
Happy Reading 🙏 maaf baru bisa update 🙏🧚‍♀
****
Wajah Agriel memerah padam, tangannya mengepal kuat. Sorot matanya menyelidik satu persatu bawahan yang ada di Mansion itu.
"Bagaimana cara kerja kalian?" tanya pelan namun sirat akan banyak ancaman.
Semua yang ada di sana menunduk, tidak ada yang berani menyela ataupun menjawab. Hari masih di bilang sangat pagi, ayam saja belum berkokok. Tapi sang majikan sudah marah-marah tidak karuan.
"Cari!! CARI KESELURUH PENJURU MANSION INI ATAU PUN SEKITARNYA!!" teriak Agriel kuat.
Serentak semua bawahan yang ada di sana berlari ngicir. Ree yang melihat itu hanya bisa bernapas berat. Untung saja tuannya berubah pikiran untuk ke Surabaya.
"Sial!!" umpat Agriel, mendidih.
Agriel memijat pangkal hidungnya pelan. Ingatan beberapa jam lalu terlintas di otaknya.
"Pesawat, bodoh. Atur perjalananku."
"Segera, Ree!!"
Ree hanya bisa menghelakan napasnya pelan. Percuma bernegosiasi dengan Agriel yang pada dasarnya adalah manusia keras kepala. Mobil mewah itu terus berjalan mengikuti arus jalanan kota yang semakin dingin. Di sekeliling rentetan beberapa jalan banyak orang tua dan beberapa paruh baya nampak sibuk membuka pasar.
Di samping fokusnya Ree mengendarai mobil, tangan pria itu pun tidak luput menghubungi beberapa pihak untuk mengurus perjalanan Tuannya.
"Hubungkan rekaman CCTV mansion" perintah Agriel seenak jidatnya.
"Ck!" geruntu Ree pelan. Nasib bawahan, ya begini.
"Sebentar Tuan." Ucap Ree menahan 5L (Lemah, Lesu, Letoy, Letih, dan Lelah)
Agriel berdeham sebentar dan kembali mengamati jalanan kota yang ramai.
Pikirannya berkelana tentang keadaan bundanya, semoga saja Papanya, Basta tidak berbuat macam-macam. Cukup tekanan batin saja, jangan fisik. Tekanan batin yang Basta berikan tidak ayal menjadi belati paling menyakitkan di hati Lilyana—palsu. Bagaimana rasanya hidup atas nama orang lain?
Secara hukum, bukankah kasus ini bisa di ajukan di pengadilan? Aiyla kehilangan hak hidupnya. Lilyanaa sudah mati, secara garis besar namanya pun sudah dianggap tidak ada. Riwayat hidupnya akan terus di simpan, tapi tidak dengan hak-hak negaranya.
"Sudah saya sambungkan Tuan" ujar Ree, memecahkan lamunan Agriel.
Sontak saja, video yang menampilkan betapa elastisnya tubuh Mery mengendap dan keluar berusaha kabur terpapang nyata. Darah Agriel mendidih, kobaran amarah kini mengerayapi setiap aliran darahnya.
Ada apa dengan Mery? Bukankah hubungan mereka sedikit, tapi pasti, mulai ada perkembangan.
"Aku tertipu!" dengus Agriel, menahan sakit tentang sikap Mery yang baru dua hari ini lebih jinak dari saat kejadian debat di taman.
"Putar balik! Batalkan penerbanganku, kembali ke Mansion!" Teriak Agriel penuh intonasi tinggi.
"Lapor Tuan! Nona Mery ingin melompat dari tembok tinggi belakang—"
Tidak sampai penjaga itu melanjutkan ucapannya, Agriel sudah berlari cepat. Semua bawahan beserta maid yang ada di sana berkumpul, bersorak ramai membawa banyak bantal, guling, mantras atau bahan tebal empuk lainya untuk menyelamatkan Nona Mery. Pengambaran isi dalam mansion ribut macam pasar. Sedangkan di luar tegang, dengan intruksi dari Agriel menyuruh mereka diam dan jalan mengendap.
Dari bawah Agriel bisa melihat betapa takut wajah Mery. Decakan kesal terlontar, karena Mery terlihat sangat gegabah dan bodoh. Wanita itu nampak linglung bak orang idiot.
Matanya tertutup erat, seakan menunggu keajaiban yang bisa menolong. Nadanya tersirat perintah, menyuruh para bawahannya untuk pergi saja dari area itu. Entah apa yang ada di otak Agriel.
Lama menunggu, sampai sebuah keadaan mendadak membuat Agriel semakin cemas. Tanpa babibu Mery langsung meloncat begitu saja, seakan lupa jika nyawa manusia hanya satu.
Pandangan Agriel ia coba pertajam. Dengan tangan kekar yang siap menangkap tubuh mungil Mery, dan ya tidak butuh basa basi tubuh itu pun tertangkap oleh tangan kokoh Agriel. Suara lirih penuh syukur dia lontarkan.
Mery menutup matanya erat, meremas kerah baju Agriel dengan tangan gemetar. Bibirnya pun ikut memucat, dan tidak lama kemudian tangisan lolos begitu saja.
"Hiksss... Sialan! Aku gagal!" decak Mery, dan segera turun dari gendongan Agriel. Sayangnya, pria itu malah semakin erat memeluk tubuh Mery.
"Lepas!" bentak Mery, berusaha menjauh dari Tubuh Agriel.
"Aku sudah berusaha keras Mery, tapi sepertinya kamu sendiri yang meminta permainan kasar!" Kata itu terlontar dengan nada rendah, serak dan berat. Amarah seperti mendidih di atas kepala Agriel.
Tanpa meminta persetujuan dari Mery, Agriel langsung memboyongnya masuk ke dalam kamar. Melupakan sorot tajam dari Nandhaya yang sekilas berada di kejauhan. Tua bangka itu seperti CCTV berjalan bagi Agriel. Masa bodoh!
***
Kejadian itu terulang kembali. Bedanya saat itu Mery menatapnya penuh cinta, kini penuh kekecewaan. Di bawah kendalinya, Agriel bisa melihat wajah penuh kesedihan. Rasa yang begitu rumit di deskripsikan. Pompaan yang ia lakukan begitu kasar dan keras. Membuat sang empu melenguh nikmat beserta perih yang menjadi.
Pagi berganti siang tidak mereka pedulikan. Agriel bagaikan orang hilang kendali, dan terus membuat Mery semakin tidak berdaya. Bahkan hanya untuk mengobrol pun tidak ada celah.
"Stoppp, Agriel..." lirih Mery, dengan napas yang memburu.
Agriel diam, semakin memperdalam sampai ke titik sensitif Mery. Berulang kali Mery mencapai kepuasan, tapi tidak dengan Agriel.
Dapat Mery rasakan miliknya terasa penuh, cairan hangat tidak putus-putus terasa terus mengalir. Sebagian cairan itu bahkan sampai tumpah, mengotori tempat tidur mereka.
Tatapan Agriel masih tetap sama tajamnya. Mengecup bibir Mery dalam, dan menenggelamkan kepalanya di cekuk leher Mery.
"Berat!" dengus Mery.
Bukannya merasa bersalah, Agriel malah menggigit bahu Mery, sampai memerah.
"Maaf.." ucap Agriel, pelan. Berguling ke samping, dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Mata Mery terpejam. Bukankah sekarang dia sudah resmi menjadi simpanan? Simpanan dari laki-laki yang istrinya sedang hamil. Jujur, Mery benci dengan hatinya sendiri. Rasa itu tidak terlihat, tidak bisa Mery pegang ataupun kendalikan. Semakin di tekan, gaya dorongnya malah semakin kuat. Rasa sesak menyelimuti hati Mery.
Tidak sadar air mata mengalir deras, menatap Agriel dengan sirat akan kekacauan.
"Agriel.... Bisakah kau bunuh aku saja??" tanya Mery, bibirnya melengkung ke bawah. Semakin ia berusaha, semakin ketara sekali bahwa usahanya sia-sia.
"Mery—"
"BANG*SAT!! kau baj1ngan Agriel! Sungguh!!!. Pengecut!" umpat Mery menahan rasa sakitnya.
"Sudah puas?? Ku tanya kau sudah puas??" bentak Mery.
"Aku rendah!! Harga diriku... Ya Tuhan, kenapa nasibku buruk sekali? Mencoba bertahan, tapi seakan engkau malah semakin menguji kekuatanku. Aku hanya ingin hidup normal. Bukan menjadi seorang simpanan." lirih Mery frustasi.
Agriel terdiam, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut pria itu. Tapi, tindakan dari Agriel membuat seakan rasa sesak di hati Mery luruh. Pria itu memeluk tubuh Mery dengan sangat erat.
"Kau ingin tahu rasa sakit hatiku, Mery?" tanya Agriel dengan gumaman pelan.
"Hatiku tersayat. Wanita yang aku ratukan menangis karena dia menganggap bahwa dirinya adalah yang kedua. Asal kamu tahu Mery, sejak dulu hingga sekarang hanya ada kamu. Ucapanku terlihat bualan, tapi tidak dengan keseriusan ku—"
"Aku semakin muak dengan omong kosongmu, Agriel. Kau pisahkan aku dengan ibuku, karirku, temanku, dan kehormatanku. Puas??" Tukiknya tajam.
"Mery..."
"Berhenti mengoceh, aku sungguh muak!"
"Bisakah kau lebih tenang? Dengarkan semua ceritaku! Aku sendiri pun juga sama lelahnya denganmu!" sertak Agriel.
"Akan aku ceritakan. Semuanya! Tolong dengarkan! Satu kali saja Mery.." mohon Agriel, tatapannya meneduh.
Memegang erat tangan Mery. "Ini semua rencana Ayahku, Basta."
"Dia adalah laki-laki yang tidak pernah mau menerima kekalahan. Apalagi itu dari saudaranya sendiri Desta. Pamanku, Desta adalah pengusaha paling ulet dan sulit. Dibalik sifat bejatnya aku akui bahwa jiwa kepemimpinan Desta lebih unggul dari Basta. Kakekku, Nandhaya dulu mendidik mereka berdua dengan keras. Namun juga tidak adil. Nandhaya dulu lebih memanjakan Desta dan memuji bakat Desta yang lebih diatas Basta. Ayahku memang bukanlah pengusaha sebaik Desta, tidak sepintar Desta dan apapun itu tidak lebih di bawah seorang Desta."
"Sampai seorang penghibur pun menjadi bahan rebutan mereka. Rasa tidak ingin kalah dengan Destalah yang membuat aku menderita, ibuku menderita. Kau tahu Mery? Aku dipaksa menikah dengan Anouk—anak angkat Desta—dengan ancaman. Awalnya aku tidak percaya, sungguh aku lebih baik menghindar dari ayahku sendiri daripada semakin memperkeruh keadaan. Aku tetap bersamamu, melindungimu dengan cinta yang ku miliki. Hingga, suatu ketika, kejadian malam di mana rumah mu terbakar dan bayi Bella di tukar dengan mayat bayi lain. Di situlah aku tahu, bahwa kekuatan Ayahku lebih di atasku. Aku tidak bisa melawan. Melihatmu dan Ibumu menangis sudah cukup membuatku mundur—mundur untuk menjaga dan melindungimu, Mery."
"Tidak ada kedustaan di setiap ceritaku. Aku berani bersumpah atas nama Tuhan Yesus dan segala berkatnya, bahwa aku berkata yang sebenarnya." Ucap Agriel penuh penekanan.
Mery terdiam, membisu dengan napas tercekat. Dia menangis dalam diam. Genggaman kedua insan itu semakin kuat dan erat. Tatapan mata keduanya seakan menyalurkan sebuah cinta tanpa tali penghubung.
"Cinta itu butuh perjuangan. Cinta yang telah dibuat sakit, butuh pengorbanan agar kembali pulih. Kata maaf hanyalah sebuah formalitas. Yang aku butuhkan adalah sebuah tindakan tanpa batas. Rasa percaya karena adanya kenyataan, bukan dusta semata. Di siang hari ini, aku melepaskan sumpah benciku padamu Agriel. Diantara sinar sang Pencipta, yang telah memberikan rahmat dan berkatnya. Aku memaafkan kamu Agriel" lirih, lembut dan mendayu.
Mata Agriel yang semula terpejam itu terbuka perlahan. Tersenyum manis pada Mery yang menyambutnya sama. Bunga mekar di musim semi, harumnya sampai membuat kepayang.
"Aku kira akan sulit memohon maaf padamu, Sayang"
"Percuma menyiksa diri sendiri Agriel. Aku sudah lelah menjadi si munafik rasa."
"Jadi??" tanya Agriel menaikan alisnya menggoda.
"Apa?" tanya balik Mery acuh. Dan kembali pada posisi semula. Semua badannya terasa remuk, dia butuh istirahat.
Agriel pun ikut menyusul Mery, memeluk tubuh mungil Mery dari belakang. Meghirup lamat aroma khas wanitanya.
"Di mana sekarang Anouk?" tanya Mery, membalikkan badannya.
Agriel terdiam, dengan bola mata yang tidak lepas dari sorot mata Mery.
"Berjanjilah, bahwa kau tidak akan lagi berurusan dengan Anouk. Jika wanita itu datang lagi, biarkan saja. Jangan mengulang kesalahan dan membuat orang di atas kita marah. Tapi, kau harus menghindar. Tidak semua masalah terselesaikan dengan kehadiran kita. Kau paham?" kata Mery dengnan wajah serius.
Agriel mengangguk, "aku tidak akan berhubungan dengan Anouk lagi." ujarnya sangat amat pelan.
Maafkan aku sayang. Batin Agriel.
BERSAMBUNG.....