
Mata Anouk memanas, menatap surat cerai di hadapannya. Menatap Agriel nyalang, nan tajam.
"Maksud mu apa?" tanya Anouk.
"Meminta cerai?" ulang Anouk, tertawa sesaat.
"Aku cukup senang, akhirnya surat yang ku tunggu tiba. Tapi... Kau melanggar janji kita, Agriel." lirih Anouk, dia terpejam kuat.
"MANA JANJIMU UNTUK MEMBUAT DESTA MISKIN DAN MEMBALIK HARTANYA ATAS NAMAKU!" pekik Anouk, berteriak bagai orang kesetanan.
"Desta belum mencintaiku dasar, bajing4n!!!"
"Setelah aku banyak berkorban, kini kau membuangku bagaikan sampah?" ulang Anouk.
Agriel tertawa keras. Dia sampai terbahak, dan memegang perutnya, sakit.
"Ree... Masih ada orang gila seperti ini." ucap Agriel dan di sahuti Ree yang tengah menahan tawa.
"Wanita itu pikir, Desta adalah segalanya." balas Ree.
"Anouk, Anouk. Malang sekali hidupmu." desis Agriel.
"Surat perjanjian itu, hanyalah sebagai pancingan. Kau kira aku sudi bersama mu? Dan kamu pikir juga, Desta itu mencintai mu? Pria itu hanya mencintai harta dan harta. Dan lagi.. Kau lupa, Desta dan Basta adalah saudara?" tanya Agriel, berjongkok tepat di depan Anouk.
"Mereka saudara. Sifat mereka tentu pun sama. Hanya masalah bunga Lily, keduanya pecah. Dan kau? Hanyalah alat bagi Desta. Dia butuh anak. Karena sebagian kolegan bisnisnya, tidak mau diajak bekerja sama kalau dia pria tanpa komitmen pernikahan." bisik Agriel.
Mata Anouk terpejam. Fakta, yah dia sudah tahu. Tapi, tetap saja rasanya akan terasa amat sesak. Dia mencintai daddynya, ayah angkatnya. Melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian Desta. Bahkan, menjadi seorang jal4ng untuk Desta.
"Lalu.. Aku peduli? Memang aku peduli masa lalu mereka? Memang aku peduli akan mereka? Tidak, Agriel. Tidak!. Aku merendah di depanmu, untuk mendapatkan perhatian Desta. Dan pun kau berikan surat ini kau sumpal di mulut ku, aku tidak akan menandatanganinya. Sampai mati pun aku—"
"Euhmm!!" tersumpal sudah mulut itu dengan remasan kertas gugatan cerai. Yang Agriel remat kuat untuk menyumpal mulut bau Anouk.
"Sesuai keinginan mu, Bit-ch!" desis Agriel dan berdiri.
"Kau urusi saja wanita berlubang sumur itu, Ree. Aku sudah angkat tangan. Sumpal saja wajahnya itu dengan rupa si Desta, pria oyotan yang di sukai wanita bodoh." ujar Agriel dan berlalu dari sana.
Ree bergedik ngeri, "astaga! Aku di suruh mengurusi wanita gila ini?" gumam Ree.
"Hei! Kau! Iya kau!" teriak Ree pada salah satu anak buah Agriel yang berkepala botak dengan tubuh kekarnya.
"Iya tuan Ree?" tanya pria berkepala botak itu menunduk.
"Pulangkan wanita itu ke Surabaya. Mansion tuan Agriel" seru Ree menunjuk tidak minat pada Anouk.
"Baik Tuan." ucapnya, dan segera memboyong Anouk di pundak.
"Ingat! Jangan bercinta terlalu lama. Karena wanita itu harus sampai besok pagi di Surabaya." peringat Ree pada anak buah Agriel itu.
"Wanita ini yang selalu menggoda tuan" sahutnya.
"Cih! Kau itu juga mau-maunya!" desis Ree.
"Karena gratis, tuan." jawab pria berkepala botak itu.
"Astaga! Ya sudah. Bercinta lah sampai telur mu pecah sekalian!"
"Tidak tuan, saya tidak mau bercinta dengan nyonya Anouk. Karena kata teman saya, lubangnya bau"
Dan tawa kedua pria itu menggelegar merdu. Sedangkan Anouk, terpejam menahan amarah.
***
Kakinya terpinjak pada lantai yang dingin. Tanpa alas kaki, Agriel berjalan pelan menuju ruangan yang ia tuju. Pintu besar, menjulang tinggi dengan ukiran lambang matahari diangkat tinggi oleh seorang pria tanpa busana, dengan gambar yang sangat detail.
Pintu itu terbuka, lebih tepatnya dibuka oleh orang yang ada di dalam ruangan itu. Menampilakan sosok pria dengan keriput menjalar di seluruh tubuh, tidak dengan badannya yang masih saja kekar dan tinggi.
Agriel menunduk hormat, salam dengannya. "Master, selamat malam."
"Masuklah, Agriel." serunya memimpin perjalanan Agriel.
Sampailah mereka disebuah ruangan dengan dominan warga gelap, licin. Entah campuran apa yang sampai membuat cat itu licin, sekilas sama seperti sisik ular. Kedua pria berbeda generasi itu duduk saling berhadapan. Sorot mata keduanya sama, sama-sama membinasakan.
"Aku jadi teringat waktu itu.." ucapnya dengan suara tua. Agriel pun tersenyum samar menanggapi.
"Dulu, kau datang dengan bayar luka. Bukan datang, lebih tepatnya kita di pertemukan Tuhan."
"Luka itu masih membekas, master. Sampai hatiku terdalam.." sahut Agriel, meremas dadanya.
"Papa begitu tega. Bahkan dulu aku berpikir, apa bedanya binatang dan manusia?" lanjut Agriel.
"Basta membencimu, Agriel."
"Aku tahu. Dan, aku pun hanya alatnya"
"Basta, Desta. Dua anak itu kurang ajar!" umpat Master dengan tatapan marah. Bahkan keriput-keriput di tubuhnya ikut menegang. Pria itu sudah terlalu tua untuk ikut campur masalah ini.
"Sejak mereka berebut satu wanita jal4ng, aku sudah mencoret nama mereka dari keluarga Bahtara." Ya, pria tua yang umurnya hampir menginjak delapan puluh tahun itu adalah kakek Agriel.
"Exanta itu punyaku. Yang mereka ambil, secara paksa."
Sorot matanya tiba-tiba menajam. "Aku memohon padamu, Agriel. Ambil kembali Exanta dan Obrama. Mereka semua kesatuan dari Bahtara Group. Kekayaan itu hanya akan menjadi ahli warisku, yaitu kamu Erial Agriel Exanta Putra. Kedua anak tidak tahu diri itu tidak berhak. Jika suatu saat sifat mu sama dengan mereka, yang tamak harta. Lebih baik semua kekayaanku, aku sumbangkan ke Gereja."
"Aku tidak menyukai ketamakan. Masa mudaku, aku habiskan sudah untuk mencari. Kalian yang hanya tinggl meneruskan seharusnya tahu diri. Harta itu ibarat temuan. Pemiliknya tidak ikhlas, hanya akan menjadi tumpukan dosa." lanjut Master.
Pria itu memang tidak mau dipanggil Kakek, ia lebih suka di panggil Master.
"Jujur, yang aku inginkan hanyalah Elemery. Tidak Exanta, tidak Obrama, tidak Brahtara." ucap Agriel tegas.
Master tertawa pelan. Kalau tertawa keras, gigi palsunya bisa copot. Faktor usia, membuat giginya perlahan copot, dan diganti dengan gigi palsu guna mepergagah penampilan.
"Kau benar-benar keturunan Brahtara. Aku pun dulu demikian. Basta dan Desta pun juga, tapi mereka menyukai wanita yang salah."
"Aku dengar dari Lily, Mery adalah wanita cerdas. Kata Dino, Mery wanita paling cantik yang pernah ia temui. Pantas saja, cucu ku tergila-gila." lanjut Master.
"Perjuangkan. Aku merestui kalian. Tapi, tolong aku dulu, Agriel. Bantu aku mengambil kembali Exanta dan Obrama. Satukan menjadi Brahtara, sama seperti dulu. Jangan memecah hal yang sudah susah payah aku satukan."
"Aku butuh bantuan." ucap Agriel, pada tujuannya datang ke mari.
"Klan ku sudah sangat siap."
"Kau ketuanya, mereka pasti menurut padamu. Ditambah, kau pewarisku" lanjut Master.
"Master, Desta adalah ketua dari Klan black Rose. Basta bagian dari anggota mafia Surie martine. Mereka sama-sama kuat. Dan, keduanya pun tidak mempunyai kelemahan."
"Basta mempunyai kelemahan. Desta pun demikian. Tidak ada manusia di dunia ini sekuat baja, Agriel. Tuhan menciptakan kita dari apa memang? Sampai tidak mempunyainya kelemahan" bantah Master.
"Basta mencintai Lily, bundamu. Desta mencintai kekayaannya." lanjut Master.
"Kau tidak sedang bercanda? Basta mencintai Bunda? Dia kerap menjadikan bunda bahan taruhan!" decih Agriel.
"Seperti itu Basta, besar gengsi. Suatu saat kita kerjai saja."
"Klan Singa putih ku tidak semudah itu kau remehkan, Agriel. Singa putih ku tersembunyi, tenang dan mengancam. Black rose memang kuat tapi pemimpinnya serakah. Surie martine memang besar, tapi Basta bukan ketua. Ambil tindakan secepatnya."
"Ikuti saja permainan mereka. Tapi jangan lupa, ambil juga hati Mery. Jelaskan semuanya, jangan sampai kau menyesal. Awas!"
"Baik kek."
"Jangan panggil aku kakek!" bantahnya kesal, mengerutkan dahi.
"Aku masih bugar, bagas, waras, panggil aku Master."
"Tapi aku ingin mempunyai kakek. Bukan master. Jika sedang berlatih saja aku memanggilmu master. Ya kek?"
Tuk
Tongkat kayu dengan kepala singa pun mendarat epik di kepala Agriel.
"Cucu durjana!".ketusnya, dan memilih melenggang pergi. Jadi, si Kakek marah.
"Uluh, kakekku ngambek" canda Agriel, menahan tawa dan segera menyusul jaminan kayanya.
***
Pintu dibuka paksa oleh Desta, menatap tajam Anouk yang tengah mende-sah nikmat di bawah kukungan bawahan Agriel. Pria botak tadi, astaga.
"Baby.. Sudahi dulu, acara mu. Daddy ingin bicara, penting." ucapnya, dia sampai-sampai menyusul ke Bandung karena mendengar kabar bahwa Agriel melayangkan surat gugatan cerainya pada Anouk.
"Ahhh.. Se-ben-ahhhh...stop!!!"
Desta memejamkan matanya kesal, jika saja hanya berdua dengan Anouk sudah habis wanita tidak tahu diri itu.
"Baby.. Menurutlah kali ini" sertak Desta.
"Aku tunggu kau di loby" ucapnya dan melenggang pergi.
Anouk memanas, hatinya tiba-tiba saja sakit, saat melihat Desta sama sekali tidak cemburu ataupun memukul pria yang ada di atasnya. Rencananya pun gagal total. Sekian kali dia memancing cemburu dari Desta, pria itu tidak pernah cemburu.
"Stop!! Dasar!! Menyesal aku menggodamu!" dengus Anouk dan segera menendang bawahan Agriel.
"Jangan kasar-kasar, nyonya. Saya pun rugi karena kepincut." ulasnya, kesal karena belum sampai sudah di suruh berhenti.
"Cih! Batanganmu minta di urutkan! Sama sekali tidak terasa!" ejeknya dan segera memakai pakaiannya asal, segera menyusul Desta.
Kepergian Anouk, pria berkepala botak itu langsung menghubungi tuan Ree.
"Kau pasti bercinta dengan wanita gendeng itu?" desis Ree kesal.
"Kucing di kasih ikan, tuan. Maafkan saya."
"YA! KAU KUCING GARONG!" pekik Ree.
"Ya sudah, biarkan dia melayani daddynya dulu. Tapi awasi wanita itu. Pastikan dia kembali ke Surabaya."
"Baik tuan. Akan saya awasi." ucapnya tegas.
Anouk berjalan cepat, turun dan ke Loby hotel. Di sana, Desta sudah duduk sembari membaca majalah yang tersedia. Kedatangan Anouk lanta membuat fokusnya berubah arah.
"Sudah puas, baby?" tanya Desta, menaikkan alisnya.
"Kau selingkuh terang-terangan dari keponakan ku, pantas saja pria itu melayangkan cerai darimu." lanjut Desta.
"Maaf Dad. Daddy pun juga—"
"Paman dan keponakan memang wajar berbagi, Baby"
"Sekarang. Kau ikut Daddy.." ajak Desta menarik tangan Anouk. Tatapannya tajam, menusuk sampai kornea mata Anouk.
Tentu saja wanita itu takut, bayang-bayang menyakitkan tentu saja langsung tiba. Tubuh Anouk gemetar, dia takut, takut dengan gaya Desta saat menghukumnya. Nikmat, meyakitkan, sekaligus ekstrem.
Anouk mengangguk, dia menerima tangan Desta. Namun, saat bau parfum pria itu menguar, seketika itu pula perut Anouk terasa di aduk-aduk.
"Dad.. Aku.. Ingin muntah." ucapnya dan segera berlari menuju kamar mandi.
Desta lantas, menyusul anaknya itu. Dia menatap intens Anouk yang tengah terkapar tidak berdaya di toilet. Wanita itu muntah hebat, yang keluar hanya cairan bening.
"Jangan bilang. Kau hamil anak dari sekian gi-go-lo mu, Baby." ucapan Desta yang langsung membuat Anouk diam sesaat.
"Segera bunuh, janin itu. Karena hanya akan menjadi sumber petaka." lanjut Desta.
BERSAMBUNG...
Dua bab 🤩🤩 dengan total lebih dari 4.000 kata 🙈 jangan lupa likenya ya 🌸 vote juga, dan komen 😾 MAKASIH BANGET ORANG BAIK YANG MAU BACA KARYA NANA 🤗 Love Love Love for you 💓