
Kini Mery sedang melakukan pengobatan tradisional China yang dibantu sendiri oleh Wick. Mery sendiri tidak percaya bahwa dia masih mempunyai seorang kakek, selain dari mendiang ayah ibunya. Kehidupan begitu penuh kejutan, sampai-sampai membuat Mery hanya mampu mengikuti arus kehidupan. Baru saja Mery tahu bahwa Wick-Hely adalah pengusaha pemilik seperempat daratan China, sudah sangat jelas betapa kayanya kakeknya itu.
Kilas balik cerita, tentang pertanyaan yang selama ini Neanra tanyakan bagaimana bisa orangtuanya dulu menjodohkanhya dengan Desinton, sudah terjawab dengan jelas. Dulu Xiang Yu menyuruh orangtuanya untuk menjodohkannya dengan Desinton. Desinton sendiri yang kala itu merasa dibuang semakin kacau. Kekacauan itu pun juga yang membuat rumah tangga Neanra dan Desinton tidak berjalan semestinya. Jauh di lubuk hati terdalam, Neanra sama sekali tidak pernah membenci Desinton. Bagaimana pun kehidupan yang keras juga akan berdampak semakin terbentuknya hati yang keras. Manusia baik itu banyak, manusia jahat juga demikian, jadi untuk apa saling membenci dan mencaci? Bukankah kita sama? Sama-sama sebutir debu tidak berguna tapi berlagak sombong.
Terhitung sudah hari ke 30 Mery mengajalani pengobatan di bantu oleh Wick sendiri. Kondisi tubuh Mery pun semakin baik. Wajah cerah kini sering hadir di tawanya. Melihat Mery sudah sehat, Agriel melanjutkan kembali pekerjaan yang terbengkalai itu. Kehidupan seolah kembali normal seperti sediakala. Mery sendiri ingin fokus pada kesehatannya. Dia memutuskan istirahat dari kerja selama beberapa bulan kedepan.
Hari-hari nya tentu sekarang berbeda, karena akan ada cerita dari Wick untuk Mery. Pria itu pun juga sama bugarnya, melihat betapa bahagia keluarganya sekarang. Wick seolah sadar, peran keluarga sama pentingnya untuk perbaikan psikisnya dan juga kesehatan raganya.
"Kapan kau menikahi Mery? Cucuku bukan barang mainan mu Agriel!" Ucap Wick mendominasi. Dia menatap lekat wajah Agriel, dengan sorot mata yang kian menajam.
"Secepatnya," jawab Agriel mantap.
Tawa Wick menggelegar, penuhi ruangan kantor Agriel. Membuat Agriel kebingungan namun juga waspada dengan tingkah Wick. "Kenapa?" Tanya Agriel menyorot tajam.
"Aku tahu Agriel. Kau menyembunyikan Anouk, wanitanya Desta. Dia istrimu bukan? Ku dengar perceraian itu masih abu-abu."
"Kau terlalu serakah Agriel. Siapa yang kau inginkan? Apa latar belakang mu menyembunyikan Anouk? Apakah kau takut jika anak yang di kandung Anouk adalah darah dagingmu? Atau bagaimana? Coba kau jelaskan. Empat telinga, di satu ruangan ini." Lanjut Wick.
"Diam?" Ejek Wick, pria tua itu berdiri dengan bantuan tongkatnya.
"Kau sendiri tahu seberapa besar kekayaan ku Agriel. Detik ini pun aku bisa melumpuhkan bisnis kecil mu ini. Erlen Group? Sekelas dengan Obrama? Atau mungkin di bawahnya?"
"Nandhaya telah merekuh semua kekayaan itu sendiri. Kau tidak ada apa-apa tanpa dia Agriel, bukankah begitu?" Tanya Wick yang menusuk hati Agriel.
"Namamu memang menyandang Exanta, tapi dirimu? Hanya untuk Erlen Group yang sebutir debu."
"Tuan Wick-Hely, aku tahu semua kesombongan itu berasal. Aku juga paham sebesar apa kekayaanmu. Seakan-akan kau dilahirkan untuk menikmati harta, dan harta. Aku memang hanya sebutir debu, tidak akan ada apa-apanya dengan semua kekayaan mu. Sadari awal aku memang tidak berharap dengan harta Nandhaya. Bukankah pria tua itu juga sama denganmu?. Masalah Anouk, aku punya tujuan sendiri tentang anak itu. Aku mempunyai cita-cita ku sendiri. Elemery biarkan dia sembuh, apakah kau kira aku selama ini tidak memikirkan pernikahan dengan nya? Apakah kau kira aku hanya kadal pengecut?. Memang kenapa jika Erlen Group hanyalah sebutir debu? Kau tahu Tuan Wick, debu yang menumpuk jika masuk ke dalam paru-paru membuat masalah besar pada kesehatan, orang yang susah bernapas akan lumpuh kemudian mati." Balas Agriel, duduk dengan tenang.
"Obrama dan Erlen Group memang dipandang sebelah mata. Tapi bagaimana jika suatu masa yang akan datang, dua perusahaan ini bersatu?" Tanya Agriel.
Senyuman tipis terbit di garis keriput Wick. "Aku tahu maksudmu." Ucapnya, dan berjalan keluar.
"Buktikan itu semua Agriel. Rencanakan pernikahan. Sebelum cucuku itu hamil. Dan, jemput cicitku, Bella. Dia semakin besar, dan kau menempatkannya di bawah pengawasan pria dewasa yang lanjang." Akhir patah Wick dan dia keluar dari ruangan Agriel.
Agriel menghela napas panjang, dia menengadahkan kepalanya ke atas. Dering ponsel terdengar merdu, terdapat panggilan dari Ree.
"Tuan, kandungan Anouk terdapat masalah."
"Aku ke sana." Ucap Agriel dan berlari meninggalkan gedung perusahaan miliknya sendiri.
***
Lilyana menatap Neanra teduh, tangisnya kini pecah. Semua rasa berat tidak tertahan yang kini akhirnya bisa dia luapkan. Neanra pun hanya bisa mengelus pundak Lilyana, mencoba memberinya semangat dan dorongan positif.
"Jujur saja Neanra, walau pun aku membenci Basta, tetap rasa tidak rela kadang hadir di hatiku. Aku sudah hidup bersamanya puluhan tahun. Walaupun banyak sekali penyiksa batin atau fisik yang kadang aku dapatkan. Aku bersyukur dia tidak membuang ku, dan menjauhkan ku dengan Agriel. Aku sadar, sangat sadar bahwa selama ini aku hanyalah boneka mainannya. Lantas, siapa yang bisa mengendalikan rasa ini Neanra?" Tanya Lilyana.
"Sekarang Basta di kurung oleh Nandhaya, entah di mana. Dan, tadi malam, Nandhaya datang mengirimkan surat perceraian ku dengan Basta." Ucapan itu membuat Neanra terkejut.
"Apa yang Nandhaya katakan saat itu?" Tanya Neanra.
Lilyana menggeleng, "tidak ada sepatah kata. Hanya selembar surat yang menjadi jawaban mengapa dia datang."
"Aku belum menandatangani nya." Lanjut Lilyana.
"Kau kuat Lily. Hebat sekali, sampai-sampai aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kau sendiri tahu, bagaimana aku dan Desinton di masa lalu. Kami memburu kesenangan masing-masing. Masalah biduk rumah tangga, aku hanya bisa memberikanmu dorongan ke hal baik. Karena aku sendiri juga gagal."
"Aku ingin bertahan karena aku rasa, untuk apa lepas setelah sekian lama tersakiti? Anggapanku rasa sakit itu teman Neanra. Aku memang dulu ingin lepas, lepas dari semua ini. Tapi jika aku pikir lagi, bukankah aku begitu egois selama ini? Aku membiarkan Agriel anakkku sendiri di perdaya, dan aku juga yang menjerumuskan semua. Tanpa bantuan ku apakah Basta bisa seperti itu? Tidak Neanra. Sejak awal aku tahu siapa yang di cintai Basta, dan orang itu sudah lama mati. Lilyana yang sesungguhnya." Cerita Lilyana, menghela napas.
"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Neanra.
"Bertahan." Jawab Lilyana menoleh pada Neanra, dengan senyuman pahit atas segala macam cobaan kehidupan.
"Karena kau sudah kebal dengan rasa sakit itu?"
"Sepertinya berubah. Karena aku dan Agriel mempunyai tujuan yang sama."
Kening Neanra bertaut penuh tanya, "mendirikan sekolah khusus tiga penerus raksasa."
****
"Keadaan mu semakin baik, nak." Ucap Wick mengelus puncak rambut Mery.
"Terimakasih, kek."
"Besok kita ke dokter ya? Periksa lebih lanjut. Dengan peralatan medis modern." Balas Wick.
Kakek dan cucu itu nampak duduk, menghadap langit senja. Kesunyian tiba-tiba menerpa tanpa mau berketuk pintu. Hingga, helaan napas dari Wick membuat Mery menoleh. Tatapan penuh tanya dia layangkan untuk Wick.
"Bagaimana hubungan mu dengan Agriel?" Tanya Wick.
Mery tersenyum kecil, "berjalan semestinya."
"Semestinya itu bagaimana?" Tanya Wick.
"Seperti pasangan normal lainya, kek. Ada apa? Apakah kamu tidak menyukai Agriel?"
"Apa alasan kuatku untuk tidak menyukai Agriel? Aku ini pendatang baru di kehidupan mu Mery. Bukan ranahku ikut campur lebih dalam masalah asmara. Akan aku beri tahu sebuah fakta unik." Ucapan Wick membuat perhatian Mery teralih sepenuhnya.
"Fakta? Apa?" Tanya Mery.
Wick tersenyum manis, bahkan mata tuanya itu menyipit amat sempurna. Tangan yang kadang gemetar itu mengelus puncak kepala Mery.
"Bukan seperti itu Mery. Manusia di takdirkan berpasang-pasang, untuk berkembangbiak dan membuat sebuah kehidupan baru. Menikahlah dengan Agriel, karena dengan menikah takdir itu akan berbalik baik, pacaran terlalu lama tidak baik bukan? Tuhan tidak menyukai itu. Kakek sudah begitu tua, seperti kebanyakan orang tua lainya, Kakek menginginkan cucunya menikah, dan dia sempat menyaksikannya. Segala dosa harus aku tembus Mery, yang pertama mungkin dari memberi kasih yang sempat tidak kau dapatkan itu."
Mery hanya mampu diam. Menikah? Dengan Agriel? Sedangkan saat ini hati Mery masih kosong. Kehampaan yang sulit untuk deskripsikan, dan sebuah kekosongan berupa luka yang sangat menganga. Bolehkan Mery berpikir lagi? Dia hanya tidak mau masalah rumit datang saat pernikahan suci sudah berjalan. Bagi hati Mery, Agrielnya masih penuh misteri. Agrielnya belumlah Agrielnya yang dulu. Jika Mery bertanya, apakah ada rahasia yang masih tersimpan? Mery hanya ingin kejujuran, bukan pengabdian atau pula kekayaan yang selama ini Agriel tunjukkan.
Sudah cukup pernikahan orangtuanya yang begitu rumit itu. Sudah cukup dengan adanya Elemery dengan kerumitan hidupnya. Sudah cukup lahirnya luka itu. Kesepian yang selama ini Mery rasakan, tidaklah sebanding dengan kerinduan akan sebuah kehangatan.
Mery menoleh pada Wick, matanya berkaca-kaca. Dia menunduk, mengusap air matanya kasar. Tidak ada sepatah kata, karena itu semua bungkam di telan hati yang bimbang.
"Kakek tahu, maafkan atas kelancangan ku Mery."
"Bukan, kau tidak perlu minta maaf."
"Kakek benar, sudah seharusnya aku memikirkan itu." Lanjut Mery, membuat Wick lega.
BERSAMBUNG....
Hallo! Kalian apa kabar? maaf ya Nana suka menghilang. Pengenya update rutin, seperti awal-awal membuat cerita ini, tapi pekerjaan dan tugas banyak banget, sampai kadang kelimpungan sendiri. Sabar ya, tetap aku selesaikan kok cerita ini. Makasih buat kalian yang masih stay baca Elemery, aku gak tahu harus bilang apa selain makasih banyak🥺💓 oh iya HAPPY NEW YEAR YA PARA PEMBACA NANAITELIAN