
Mery, Agriel, Bella dan Neel kembali terbang ke Indonesia. Neel juga ikut, sebagai sahabat beda usia dengan Agriel dia harus melihat temannya itu melamar kekasihnya. Rencananya Neel akan di Indonesia sampai di mana Agriel dan Mery menikah. Ini momen yang paling di tunggu bukan? Setelah bertahun-tahun kisah mereka di penuhi banyak hambatan dan rintangan.
Tuhan sebegitu baik, dan hari itu akhirnya tiba. Latar rumah yang sebelumnya hanya berupa cor-coran, dan di hiasi tanaman di dalam pot dengan berbagai ukuran kini di sulap menjadi begitu indah. Dekorasi bunga, dengan pahatan nama Agriel dan Mery terukir indah. Lampu-lampu kecil dengan warna emas dan putih terpadu dengan balon-balon serta beberapa tanaman sebagai penyejuk.
Meja panjang dengan banyak kursi dibalut kain putih yang semakin membuat acara sederhana itu mewah. Makanan dari mulai kue sampai nasi pun ada. Dari hidangan Nusantara sampai hidangan Eropa pun ada. Pergelaran acara lamaran Agriel dan Mery benar-benar dibuat meriah namun terselip rasa syukur dibalut kesederhanaan. Mereka seakan tak melupakan berkat Tuhan, menempelkan tanda salip di antara ukiran kedua nama mereka.
Mery datang dari ujung halaman, dibalut gaun putih gading dengan hiasan berlian mewah. Mahkota kecil ditengah rambutnya yang tergerai indah, satu kata sempurna.
Disebelah kanan Mery sudah ada sang kakek, wick-hely, dan disebelah kiri ada Neanra, sang ibunda tercinta. Senyuman lebar merekah bak bunga baru mekar. Mery seakan tak mampu menyembunyikan rasa senangnya untuk hari ini. Di sana, sudah ada Agriel yang memakai tuxedo putih licin dengan bunga mawar terselip di antara celah dada kanannya.
Senyuman Agriel pun sama mekarnya dengan Mery. Kedua pasangan itu seakan dibalut rasa senang yang tidak bisa diutarakan.
Mery berjalan pelan, hingga sampailah dia didepan Agriel. Kedua mata mereka beradu pandang, dan sedetik kemudian Agriel merekuh tubuh Mery dan memeluknya erat. Memberi kecupan singkat di dahinya, dengan rasa syukur tak terkira.
"Bisa kita mulai acaranya Tuan dan Nona?"
Mery tersipu, dia mengangguk dan kembali fokus pada acara lamaran ini.
"Hadirin yang berbahagia, marilah kita panjatkan puji Syukur kita kepada Tuhan, yang telah melimpahkan berkatnya pada malam hari ini. Di hari yang spesial dan berkesan ini, marilah kita sambut kedua pasangan yang akan segera melangsungkan pernikahan." Sorak tepuk meriah, dengan senyuman bahagia menyambutnya.
"Sebelum kita ke inti acara yaitu penyematan cincin. Marilah kita dengarkan sepatah dua patah kata-kata manis dari keduanya."
Agriel tersenyum kecil, dia langsung menerima mixnya dan mulai berjongkok di depan Mery.
"Langit di penuhi bintang, bulan juga tak malu menampilkan sinarnya yang megah. Menemani malam penuh sejarah ini, Mery. Angin terasa semilir, seakan membawa pesan dari Tuhan, membawa berkat dan perlindungan dariNya. Aku Agriel, sudah menentukan pilihanku, Yesus. Aku sudah menentukan pilihan ku, Allah. Aku sudah menentukan tujuan hidupku yang sebenarnya. Sepatah kata cinta memang tak membuatmu percaya, iman seorang manusia terus berubah sepanjang waktunya. Tapi tetap yakinlah, bahwa aku mencintaimu tepat dibawah Tuhanku. Aku meletakkan mu setelah ibuku. Yakinlah, bahwa aku tulus. Menemani mu hingga rambutmu menjadi putih, Mery. I Love You. Are you ready to be my life companion forever sweet lady?"
Mery menutup mulutnya, rasa-rasa dia sudah tidak mampu mengucapkan sepatah kata. Lidahnya kelu, Mery memejamkan matanya dan mengangguk. Dia mengangguk, dan berjongkok mengecup jidat Agriel cukup lama. Hal itu tentu membuat sorak ramai tamu undangan. Bahkan diantaranya pun sampai menghabiskan tissu untuk mengelap air matanya yang terus keluar.
"Agriel..." Lirih Mery, dia memegang bahu Agriel pelan, membuat pria itu berdiri tegak kembali.
Sekarang mix di pegang oleh Mery. Senyuman Mery seolah membalas ucapan Agriel. Dia memegang mixnya gugup, dan wajahnya memerah.
"Aku tidak bisa berkata banyak, di depanmu, di depan semua orang. Aku yang sekeras ini, aku yang seteguh ini nyatanya luluh di hadapanmu Agriel. Malam ini, Tuhan menggirimkan cahayanya, cahaya diantara cinta kita. Di mana titik terang itu sudah menampakkan diri. Aku bahagia, aku bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan. Kisah kita memang tak sebentar Agriel. Liku kita banyak. Permasalahan kita pun demikian. Disaat aku berdiam dan pasrah, kau bergerak mengejarku sejauh ini. Sudah sadari awal aku luluh Agriel. Hanya saja ego ini terlalu besar. Aku, Mery dengan tulus menerima kau di hidupku. And, I am ready to accompany my life forever. until my hair is no longer black. I Love You Too."
Tepukan meriah kini mengalun merdu. Agriel lantas memeluk Mery erat, dan memberi kecupan paling dalam di hati Mery.
"Bisakah malam ini juga kita menikah Mery? Akan ku panggilkan pendeta." Ucap Agriel.
"Ingat Agriel, gaun pesanan mu masih akan datang dua hari lagi. Kau ingin semua itu sia-sia?" Tanya Lily menggoda.
Wajah Agriel berubah masam, "aku hampir lupa,"
"Kisah mereka benar-benar dalam. Saya sendiri sampai terharu. Benar-benar hebat, tidak bisa berkata-kata dan angkat tangan."
"Acara selanjutnya adalah penyematan cincin di masing-masing jari manis keduanya."
Dan, cincin putih mengkilap itu telah tersemat di jari Mery dan Agriel. Mereka sudah resmi menjadi calon suami dan calon istri. Lima hari lagi, upacara pernikahan akan segera di gelar, di gereja besar di pusat Kota.
***
Pernikahan merupakan suatu karunia luar biasa dari Tuhan Yesus Kristus. Pernikahan menyatukan dua pribadi menjadi satu daging. Istilah satu daging merujuk pada Kejadian 2 ayat 24 yang berbunyi, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." Tak terhitung sudah waktu berjalan sedemikian cepat.
Baru saja Mery sibuk kesana kemari untuk memastikan semuanya lancar, dan Agriel yang sama sibuknya ditambah urusan perusahaan yang tak bisa di tinggalkan. Keduanya sama-sama sibuk dan hanyut dalam perjalanan waktu. Hingga hari itu tiba, hari di mana Mery dan Agriel akan mengucapkan janji setianya di hadapan Tuhan. Di atas Altar megah dengan hiasan lilin-lilin menyala terang, Mery mengenakan gaun pengantin dengan penutup kepalanya, dan Agriel mengenakan tuxedo putih bersihnya.
Di hadapan pendeta mereka sama-sama menunduk, tersenyum dengan rasa tegang tak terkira.
"Sebelum dimulai, siapkah kalian? Sudahkan kalian siap untuk menjalankan bahtera ini? Pernikahan adalah suci, di mana Tuhan Yesus menurunkan banyak berkatnya."
"Kami siap." Ucap keduanya bersamaan.
"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Ucap Agriel lirih, penuh ketegasan dan tulus.
"Saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Balas Mery sama tulusnya.
Sang pendeta pun menyuruh Agriel membuka penutup kepala Mery.
Seraya memegang cincin kawin putih dengan hiasan emas merah, dia pun berucap, "Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang kasih Kristus, yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi saudara berdua, untuk meniru kasih Kristus dalam kehidupan rumah tangga dengan mengasihi pasangan tanpa awal juga tanpa akhir."
Giliran Mery yang menyematkan cincin itu di jari manis Agriel, "Erial Agriel Exanta Putra cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaan ku."
"Mempelai pria bisa mencium mempelai wanita."
Saat itulah Agriel langsung memberikan ciuman dalamnya kepada Mery, membelitkan lidahnya dalam, semakin dalam, sampai punggung Mery melengkung hebat. Merasa Mery sudah kehabisan pasokan udara, Agriel lantas menyudahi ciuman itu.
Tepukan serta sorak ramai terdengar. Mereka turut bahagia, lantas mulai menyanyikan lagu-lagu kerohanian nan agung.
Acara pun di lanjutkan dengan pemberkatan, yang membuat Agriel dan Mery berlutut dengan para umat berdiri.
Pendeta pun mulai mendokan mereka, "Hiduplah menurut janjimu, hayatilah tugas dan tanggung jawabmu, dan terimalah berkat Tuhan: Allah, Bapa Tuhan Yesus Kristus yang telah memanggil dan mempersatukan kamu dalam perwakilan ini akan memberkati kamu dan memenuhi rumah tanggamu dengan kasih karunia Roh Kudus supaya dalam iman, pengahrapan dan kasih, kamu hidup suci dan bahagia selama-lamanya."
Gereja mendadak hening, isakan kecil mereka menyambut doa-doa agung itu. Tak ada yang berani mendongak, mereka tak pantas. Tak pantas untuk menatap keagungan Tuhan, kasih dan kehidupan sucinya telah di titipkan pada Agriel dan Mery.
Mereka telah sah, dan keabadian lah yang menunggu mereka.
***
"Anakmu sudah bahagia, Basta." Ucap Nandhaya, setelah upacara pemberkatan dia menyelinap keluar menemui Basta di ruang bawah tanahnya. Orang tua itu menghukum Basta, anaknya sendiri atas kedurhakaan dan keserakahannya pada harta yang tak seberapa.
"Apa urusannya dengan ku? Bukankah manusia-manusia itu puas? Mereka bahagia diatas penderitaan ku." Decihnya.
Nandhaya lantas tertawa kecil, "dulu kau yang menghancurkan mereka, kini Tuhan Yesus Kristus telah membuktikan bahwa pasangan sehidup semati tak akan terpisahkan. Kau di sini pendosa Basta, tapi kau masih berani menegakkan dirimu diatas dosa itu. Bagaimana bisa Tuhan mengampuni mu? Restuku saja tidak akan aku berikan kepadamu. Sampai aku mati dan kau pun mati, kau tidak akan ku bebaskan dari ruangan ini Basta. Hidupmu kau habiskan di ruangan gelap nan sunyi ini."
"Dengan, kedua biji mata yang telah hilang." Lanjut Nandhaya dan pergi meninggalkan Basta yang gemetar. Memegang tiang besi itu dengan kuat, dia marah dan ingin menghancurkan Nandhaya, tapi sadar—tak ada yang bisa dia banggakan sekarang.
***
Wanita muda itu kini hidup seperti penderita busung lapar. Perutnya membuncit besar, tapi badannya kurus kering. Anouk tersenyum senang mendengar berita pernikahan Mery dan Agriel. Dia mengelus perutnya pelan. Kandungannya baru saja menginjak umur tujuh bulan. Tapi rasa-rasanya Anouk tak lagi sanggup melanjutkan sampai dua belum kedepan. Hati, pikiran serta jiwanya sudah amat lelah.
Perawat yang biasanya memeriksa Anouk setiap harinya itu datang. Anouk menatap perawat itu teduh.
"Perutku rasanya mulas." Adu Anouk.
Perawat itu tersenyum, dia mengelus tangan kering Anouk. "Nyonya pikirkanlah hal-hal yang baik. Pikiran Nyonya menjadi titik awal kesehatan Nyonya serta calon bayi Nyonya."
Anouk menggeleng, "bukan... Jiwa ku lelah. Aku hanya ingin semua segera usai. Hatiku sudah lega, orang yang dulu aku sakiti kini telah bahagia." Bayangan Anouk pergi jauh ke masa lalu, di mana dia membuat Mery salah paham terhadap Agriel, membuat Agriel kehilangan jejak Mery. Dan, ya itu semua ulahnya. Walau atas perintah Desta untuk menghancurkan Basta, tetap itu semua Anouk lakukan.
Tubuh Anouk melemas, tensinya turun drastis. Membuat perawat itu panik dan langsung memanggil dokter.
Dokter itu menatap penuh iba, sepertinya tunjangan alat-alat itu tak lagi berguna. Karena si pemilik tubuh sendiri yang ingin semua segera usai.
"Kita lakukan operasi Caesar. Bayi Nyonya Anouk akan lahir prematur."
"Saya akan menghubungi tuan Agriel—"
"Lebih baik jangan, Tuan Agriel seusai menjalankan pesta pernikahannya. Sejak awal hal ini sudah kami bicarakan. Dan, Tuan Agriel hanya berkata lakukan yang terbaik. Dan ini yang terbaik untuk nyonya Anouk. Kalian beritahu besuk atau lusa saja. Jaga juga perasaan Tuan Agriel dan Nona Mery."
Satu jam telah berlalu namun tensi Anouk belum stabil. Dua jam juga belum memberi dampak apapun. Hingga tiga jam kemudian, tensi Anouk kembali normal. Secepat mungkin tim medis langsung melakukan operasi. Kenyataan bahwa ketuban Anouk pecah, yang membuat bayi di dalam perut Anouk menelan beberapa cairan itu.
Menepuk-nepuk seraya menggoyangkan bayi laki-laki mungil itu, yang lahir tak bersuara. Tak ada tangisan yang membuncah. Bayi merah itu diam, hingga membuat beberapa perawat di sana ketakutan. Berbagai cara mereka lakukan, sampai memberi selang oksigen pada bayi mungil itu.
Lelehan air mata Anouk jatuh melalui pelupuk matanya. Walau tubuhnya bak mati rasa, tapi dia tahu bahwa bayinya sudah keluar dan bertemu dengan dunia.
"Tuhan... Kau boleh membeciku, tapi tidak dengan kemurnian mu." Bisik Anouk. Di saat bersamaan suara bayi itu terdengar kencang. Bayi kecil, nan mungil. Berjenis kelamin laki-laki.
"Bayimu selamat Nyonya."
Anouk mengangguk haru, dia menangis dalam diamnya.
Selamat datang pewaris pertama, baby Donan Obrama Putra. Pemegang perusahaan Obrama. Kakak untuk adik-adiknya. Donan, itulah panggilan bayi cilik itu.
BERSAMBUNG.....