
Jangan menjadi tokoh egois hanya untuk sebuah lupa. Masa lalu bukankah dijadikan pengalaman? Jangan jadikan beban.
Mery menghirup banyak udara dan menghembuskannya lamat. Untuk pertama kalinya, Mery menunggu kepulangan Agriel. Di temani seorang maid yang setia berdiri di sampingnya. Setelah penat bercemas bodoh, akhirnya Mery putuskan untuk menarik satu persatu untaian benang kusut itu. Benar. Sebuah kegelapan, mau tidak mau harus mencari penerang. Tidak akan bisa kamu keluar tanpa tahunya akar permasalahan.
"Biasanya jam berapa tuan Agriel pulang?" tanya Mery.
"Biasanya sebelum jam tujuh malam sudah pulang nona." jawabnya seadanya. Memang sejak adanya Mery, Agriel pulang lebih awal.
"Semejak ada aku?" tanya Mery lagi, di sambut anggukan.
"Sebelum adanya aku?"
"Tuan jarang pulang, Nona. Lebih tepatnya jarang ke Mansion ini."
"Memang ada berapa mansion yang dia punya?" tanya Mery penasaran.
Maid itu menggeleng. "Saya tidak begitu tahu jelas, Nona. Tapi yang saya tahu adalah Tuan lebih sering pulang ke Mansion di mana ada Nyonya—" ucapnya terputus.
Mery menatap lamat. Jujur saja ini yang dia benci, kenapa hatinya harus sakit saat tahu Anouk dan Agriel adalah suami istri. Seakan tamparan tangan besar memukul dadanya, saat ini. Sadarlah Mery, bahwa kau hanyalah simpanan.
"Aku tahu" ujar Mery mencoba santai.
"Ku harap kalian tidak memusuhiku, aku bukan simpanan. Tapi pun tidak bisa mengelak." lanjut Mery.
"Tidak Nona. Anda bukan—"
"Buatkan aku jus Alpukat" potong Mery. Maid itu pun berbalik arah ke dapur.
****
"Tuan.." lirihan Ree yang terus menerus menghantui pendirian Agriel. Pria itu sampai menghempaskan tangannya tanda menyuruh Ree diam, dan berhenti mengoyahkan pendiriannya. Iya, Agriel tahu ini sulit, tapi hanya dengan ini permusuhan tiga kubu bisa mereda.
"Baiklah. Aku sebagai kaum bawahan memilih mengalah. Pendapatku sudah aku keluarkan mengenai rencana Anda yang begitu gegabah." ucap Ree dengan satu kali hembusan napas.
Agriel memijat pangkal hidung atasnya pelan. Pusing lama-lama jika begini.
"Aku tahu yang terbaik untuk masa depanku sendiri. Jadi diamlah." Tegas dan tenang, tidak bisa di ganggu gugat tentang rencana konyolnya.
"Sekali saja Tuan. Nona Mery manusia. Batas kesabaran manusia terbatas, pikirannya pun mudah berubah, kesempatan hanya datang untuk satu kali. Yang kedua adalah akhir dari segalanya."
"Janin itu butuh perlindungan, Ree."
Mata Ree memincing, sirat kilat tajam menyelidik raut wajah Agriel. "Anda tidak ikut campur masalah pembuatannya 'kan?" pertanyaan paling menyebalkan yang Ree layangkan.
"Kau anggap aku gila? Sampai-sampai mau menidurinya?" decak Agriel kesal.
"Selama ini aku hanya menjadikan Anouk samsak kekesalan ku." lanjut Agriel, menerawang.
Baginya dulu, gara-gara Anouk dia jadi gagal menikah dengan Mery dan parahnya lagi Mery membencinya. Sebelum Agriel tahu akar dari permasalahan rumit ini.
Jika Agriel remaja menganggap ayahnya sangat otoriter dengannya. Tapi pada sebuah kenyataan hanya demi perebutan harta. Kekuasan Nandhaya memang luar biasa. Anak-anaknya hidup enak, tanpa cacat sedikit pun. Sikap Nandhaya pun sama keras, apalagi Nandhaya hidup di lingkup dunia bawah yang kejam. Tontonan sikap yang ia tunjukkan di saat muda itulah yang membuat pola kusut di otak anaknya.
Anin adalah wanita paling lemah lembut. Bahkan hanya untuk membunuh semut pun ia tidak tega. Kenakalan Basta dan Desta pun hanya di anggap sepele. Terbentuklah jiwa berontak dan keras di hati Basta maupun Ree.
Basta dan Ree menyayangi Anin, sampai akhirnya perempuan lembut itu meninggal, tepat sebelum Basta masuk SMA. Pukulan paling keras untuk keluarga Nandhaya.
Kesepian.
Itulah yang di rasakan Basta dan Desta. Hingga seorang wanita bayaran asal club malam elite yang mempunyai perangai lembut seperti Anin membuatnya terjebak dan akhirnya berseteru sampai pada sebuah tahta.
"Setiap melihatnya hanya ada kekesalan. Aku membenci Anouk, tapi tidak dengan calon keponakan ku." tegasnya lagi.
Ree mengangguk. Percuma memba*cot panjang lebar tapi hanya berupa hasil sia-sia. Lebih baik diam, dan fokus menyetir. Jalanan malam memang sepi, tapi bagi Ree malah harus ekstra hati-hati, karena banyak balap liar yang bisa saja nyawa menjadi taruhannya.
"Ke Mansion Bunda." ucapan Agriel sontak membuat Ree melotot.
"Anda yakin, Tuan? Nyonya Lily sudah ada di Surabaya, sedangkan kita ada di Bandung." negosiasi Ree.
"Pesawat, bodoh. Atur perjalananku."
"Segera, Ree!!"
****
Pukul 2 pagi.
Wanita itu tidur meringkuk, menahan dinginnya udara malam yang tercampur AC ruangan. Matanya tertutup, dengan kening mengerut tajam. Tanpa sadar pun air matanya menetes. Entah ada apa di alam bawah sadarnya. Yang pasti, keadaan Mery saat ini sangat kacau—hatinya.
Maid yang tidak tidur semalaman, guna menjaga Mery hanya bisa mendesah pasrah. Ingin sekali ia membangunkan Nona-nya, tapi di lain sisi ia takut Nona Mery marah dan kecewa. Kabar bahwa Agriel pergi ke Bandung sudah sampai ke telinga para bawahan yang ada Mansion itu.
"Bangunkan saja, Ri. Aku takut Nona Mery malah sakit. Dan kau tidurlah.. Besok kita sudah harus bekerja." Ucap salah satu temannya, memberi saran.
"Astaga, Na. Aku tidak tega. Kau tahu sendiri bagaimana semangatnya Nona Mery menyambut kepulangan Tuan. Dia bahkan menatap terus telepon rumah,"
"Itu juga kesalahan mereka, Ri. Nona Mery juga tidak memberitahu Tuan jika—"
"Kau tahu sendiri bagaimana watak Nona." potong Riri.
"Tuan Agriel juga tidak ada pemberitahuan sebelumnya jika ingin kembali ke Surabaya." gumam Nana, bingung.
"Aku takut, Na..."
"Aku takut jika Tuan tidak kembai ke sini lagi. Aku dengar, Tuan ke sana menyusul Nyonya Anouk dan Nyonya besar Lilyana. Mansion ini juga hanyalah sebagian dari investasi Tuan. Bukan rumah sebenarnya." jelas Riri, menunduk.
"Tapi Na.... Nyonya Anouk adalah istri Tuan Agriel. Aku-aku mendengar kabar —hasil curi dengarku. Bahwa Nyonya Anouk sedang hamil." bisik Riri. Kesunyian malam, membuat suara gibahan mereka terdengar jelas.
Hamil.
Bisakah kalian bantu Mery untuk mencabut belati yang kini menusuk hatinya? Ini sangat sakit. Tanpa mereka tahu, bahwa Mery mendengarkan setiap ucapan mereka. Padahal hatinya sudah mulai melunak karena sikap Agriel yang tulus padanya. Tapi lagi dan lagi, Mery hanyalah manusia biasa yang sulit membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya modus semata.
Ada luka yang dulu hampir mengering kini mengelupas mengeluarkan darah tidak kasar mata. Hatinya kembali sakit, penuh dengan amarah yang tertahan.
Suara langkah kaki yang terdengar jelas. Riri dan Nana memutuskan tidur. Gelombang getar yang mereka timbulkan perlahan menghilang, menjauh.
Mery lantas duduk, dengan kepala pusingnya. Memegangnya dan memberi pijatan kecil.
"Sudah seharusnya aku tetap pada rencana awal. Aku hampir kembali bodoh." gumam Mery.
"Bagaimana bisa Mom dengan tenang satu rencana dengan pria berengsek itu?. Astaga.. Aku siapa? Kenapa juga harus bersedih bodoh? Bukankah seharusnya aku senang. Da-dan kembali pada awal rencana. Kabur." Tangan Mery mengepal kuat, lantas berdiri seraya mengusap kasar lelehan air matanya yang entah kapan keluar.
***
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul tiga lebih sepuluh menit, seorang wanita dengan rambut yang di gelung membentuk bun berjalan pelan. Tidak sulit bagi Mery menghafal setiap sudut Mansion besar itu. Setiap lekuk Mansion sudah tergambar sebuah peta di otak kecilnya.
Dengan tas ransel yang entah milik siapa itu, Mery isi dengan beberapa jam tangan mahal milik Agriel dan beberapa barang mewah yang ada di Mansion itu—sekiranya jika di jual mudah dan tentu harganya mahal. Masa bodoh dengan sebutan pencuri. Karena kali ini adalah celah yang sangat bagus.
Agriel terbang ke Surabaya. Dengan begitu tidak ada halangan baginya untuk pergi. Setiap penjaga di Mansion itu pun banyak yang tertidur, menahan kantuk atau pergi wora-wiri ke dapur. Kesibukan yang mereka buat adalah celah untuk si Pencari celah, Elemery.
Meninggalkan sakit hati yang dalam. Jujur saja, berat bagi langkah Mery untuk meninggalkan kenyamanan ini. Bagi sosok perempuan yang lama di tinggal seorang ayah, kasih sayang adalah hal yang ingin di cari. Tapi, Mery tidak bisa mendapatkannya. Mery tidak bisa memeluk ayahnya. Mery rindu tangan kekar kasar seorang ayah mengelus, menghapus air mata lelahnya. Tidak akan bisa.
Agriel itu bagaikan paket lengkap seporsi ayam geprek. Yang Mery butuhkan adalah makan, tapi sambal yang sudah terlanjur tercampur ayam gurih harus menjadi pedas. Lambung Mery tidak kuat pedas. Ya, ibaratkan seperti itu.
Rasa sakit harus di sembuhkan. Dengan perlahan menghindar dari sebab sakit perutnya itu.
Mata Mery menatap tajam tembok besar di depannya. Melirik pada tangga besi, yang kemarin Agriel gunakan untuk memetik Alpukat—pohon Alpukat di taman Mansion itu sangat besar, dan menjulang tinggi—yang begitu bodohnya lupa di taruh pada tempatnya oleh Agriel.
"Bandung..." gumam Mery saat ingat bahwa dia masih di Bandung.
"Sial!!" umpatnya pelan. Kenapa juga harus Bandung? Mery tidak tahu jalanan Bandung.
Kepalanya menggeleng, bukan waktunya pusing karena rute jalananan. Tapi, yang paling penting adalah segera kabur dari sini, dan menghilang dari kehidupan brengsek Agriel.
Suara tangga besi yang terpaut dengan tanah rerumputan basah, membuat beberapa penjaga berlari ke taman belakang.
"Cepat!!" seru mereka setengah teriak.
Mery mendesah kesal, meninggalkan rasa takutnya pada ketinggian, dengan cepat merangkak menaiki tangga.
"Kenapa gak ada kucing!!" lirihnya kesal. Menggunakan apa untuk mengecoh mereka.
Matanya tidak sengaja menatap alpukat besar yang mengelantung. Dengan cepat Mery memetik buah itu dan melemparkannya ke lawan arah.
"Pengecoh!!. Ada penyusup!!. Cepat bergerak"
"Bang*sat!" misuh Mery kesal.
Mereka tidak sebodoh yang Mery kira. Mencoba kuat, Mery pun sampai pada ujung tembok. Masih ada kira-kira dua meter untuk sampai di atas tembok pas. Tangga besi itu hanya bisa menghantar Mery sampai tiga perempat tinggi tembok.
Licin dan susah untuk di gapai. Menahan napas yang hampir tersendat itu. Keringat dingin bercucuran dengan rasa takut ketahuan. Tangan mungil Mery mencoba meraih tembok atas.
"Sebentar lagi.. Tolong Ya Tuhan!!" bisik Mery setengah menangis.
Ingin rasanya berteriak kencang, dan mengumpat si pembuat tembok tinggi ini.
"Ayo Mery!!" Katanya memberikan semangat pada dirinya sendiri. Siapa lagi yang akan memberinya semangat kecuali dirinya sendiri?
Dan, Hap!
Kesusahan Mery terbayar lunas. Dia duduk di atas tembok pas. Dengan menutup mata. Mery takut, Tembok itu sangat tinggi, bisa Mery bayangkan betapa mengerikannya ketika mata itu ia buka.
"Hiksss... Agriel.." gumamnya tanpa sadar.
Sungguh ini sangat menakutkan, berada di atas tembok dengan cat licin. Kini yang ada di pikiran Mery adalah kenapa dia tidak membawa tangga? Atau alat bantu lainya? Bagaimana ia bisa turun sekarang? Bodoh! Bodoh! Umpatnya.
"Astaga!! Gimana turunnnya???" tanya Mery mengigit kukunya. Masih dengan mata tertutup. Mana berani dia membuka mata.
Entah berapa jam, karena kini Mery merasakan sinar matahari mulai menyinari wajahnya.
Dengan rasa takut yang sengaja ia tepis, Mery membuka matanya perlahan. Menatap semburat jingga yang indah. Tekat yang menggebu, tanpa melihat bawah, Mery memberanikan diri untuk loncat.
"Mati ya mati saja." Gumamnya merasa bodoh amat.
"AAAAAAAAAaaaaaaaa" Teriak Mery, yang coba ia redamkan.
"Gak!! Aku masih mau hidup!!! Ya Tuhan!! Lindungi aku!! Berkat pagi ini, dengan sinar matahari karuniamu, lindungi aku Ya Tuhan!!" ucap Mery bergetar.
Di bawah sana, tampak tangan kokoh sudah siap memeluk erat tubuh Mery. Dengan rasa cemas yang menggebu, dan ketakutan yang menjadi satu.
Doa mereka terkabul, tangan kokoh itu berhasil meraih tubuh Mery yang sudah bergetar hebat.
"Terima kasih Tuhan." bisiknya, memeluk Mery erat.
BERSAMBUNG......