelaskan lagi bahwa Mery bukan pengangguran? Bahwa Mery masih mempunyai orangtua?. Bisa gila, jika Mery membayangkan banyak hal di satu kepala.


Hatinya tiba-tiba saja berdenyut tidak karuan. Bagiamana dengan Ibunya? Neanra, apakah dia baik-baik saja? Sudah berapa lama Mery tidak memberikan uang pada Ibunya. Astaga, semoga keuangan Ibunya bisa di handle sedemikian rupa. Lalu, bagaimana dengan Bayu, Leli dan yang lain? Apa kabar mereka? Apakah mereka tidak khawatir tentang hilangnya dirinya?


"Kenapa aku merasa tidak ada yang khawatir dengan keadaanku?" gumam Mery. Memijat pelipisnya.


Oh Ayolah, apakah ini sudah rencana pria gila itu? Jika iya, izinkan Mery untuk memukul dua telur pria itu sekarang! Sialan!


"Hei kau!" teriak Mery, frustrasi. Semua gerbang di tutup rapat. Bagaikan macam di dalam kandang, itulah perumpamaan yang Mery sematkan.


"Iya Nona?" tanya maid yang di panggil Mery tadi. Jalannya terkepoh-kepoh, karena takut membuat Nona besarnya marah.


"Bisa kau tunjukkan di mana dapur?" tanya Mery mencoba tersenyum. Tapi kenyataan, bibirnya sudah melengkung ke bawah—permanen.


"Mari saya antar, Nona" sahutnya, membungkuk.


Mery mengangguk. Tidak bisa keluar dari kandang sialan ini, maka membuat ulah saja. Hitung-hitung hiburan. Kepala Mery pun akan pecah rasanya.


Hanya ada decakan sebal menatap dapur mewah di depannya. Sinar gemerlap dari kinclongnya aneka perabotan malah membuat Mery terasa tersindir.


Lihatlah penampilan kumal nan gembel Mery. Rambut acak-acakkan—karena banyak di garuk kasar, serta make up yang sama berantakannya—karena usapan kasar wanita itu. Kuku-kuku itu pun tidak kalah menjadi sasaran empuk Mery, karena sekarang habis di gigitnya.


Mery yang waras berubah menjadi gila. Hembusan napas terdengar, membuat banyak orang was-was.


"Tidak jadi. Panggilkan orang salon dan spa ke sini. Aku tunggu di kamarku!" perintahnya seperti bos besar.


Angkuh dan sombong, walaupun hampir gila, kesombongan tetap melekat pada diri Mery. Jalannya pun terlengak-lenggok, tegas dengan sorot mata tajam penuh kekesalan.


"Sampaikan pada tuan gila mu, bahwa aku meminta ponsel baru.. Keluaran terbaru dan desain baru juga. Pokoknya yang semuanya baru." ucap Mery. Bodo amat mau di bilang wanita apalah. Karena menjadi Mery harus kuat dengan banyak terkaan.


"Mery!!" teriak suara tua dari bawah tangga, tongkat andalan itu di pegang oleh bodyguard berbadan besar, sedangkan pemilik tongkat tersebut di gendong ala bridestyle oleh yang lain bodyguard di sana.


Dahi Mery mengerut, kelakuan tua bangka itu semakin hari semakin menjadi. Bagaikan anak ABG yang sedang caper. Tidak cucunya yang mesum, tidak juga kakeknya yang playboy.


"Iya, kek.." sahut Mery malas.


"Jangan panggil aku kakek, Mery. Namaku Nandha"


"Iya Nan.. Ada apa Nandha ke mari?" tanya Mery mencoba memanjangkan usus.


"Aku rindu kamu" ucapnya polos, membuat Mery ingin muntah.


"Permis." Mery memilih menghiraukan candaan gila itu dan segera menaiki tangga menuju kamarnya.


"Daripada kamu uring-uringan tidak jelas, mending dengerin aku cerita.." ucapan yang di buat-buat.


"Aku mau cerita sesuatu sama kamu.. Tentang ibu kamu lohh" langkah Mery terhenti. Berbalik badan, dan menatap Nandhaya penuh selidik.


Baru Mery sadari, kakek tua di depannya bukanlah tua bangka sembarangan. Ucapannya penuh dengan sirat tanda tanya. Keningnya pun tidak di suruh mengerut sendirinya. Merasa berada di posisi paling membingungkan. Tidak cucu, tidak kakek sama-sama menghimpit dengan banyak pertanyaan. Petak umpet, adalah permainan paling menyebalkan untuk di perankan orang dewasa.


"Batalkan salonya." perintah Mery tegas dan turun dari tangga.


"Tempat mana yang nyaman untuk menikmati teh bersama?" tanya Mery, sopan.


"Ikutlah denganku. Aku punya ponsel, tanpa adanya alat penyadap ataupun nomer khusus." Sambung Nandhaya.


Senyumannya menyipit dengan garis bibir melengkung ke atas. Kerutan di pelipis ikut berkumpul menjadi satu, membentuk akar-akar serabut—bagaikan.


***


"Aku tahu, kamu pasti rindu dengan keluarga mu, Mery." Awal percakapan Nandhaya. Kedua manusia itu duduk di kursi ayunan berbentuk lingkaran. Berayun pelan seraya menyeruput sedikit demi sedikit teh hijau buatan maid.


Mery mengangguk membenarkan. "Maafkan Agriel. Aku sebagai orang yang lebih tua, atau bisa dikatakan orangtua Agriel meminta maaf padamu."


"Bisakah Kakek bantu aku bebas dari sini?" tanya Mery, mencoba. Walau tak ayal ia merasa tidak mungkin kubu musuh mau bersekutu dengannya.


"Aku bisa mengeluarkanmu dari sini." Sontak saja jawaban dari Nandhaya membuat Mery semakin kebingungan.


"Hahaha.." bukan, bukan ini yang Mery tuntut dari sorot matanya. Tapi, laki-laki tua itu malah tertawa besar seakan tanpa beban. Konyol.


"Apakah kamu kira aku ini pro dengan cara Agriel?" tanya Nandhaya. Lalu menggeleng, seakan menjawab sendiri ucapannya.


"Aku tidak suka cara Agriel." lanjutnya, dan di angguki sepakat oleh Mery.


"Aku bukan wanita murahan," tungkas Mery, marah.


"Jangan marah, nak." kali ini ucapan kakek tua itu sok bijak.


"Ini ponsel ku." Serah ponsel Nandhaya pada Mery.


Ponsel dengan logo apel di gigit ulat itu sekarang menjadi pusat pandang mereka berdua. Lama terdiam, hingga..


"Aku tidak ada waktu hanya sekadar menghafal nomor. Bahkan nomor ku sendiri aku lupa." desah Mery, lesu.


"Aku menyimpan nomor rumahmu."


"Kau tenang saja Mery. Hubungi ibumu, dan tanyakan beberapa hal."


"Tentang kisah lama, perjanjian lama, dan awal mula mengambangnya banyak hal. Jangan sampai kamu, yang menjadi tokoh utama kebingungan. Setelah itu, aku beri kamu kebebasan. Tapi tidak dengan mencegah Agriel. Aku kubu netral, tidak memihak siapapun karena sama-sam tidak ada untungnya untukku."


Singkat, padat, jelas, dan tajam. Nandhaya bangkit meninggalnya ponselnya. Sedangkan Mery masih terdiam, dengan tubuh kakunya. Mery sebenarnya tahu—sedikit otaknya merancang dengan melihat kejadian yang ada—akan tetapi, ada hati yang belum siap menerimanya. Luka pahit terlalu pahit untuk dicarikan penawarnya. Brotowali terlalu pahit untuk Mery yang tidak punya beras kencur.


***


Bisa kalian katakan bahwa Agriel terlalu banyak mengambil resiko. Kini, pria bodoh itu dengan berani melindungi Anouk. Wanita yang sudah sangat jelas menjadi milik pamannya. Gila memang, dan ini terlalu beresiko tinggi—apalagi tentang hubungannya dengan Mery.


Mata Agriel tidak lepas dari keadaan Anouk yang mengenaskan. Hampir saja janin tidak berdosa itu mati. Untungnya Tuhan masih berbaik hati dan melindunginya. Anouk di temukan dengan kondisi memprihatinkan.


Dressnya sudah tidak berbentuk, dengan kaki penuh darah. Luka di kaki Anouk di sebabkan wanita itu berjalan tanpa alas kaki. Tubuhnya mengurus, kering dengan wajah sedih penuh pilu. Kasihan sekali nasib gadis yatim piatu itu. Andai saja, bukan seorang Desta yang mengadopsi, sangat yakin kehidupan Anouk tidak se-tragis ini.


"Ini gila.." desis Banto—dokter pribadi Agriel. Sedangkan Yuna? Ketahuilah, Yuna merupakan dokter plin-plan, dan mudah di monopoli. Agriel menyuruh Yuna kala itu karena seorang Banto sibuk penelitian ke penjuru dunia.


Jika Yuna penuh intrik,


Maka Banto penuh selidik. Lengkap bukan?


"Aku tidak tahu di mana otak pamanmu, itu kawan." lanjut Banto, merinding.


"Kau tahu? Baru kali ini aku mendapatkan pasangan gila seperti mereka. Saling menyakiti, saling berselingkuh, dan saling mencintai. Ta*i untuk sebuah cinta!" umpat Banto.


"******** gadis itu bersih tanpa adanya bulu, di tengah—lebih tepatnya menuju lorong pintu. Terdapat ukiran nama Desta Deflig Obrama!" Kini Banto bahkan melakukan salto. Kaget? Tentu saja.


"Melakukan tato di area itu? OMG! Boleh aku undur diri saja?" angkat tangan, menggelengkan kepala.


"Ck! Hanya hal bodoh, dan reaksimu melebihi monyet!" decak Agriel.


"Tugasmu, adalah sembuhkan dia! Rawat semua lukanya. Terutama janinnya, jangan sampai janin itu mati, atau aku tebas habis batanganmu!" ancam Agriel.


Secara refleks Banto memegang tempurung kelapa di balik celananya. Terjringrat kaget, dan mendesis melotot tajam pada Agriel.


"Begini-begini aku punya istri. Sampai aku sunat dua kali, yang hilang gak cuman batangku tapi istriku juga, anj1ng!"


"Nyeyeyeye" ejek Agriel dan memilih pergi dari sana.


Tangannya mengintruksi beberapa anak buahnya untuk menjaga rumah—yang di sulap menjadi rumah sakit ala-ala—dengan baik. Jangan sampai Desta tahu, dan mengacaukan rencananya.


***


Ingin marah dan menangis di satu waktu. Tangannya masih setia menggenggam erat ponsel Nandhaya. Mery menghapus air matanya cepat. Kata demi kata yang ibunya tadi ucapkan, seakan membuka kembali sebuah kesempatan. Kesempatan yang Mery sendiri selalu menolaknyaa keras.


"Mom tahu, kamu di mana. Kamu sehat nak?" suara Neanra menahan isak tangisnya. Wanita tua itu pun rindu sangat dengan anaknya.


"Maafkan, Mom Mery. Maafakan Mom. Rencana Agriel mom restui penuh. Tanpa sepengetahuan mu, Mom sudah menyetujui Agriel yang ingin memperbaiki hubungan kalian. Hanya dengan cara inilah kamu dan Agriel bisa bertemu. Karena kami pun—"


"Mom! Tidak bisakah kamu tahu perasaanku yang kecewa ini?" potong Mery, tidak kuasa.


"Aku bekerja di Eles's Group. Aku survei di Bandung pun rencana kalian? Apakah kebakaran gudang itu juga? Nyawa ku berarti menjadi taruhan berbaliknya masa lalu ini?" tanya Mery bergetar.


"Bukan Mery.. Astaga.. Agriel dan Mom tidak tahu tentang kebakaran itu, karena itu murni kecelakaan. Sudah di selidiki Agriel. Mom juga saat itu marah, karena Agriel tidak bisa menjaga mu dengan baik. Tapi, rasa marah itu lebih kecil daripada sebuah kebenaran."


"Mery... Dengarkan penjelasan Agriel. Pria itu baik nak. Orangtua mana yang menginginkan keburukan untuk anaknya? Mom yakin, Agriel yang terbaik. Hati ibu tidak bisa kamu bohongi. Rasa cinta mu pada Agriel sangat ketara nak. Berjuanglah. Karena cinta tidak semata-mata kontak mata dengan hati berdebar. Liku cinta memang kadang menyulitkan tapi yakinlah bahwa kebahagiaan datang tidak tiba-tiba." Dan itulah akhir dari percakapkannya dengan Neanra. Sebenarnya banyak kata, namun hanya beberapa percakapan yang membekas.


Sekarang Mery pusing, sangat pusing. Hidungnya pun mendadak pilek. Sebenarnya ada cerita apa yang mendasari rumitnya kisah ini?


Sejak dulu memang, Mery akui Agriel adalah orang yang tertutup. Dia pun orang yang acuh. Lengkap, karena kelengkapan itu mengantarkan pada sebuah kerumitan hubungan mereka sendiri. Terbuka adalah awal dari hubungan. Jujur adalah harus. Komitmen adalah waktu dari sebuah hubungan. Tentang kesetiaan, susah untuk di jelaskan. Karena masing insan mempunyai iman yang berbeda.


BERSAMBUNG.......